
Langit menatap pintu itu, siapa pagi-pagi mengetuk pintu ruangannya itu.
"Masuk!"
Pintu itu terbuka, tampak seorang office boy berbaju biru.
"Permisi!" OB itu berbicara, sambil jalan kearah meja Dirkeu.
Cahaya menatap OB itu, sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Ada apa?" tanya Langit.
"Saya, hanya di suruh mengantarkan kue ini kepada, Pak Arkana!" OB itu bicara, sambil meletakkan kue berbentuk hati itu, dimeja pemuda itu.
Cahaya menatap, kue coklat itu. Dia beranggapan jika kue itu adalah jatah makan dari perusahaan. Wanita itu menelan ludahnya ingin memakannya. Karena dia yakin, pasti suaminya, akan dengan senang hati memberikan kue itu untuknya.
"Apa ini jatah makan pagi?" Cahaya bertanya, sambil mengambil kue itu.
"Tidak Bu!" OB itu menjawab, karena Cahaya bertanya kepada OB itu.
Cahaya mengerutkan dahi, wanita itu nampak berfikir keras.
"Terus dari siapa?" Cahaya bertanya kembali.
Langit pun menunggu jawaban dari OB itu. Pemuda itu, juga tidak tahu itu kue dari siapa.
"Saya, disuruh bu Asya, untuk memberikan kue ini untuk Pak Arkana!"
Cahaya yang mendengar hal itu, dia teringat ucapan eyang waktu itu.
'Sepuluh bulan lagi, terserah kamu. Mau cerai atau mau jadi yang tua' Apa ruangan Asya, dekat dengan mu.'
Mata Cahaya, menatap tajam kearah suaminya itu. Wanita itu berfikir jika Asya setiap hari, selalu memberikan kue kepada suaminya itu.
Langit yang ditatap tajam seperti itu, dia tahu jika istrinya beranggapan negatif tentang dia.
"Kalau begitu saya permisi Pak, Bu!" OB itu sangat takut, karena istrinya Dirkeu seperti orang yang mau marah.
OB itu sudah membalikkan badannya, tapi langkahnya terhenti saat ada suara, menyuruhnya untuk berhenti.
"Tunggu" Suara tegas itu, bukan dari Langit tapi dari istrinya itu.
OB pun membalikkan badannya kembali, untuk menghadap kearah istrinya pak Dirkeu. OB itu sangat takut, karena wajah istrinya pak Dirkeu yang tidak bersahabat itu.
"Suami saya, tidak butuh ini." Cahaya menaruh kue itu ditangan OB itu. Sebelum melanjutkan ucapnya kembali. "Katakan padanya, jangan pernah memberikan apa pun kepada suami saya. Mau itu kopi, kue, atau apa terserah. Suami saya tidak membutuhkan hal seperti ini. Sudah keluarlah! Dan katakan padanya, jangan sekali-kali dia memberi perhatian lebih kepada suami saya!" Cahaya bicara sangat tegas, sangking tegasnya membuat OB itu takut.
Langit sangat tercengang, karena ulah istrinya itu. Tak biasanya wanita itu, berprilaku buruk di depan orang lain.
"Ba-ik, Bu!" OB itu menjawab, sambil menunduk, kemudian keluar.
Meninggalkan kedua pasangan itu di dalam ruangan. Langit harus siap menerima ocehan yang akan keluar dari mulut istrinya itu.
"Sudah sejak kapan dia mengirimkan kue itu padamu?" Cahaya mengintrogasi suaminya.
"Kau itu bertanya seperti polisi saja," jawabnya santai, Cahaya sangat kesal, karena jawaban yang suaminya ucapkan.
"Jawab!" Intonasinya terdengar sangat tegas.
"Baru pagi ini." Sekali lagi Langit menjawab santai.
"Bohong!" Cahaya berkacak pinggang.
Langit yang mengacak rambutnya dengan kasar.
"Kau bertanya atau apa? Kenapa aku menjawab kau bilang bohong, kalau begitu ngapain bertanya, jika kau tidak percaya padaku." Langit bicara, sambil melihat kearah dokumen itu.
Sepertinya Cahaya ingin berucap kembali.
"Ja—" belum juga Cahaya selesai bicara. Langit yang tadinya duduk, sudah berdiri kemudian berjalan kearah pintu dan Brak!!!
Pemuda itu menutup pintu ruangan pribadinya. Kemudian meninggalkan istrinya di dalam sendirian.
Langit berjalan kearah lift dan masuk.
Ting! lift terbuka, pemuda itu keluar dari lift dengan wajah yang sebal.
__ADS_1
Brak! Pemuda itu membuka pintu ruangan direktur operasional.
Langit tidak menemukan siapa pun di sana. Pemuda itu, memilih duduk diam di kursi depan meja milik direktur operasional.
Lima menit kemudian, pintu ruangan direktur operasional itu terbuka.
