Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Katian Endak Boyeh Masyuk


__ADS_3

"Az-zahra! Buka pintunya! Cintaku! Istriku, buka dong!" Langit menaruh wajahnya di pintu itu. Sudah hampir dua puluh menit pemuda itu, menunggu istrinya membukakan pintu. Tapi semua usahanya gagal.


Pemuda itu, mendengar suara seseorang terkekeh. Langit membalikkan badannya, dia tahu siapa yang mentertawakan dia.


"Hazel, kau pikir ini lucu?" Langit bicara kesal.


"Entahlah, tapi aku bisa tersenyum karena adegan. Suami pulang sore istrinya ngunci kamar." Hazel tersenyum puas.


Sedangkan pemuda itu, menahan amarah karena ucapan Hazel.


"Alula ada di mana?" tanya Langit datar.


"Dapur!"


Langit segera menerobos masuk kamar Hazel. Karena di sana, ada jalan untuk bisa sampai kamar.


"He ... Lang, kenapa main masuk kamar pribadi orang!" Hazel mengikuti Langit dari belakang.


"Aku tahu kau orang, bukan pinguin!" jawab Langit, sambil menarik selimut yang ada di ranjang milik Hazel.


"Hey ...kenapa itu selimut ditarik," ujar Hazel, berlari mengejar Langit menuju balkon.


Pemuda itu mengikat selimut ke bagian besi dengan kuat-kuat.


"Zel, kau pegang ini dengan kuat. Aku akan menggunakan ini untuk sampai ke balkon kamarku." Langit menyuruh adik iparnya agar memegang ikatan itu kuat-kuat.


"Kau serius Lang?" tanya Hazel tak percaya.


"Makanya pegang kuat-kuat!" ujar Langit, yang sudah siap melakukan acara ninja warrior.


"Baiklah!" Hazel tidak tega, jika membiarkan kakak iparnya nelangsa.


"ZEL! PEGANG YANG KUAT!" teriak Langit.


Didalam kamar Cahaya, wanita itu bisa mendengar teriakan suaminya.


"Lihat lah, dia malah bahagia dengan adik iparnya. Teriak-teriak seperti Tarzan saja." Cahaya mendengus sebal karena suaminya yang sedang asik-asik kan.


"Lang, ayo cepat! Tanganku keram ini." Hazel menahan sakit yang ada di tangannya.


"Zel, setidaknya kau harus memegang ikatan itu. Karena tadi aku hanya mengikat sekali." Langit bergantungan di bawah balkon.


"Cepat, Lang! Tangan ku sudah tidak bisa buat nahan ini." Hazel bercucuran keringat, karena menahan sakit ditambah memikirkan nasib Langit.


"Zel, sekali kau lengah. Maka aku akan jatuh dari lantai dua ini!"


"Iya, aku akan berusaha kau harus cepat!"


Langit tidak menjawab perkataan Hazel. Pemuda itu fokus pada besi, yang harus ia raih. Dengan ke fokusnya dan kegigihan yang ada dalam dirinya.


Akhirnya Langit bisa meraih besi yang ada di pinggiran balkon kamar. Tinggal satu lagi, Langit harus berusaha naik ke atas agar bisa selamat. Hazel yang melihat hal itu sangat miris. Jika saja, tangan Langit berkeringat dan tidak bisa menahan genggaman dari besi itu. Pasti dia akan terjatuh.


"Lang, jangan terlalu tergesa-gesa. Tenang! Agar selamat!"


Dahinya basah dengan keringat, napasnya terengah-engah. Akhirnya Langit bisa melewati, jalan yang tidak berkelok, tidak juga terjal tapi membahayakan.


"Huft!" Langit membuang napas, sambil mengelap keringat di dahi dengan lengannya.


"Makasih Zel!" Langit bicara sambil ke pintu kamarnya.


