
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Cantik sudah lumayan hafal. Malam itu mereka sedang berdiri di atas balkon. Cantik berada di tengah-tengah pasangan itu. Gadis berwajah bulat itu sangat bahagia, karena besok dia akan di antar om Dosennya dan akak Bubble-nya ke sekolah.
Mata gadis itu menatap rembulan, hatinya merindukan seseorang.
Teteh, Cantik rindu sekali sama teteh. Kenapa, Cantik enggak pernah mimpi teteh lagi. Teteh, semoga teteh tenang di sana. Batin Cantik.
"Cantik, apa yang kau inginkan dalam hidup ini?" Cahaya bertanya, sambil menatap rembulan. Cahaya tidak tahu jika gadis berwajah bulat itu, sedang sedih karena rindu yang tak bisa bertemu.
Cantik menatap akak Bubble-nya itu dan tersenyum simpul. Cahaya pun melihat senyum itu.
"Hanya ingin dekat dengan Allah!" Cantik menjawab.
"Kenapa? Dan apa alasannya?" tanya Cahaya kembali.
Langit pun mendengar kedua orang itu.
"Kalau Cantik, dekat sama Allah. Apa yang Cantik inginkan. Allah, akan memberikan, semua yang Cantik mau, " jawaban Cantik, membuat pasangan itu tak percaya. Jawaban lima kata, tapi mampu, mendapatkan dunia dan seisinya.
"Lalu apa yang ingin kau minta kepada Allah?" Langit bertanya, sedangkan Cahaya masih tertegun tak percaya.
Apa jawaban Cantik itu isyarat dari Allah. Untuk Cahaya, agar mendekatkan diri dengan Maha Pencipta. Bukanya Cahaya ingin punya anak? Lantas mengapa dia tak mendekatkan diri sama Sang Pemberi Karunia.
"Aku tidak tahu, sangat banyak." Gadis itu menjawab.
"Kalau untuk malam ini?" Langit bertanya.
"Mimpi almarhumah, sudah lama aku tidak bertemu dengan almarhumah dalam mimpi." Cantik menjawab, dengan lesu.
Langit membuang napas pelan. Dia juga tidak pernah mimpi bertemu Mentari. Terakhir kali waktu itu saat Mentari membawa lilin untuknya.
Hening! Mereka bertiga tidak berbicara setelah jawaban dari Cantik. Mereka bertiga kompak menatap rembulan.
"Apa Akak dan Om suka menatap rembulan saat malam?" Cantik bertanya, setelah lima menit tidak ada pembicaraan.
"Kita selalu menghabiskan waktu malam, hanya sekedar menetap indahnya langit malam ciptaan Allah!" Cahaya menjawab, sambil melirik kearah Cantik.
"Apa yang Akak rasakan saat menatap langit, yang terbentang luas tanpa tiang?" Benar-benar pintar! Cantik sangat pintar, dia tahu jika, Allah menciptakan langit tanpa tiang.
Sekali lagi pasangan itu, menggelengkan kepala karena kepintaran gadis itu.
"Entahlah, tapi aku tenang menatap keindahan langit. Hati jadi damai, setiap aku punya masalah, aku selalu memandangnya. Keindahan langit bisa membuat hati yang sesak menjadi sedikit terobati. Semua itu luput dari kekuasaan Allah!" Cahaya menatap langit itu dengan tersenyum.
"Kalau langit buat tenang, lantas, Om Langit buat apa Akak?" Pertanyaan gadis berwajah bulat itu, membuat Cahaya membulatkan matanya.
Langit tersenyum simpul, dia ingin tahu jawaban dari istrinya itu. Si Cantik selalu bikin om Dosen bahagia.
"Buat apa maksudnya?" tanya Cahaya tidak mengerti. Tapi otaknya travelling kemana-mana
"Maksudnya buat Akak apa, seumpama buat Akak, tertawa atau apa?" jawaban Cantik, membuat Cahaya menepuk jidatnya.
