
Malam ini aku putusin untuk nulis lagi. Sudah beberapa hari aku tinggal di negara tetangga ini. Negara yang sangat beda dengan negaraku. Aku tinggal satu apartemen bersama Ajil. Bukan masalah kita irit atau bagaimana, tapi karena apartemen terbatas. So, kita terpaksa tinggal satu atap. Jika ini ada di Indonesia, aku yakin pasti diobrak, atau malah dinikahkan secara paksa. Untungnya disini enggak seperti di Indonesia. Konyol sih! Tapi namanya juga, lain negara lain pula tradisinya. Aku dan Ajil mempunyai jadwal masak. Dia pagi hari aku masak sore hari. Kita makan cuma dua kali sehari. Oh... ada cerita lucu saat kita masak bersama. Maklum makan sini sama Indonesia sangat beda. Aku akan menceritakan kisah Ajil, yang masak ramen.
"Kau tahu makanan ini namanya apa?" tanya Ajil tadi pagi.
"Bukanya itu ramen?" tanyaku.
"Ramen itu bukanya bahasa Jawa?" tanya Ajil.
"Hah?" Aku tidak tahu maksud sahabatku itu.
"Kau orang Aceh, jadi aku salah nanya, harusnya aku tanya sama orang Jawa pasti tahu," jawabnya, si Ajil sambil menyalakan kompor.
"Emang ada bahasa Jawa ramen? Terus artinya apa?" tanyaku ingin tahu.
"Rame itu artinya berisik, kalau ramenne artinya berisik banget.“
"Tapi aku heran, Met! Kenapa saat ramen ini aku masak tidak berisik ya?" Aku yang mendengar hal itu ingin tertawa, tak biasanya si Ajil itu buat candaan.
"Ya sudah, kau nyalakan korek api deket tabung gas, pasti ramen nya bersuara Jil!"Aku menimpali ucapan sahabatku itu.
Aku ingat jelas muka Ajil waktu tadi pagi, si Ajil seperti sedang berfikir, tapi tidak Ajil jika tidak bisa menebak.
"Ah ... aku tahu! Maksudnya kau mau bunuh diri ya?" Aku yang mendengar hal itu melotot. Kampret bener si Ajil.
"Atau kau mau merancang petasan ... yang bisa membuat suara keras plus kebakaran berantai?" tanya Ajil pagi ini, kepada ku. Sungguh dia benar-benar cerdas kelewat jalur kereta.
"Atau kau mau, diciduk polisi? Atas kasus percobaan, membuat petasan dengan dua bahan saja, gas dan korek!" Kekeh Ajil, pagi ini sambil tersenyum mengejek.
"Tapi kau itu Mentari! Bukan ****** yang bisa diciduk begitu saja." Aku berfikir Ajil, tadi pagi mau bikin aku sebal dengannya.
"Diamlah sobat ... jika kau tak ingin pisau ini melayang cusss!" Aku tahu Ajil, sangat takut. Saat aku mengarahkan pisau itu kepadanya.
Baiklah cerita malam ini cukup sampai disini, aku akan tidur sudah larut. Besok aku dan Ajil harus krn ke kampus.
TTD
Mentari.
Cahaya membaca buku itu kembali, wanita itu meluangkan waktunya untuk membaca buku itu milik Mentari. Cahaya membuka lembaran selanjutnya. Mumpung suaminya masih di kamar mandi.
Aku tak menyangka, hampir enam bulan aku disini bersama Ajil. Tapi seminggu yang lalu, aku dan Ajil berpisah. Ya! Kita emang tidak seatap lagi, tapi kita masih di apartemen yang sama. Ini semua karena teman baru kami, namanya Maikel! Tapi aku dan Ajil memanggilnya Mike! Jangan salah dia itu lelaki. Pertama kenapa Ajil pindah apartemen itu karena si Mike yang melontarkan kata-kata yang mengenai kita. Aku masih ingat saat kita bertiga duduk di kafe. Pertama Mike yang memulai pembicaraan. Mike itu orang asli Prancis.
"Bukanya orang Indonesia itu terkenal dengan keramahannya?" tanya Mike sambil mengisap rokok.
"Kau tahu dari mana?" tanyaku penasaran.
"Ayolah Bung, kita bisa nyari infromasi apa pun lewat benda ini," ujar Mike, sambil memperlihatkan laptop yang ada di atas meja.
"Lalu? Apa saja yang kau tahu tentang negara kami? " tanya Ajil mulai ikut pembicaraan dengan Mike.
"Banyak sekali ... salah satunya agamanya... mayoritas Islam ... tapi aku heran dengan kalian," ujar Mike menghisap rokoknya kembali.
"Ada apa dengan kami?" tanyaku, tidak mengerti.