Saat didepan pintu yang terbuat dari kaca. Pemuda itu, bisa melihat istrinya sedang bersandar di kepala ranjang. Sambil memejamkan mata. Langit membuka pintu sliding itu perlahan. Kemudian masuk kamar, tanpa suara. Setelah sampai di samping ranjang. Pemuda itu, menjatuhkan badannya di ranjang.Sedangkan kepalanya jatuh di pangkuan istrinya. Cahaya yang memejamkan matanya, wanita itu kaget. Karena ada sesuatu yang jatuh di pangkuannya.


Langit tersenyum riang. Sedangkan Cahaya mendengus sebal.


"Minggir!" Cahaya bicara sambil menjauhkan kepala suaminya itu. Tapi Langit, pemuda itu malah menyembunyikan wajahnya di perut istrinya. Sedangkan tangannya melingkar di pinggang istrinya.


"Minggir!" Cahaya berusaha mengangkat kepala suaminya. Dari pangkuannya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Liat dek! Kalau Bunda lagi merajuk, enggak mau dekat Papa!" bisik Langit di perut istrinya. Dan bayi yang ada di perut itu merespon.


Langit tidak bilang marah, pemuda itu lebih memilih kata yang lebih halus yakni merajuk.


"Cepat minggir, kepalamu tak ada otak!" geram Cahaya, sambil mendorong kepala suaminya dengan keras.


"Huft!" Langit membuang napas, seraya duduk di samping istrinya.


"Dasar!" Cahaya menggerutu sambil membersihkan paha, yang tadi digunakan suaminya bantal.


"Kenapa pedas banget ucapan mu?" tanyanya lembut.


"Emang bener! Kau tidak punya otak!" sinis Cahaya.


"Apa maksudnya? Kenapa kau bicara kasar? Dulu kau tidak seperti ini." Langit mengeluh tentang karakter istrinya yang berubah.


"Kau menang tak punya otak. JIKA saja kau punya otak, kau tak akan pergi tanpa memberi tahu ku!" Cahaya bicara tepat didepan wajah suaminya. Sampai giginya bergemeretak karena geram.


Langit menahan napas, dia harus sabar. Karena istrinya sedang marah. Langit menyentuh tangan istrinya lembut, menepuk dengan halus. Matanya menatap mata Cahaya seraya berkata. "Bagaimana aku memberi tahu mu. Jika kamu masih tidur. Istriku, kau pun tidak boleh egois. Sekarang yang ada didalam dirimu bukan cuma kamu. Tapi ada kehidupan baru dalam perutmu itu. Kamu juga harus tahu itu." Langit bicara dengan sangat lembut, kemudian melanjutkan ucapannya kembali. "Jika saja kau tak mengandung. Aku akan mengajakku untuk menenangkan ku! Saat di pesawat!"


"Pesawat?" tanya Cahaya sedikit tenang. Tidak seperti yang sebelumnya yang penuh emosi.


"Ya! Sebenarnya aku pergi ke Yogyakarta!"


"Ngapain? Terus kenapa gayanya beda. Pakai jaket, kayak anak muda segala!" Cahaya mendengus kesal, karena gaya suaminya yang berbeda. Biasanya juga pakai kemeja gulung udah. Nah kenapa ke Yogyakarta pakai jaket segala.


"Masalah Black, tadi pagi aku dapat telpon dari kantor polisi. Black di tangkap karena narkoba!" Langit yang melihat wajah istrinya gusar. Dia melanjutkan ucapnya lagi. "Semua itu salah paham. Black dia tidak mengonsumsi nya!" Cahaya yang mendengar hal itu, dia bernapas lega.


"Terus kenapa pakai jaket? Mau tebar pesona, sama wanita Yogyakarta ya?" Cahaya bicara sinis.


Langit yang mendengar hal itu, dia tidak tahu harus tertawa atau merasa bersalah.


"Masalah jaket? Aku memakainya karena kedinginan. Terus ngapain tebar pesona sama wanita lain, itu enggak ada gunanya. Mending tebar senyum di dekatmu jauh lebih berguna!" Langit terkekeh, sudah lama tak menggoda istrinya itu. Cahaya yang sebal ingin tertawa. Berhubung gengsinya terlalu tinggi, jadi tawanya ia tahan.


