Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Bumi Dan Cintanya


__ADS_3

Pemuda itu masih ada di ruangan direktur personalia.


"Balik, Zel! Kasian dia sendirian," ujarnya, sambil berdiri dari duduknya.


"Aa'elah baru juga bilang sebel, sudah kangen." Hazel mencibir, sambil tersenyum mengejek.


"Sia*an kau Zel," ujar Langit, sambil melemparkan tutup pena, kearah adik iparnya itu.


"Tuh, aku rasa kau benar-benar kangen dengan sifat labilnya itu. Tenang Lang, aku doakan semoga, datang bulannya masih lama. Biar kamu enggak kangen," ucap Hazel, sambil terkekeh.


Langit yang mendengar hal itu, hanya menggelengkan kepalanya. Saat Langit mau membuka pintu itu, tangannya berhenti menarik, karena Hazel mengeluarkan suara. Saat itu pula, Langit menatap adik iparnya itu.


"Kalau dia mau marah, sebelum itu kamu harus marahin dulu. Sebelum dia nyalahin kamu, kamu harus lebih awal nyalahin dia. Pasti dia enggak akan nyalahin kamu. Aku juga melakukan seperti itu, saat adikmu sedang kedatangan tamu bulanan." Hazel bicara, sambil menatap layar laptop.


"Terus berhasil?" Langit ingin tahu, jika cara Hazel berhasil. Dia juga mau menerapkan hal itu untuk istrinya.


"Berhasil tapi—" Langit memotong ucapan Hazel dengan cepat. "Tapi Kenapa?" Langit ingin tahu.


"Cuma berlaku, satu bulan saja. Setelah itu—" Hazel menarik napas dalam-dalam, sebelum berucap kembali. "Kau tahu, adikmu sifatnya seperti apa." Hazel menggelengkan kepalanya, karena sifat istrinya itu.


Langit hanya membuang napas pelan.


Pemuda itu masuk ke dalam lift. Berapa menit kemudian, pemuda itu sudah keluar dari lift.


Sebelum memegang gagang pintu, pemuda itu menarik napas dalam-dalam. Kemudian menghembuskan secara perlahan. Pemuda itu berfikir, jika dia harus siap menghadapi istrinya.


Krekkk....


Perlahan pintu itu terbuka. Langit memasukkan kepalanya dahulu. Untuk mengecek keberadaan istrinya. Ada disudut mana istrinya itu berada. Langit mengerutkan dahi, karena istrinya tidak ada di ruangannya. Pemuda itu masuk ke ruangan pribadinya. Matanya mecari ke setiap sudut ruangan itu, namun naas istrinya itu tidak ada.


Langit mengusap kepalanya dengan kedua tangannya. Pemuda itu memutuskan duduk di kursi kerjanya. Langit memejamkan matanya, sambil memijit pelipisnya.


"Dimana dia, benar-benar dia hari ini membuatku stress," ujarnya sambil, mengangkat kepalanya yang bersandar di kursi.


Mata pemuda itu menatap tas selempang milik istrinya. Pemuda itu mengambilnya, karena tas itu ada di atas meja kerja pemuda itu.


"Berarti dia tidak pulang, mungkin dia sedang menjemput si bulat." Langit bicara lega.


Pemuda itu menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya kembali. Sambil memejamkan matanya itu. Pemuda itu berfikir keras, saat menginat mimpinya malam itu


"Kakak!" Panggilan itu keluar dari mulut pemuda itu, matanya masih terpejam.


"Setelah lama, kamu baru datang ke mimpiku kembali!" Matanya masih terpejam, rasa kangen itu ada di dalam hati kecil pemuda itu.


"Tadi malam kakak, seolah menyuruhku untuk mendekat. Dalam mimpi itu, aku berdiri di depan kamarku. Sedangkan, kakak, berdiri di depan kamar kakak. Aku ingat bagaimana kakak, memanggilku, dengan menggerakkan tangan mu. Aku pun mendekatimu. Setelah aku sampai dekat denganmu. Kakak, menyuruh aku untuk masuk ke kamar. Sekali lagi, aku hanya menurut."


"Saat ada di dalam kamar kakak, aku berdiri di sampingmu. Tapi, saat itu kamu, menunjuk kearah bantal. Setelah itu kakak meninggalkan ku."


Langit berbicara apa yang ada di mimpinya malam itu.


Langit membuka matanya kembali, pemuda itu memperbaiki posisi duduknya.


"Pagi sebelum berangkat ke kantor, aku menyempatkan untuk ke kamarmu kak. Aku tidak tahu, kenapa pagi itu aku ingin masuk ke kamarmu. Stelah lima bulan lamanya, aku baru berkunjung ke kamarmu kak. Dan aku, menemukan sebuah kertas yang ada di bawah tempat tidur." Langit berbicara, sambil merogoh saku jasnya. Tangan itu mulai keluar dari saku jas.

__ADS_1


Langit mulai membuka kertas itu perlahan.


