Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Sepertinya Mau Tamatet


__ADS_3

Mereka sudah masuk ke mobil, dengan Langit duduk di kursi penumpang bersama istrinya. Dan Senja, pria itu duduk di samping kemudi.


"Kita kemana Teh?" tanya Black, sambil tancap gas.


"Jalan Melati 03!" jawab Cahaya, sambil memijat kepalanya.


Ketiga orang itu tidak ada yang sadar dengan jalan yang Cahaya informasikan. Tapi pemuda, yang duduk di samping istrinya itu. Seolah mengingat-ingat sesuatu. Langit memajukan badannya yang semula bersandar di kursi penumpang. Pemuda itu ingat sesuatu, memutuskan untuk berbicara. "Bukan itu jalan—" Cahaya segera menarik tubuh suaminya agar bersandar lagi.


"Ssttt!" Cahaya menempelkan jarinya ke mulutnya.


Langit menatap istrinya, dengan banyaknya kerutan di dahi. Seolah ingin tahu apa yang istrinya sembunyikan.


Black yang tak sengaja melihat pasangan itu dari kaca spion dia tersenyum simpul.


"Ini ada jofis, tolong lakukan itu saat kalian berdua. Apa kalian merasa kasian dengan jofis ini?" Black angkat bicara, hal itu membuat Senja langsung menatap kebelakang.


Sedangkan Cahaya dan suaminya yang tadi saling tetap, mengalihkan pandangan kearah pemilik suara yang menegurnya itu.


Senja mengulas kan sebuah senyuman, untuk pasangan itu.


Langit segera membenahi duduknya, sedangkan Cahaya, wanita itu menyandarkan kepalanya yang sakit. Sepertinya sakit kepala Cahaya sudah kembali lagi.


"Ayolah Black, ini bukan masalah romantis," ujar Langit, yang merasa tidak enak. Karena sudah bikin jofis baper.


"Ah... iya betul itu." Cahaya menyetujui ucapan suaminya.


"Kalian mengelak, tapi dari tadi aku lihatnya Abang menatap dalam banget." Pemuda itu bicara sambil fokus menyetir.


"Hahaha!" tawa Senja, membuat Langit menatapnya.


Sedangkan Cahaya wanita itu, hatinya teriris karena tawa itu akan membuat Senja sedih.


Mobil itu berjalan pelan, karena sepertinya sudah mau sampai. Black mengerutkan dahi, kenapa ada di pemakaman.


"Teh, ini aku yang salah alamat atau gimana? Tapi aku sering kesini... atau jangan-jangan Teteh, salah kasih alamat?" tanya Black yang mengemudikan dengan sangat pelan. Mata pemuda keturunan Aceh itu, menyapu luar jalanan itu.


Jantung Senja berdetak sangat cepat. Rasa takut ada dalam hati pria itu. Napasnya tersengal-sengal, deru napasnya sampai terdengar di telinganya.


"Ayo kita turun," ujar Cahaya, sambil menunggu pintu mobil terbuka sendiri.


Langit turun dahulu, setelah itu dia membantunya istrinya. Sewaktu perjalanan, sang istri mengeluh kepalanya sangat sakit.

__ADS_1


Saat mereka sudah ada di luaran mobil, mereka hanya berdiri tidak bergeming sedikitpun.


"Kita beli bunga dulu," ujar Cahaya, tersenyum. Wanita berjalan dengan menggandeng sang suami. Dengan kepala yang bersandar di bahu suaminya. Cahaya menatap mulut Black, yang sepertinya ingin bicara. Sebelum Black benar-benar bicara. Wanita berambut sebahu itu, segera berucap. "Bukan romantis, tapi dramatis. Kepalaku sedang sakit, jangan bicara yang tidak-tidak kamu Black!" Black yang mendengar hal itu, dia tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya yang enggak gatel sama sekali.