Dasar otak suka jalan-jalan kemana-mana. Yang penting enggak nyasar bin sesat lah.
"Kirain," ujar Cahaya pelan.
Cantik mengerutkan dahi, emang apa yang ada dalam pikiran akak Bubble-nya, pikir Cantik malam itu. Langit ingin tertawa dia tahu apa yang istrinya pikirkan.
Cahaya yang melihat suaminya dia sangat sebal, karena suaminya menahan tawanya karena ulahnya. Sedangkan Cantik bingung, karena raut wajah mereka berbanding terbalik. Gadis berwajah bulat itu menggaruk kepalanya.
"Kamu ingin tahu jawabannya?" tanya Cahaya kepada Cantik.
Gadis berwajah bulat itu mengangguk.
"Jawabannya, selalu membuat aku Se— Bal!" Cahaya menatap suaminya tajam.
Bukan main! Tatapan Cahaya itu seketika membuat Langit terdiam tanpa ekspresi.
"Ayo, Can kita tidur sudah malam," ujar Cahaya, sambil menarik tangan Cantik dan meninggalkan suaminya itu.
Langit menggelengkan kepala karena ulah istrinya itu.
__ADS_1
"Efek PMS Lang, kau mesti harus sabar menghadapi dia. Kenapa kalau PMS selalu gitu, sedikit sensitif. Ah ...bukan sedikit tapi banyak. Bukannya, PMS itu kepanjangannya perempuan meski sabar. Tapi dia, malah sensitif aneh."' Langit bicara pelan, sambil mengunci pintu sliding itu.
Cahaya sudah membaringkan badannya di sisi kiri ranjang. Sedangkan gadis berwajah bulat itu ada di tengah. Tapi om Dosen masih ada di kamar mandi.
"Akak ayo ceritakan sesuatu padaku," ujar gadis itu tengkurap.
"Sudah malam, Can! Tidurlah kapan-kapan, besok kamu harus sekolah. Akak enggak mau kalau kamu tidur di kelas," ujar Cahaya, sambil memeluk gadis itu.
Langit yang keluar kamar mandi, dia bisa mendengar ucapan istrinya itu. Langit mengerutkan dahi, kenapa istrinya tidak mau menuruti keinginan Cantik. Pemuda itu membaringkan badannya di samping Cantik. Setelah itu mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur.
Pemuda itu menarik selimut kemudian menghadap kearah istrinya.
"Baiklah," gadis itu berdoa sebelum tidur.
"Tambahan Can, ikuti Om ya?"
Gadis berwajah bulat itu menyetujui.
"Aamanar-rosuulu bimaaa ungzila ilaihi mir robbihii wal-mu-minuun, kullun aamana billaahi wa malaaa-ikatihii wa kutubihii wa rusulih, laa nufarriqu baina ahadim mir rusulih, wa qooluu sami'naa wa atho'naa ghufroonaka robbanaa wa ilaikal-mashiir," (Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), "Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya." Dan mereka berkata, "Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 285)
Cantik pun mengikuti apa yang om Dosen -nya ucapkan, sesekali bocah itu protes karena terlalu cepat.
"Laa yukallifullohu nafsan illaa wus'ahaa, lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat, robbanaa laa tu-aakhiznaaa in nasiinaaa au akhtho-naa, robbanaa wa laa tahmil 'alainaaa ishrong kamaa hamaltahuu 'alallaziina ming qoblinaa, robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqota lanaa bih, wa'fu 'annaa, waghfir lanaa, war-hamnaa, angta maulaanaa fangshurnaa 'alal-qoumil-kaafiriin." (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 286)
Pasangan itu selalu membaca dua Ayat itu sebelum tidur. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah pada malam hari, maka ia akan diberi kecukupan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Selain itu, para ulama juga menyebutkan, 'maka Allah akan memberikan kecukupan baginya untuk urusan dunia dan akhiratnya, juga ia akan dijauhkan dari kejelekan' Serta 'imannya akan diperbaharui karena di dalam ayat tersebut ada sikap pasrah kepada Allah Ta’ala'.