"Tunggu-tunggu kenapa kamu bilang gayaku kayak anak muda? Wahai ... istriku aku ini juga masih muda. Belum ada tiga puluh tahun, ya!" Suaranya sangat lembut saat bilang. 'Wahai ... istriku'. Sedangkan Cahaya dia sangat suka saat suaminya bicara lembut.


"Bilang saja, jangan berlagak seperti bujang! Kenapa susah sekali!" Langit menimpali ucapan istrinya.


"Bujang tidak laku!" sinis Cahaya.


"Buktinya kau mau, dengan ku!" Langit tidak terima, kalau dibilang tidak laku.


"Terpaksa! Harusnya dulu, aku enggak mau. Karena kamu dingin!"


"Terus kenapa kamu menerimanya?"


"Kasian saja, aku pikir tidak akan ada yang mau denganmu karena kau dingin." Cahaya menahan tawanya, karena wajah Langit sangat kesal.


"Bilang saja, kau tidak laku. Jadi itu sebabnya kau mau!" Langit bicara seraya mencopot jaketnya. Kemudian ke kamar mandi.


Saat Langit masuk ke kamar mandi, Cahaya mengambil jaket suaminya. Wanita itu mencium wangi khas suaminya. Namun saat dia membolak-balikkan jaket itu. Ada yang terjatuh dari dalam kantong itu.


Mata Cahaya memerah karena barang itu. Amarahnya kembali memenuhi hatinya.


"Kenapa barang ini ada di jaketnya?" Cahaya meremas jaket itu.


"Aku tidak suka, kalau dia merokok!" Cahaya terlihat seperti orang kecewa.


Mata Cahaya menatap pintu kamar mandi itu. Pintu itu terbuka, Langit keluar. Cahaya melemparkan bungkus rokok itu kearah suaminya.


Bungkus rokok itu hampir saja mengenai pelipis Langit. Langit mengerutkan dahinya. Pemuda itu belum tahu, benda apa yang istrinya lempar.


"Kau kenapa? Bukannya masalah kita sudah selesai?" tanya Langit.


"Sejak kapan kau melakukan hal itu diam-diam?" Cahaya mengintegrasi.


"Ngelakuin apa?" Langit tidak tahu maksud istrinya.

__ADS_1


"Enggak usah ngelak, itu barang ada di saku mu." Tunjuk Cahaya kearah lantai.


Langit menatap kearah lantai, yang istrinya tunjuk. Pemuda itu, melotot karena barang itu.


Black! Benar-benar dia membuatku dalam masalah. Langit menjambak rambutnya kasar.


"Sejak kapan merokok? Jangan-jangan kamu sering rokok saat tidak bersamaku. Ah ... atau sebelum menikah dengan ku? Tapi aku tidak tahu. Aku sangat kecewa denganmu!" Sorot matanya terlihat kecewa, amarahnya sangat jelas. Dadanya sesak karena kekecewaan yang ada dalam dirinya.


Langit yang melihat hal itu, dia tidak tahu gimana caranya menjelaskan kepada istrinya itu. Cahaya bangkit dari ranjang, kemudian memutuskan keluar.


Langit segera berganti baju, untuk mengejar istrinya itu. Cahaya menuruni anak tangga dengan air mata yang membasahi pipi. Cahaya menatap seluruh ruangan nampaknya sepi. Tapi dia mendengar tawa dari ruang keluarga. Cahaya mengelap air mata yang membasahi pipinya. Dan berjalan kearah ruang keluarga.


Setelah sampai di ruang keluarga, Cahaya berjalan kearah sofa.


"Eh ... calon Bunda! Duduk dong!" Archer berseru.


Cahaya duduk, tapi tetap diam. Membuat ketiga anak muda yang ada di sana saling tatap.


"Ada apa Teh? Cerita sama kami!" Arche bertanya kepada kakak iparnya, yang seperti orang sedih.


"Iya, Teh! Mumpung aku ada di sini!" Black angkat bicara.


Langit berjalan melewati tangga dengan cepat. Pemuda itu mencari istrinya yang sedang marah dengannya. Langit melihat istrinya sedang duduk dengan si kembar dan anak muda yang membuat dia bertengkar dengan istrinya.