Kata orang cinta pertama itu tidak bisa di lupakan. Mungkin sebagian orang, menganggapnya itu benar. Tapi bagaimana, dengan cinta pertama yang dipaksa harus melupakan, cinta pertamanya? Cinta itu sangat aneh, bagaimana tidak! Aku mencintai seseorang perempuan ...tapi sayang. Aku— harus menguburnya sebelum cinta itu semakin tumbuh. Aku tak tahu harus bagaimana, saat tidak ada yang bisa aku ajak berbagi. Tentang kisah cintaku ini. Oke— lah, no problem! Aku bisa mencurahkan isi hatiku dalam selembar kertas. Siang ini, hatiku sangat sesak. Bagaimana tidak, aku diberi tahu mbah, jika aku sudah dijodohkan. Sungguh hatiku ini tidak bisa menerima perjodohan ini. Tapi—aku pun tidak bisa membantah apa yang mbah katakan. Aku dan adik-adikku, tidak bisa membantah perkataan mbah! Kami adalah termasuk cucu yang baik! Lupakan tentang keluarga kami! Aku akan membahas tentang dia. Ya! Dia, perempuan yang aku cintai. Wahai ...Mentari, kekasih dalam diam ku. Kaulah cinta pertamaku, yang membuat hati ini berdegup. Wahai ...Mentari kaulah perempuan yang ada dalam hatiku ini saat ini. Wahai ...Mentari, apa kau akan meninggalkan Bumi ini. Saat, tugasmu sudah selesai? Wahai ... Mentari, kenapa kamu hanya, lewat saja. Kenapa kamu tidak bisa selamanya menyinari Bumi. Mentari aku mencintaimu. Tapi takdir ini sangat lucu, aku tidak bisa memilikimu. Kenapa takdir ini tidak mengizinkan kita bersama Mentari? Kenapa Mentari? Mentari apa kamu mempunyai rasa denganku? Mentari kau tahu? Kalau aku dijodohkan dengan cucu dari temannya mbah? Andai ...kau tahu semua ini Mentari. Andai ... kau tahu kalau aku mencintaimu. Andai ...kau tahu, aku ingin menjalin sebuah hubungan suci denganmu. Tapi Mentari, semua angan ku ini sirna. Tatkala, mbah memberi tahu ku, tentang perjodohan ku dengan wanita lain. Hahaha, aku ingin tertawa takdir ini sangat lucu. Sudah cukup! Inilah takdirku yang tidak bisa bersama dengan cinta pertamaku.


^^^TTD^^^


^^^Bumi.^^^


Langit menahan napasnya, saat membaca surat itu. Surat yang sudah tidak jelas, karena tinta bolpoin itu seperti terkena air.


"Cinta yang rumit," desis nya pelan, sambil memejamkan matanya.


"Kapan, kakak mencintai Mentari?" Pertanyaan Langit, kepada dirinya sendiri.


Pemuda itu melipat kertas itu kembali.


"Tapi, apakah Mentari pernah mencintai mu kak? Jika iya, kenapa dia tidak pernah bercerita hal ini kepada ku."


Lagi dan lagi pemuda itu, menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia buang perlahan. Ada rasa sesak dalam dadanya itu.


"Kakak, aku tahu kamu menangis saat menulis surat ini." Langit membuka surat itu kembali. Menatap dengan seksama, bercak tinta hitam itu luntur, karena air mata Bumi.


"Tapi, kak! Kakak tahu bukan, jika dia meninggalkan dunia ini, tidak sedang berhubungan dengan siapapun?" Langit terus bicara, layaknya ada kak Bumi bersamanya.


Pemuda itu tidak tahu, jika Mentari masih mempunyai hubungan dengan seseorang. Tiga pria dua wanita, tertulis di buku milik Mentari. Mereka tidak pernah bertemu, tapi saling menyakiti.


"Kakak, penyesalan itu masih ada di dalam hidupku ini. Kakak, tidak tahu bukan? Apa yang membuatku menyesal dalam hidupku ini? Mentari, kak! Aku telah menyakiti dia."' Setelah bicara seperti itu, Langit menyembunyikan wajahnya kedalam kedua tangannya. Yang ia taruh di atas meja.


Kita beralih ke sekolah favorit itu. Jam menunjukkan pukul sepuluh, seluruh murid sekolah dasar itu sudah keluar dari kelasnya.


"Cantik, bukannya tadi kamu bilang akan dijemput, saat mau pulang sekolah?" tanya Nana, yang berdiri di samping gadis berwajah bulat itu.


Gadis berwajah bulat itu berpikir sejenak. Kemudian matanya ia edarkan untuk mencari seseorang. Yang pagi itu berjanji kepadanya untuk menjemputnya.


"Aku tidak tahu, Nana! Sepertinya aku dibohongi," ujar Cantik, sambil menutup wajahnya. Dengan kedua tangannya, ketika matahari naik sepenggalah.


