Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Ikhlaskan


__ADS_3

Siang itu Cahaya akan bekerja dengan istri Agam Ariaja. Wanita itu pulang ke rumah dahulu untuk memberi makan nek Endah.


Wanita itu keluar dari angkot, matanya menyapu semua ruko-ruko yang ada di sana. Katanya sih ruko nya bernama 'Walsall Fashion' Ternyata itu ruko ada di tengah-tengah. Cahaya berjalan ke arah toko baju itu.


Sangat ramai sekali, pengunjung siang itu.


"Assalamu'alaikum," ucapnya.


"Cari siapa, Teh?" tanya pegawai toko baju itu. Cahaya diam sejenak, dia lupa namanya istri Agam Ariaja.


"Ehm ...cari yang punya toko ini, Mbak!" ujar Cahaya.


"Oh ...cari ibu bos, ya Teh? Bukan kah Teteh ini namanya Cahaya?" Mungkin saja istri Agam Ariaja sudah memberi tahu pegawainya. Kalau Cahaya akan ke ruko nya.


Cahaya mengangguk.


"Ya sudah mari masuk, ibu udah nunggu kamu sejak tadi." Cahaya melepas sandalnya terlebih dahulu. Karena di sana sudah ada peringatan alas kaki harus di copot. Entahlah kenapa begitu, tapi ruko-ruko di sampingnya tidak menerapkan hal seperti itu.


"Cahaya sudah datang? Mami kira kamu tak datang hari ini." Istri Agam Ariaja, langsung saja memeluk Cahaya. Enggak anak enggak ibu sama saja.


"Maaf, Mi tadi aku ngasih nenek makan terlebih dahulu," ujar Cahaya, istri Agam Ariaja sudah melepaskan pelukan itu.


Semua pegawai toko itu tertegun dengan keakraban keduanya itu, bak anak dan ibu kandung saja.


Istri Agam Ariaja membuka toko itu berapa tahun silam. Setelah anak pertamanya meninggal dunia. Dia lebih memfokuskan diri agar tak terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Mungkin itu juga sedikit cara agar tak selalu ingat mendiang anaknya. Bukan bermaksud untuk melupakan tapi lebih ingin mengikhlaskan saja.


Toko itu menjual aneka baju muslim dari semua kalangan dari anak-anak hingga dewasa. Lihat saja Cahaya, wanita itu sangat menyukai toko itu. Karena toko itu depannya terbuat dari kaca jadi bisa melihat jalan raya, sedangkan lantai putih itu tak ada noda sedikitpun. Di karenakan semua pengunjung mematuhi peraturan yang dibuat. Toko yang harum, udara dingin. Karena ada pendingin ruangan, serta tembok warna ungu. Semakin membuat pengunjung betah, tak lupa pelayanannya sangat ramah. Cahaya tak bisa membayangkan jika toko itu bukannya bulan ramadhan pasti ramai pikir dia.


"Mi, apa yang harus aku lakukan?" tanya Cahaya, lebih baik bertanya dari pada sesaat dijalan. Lebih baik bertanya dari pada salah kan. Jangan malu untuk bertanya jika tidak mau salah. Biarkan orang mentertawakan mu, karena pertanyaan yang kau tanyakan, daripada salah dan membuat kamu memperbaiki lagi. Itu membuang-buang waktu saja. Ingat waktu tidak bisa kembali lagi— jadi gunakan sebaik-baiknya.

__ADS_1


"Cahaya, kamu bantu melipat gamis, karena nanti akan diambil setengah jam lagi, Black juga belum datang biasanya dia akan membantuku," ucapnya.


"Baiklah, Mi!"


Benar saja gamis-gamis itu sangat banyak dan belum di lipat.


"Ayo, semangat Mbak, NKRI sudah merdeka tahun 45, sekarang kita harus semangat bekerja meski siang-siang begini." Wanita itu benar-benar, cepat sekali bergaul. Tapi bukan cuma cepat bergaul dia juga cekatan dalam pekerjaannya. Lihat saja dia sudah bisa melipat sepuluh gamis.


"Wah ...cepat sekali, Ay!" Istri Agam Ariaja berseru, karena melihat gamis-gamis itu sudah terlipat dan sudah di bungkus plastik.