"Tidurlah," ucap Cahaya sambil mendekap Cantik dengan hangat. Lima menit gadis itu sudah hilang kesadaran, tapi otaknya masih bekerja.
Langit menatap istrinya yang tidak mau menatapnya. Pemuda itu tahu, jika istrinya masih sebal. Tidak Langit namanya jika tidak banyak ide. Pemuda itu mendekatkan tubuhnya dengan Cantik. Kemudian memeluk kedua orang itu, dengan sangat erat.
Cahaya manyun-manyun karena ulah suaminya itu. Wanita berambut selalu itu, tidak mau dipeluk sang suami sepertinya.
"Beneran?" tanya Langit menggoda.
"Sudah dibilang lepas, atau mau bantal melayang?" Cahaya bertanya, tapi seperti mengancam.
"Kau itu, cuma masalah sepele. Kenapa harus marah, emang kau mikir apa? Saat Cantik bertanya seperti itu." Langit menggoda istrinya kembali.
Cahaya sangat sebal, karena suaminya itu. Bagaimana tidak, badannya pegal-pegal. Karena gendong Balqis ditambah kerja di kafe belum lagi ngecek minimarket, plus PMS yang membuatnya ingin berteriak.
Cahaya mengambil bantal bentuk hati, yang ada di atas kepalanya. Kemudian memukulkan ke wajah suaminya dengan keras. Langit yang dapat serangan tiba-tiba, ia dengan cepat menarik paksa bantal itu dengan cepat. Dan membuangnya ke lantai.
Cahaya lebih kesal lagi, dia kira suaminya akan diam saat dipukul. Ternyata suaminya menariknya dengan paksa.
"Hiks... " Cahaya menyembunyikan wajahnya di dekat wajah Cantik.
Langit melotot, apa ia tidak salah dengar. Apa istrinya menangis? Bukannya masalah sepele kenapa pakai nangis segala pikir Langit.
"Jangan kayak, anak kecil dong. Bukanya biasanya kita juga sering bertengkar, karena hal sepele. Tapi kau tak pernah nangis, jika tidak merugikan kamu. Seperti gelang yang patah waktu itu."' Langit berbicara.
"Hiks ...hiks... " Wanita itu malah terisak. Mending nangis, terisak itu lebih sakit, pelan tapi bikin sesak.
Langit benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Masalah itu malam-malam, Langit pusing karena ulah istrinya itu.
"Aku itu lelah hiks, tadi di kafe aku kerja hampir semua aku yang ngelakuin hiks. Karena kakek sakit, jadi aku juga yang jadi pelayan hiks. Terus tadi saat Masnya kembali, Cantik sama Gibril selalu bertengkar hiks. Ditambah gendong Balqis membuat pundak ku sakit Mas, hiks. Ditambah badan aku pegal-pegal karena PMS." Cahaya berbagi cerita dengan suaminya itu.
Ternyata Cahaya butuh orang untuk diajak berbagi cerita. Langit yang mendengar hal itu dia sangat prihatin. Meskipun dia tidak pernah merasakan gimana tersiksa nya saat datang bulan, tapi dia bisa merasakan kehancuran tubuh istrinya itu saat bercerita.
Langit mengelus lembut kepala istrinya, sambil berkata. "Besok enggak usah buka, buat istirahat saja. Kau juga enggak perlu ke sana hanya ngecek minimarket. Istirahatlah, aku tidak mau kamu sakit Az-zahra! Kau mau aku pijit pundaknya?" tawaran Langit buat Cahaya menatap suaminya.
"Tidak perlu, aku tahu Masnya juga capek seharian kerja," jawabnya.
"Terus kamu apa?" tanya Langit.
"Masakin mie dong, sama cabai!" Cahaya tidak men-sia-sia kan untuk mengerjai suaminya.
__ADS_1
Langit pikir istrinya itu akan bilang tidur saja. Kalau jawabnya nyusahin dia, mending enggak usah ditawarin.