Mata lelaki itu tak percaya, saat membuka ruangan pribadinya sudah ada orang di sana.
"Kenapa kau kemari? Bukanya kau bersama kaka ipar?" tanya Hazel, sambil meletakkan kue coklat di meja kerjanya, kemudian Hazel duduk di kursi kerjanya.
Langit menatap kue yang ada di meja itu. Kue yang sama yang membuat dia dapat amukan dari istrinya itu.
Langit diam tidak menjawab. Pemuda itu lebih baik meninggalkan istrinya, daripada bersama istrinya malah yang ada jadi kacau. Langit ingin memberikan ruang untuk istrinya agar berfikir jernih, tidak negatif mulu.
Hazel yang tidak mendapatkan jawaban, dia berpikir apa kakak ipar sekaligus temannya itu ada masalah.
"Apa ada masalah?" tanya Hazel, langsung kepada intinya.
"Gara-gara kue yang kau makan itu," jawab Langit, menatap adik iparnya yang asik makan kue itu.
"Maksudnya?" Hazel tidak mengerti apa yang Langit maksud itu.
"Dia berfikir jika bu Asya, selalu mengirim kue padaku." Langit bicara, sambil menyandarkan kepalanya ke kursi.
Hazel yang mendengar hal itu terbatuk-batuk.
"Uhuk ...uhuk!" Hazel menggelengkan kepalanya.
"Apa kau tidak tahu, itu pertanda apa?" Hazel bicara sambil minum.
"Tahulah, dia cemburu."
"Terus apa masalahnya, bukannya itu bagus pertanda dia sangat sayang padamu."
"Masalahnya itu Zel, bukan pada rasa cemburunya. Tapi, masalahnya itu dia terlalu sensitif. Dia selalu berfikir negatif, kadang dia bisa diajak bercanda kadang dia bicara bijak. Kadang saat aku bicara baik-baik dia malah menuduh yang tidak-tidak." Langit menjelaskan, sifat istrinya itu.
"Sumpah Zel, aku ngerasa dia itu kayak anak labil. Aku enggak tahu gimana harus menyikapinya."
"Maklum Lang, kan katamu dia sedang kedatangan tamu bulanan. Ya, sudahlah Lang, nikmati saja masa-masa labil istrimu itu. Nanti kalau udah selesai enggak, akan ada sifat seperti itu, yang ada nanti kamu kangen Lang, hahahaha." Hazel tertawa, karena ucapannya itu.
"Sial*n lu, Zel! Enggak akan terjadi itu Zel! Kalau bisa sembilan bulan jangan halangan biar dia jadi ibu. Biar kalau kedatangan tamu bulanan enggak labil lagi. Kalau dia labil, aku akan bilang 'Kau itu sudah punya anak jangan labil' Aku yakin Zel, dia akan merubah sifatnya itu," ujar Langit yakin, cara ampuh agar istrinya tidak labil saat halangan adalah punya anak.
Langit mengangguk yakin dengan apa yang ia ucapkan.
"Bukannya aku tadi pagi sudah bilang. Bagaimana saat Alula sedang kedatangan tamu bulanan, apa kau tidak bisa mempelajarinya. Tetap saja Lang, mau kakak ipar sudah jadi ibu maupun belum. Yang namanya perempuan itu akan sensitif saat kedatangan tamu itu." Hazel menatap Langit dan tersenyum miring.
"Huft!" Langit membuang napas pelan, karena dia harus menghadapi kelabilan dan sensitif nya Cahaya setiap bulannya. Cahaya baru dua kali menstruasi saat menjadi istrinya Langit. Yang pertama waktu puasa dulu, tapi sensitif nya tidak seperti menstruasi saat kedua.
Disisi lain tepatnya ruangan General manager. Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok... tok...
"Masuk!" sahutnya.
Masuklah seorang OB, sambil membawa kue.
"Kenapa? Kuenya kembali lagi?" Asya bertanya, saat melihat kue itu ada di tangan OB.
"Maaf Bu Asya, katanya saya disuruh mengembalikan kue ini kepada Bu Asya!" jawabnya.
"Apa, pak Dirkeu tidak suka?" tanya Asya.
"Bukan pak Dirkeu, yang nyuruh Bu!" jawabnya OB itu.
Asya dibuat penasaran karena jawaban OB itu.
"Lantas siapa yang menyuruhmu?" Asya menatap.
"Istrinya, pak Dirkeu!"
Asya mengangguk dan tersenyum tipis, saat mendengar jawaban itu.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Asya kembali.
"Iya Bu asya, katanya saya disuruh bilang kepada Bu asya, agar ibu tidak memberikan apapun kepada pak Dirkeu, termasuk perhatian yang lebih, " ujarnya OB itu.
__ADS_1
Asya yang mendengar hal itu, mengangguk sambil menahan senyuman.
