Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Allah Itu Dekat... Sangking Dekatnya Tahu Isi Hati Kita...


__ADS_3

Cahaya sudah ada di kamarnya untuk bersiap. Sepertinya wanita itu, akan ke salah satu tempat. Cahaya mengajak ipar kembarnya, untuk menemani dia.


"Bu, Aya pamit ya."


Mencium tangan Abidah Aminah.


"Baik kalian hati-hati, Dik jangan ngebut bawa mobilnya."


Abidah Aminah memberi nasehat kepada anak-anaknya itu.


"Siap Big Mother!" Archer tertawa, karena ibu pasti akan menjewer telinganya.


Saat dia memanggilnya dengan panggilan ibu besar.


"Aduh Bu, kan Ibu emang besar. Jadi harus mau dipanggil Ibu besar."


Archer memegangi telinganya karena jeweran ibu.


"Hahaha, makanya jangan panggil big Mother." Arche mentertawakan adiknya.


"By, big Mother!"


Arche melambaikan tangannya, dan segera naik ke kursi penumpang, kemudian menutupnya. Agar ibunya tidak menjewer, licik sekali dara delapan belas tahun itu.


"Tuh ...Bu lepasin telinga aku dong, Kakak juga bilang enggak di jewer."


Protes Archer kepada ibunya, dara delapan belas tahun itu mencium tangan ibunya.


"Ya sudah nanti. Adik, jewer telinga kakak." ujar Abidah Aminah, sambil tertawa.


"Oke siap komandan."


Archer menjawab, sambil membuka kursi kemudi.


Cahaya masuk mobil dan duduk di samping Archer.


"Mana Kak, telinganya aku jewer."


"Ibu sudah memberi kekuasaan penuh padaku, untuk jewer telinga Kakak."


Archer menengok kebelakang untuk melihat kak Arche, yang main ponsel.


"Cepat Kak, kalau enggak aku enggak mau jalan nih."


Dengan berat hati kak Arche menyerahkan telinganya agar adiknya menjewer. Cahaya yang melihat hal itu tersenyum, indah sekali hubungan saudara itu.


Archer tersenyum karena bisa menjewer telinganya kakak.


"Aduh ...sakit Cher!"


Archer tertawa, karena bisa jewer telinga kakak. Arche melempar bantal leher kearah adiknya.


"Ayo kita jalan, takutnya nanti pulang terlambat." Cahaya menengahi kedua iparnya itu.


Mobil hitam itu sudah meninggalkan pekarangan rumah Raharja.


"Eh ...bentar lagi si Hitam berangkat Jogja, kita enggak ngasih apa gitu Kak?" Archer bertanya, sambil menatap jalan.


"Enggak tahu, aku juga bingung." Arche menjawab, sambil menyandarkan tubuhnya di kursi yang direbahkan kebelakang.


"Gitu-gitu si Hitam jaga kita dari SMP sampai SMA. Sekarang sudah enggak ada lagi yang jaga kita, dari teman cowok kita." Archer membuang napas pelan mengingat si Black.


Cahaya hanya sebagai pendengar saja di antara obrolan keduanya.


"Terkadang kita harus merasakan kehilangan untuk tahu seberapa berharganya orang itu untuk kita." Arche sudah mulai puitis.


"Wah ...sisi dari mis Arche ternyata puitis." Archer mentertawakan kakaknya.


"Aku tidak setuju dengan ucapan mu, Ar! Masa ingin tahu seberapa berharganya seseorang harus kehilangan." Cahaya memiliki pendapat sendiri.


"Kalau itu namanya penyesalan Ar! Karena telah men-sia-siakan orang yang sangat berharga dalam hidup kita."


"Tapi dengan kehilangan juga bisa Teh!" Arche menjawab, sambil main ponsel.


"Okey, kalau kehilangannya bisa kembali lagi. Tapi kalau kehilangan untuk selamanya, bagaimana dengan itu Ar?" Cahaya menatap ke belakang.


"Ya berujung penyesalan Teh!" Arche memperbaiki duduknya.