Senja tidak tersenyum seperti saat didalam mobil. Pria itu benar-benar tidak tahu kenapa perasaannya tidak enak. Setelah membeli bunga, keempat orang itu masuk ke dalam makam.


Semua mengikuti jalan Cahaya. Langit hanya bertugas menuntun istri gingsulnya itu.


Wanita berambut sebahu itu, berhenti di pusara yang berapa bulan yang lalu, ia kunjungi dengan suaminya. Langit dan Black seolah bertanya, kenapa wanita berambut sebahu itu berdiri di pusara orang yang amat mereka sayangi. Cahaya duduk di samping pusara itu. Yang membuat kedua pemuda itu, saling tatap kemudian menggeleng.


Senja menatap pusara itu, dan membaca nama yang ada di nisan itu. Pria itu tersungkur di samping, pusara itu.


Dada Black seakan sesak saat melihat hal itu. Sedangkan Langit, dia memutuskan untuk duduk di samping istrinya. Rasa bersalah muncul dalam hati Langit, saat mengingat kejadian dulu. Saat dia dengan Mentari.


Cahaya mengelus nisan itu, sebelum berucap. "Assalamu'alaikum. Semoga Mbak Mentari tenang di sana."


"Sen, aku tahu kamu sangat terpukul dengan kenyataan ini." Cahaya bicara pelan, menatap sahabatnya yang menangis di seberangnya. Cahaya menatap Black yang berdiri, dia memberi kode kepada Black untuk menenangkan Senja. Pemuda keturunan Aceh itu, mengikuti apa yang di isyaratkan oleh Cahaya untuknya. Black pun duduk di samping pria berkulit gelap itu, dan mengelus punggung pria itu. Meskipun Black masih bingung, apa hubungan Senja dengan sang kakak.


"Dia, adalah Mba Mentari. Yang selama ini mengisi hatimu," ujar Cahaya. Hal itu membuat Langit terkejut. Sebelumya dia berpikir jika sahabatnya itu, tidak punya kekasih.


Black pun sama dengan Langit, yang terkejut dengan kenyataan itu.


Senja mengelus nisan kekasih hatinya itu. Dengan air mata yang mengalir tanpa henti.


"Apa kau tahu, tentang penyakit yang dideritanya Sen?" tanya Cahaya lembut.


Senja mengelap air matanya sejenak, kemudian menatap Cahaya.


Langit hanya diam, ucapan istrinya mengenai sakitnya Mentari, membuat dia menunduk semakin dalam. Black pun ingin tahu tentang kakaknya yang belum ia ketahui.


"Dia didaknosa kanker."


Senja terkejut dengan apa yang baru ia dengar.


"Pertemuan denganmu, itu terjadi setelah dia kembali dari Singapura." Cahaya melirik kearah suaminya, wanita itu mengelus pundak suaminya. Wanita itu seolah ingin menenangkan rasa bersalah yang ada dalam diri suaminya.


"Apa dia sudah sakit saat kita bertemu dulu?" Senja bertanya dengan suara bergetar.


"Betul, dia sudah merasakan sakit yang amat dalam secara fisik maupun nonfisik."


"Sen, waktu itu dia sangat terpukul, karena didaknosis kangker. Dia memutuskan untuk pulang ke Negaranya. Dalam buku harian mbak Mentari, dia sepertinya kehilangan harapan. Katanya dia ingin lanjut S2 setelah lulus S1. Tapi takdir berkata lain."

__ADS_1


Ketiga lelaki itu terdiam mendengar ucapan Cahaya.


"Kalian bertemu di Bandung, di sebuah komunitas Anmufis. Memang! Dalam buku harian itu, tertulis jika mbak Mentari ingin. Menghabiskan akhir hidupnya sebagai petualang, menjelajahi Negri tercinta ini." Cahaya menghela napas dalam-dalam, sebelum melanjutkan ucapannya kembali.