"Emmm... " Nana mengangguk pelan sambil mengerucutkan bibirnya.


Gadis berwajah bulat itu masih diam, berdiri di samping Nana, yang menunggu ayahnya menjemput.


"Nana, ayahmu datang!" Gadis itu berseru saat ayah temannya datang.


Nana yang mendengar hal itu, tersenyum kearah ayahnya.


"Ayah!!! " Nana berteriak, karena ayahnya datang.


"Iya sayang, Cantik apa kamu belum ada yang menjemput sayang?" tanya pria paruh baya itu.


Gadis itu menggelengkan kepalanya. Cantik memang jarang dijemput kedua orang tuanya. Setiap hari Cantik selalu menunggu ayahnya menjemput, dirinya. Di kantor om Dosennya.


"Apa kamu mau, Om antar ke rumahmu?" Ayahnya, Nana menawarkan diri.


"Tidak Om, aku mau ke kantor sana saja!" Gadis itu menolak, sambil menunjuk ke arah kantor sebrang jalan raya.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita antar!" ujarnya, sambil tersenyum.


"Tidak Om, biasanya aku diseberang kan, sama petugas penyebrangan jalan. Baiklah Om, Nana aku tinggal dulu. Daaa Nana!" Gadis itu berlari, sambil melambaikan telapak tangan, dan menjauh meninggalkan jalan.


"Pak, seberang kan aku ya?" Cantik menatap pria paruh baya, yang selalu membantunya menyebrang.


"Oke, siap!" Pria paruh baya itu mengacungkan kedua jempolnya kearah Cantik.


Gadis berwajah bulat itu tersenyum, karena pria paruh baya itu.


Paruh baya itu, menggandeng tangan gadis berwajah bulat itu. Kemudian menyebrangi jalan raya, yang selalu ramai kendaraan. Mereka sudah ada di sisi kiri jalan. Cantik selamat, tidak dapat cium dari mobil.


"Bapak, punya anak?" tanya Cantik, sambil menatap wajah paruh baya yang baik padanya itu.


"Punya!" jawab pria yang umurnya, sudah mencapai setengah abad itu.


"Anaknya sekolah?" tanya Cantik ingin tahu.


"Iya, tapi tidak seperti Cantik, yang sekolah di sekolahan favorit," jawabnya jujur, paru baya itu selalu menunggu jam sekolah pulang. Karena pria itu, bisa menyebarang kan Cantik, dan berbicara dengan si wajah bulat itu, sangat ia tunggu-tunggu. Karena gadis berwajah bulat itu lucu dan menyenangkan.


Gadis itu mengangguk, sambil mencerna ucapan yang pria itu ucapkan.


"Terus dimana sekolahnya?" tanya Cantik ingin tahu.


"Sekolahnya ada di Bala Desa," jawabnya.


Cantik mengerutkan dahi, dia tidak pernah ke Balai Desa, tapi gadis itu memilih mengangguk saja.


"Tunggu, Pak! Aku punya sesuatu buat Bapak!" Gadis itu berbicara, sambil mencopot tasnya itu. Cantik membuka resleting tasnya itu, kemudian tangannya merogoh tas itu. Gadis itu sepertinya mencari sesuatu. Senyuman nampak jelas, dibibir gadis itu. Saat apa yang ia cari ketemu. Gadis berwajah bulat itu, menutup resleting tasnya kembali, kemudian memakai tas itu kembali.


"Ini buat Bapak!" Gadis itu tersenyum.


Pria paruh baya itu, tidak percaya karena gadis itu.


"Tidak usah, Neng!" Pria itu menolak.


"Bapak, aku itu ngumpulin uang ini untuk Bapak, setiap kali Bapak menyebrang kan aku. Cantik selalu memasukkan lima ribu kedalam stoples. Karena celengan babi. Cantik buat masa depan Cantik! Sedangkan uang yang ada di stoples buat Bapak. Ayo Bapak, terimalah! Kalau tidak Cantik akan marah sama Bapak!" Cantik berbicara, sambil memasang wajah cemberut.


Pria paruh baya itu tersenyum, karena ulah Cantik. Mau tidak mau, pria itu menerima stoples yang berisikan uang lima ribuan itu. Entah berapa jumlahnya, tapi uang itu sangat berguna buat pria paruh baya itu.


Cantik tersenyum karena uangnya diterima.


"Apa orang tua, Neng Cantik tahu?" tanya pria paruh baya itu.


Cantik menggelengkan kepalanya.


"Aku masuk dulu ya Pak!" Gadis itu bicara, sambil lari kearah kantor.


Sedangkan pria itu, mengelap matanya karena terharu.


Cantik tersenyum sangat bahagia entah karena apa.


"Kata, mami. Baginda Nabi suka memberi, aku juga ingin seperti My Baginda, meskipun Cantik tidak sebaik Baginda dan tidak sebanyak Baginda saat memberi ke orang." Gadis itu tersenyum tulus.

__ADS_1


__ADS_2