"Benarkah, itu Mi?" tanya Cahaya, seperti Cantik saja kalau mau di ajak ayahnya ke kampus, pikir istrinya Agam Ariaja.


"Iya, Cahaya!"


"Semua ada triknya, Mi! Mami mau diajari?" Cahaya itu seperti anak kecil saja, dimata orang yang ia panggil dengan sebutan 'Mami'.


"Coba, Mami, di ajari."


"Sudah, Ay! Mami enggak bisa, kamu kok bisa cepat begitu. Bagaimana bisa?"


"Semua itu butuh proses, Mi. Waktu itu aku juga seperti Mami, tapi karena aku gunakan setiap hari jadi terbiasa. Lipatan Mami, mah bagus, nah punyaku waktu itu sangat-sangat jelek."


"Kamu itu menghina Mami, atau apa?hem."


"Aduh, aku terkena suntikan alias cubitan dari, Mami!" Mereka yang ada di sana tertawa, karena ulah Cahaya.


Istri Agam Ariaja yang tak pernah tertawa lepas kini wanita paruh baya itu bisa tertawa.


Terima kasih Ya Rabb, Engkau membuatku tertawa seperti dulu. Sebelum Engkau mengambil titipan-Mu dariku. Jika Engkau mengizinkan, aku mohon tolong dekatkan aku dengan wanita yang ada di depanku saat ini. Dia sangat ceria, wajahnya mengingatkanku dengan wajah teteh. Aku sudah mengikhlaskannya, tolong tempatkan teteh di tempat yang paling indah bagi-Mu.

__ADS_1


Rasa kerinduannya kepada sang putri sang besar. Namun ia tahu jika putrinya itu bukan miliknya, putrinya hanyalah titipan dari Sang Maha Pengasih. Sulit memang untuk mengikhlaskan sesuatu yang sudah terbiasa bersama dengan kita. Tapi dimana dia bisa mengikhlaskan itu. Itu lah orang yang sabar dan berhati mulia.


"Assalamu'alaikum!" Salam itu membuat istri Agam Ariaja tersadar di lamunannya.


"Wa'alaikummussalam!" jawaban serempak orang yang ada di sana.


"Teh Cahaya, sudah ada di sini?" tanya pemuda delapan belas tahun itu. Black duduk beralasan karpet di samping Cahaya, yang sedang melipat gamis-gamis.


"Iya, kamu makin hari makin cakep Black!" goda Cahaya, mampus lu Black. Mungkin itu adalah balasan dari Tuhan, karena kamu suka godain si bungsu dari keluarga Raharja.


Black tersenyum kaku, dia sangat malu, apa lagi pegawai disitu cewek semua.


"Cakepan juga, bang Arka!" ujar Black, dahi Cahaya mengkerut siapa itu 'Arka'.


Black yang tahu jika Cahaya bingung, ia pun berucap kembali. "Jangan bilang enggak tahu?" ucap Black, yang dijawab anggukan kepala dari Cahaya. Black menepuk dahinya karena Cahaya.


"Itu namanya, bang Langit, Teh!" celetuk istri Agam Ariaja.


"Oh ...iya aku lupa," jawabnya dengan cengengesan. Cahaya baru ingat, jika Arka adalah nama panjangnya Langit.


Cahaya masih saja menggoda Black. Sampai-sampai ibunya Black tidak berhenti tertawa. Tapi sepertinya percakapan itu Cahaya alihkan.


"Kalau Black nama panjangnya siapa?" tanya Cahaya, mereka sudah mengemas gamis-gamis itu tinggal nunggu yang beli mengambilnya.


"Black Muhammad Agam Al-faris!" jawab Black. Lihatlah pemuda delapan belas tahun itu, kepalanya di senderan di bahu Cahaya. Cahaya juga begitu, kepalanya di taruh di kepala Black. Jika si kembar tahu pasti akan bilang. 'BUKAN MUHRIM'. Istri Agam Ariaja hanya menggeleng. Karena kelakuan keduanya itu. Cahaya membantu Black mengangkat gamis-gamis itu kedalam bagasi mobil milik pembeli.


"Teteh, kuat juga ya?"


"Kau tahu Black, aku sempat berpikir jika, aku ini dulunya mau jadi cowok. Tapi sepertinya sudah di cencel dari sononya."

__ADS_1


Candaan sore itu sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing.


Next part Kang Langit...


__ADS_2