"Dalam islam lelaki dan wanita berpisah ... tapi kenapa kalian bersama ...apa kalian tidak takut sesuatu bisa saja terjadi dengan kalian, oh maaf... aku bukan orang baik... tapi aku heran saja. Kalian sama-sama islam bukan?" ujar Mike membuang batang rokok yang tinggal sedikit.
__ADS_1
"Ayolah Mike! Katakan yang jelas! Aku tidak paham dengan ucapan mu," ujar Ajil langsung tanpa basa-basi.
"Apa kalian tidak takut berzina?" Kata-kata yang keluar dari mulut Mike adalah kalimat tamparan bagi kami.
Ajil pun waktu itu hanya terdiam seolah mulut ter gembok.
"Meskipun aku juga sering berzina," desis Mike pelan.
Aku dan Ajil langsung menatap Mike bersamaan.
"Ayolah kalian jangan menatapku dengan tatapan seperti ini... aku dibesarkan dengan keluarga yang tak mengenal Tuhan! Aku hidup di negara yang bebas dengan pergaulan ...hal seperti ini sangat biasa kawan," ujar Mike santai.
"Apa orang tua kalian tahu, kalau kalian satu atap?" tanya Mike.
Aku dan Ajil pun terdiam membisu.
"Sudah ku tebak, kalian tidak memberi tahu orang tua kalian?" tanya Mike, lagi-lagi kami diam karena pertanyaan Mike.
"Arkana tinggallah dengan ku, aku tidak mau persahabatan kalian jadi hancur karena kalian menyesal ...nantinya," ujar Mike, sambil memainkan pisau buat makan daging bakar.
"Maksudnya?" tanya Ajil.
"Kau hanya manusia, kau sepertiku yang punya napsu, entah napsu makan atau lain lagi," kekeh Mike waktu itu, aku hanya diam. Bagaimana pun aku hanya seorang wanita yang punya rasa takut.
"Terima kasih Mike, kau sangat baik. Aku rasa teman yang baik adalah teman yang mau mengingatkan ...meskipun menyakitkan bahkan sampai tertampar dengan kata-kata ...tapi membuat kita sadar." Ajil bicara sambil mengangguk.
"Mike jika kamu mengikatkan kita ...maka tugasku sebagai seorang teman mengartikan mu. Mike jangan lakukan kesalahan untuk yang kedua kali," ujar ku kepada Mike.
"Bung, aku tidak bisa, ini sudah kebiasaan."
"Mike, cobalah secara perlahan. Nanti pasti akan hilang. Aku enggak membenarkan hal itu ...tapi aku tahu, semua itu butuh proses jika ingin itu hilang dalam dirimu ...lakukan secara perlahan. Gunakan waktumu untuk sesuatu yang positif, kau pasti bisa!" Ajil menimpali ucapan Mike.
Akhirnya kita berpisah tapi meskipun begitu, Ajil dan Mike selalu makan di apartemen ku. Maklum apartemen kita berhadap-hadapan hihihi. Untuk malam ini aku tidak bisa nulis banyak. Karena kita akan makan keluar.
TTD
Mentari.
Cahaya memijit kepalanya, ada banyak pertanyaan dalam benaknya.
"Enam bulan, sangat lama," ujar Cahaya.
Cahaya mulai membuka lembaran selanjutnya kembali. Wanita itu akan membacanya sampai selesai.
Empat tahun kami disini, aku dan sahabatku sudah menyelesaikan sarjana S1 kami. Namun semua ini, hanya bencana bagiku. Aku selalu bertanya kepada Tuhan, apa ini akhir dari semuanya. Aku tidak percaya dengan semua ini. Bagaimana mungkin aku didiagnosis kangker stadium akhir. Sungguh aku, sangat kecewa dengan semua ini. Aku tidak tahu kenapa takdir seperti ini. Disaat dulu aku mencintai seseorang aku tidak bisa memilikinya. Saat aku punya gelar, aku malah dapat kabar mengejutkan. Sungguh kenapa hidupku seperti ini. Aku berfikir setelah gelar S1 aku akan melanjutkan untuk S2. Harapan itu sia-sia.
TTD
Mentari.
Cahaya yang membaca itu dia sangat miris. Dalam lembaran itu Cahaya harus membacanya dengan jeli, karena kertasnya rusak, tinta bolpoin juga pudar. Sepertinya itu karena air mata pemilik buku itu.
"Benar apa yang Masnya bilang, tidak semua apa yang kamu inginkan itu biasa kamu dapatkan, seperti halnya mbak Mentari! Tapi yakinlah dengan pemberian Allah pasti yang terbaik," ujar Cahaya.
Cahaya mulai membuka lembaran selanjutnya kembali.