"Berarti setuju dengan pendapat Teteh dong?" tanya Cahaya, menaik turun kan alisnya.


"Fifty-Fifty Teh!" Arche tersenyum puas, dengan jawabannya.


"Sampai kita," celetuk Archer memarkirkan mobilnya.


Cahaya melepaskan salt belt dan keluar dari mobil diikuti adik iparnya.


Cahaya mengulas senyuman, wanita itu berjalan sekitar lima menit untuk sampai ketempat itu.


"Halo Kak!" sapa mereka yang masih ingat wajah ketiganya.


"Halo, kalian sehat?" tanya Cahaya.


Hari itu, Cahaya memutuskan untuk bertemu dengan orang yang tinggal di bawah jembatan. Cahaya hanya membagikan roti dan minuman untuk mereka. Cahaya berjalan kearah wanita paruh baya yang dulu membuat Arche kesal.


"Ibu, boleh saya bertanya?" tanya Cahaya pelan.


Wanita paruh baya itu mengangguk.

__ADS_1


"Saya, cari karyawan buat kafe saya. Apa Ibu minat bekerja?" tanya Cahaya, sedikit pelan.


Ibu itu mengangguk pelan. Sepertinya ibu itu ingin bicara pikir Cahaya. Ibu itu duduk mengambil pecahan genting, kemudian menulis sesuatu di tanah tandus itu. Cahaya berjongkok di samping ibu itu.


'Emang saya termasuk kriteria karyawan yang kamu cari? '


Cahaya membaca tulisan ibu itu. Menitihkan air mata, Cahaya melengos kemudian menghapus air matanya.


"Tentu saja Bu, saya emang lagi butuh karyawan." Cahaya tersenyum.


Ibu itu membuka tangan kanan menjadi telapak datar, merapatkan jemarinya dengan jempol mencuat keluar. Saat telapak tangan menghadap ibu itu, tangan menghadap ke atas. Ibu itu mulai menggerakkan dengan ujung jemari menyentuh dagu. Gerakkan tangan dari dagu lurus ke depan dan melengkung turun.


Cahaya tidak bisa bahasa isyarat.


"Itu artinya, terima kasih." Arche memberi tahu kakak iparnya.


Ibu itu tersenyum memberikan dua jempol kearah Arche.


"Sama-sama Bu." Cahaya tersenyum, mengelus bahu ibu itu.


"Neng! Apa Kakek bisa bekerja dengan Neng?" tanya kakek tua, punggungnya sudah bungkuk kira-kira usianya enam puluh tahun.


"Kenapa Kakek mau kerja sama saya?" tanya Cahaya ingin tahu, apa sebabnya kakek tua itu ingin bekerja dengannya.


"Kakek tidak mau meminta-minta lagi Neng. Kakek ingin mencari makan, dengan hasil kerja Kakek, sendiri." Suaranya menyayat hati Cahaya.


"Kakek pernah dengar sebuah hadist, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Jika Kakek tidak akan pernah menjadi tangan di atas(pemberi). Setidaknya Kakek tidak menjadi tangan yang di bawah untuk selama-lamanya (peminta-minta). Kakek ingin memperbaiki diri." Kakek itu menggenggam tangan Cahaya.


"Kakak enggak mau jadi pengemis lagi. Kakek ingin kerja, yang penting diakhir hidup Kakek, bisa lebih baik dari sebelumnya." Kakak tua itu menangis.


"Meskipun hanya makanan bayarannya tidak apa-apa Neng!"


"Baiklah Kek, jika Kakek ingin bekerja dengan saya. Maka saya tidak bisa menolak." Cahaya tersenyum, karena orang tua itu mau merubah hidupnya di usia yang tidak lagi muda.


Bocah lelaki itu sedang berjalan kearah kerumunan dan bertanya kepada temanya.


"Ada apa?" tanya bocah bermata coklat, seperti keturunan bule. Kira-kira umurnya delapan tahun.


"Tuh ada kakak ngasih roti, tapi ngajak kita kerja dengannya. Enakan juga ngemis," seru gadis sepuluh tahun.