"Kenapa kamu berkeringat?" tanya Asya kembali.
"Saya takut Bu, sama istrinya pak Dirkeu!"
"Aku harap, kejadian ini tidak sampai di telinga seluruh karyawan kantor. Lima ratus ribu untukmu, jangan sampai orang tahu." Asya memberi uang tutup mulut kepada OB itu.
"Baik Bu!" OB itu keluar dari ruangan Asya.
Asya menggelengkan kepalanya, sambil bergumam.
Kau itu berfikiran yang tidak-tidak. Tidak mungkin aku melakukan kesalahan yang kedua kali dalam hidupku ini. Sudah cukup untuk masa laluku saja yang buruk, jangan untuk sekarang. Aku tahu kau tidak suka denganku, aku bisa melihatnya saat pertama kali kita bertemu. Kau tenanglah, aku tidak akan merebut milikmu, dasar anak muda yang umurnya di bawahku. Batin Asya, menggelengkan kepalanya dan selalu mengulas kan senyuman di bibirnya.
Asya keluar dari ruangannya menuju kearah lift.
Ting! lift terbuka.
Tok... tok...
Cahaya yang ada di dalam ruangan suaminya mengerutkan dahi, siapa yang datang keruangan suaminya itu.
"Jika kau OB, yang tadi kembalilah. Sudah ku bilang bukan, jangan memberikan sesuatu kepada suamiku." Cahaya berteriak dari dalam. Wanita itu di ruangan suaminya sendirian, karena suaminya belum balik setelah menutup pintu dengan kasar.
Tok... tok... ketukkan pintu itu semakin kencang.
Cahaya yang ada di dalam sangat sebal, karena ketukkan pintu itu.
"Suami saya tidak ada, jadi pergilah." Cahaya berteriak kembali, tidak ada suaminya yang dibentak. Maka orang yang mengetuk pintu itu jadi sasaran Cahaya untuk dibentak.
Orang yang ada di balik pintu itu tersenyum, karena ulah Cahaya. Perlahan orang itu membuka pintu itu. Cahaya yang ada di dalam mengerutkan dahi, kenapa gagang pintu itu bergerak.
"Apa itu kamu Mas?" tanya Cahaya, berteriak sedikit.
"Permisi!" Pintu itu terbuka.
"Ngapain ke sini? Suami saya enggak ada jika kamu mencarinya." Cahaya bicara dengan kesal.
"Siapa yang mencari suamimu?" tanya orang itu.
"Terus ngapain kamu kesini, kalau enggak cari suami saya. Oh ...mau ngasih kue kepada suami saya ya?" tanya Cahaya kasar, sepertinya Cahaya tidak bisa menahan emosi.
"Siapa bilang aku mencari suamimu. Dan siapa juga yang mau memberikan kue ini padanya." jawabnya dengan pelan .
"Terus ngapain ke sini?" tanya Cahaya.
"Aku ingin menemui mu, aku ingin bicara dengan mu. Dan aku ingin memberikan kue ini khusus untukmu," jawab Asya cepat.
"Bicara apa?" tanya Cahaya.
"Ikutlah dengan ku," ujar Asya, sambil menarik tangan Cahaya.
Cahaya tidak tahu kenapa Asya menariknya.
"Mau kemana?" tanya Cahaya, yang hanya diam saja saat Asya menarik tangannya.
"Aku akan mentraktir mu makan!"
Kedua orang itu masuk lift, berapa menit kemudian lift terbuka. Asya terus saja memegang tangan Cahaya. Mereka keluar dari lift, Cahaya tetap diam saat Asya menggandeng nya.
Seluruh karyawan yang ada di lantai dasar melihat kedua orang itu. Dengan tatapan heran, kenapa GM dan istrinya Dirkeu bersama. Itulah yang ada di pikiran mereka.
Mereka keluar dari kantor itu. Setelah satu menit jalan, akhirnya mereka sampai di kafe dekat kantor itu.
"Soto Semarang dua Bu!" ujar Asya.
Cahaya sudah duduk, tapi mukanya masih cemberut.
Asya duduk di depan Cahaya, sambil tersenyum tipis.
"Aku tahu kau tak menyukaiku!"'Asya memulai pembicaraan.
Cahaya berfikir, kenapa perempuan yang ada di depannya itu tahu, jika dia tidak menyukai GM itu.
"Katakan, apa yang mau kamu bicarakan. Saya tidak punya waktu." Cahaya tidak suka dengan Asya karena eyang, yang selalu bertanya tentang Asya kepada suaminya. Jadi Cahaya berfikir apa eyang ingin mendekatkan Asya dengan suaminya.
__ADS_1
"Dasar anak muda, yang umurnya jauh di bawahku!" Asya tersenyum, tidak biasanya Asya bicara dengan seseorang.
Cahaya tidak mengerti perkataan Asya itu.