"Yakin!" Langit bertanya, siapa tahu istrinya berubah pikiran.
"Seratus persen yakin, deal, deal, deal!" Cahaya tersenyum.
"Hmmm!" Langit membuka selimutnya dengan wajah malas. Pemuda itu, berjalan kearah pintu. Belum juga pemuda itu, membuka pintu. Cahaya sudah memanggilnya.
"Tunggu Mas!" Cahaya duduk di ranjang.
"Apa lagi?" Langit sangat malas, jika harus masak malam-malam.
"Satu saja mangkuknya, oke!"
"Hmmm!"
Pintu tertutup, Cahaya tersenyum puas. Kapan lagi nyuruh suaminya masak malam-malam.
Langit menggerutu sambil menuruni anak tangga.
"Apa maksudnya, satu mangkok dong. Maksudnya aku enggak boleh buat gitu, dasar PMS ngerepotin saja," ujar Langit, mengacak-acak rambutnya frustasi. Siapa yang minta di buatkan mie, siapa yang disalahin. Dasar PMS wekkkk!
Pemuda itu mulai memasak mie, dan memotong cabe. Setelah berapa menit selesai.
"Susu sekalian, nanti kalau kepedasan biar enggak marah, PMS nyeremin," ujar Langit, sambil membuka kulkas untuk membuat susu buat istrinya.
Pemuda itu sudah ada di depan kamar tidur. Langit membuat pintu itu dengan bahunya. Ya maklum lah! Kedua tangannya full makanan.
"Si*l, kenapa dia tidur." Langit menatap istrinya, yang tertidur.
Pemuda itu meletakkan mie dan susu di atas laci samping istrinya.
"Bangunlah, pesanan mu sudah jadi." Langit berbisik lembut di telinga istrinya.
"Emmm ...lima menit lagi," jawab Cahaya yang menahan tawanya. Wanita itu entah mengapa punya ide mengerjai suaminya itu.
Langit berusaha tetap tenang, untuk istrinya yang gingsul itu.
"Ayo bangun, dilaknat tahu rasa kau." Langit mencubit pipi istrinya.
Cahaya yang mendengar kata 'laknat' langsung segera bangun dan duduk di ranjang kemudian tersenyum.
"Mau makan dimana kamu?" tanya Langit.
"Balkon!"
Merekapun sudah duduk di balkon. Cahaya sudah siap mengesekusi mie buatan sang suami. Cahaya melirik kearah suaminya, yang menelan ludahnya. Cahaya tersenyum simpul.
"Aaaaa ayo!" Cahaya menyuapi suaminya itu.
Langit tidak men-sia-sia kan hal itu, diapun menerimanya. Maklum istrinya tidak bisa romantis, jadi suapan dari istri adalah anugerah terindah bagi Langit.
Akhirnya mereka makan sepiring berdua.
"Kau tahu, Mas, kenapa aku menyuruhmu hanya buat satu mangkuk saja?" Cahaya bertanya, sambil menatap suaminya. Mie sudah habis dari lima menit yang lalu.
"Emang ada alasannya?" Langit bertanya.
"Tentu."
"Apa alasannya?"
"Inilah hadiahku untukmu, menyuapi mu. Aku tahu, ini tidak ada nominalnya. Tapi aku tahu, Masnya membutuhkan hal seperti ini bukan?"
Langit tidak tahu, kenapa istrinya itu bisa membuatnya bahagia. Hanya dengan ucapan yang istrinya katakan padanya.
"Makasih, " ujarnya, sambil mencium kening istrinya.
Pepatah bilang Allah memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Jadi Cahaya pun belajar dari pepatah itu. Mungkin Langit ingin yang lebih dari itu, tapi Cahaya. Wanita itu memilih— untuk memberikan yang dibutuhkan suaminya saja yaitu dia bersikap perhatian. Cantik kasian ditinggal pacaran om Dosen sama akak Bubble.
__ADS_1