"Iya-iya bener enak jadi pengemis." seru ibu-ibu.


Bocah bermata coklat itu berlari, mencari kakak-kakak yang mengajak bekerja. Membelah jalan dari orang yang asik menggunjing kakak itu.


"Minggir!" Bocah bermata coklat itu menyuruh semua orang minggir.


Sesekali bocah itu mendorong tubuh orang dewasa. Bocah bermata coklat itu, tersenyum melihat wanita yang mengenakan kemeja hitam dan bawahan levis. Sedang berdiri dan tersenyum.


Bocah bermata coklat itu mendekati kakak itu. Menarik ujung kemeja kakak itu. Cahaya merasa ada yang menarik ujung kemejanya. Bocah bermata coklat itu, tersenyum kearah Cahaya. Cahaya reflek memegang pipi bocah bermata coklat itu.


Cahaya terperanjat dengan apa yang telinganya dengar.


"Adik namanya siapa sayang?" tanya Cahaya, menyamakan tingginya dengan bocah itu.


Bocah bermata coklat itu menggeleng. Apa bocah yang ada di depan Cahaya tidak punya nama.


"Adik biasanya dipanggil apa? Sama temennya, sayang?" tanya Cahaya, menatap bocah itu.


"Cah Lanang!(anak laki-laki)" jawabnya.


"Adik tadi kebagian roti enggak?" tanya Cahaya lagi.


Bocah bermata coklat itu hanya menggeleng.


"Adik ikut kita ke mobil yuk, masih ada roti kan Cher?" tanya Cahaya, mendongak agar bisa melihat wajah adik iparnya.


"Masih."


Mereka berjalan kearah mobil. Cahaya menggandeng tangan bocah itu.


Arche membuka bagasi mobil berwarna hitam itu. Bocah itu menatap bagaimana Arche membuka bagasi itu, mulutnya terbuka. Cahaya yang melihat hal itu tersenyum.


"Nih, makan ya Dik!" Arche tersenyum, saat memberikan roti itu. Bocah itu mengangguk pelan.


"Kakak apa aku boleh duduk di sini?" tanya bocah itu, sambil memukul pelan bagasi yang masih terbuka itu, sambil menatap Cahaya.


"Coba tanya sama pemiliknya." Cahaya sedikit menutupi wajahnya karena kepanasan.


"Siapa pemiliknya?" tanya bocah itu, membuat si kembar tersenyum tulus.


"Kakak kembar." Cahaya memberi tahu.


"Oh... "


"Kakak apa aku boleh duduk?" ujarnya, sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tentu saja Dik, Adik kalau mau, juga bisa nyobain di samping supir." Arche yang menjawab.


"Tidak Kak, aku hanya ingin duduk di sini."


"Bisa enggak kalau enggak Kakak bantu." Archer menawarkan diri.


Dan bocah itu menerima bantuan dari Archer.


Bocah itu sudah duduk di bagasi sambil tersenyum.


"Kakak aku mau kerja." Bocah itu kembali berucap.

__ADS_1


"Kakak aku bisa melakukan apa saja."


"Kamu tinggal dengan siapa Dik?" tanya Cahaya, bersandar di pinggiran mobil.


"Jawab dulu pertanyaan ku Kak."


"Tentu saja sayang." Jawaban Cahaya, membuat bocah itu tersenyum.


"Sekarang jawab pertanyaan dari Kakak!"


Cahaya sangat penasaran dengan bocah itu, karena wajahnya seperti anak bule.


"Aku enggak tahu Kak!" bocah itu menunduk.


"Adik jangan sedih karena Allah tidak akan membiarkan hambaNya sendirian." Cahaya sudah duduk di samping bocah itu.


"Siapa Allah itu Kak?" pertanyaan yang terlontar dari bocah itu. Cahaya dan adik iparnya saling menatap, dan menelan ludahnya bersamaan.


Sedangkan Cahaya tidak cukup banyak pengetahuan agamanya.