__ADS_1
Diagnosis kangker tidak sesakit saat pagi ini aku mendengar ucapan Ajil. Sebelum aku berangkat menemui Ajil, aku memutuskan untuk merubah penampilanku. Diakhir hidup ini, aku harus bisa menjemput maut dengan baik. Mulai hari ini, aku memutuskan untuk memakai baju wanita islam, gamis yang besar, kerudung sampai menutup tubuh dan cadar yang menutupi wajah. Kata orang kalau kita enggak bisa menutup aurat, papi kita yang akan menanggung dosanya. Bukanya cuma papi, tapi kalau ada suami ya suami kita yang nanggung. Pokoknya lelaki dalam keluarga kita. Ah ...aku lupa, pertama kali Ajil menatapku seperti orang aneh. Kita bertemu di kafe dekat, kantor dia.
"Ada yang berbeda sepertinya!" ujar Ajil sambil menarik kursi di depanku.
"Bagaimana pendapatmu shob?" tanyaku tadi pagi pada Ajil.
"Jauh lebih bagus," ujar nya tersenyum tipis.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Kita bicara serempak.
"Hahaha!" Kita tertawa bersama.
"Katakan apa yang ingin kau katakan?" tanyaku, aku memilih mengalah. Mendengar apa yang ingin Ajil katakan.
Aku sangat ingat, si Ajil. Wajahnya seperti orang ketakutan. Tapi, aku sangat mengenal dia. Dia itu akan terus terang padaku, meski berat.
"Aku mencintaimu!" Kata yang keluar dari mulut Ajil membuat aku kecewa. Mataku berkaca! Apa ini? Kenapa dia bilang hal yang tidak seharusnya diucapkan. Ajil! Aku kecewa denganmu. Kau mengkhianati, perjanjian kita dulu. Aku kecewa Ajil! Sangat-sangat. Kenapa harus sekarang, saat aku membutuhkan mu. Aku berfikir aku akan membagi sakit ku ini dengan mu. Tapi apa? Kenapa hidupku seperti ini?
"Kenapa Jil? Apa kau lupa dengan perjanjian, kita saat di kantin?" tanyaku dengan intonasi tinggi.
Sahabatku itu hanya menunduk, saat aku bertanya kepada dia.
"Kau tahu Jil? Aku tidak pernah membayangkan ini terjadi. Aku mencoba ...untuk mengayomi mu. Sebagai seorang kakak! Kau tahu kenapa aku melakukan hal itu?" tanyaku dengan suara menggebu.
Si Ajil semakin menunduk dalam, aku tahu Jil kau merasa bersalah. Tapi emang kau salah Jil, kau menyalahi aturan mainnya. Kau kelewat batas!
"Aku melakukan hal itu ...karena aku tidak mau hal konyol ini terjadi," ujar ku sambil tersenyum kecewa.
"Aku akan balik Indonesia, dan aku tidak akan melanjutkan studi ku lagi." Aku meninggalkan Ajil, yang hanya terdiam.
"Met!" panggilnya sambil mengejar ku.
Aku tak mau lagi bicara dengan dia, aku menyetop taksi. Aku pun meninggalkan sahabatku. Ajil tadi pagi mencoba untuk mengejar taksi yang aku tumpangi. Aku berfikir ini kisah ku, kenapa seperti sinetron. Yang dikejar-kejar, dan manggil enggak jelas. Kenapa hidupku seperti novel saja, sesat! Ternyata hubungan manusia ...pasti ada kalanya bertengkar. Seperti kisah ku dengan Ajil.
Aku menulis dengan rasa kecewa, malam ini adalah malam terakhir aku di Singapura.
TTD
Mentari.
Cahaya kebaca buku itu, dengan sesak. Entah apa yang membuat wanita itu sesak. Matanya berkaca-kaca saat membaca buku itu. Wanita itu menutup buku itu, sambil memejamkan matanya. Disaat itu pula, pintu kamar mandi terbuka. Cahaya menatap suaminya yang berdiri di pintu. Kemudian melihat kearah buku yang ada di pangkuannya.
Langit mengerutkan dahi tidak mengerti, kenapa istrinya itu aneh. Pemuda itu berjalan kearah samping ranjang dekat istrinya itu. Tangannya meraih kalender. Matanya menatap kalender itu, kemudian menatap istrinya.
"Kenapa menatapku sepeti itu?" tanya wanita berambut sebahu.
Langit bergidik ngeri, apa tebakannya benar. Jika benar-benar dia harus sabar.
"Tamu datang bulan, udah menghampirimu?"
"Maksudnya? PMS?" tanya Cahaya.
"Ya!" Pemuda itu mengangguk.
"Belum!" jawabnya.
__ADS_1
Untunglah, tapi kenapa dia seperti orang yang sedang kedatangan tamu yang tak perlu dibuatkan kartu undangan itu? Aku harus sabar, menghadapi dia yang labil. Langit membuang napas perlahan.
Sepertinya pemuda itu, ingat tanggal sang istri saat kedatangan tamu bulanan. Bukan romantis atau apa, tapi pemuda itu harus siap-siap menjumpai sifat istrinya yang labil itu.