Langit yang sudah ada dekat istrinya, dia bersimpuh di kaki istrinya. Membuat ketiga anak muda itu saling tatap.


"Ayo kembali ke kamar, jangan seperti anak kecil." Langit bicara pelan. Agar hanya istrinya yang mendengar. Tapi Cahaya tetep diam dengan tatapan kosong.


"Ayo, apa enggak malu dilihatin orang. Kalau kita sedang bertengkar!" Langit bicara, sambil menyembunyikan wajahnya di perut istrinya.


"Apa kau tidak malu, ketahuan bohong?" Cahaya bertanya balik.


Sedangkan si kembar saling kode, kenapa dengan kang masnya dan kakak iparnya itu. Tak pernah mereka melihat kedua orang itu, bertengkar di hadapan hal layak umum. Sedangkan Black, mengamati wajah Cahaya yang kesal.


"Sudah ku bilang, aku tak pernah bohong!" Langit masih setia dengan posisi yang awal.


"Terus, masih mengelak jelas-jelas itu rokok ada di saku mu." Cahaya tidak mau menatap suaminya.


Black yang mendengar hal itu, dia membulatkan matanya.


"Sudah aku bilang itu bukan milikku!"


"Minggir, aku tidak suka dengan PEMBOHONG!" Cahaya mendorong tubuh suaminya keras. Langit yang didorong, dia sedikit goyah ke belakang. Hingga sikunya terbentur, ujung meja yang terbuat dari kaca. Siku pemuda itu mengeluarkan darah, karena tergores ujung meja. Si kembar meringis, karena kang masnya terluka. Sedangkan Black, pemuda itu merasa bersalah. Karena dialah biang keroknya.


"Kang Mas! Sikunya berdarah!" Archer angkat bicara, mendekati kang masnya.


"Tidak! Aku hanya tergores. Rasa sakit ini, lebih sakit saat istri memanggil suaminya pembohong!" Langit menatap wajah istrinya.


Sedangkan Cahaya yang tersindir dia menangis, sambil bangkit dari duduknya. Cahaya sedikit lari menuju kamarnya. Padahal, Langit tidak sedikit pun menyindir Cahaya. Tapi pemuda itu, hanya meluapkan apa yang ada dalam hatinya.


Langit yang melihat istrinya menangis, dia menarik napas. Pemuda itu sudah lelah dengan kejadian hari itu.


Saat Langit ingin mengejar istrinya. Black angkat bicara sambil menunduk. "Maaf, Bang! Gara-gara ide konyol ku. Abang jadi bertengkar dengan teh Cahaya!" Langit yang mendengar hal itu, dia tidak mengeluarkan suara.


"Sebenarnya, apa yang kau inginkan Tam? Kau ingin mereka bertengkar?" sinis Archer sambil terkekeh.


"Apa alasan kau melakukan ini Black? Aku kau punya alasan." Langit bicara sangat datar.


"Sebenarnya, aku hanya ingin melihat teh Cahaya marah. Aku tidak pernah melihat dia marah. Aku berfikir teh Cahaya itu bidadari atau apa kenapa aku tak pernah liat teteh, marah. Dan alasan kedua, aku merindukan almarhumah saat memarahiku. Itu sebabnya, aku melakukan hal itu. Agar aku bisa melihat wajah almarhumah yang marah!" Black semakin menundukkan kepalanya dalam. Rasa bersalahnya, membuat dia seperti itu.


Langit yang mendengar hal itu dia menggelengkan kepalanya.


"BLACK!" Si kembar tidak habis pikir dengan pemikiran Black.


"Maaf Bang! Aku akan bicara kepada teteh, yang sebenarnya. Meskipun aku takut," ujarnya menekankan suaranya saat diujung kata.


"Tidak usah! Aku akan membuatnya mengerti dengan caraku. Kau mandilah, setelah magrib kita jalan kerumahnya papi!" Setelah bicara sepertu itu, Langit mengejar istrinya.

__ADS_1


__ADS_2