"Allah adalah Tuhan Penguasa langit dan bumi. Semua yang ada di dunia ini adalah ciptaanNya. Dan semua bersujud kepadaNya. Dah hanya kepadaNya lah kita dikembalikan."


"Dimana Allah sekarang?" tanyanya lagi.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.'


(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186)


Cahaya menelan ludahnya lagi karena pertanyaan itu.


"Allah itu sangat dekat dengan kita." Karena Cahaya ingat saat sekolah dulu, ada teman sekolahnya bertanya kepada guru.


"Dimana? Aku tidak melihatnya."


"Tapi Allah melihat kita Dik, sangking dekatnya bahkan Allah tahu isi hati kita. Dan Allah tahu yang terbaik untuk kita."


"Apa Allah yang membuat aku, Kakak, gunung, laut dan hujan?" tanyanya lagi, bocah itu sangat cerdas.


"Tentu saja Dik, semua yang ada di dunia ini milik Allah. Dan Allah lah penciptaNya. Apa yang adik minta pasti Allah kasih. Kalau mintanya dengan sungguh-sungguh." Cahaya menjelaskan dengan ilmu agama yang ia milik. Meski masih dangkal tapi itu bisa berguna untuknya.


"Apa jika aku, minta bisa sekolah Allah


kasih?" tanyanya lagi.


"Allah akan memberikan itu Dik, jika Adik berdoa kepada Allah." ujar Cahaya.


"Ya Allah! aku ingin merasakan yang anak-anak lain rasakan. Aku ingin sekolah biar pintar." Bocah itu, mengangkat tangan seperti orang muslim kalau meminta sama Allah. Cahaya yang melihat hal itu, menitihkan air mata untuk yang kedua kalinya di hari itu.


"Amin... "


"Adik tahu caranya berdoa bagaimana?" tanya Archer.


"Tuh... " Bocah itu menunjuk kearah masjid. Setiap ada orang sholat berjamaah bocah itu, selalu mengamati cara sholat dan berdoa.


"Adik! Kakak punya nama bagus buat kamu." Cahaya menatap bocah itu.


"Apa Kak? " Bocah bermata coklat itu, akan segera mempunyai identitas. Meski hanya nama saja.


"Gibril."


"Gimana bagus enggak?" tanya Cahaya.


"Sangat bagus! Gibril ucapkan terima kasih Kaka baik!" Bocah itu, sudah mau memanggil namanya dengan sebutan Gibril.


"Kenapa dikasih nama Gibril?" tukasnya lagi.


"Karena Kakak, melihat kamu itu mempunyai banyak tujuan, penuh daya cipta naluri. Makanya Kakak kasih nama Gibril. Kakak harap kamu akan menjadi orang hebat saat udah besar." Cahaya mengelus kepala Gibril.


"Gibril! Kakak antar kamu ke sana ya?" tawar Cahaya.


Gibril sudah turun dari bagasi mobil.


"Tidak usah Kak! Gibril sudah biasa sendiri."


Gibril menggeleng, dia tidak mau merepotkan kakak yang baik itu.


"Kakak jangan bohong ya, Gibril tidak suka dengan pembohong."


"Gibril, akan tetap menunggu Kakak disini, sampai Kakak, jemput Girbil untuk bekerja." Sepertinya Gibril sudah tidak sabar lagi. Untuk bekerja dengan kakak baik itu.


"Iya Gibril, Kakak akan kesini lagi." Cahaya menatap Gibril yang berjalan mundur.


"Assalamu'alaikum." Cahaya mengucap salam kearah Gibril.


"Assalamu'alaikum!" Gibril menjawab.


"Jawabannya bukan Assalamu'alaikum Gibril. Tapi Wa'alaikumussalam Gibril!' Cahaya sedikit berteriak, karena Gibril sudah sedikit jauh.


"Wa'alaikumussalam." Gibril menjawab salam itu dengan baik.


"Daaa Gibril!" Ketiga wanita itu melambaikan tangan kearah Gibril.


"Daaa Kakak Baik!" Gibril berlari hingga tidak terlihat lagi.


__ADS_1


__ADS_2