"Setelah itu, kalian saling mengutarakan satu sama lain. Dia memintamu untuk menemui keluarganya. Tapi kau tak siap, karena kamu tak punya apa-apa di masa itu. Sen! Aku teringat saat kau bilang kepadaku. Katamu mbak Mentari tidak memberi tahu di mana keluarganya tinggal." Senja menatap sahabatnya sekilas.


"Mungkin dia tidak mau, sakit hati untuk yang kesekian kali. Sudah dikenalkan keluarganya, tapi malah enggak jadi. Mungkin saja itu alasannya, karena dalam buku itu tak ada pembahasan soal ini." Cahaya terdiam.


"Harusnya dulu aku, menyetujui saat dia. Memintaku untuk bertemu keluarganya. Tapi aku pria pengecut, aku malah bilang jika aku belum punya apa-apa untuk membangun rumah tangga. Dan pada akhirnya, saat aku bertanya dimana dia tinggal. Dia menjawab dengan senyuman simpul." Pria itu berbicara, seolah menyesal.


"Sudah sore, kita pulang. Bentar lagi matahari terbenam." Cahaya bangkit sambil dibantu sang suami.


Senja masih diam, sambil mengelus nisan itu.


"Kalian pulanglah, aku akan disini dahulu. Aku sangat rindu dengannya, mungkin saja rindu ku akan terobati. Saat berdua dengannya." Senja bicara tidak pernah mengalihkan pandangannya dari nisan Mentari.


"Kak, lanjutkan hidupmu. Usia masih muda, jangan terpuruk karena kejadian ini. Aku yakin, Tuhan! Menyiapkan seseorang, yang akan mengisi hari-harimu dan membuatmu senang," harap Black memberi semangat Senja.


Senja mendongak untuk melihat wajah Black.


"Kau tidak mengenalnya? Dia sangat beda dari yang lain. Tidak ada yang seperti dia!" Senja tersenyum getir.


Black yang mendengar jawaban dari pria berkulit gelap itu, dia tersenyum.


"Aku lebih mengenalnya, karena dia adalah kakakku!"


Senja terdiam, tidak percaya jika pemuda yang mudah bergaul adalah keluarganya dari Mentari.


"Aku sebagai adiknya. Ingin bilang kepada Kak Senja! Lupakan kakakku, karena tidak ada gunanya. Kakak belum menjadi siapa-siapanya almarhumah, lanjutkan masa depanmu. Jangan berlarut dalam hubungan yang menyakitkan ini. Kakak, pantas bahagia. Dan aku yakin almarhumah, juga akan bahagia jika Kakak juga bahagia. Mentari hanya menyapa senja, tidak untuk menemani. Jadi aku, hanya berharap Kakak cepat menemukan wanita baru." Setelah bicara panjang Black meninggalkan ketiga orang itu.


Senja terdiam, merenungkan ucapan Black.


"Apa masih mau tetap disini?" tanya Cahaya, kepada Senja.


"Aku akan pulang bentar lagi, kalian pulang dulu." Senja menjawab pertanyaan dari Cahaya.


Pasangan itu pun, meninggalkan Senja. Kedua orang itu berjalan kearah mobil berwarna putih itu. Setelah pasangan itu masuk, mobil itu meninggalkan tempat pemakaman itu.


Malam harinya tepatnya di balkon, pemuda itu sedang menatap rembulan. Wanita berambut sebahu itu, menatap punggung sang suami dari belakang. Cahaya berjalan mendekati suaminya. Wanita berambut sebahu itu, berdiri di samping suaminya. Langit sehabis dari makam sahabatnya, pemuda itu menjadi pendiam.


"Apa Masnya, masih mencintai dia?" tanya Cahaya, tersenyum menatap langit malam.

__ADS_1


Langit tercengang dengan suara istrinya itu. Apalagi pertanyaan istrinya yang membuat pemuda itu, lebih tertegun.


__ADS_2