Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Kemenangan


__ADS_3

Terdengar suara takbir berkumandang. Hari kemenangan telah tiba. Anak-anak kecil sangat senang, karena besok pagi mereka sudah bisa makan pagi, tak lupa baju baru telah siap untuk dipakai keliling komplek. Suara anak-anak muda mengumandangkan takbir keliling komplek. Tong yang dikasih ban dipukul keras-keras. Ada yang memukul bambu ada yang membawa kicrikkan, yang terbuat dari tutup botol minuman bersoda.


Kita beralih dikamar pasangan baru itu.


"Uang bulanan," ucap suami, yang baru ingat jika dia belum beri uang bulanan, sampai jatuh tempo.


Tidak lebih dan tidak juga kurang.


"Makasih," ucap istrinya, sambil menerima uang itu.


Kita beralih dikamar yang tak jauh dari kamar pasangan baru itu.


"Besok udah lebaran, bahagia pasti, tapi harus siap mental," ucap si bungsu, sambil mengacak-acak rambut.


"Kau benar," jawab kakak, sambil tidur di ranjang.


"Heran jugak, kenapa pertanyaan yang enggak ada faedahnya harus ditanyakan," gerutu Archer sambil duduk di sofa.


"Kapan nikah? Kalau sudah nikah ditanya kapan punya anak?" ujarnya lagi.


"Entahlah, apa mereka tidak percaya Tuhan. Bukankah jodoh, maut, rezeki sudah Tuhan, yang ngatur— lalu ngapain dipertanyakan coba." Kakak menyahut.


"Jodoh sudah dipertanyakan, rezeki sudah dipertanyakan. Kenapa tidak sekalian maut juga dipertanyakan. Lu kapan mati? ya enggak Kak?"


"Nah ...kalau sudah tahu mautnya kan. Kita tahu! Jodohnya siapa, anaknya berapa." Arche menjawab dengan santai.


"Hahahahahaha."


Tawa si kembar memenuhi ruang tidur itu.


Kita bergeser ke rumah Agam Ariaja. Gadis berwajah bulat itu, sedang mencoba baju untuk besok. Berputar-putar kemudian tersenyum melihat pantulan tubuhnya dari kaca.


"Cut Adik!!! " panggil ibunya.


"Iya Mami!" jawabnya, sambil berlari menutup pintu. Kemudian menuruni anak tangga.


"Sayang, ayo Mami ajarin niat zakat fitrah. Pegang berasnya dan ikutin kata Mami okey," ucap ibunya, dengan penuh kasih sayang.


"Okey Mami!"


"Bismillah."


"Bismillah."


"Nawaitu an ukhrija zakaatal fitri"


"Nawaitu an ukhrija zakaatal fitri" sang anak mengikuti.


"An nafsi fardhan lillahi ta'ala."


"An nafsi fardhan lillahi ta'ala." Cantik sangat pandai.


"Sekarang artinya ya sayang?" Gadis itu mengangguk.


"Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku sendiri fardhu karena Allah Taala."


"Mami jangan panjang-panjang aku enggak bisa," protesnya, sang ibu tersenyum mendengar ucapan anaknya.


Kita kembali ke pasangan baru itu. Mereka berdua sudah niat zakat fitrah. Satu jam sebelum berdiri di balkon. Mereka berdua sangat suka menghabiskan malam untuk memandang ke indahan langit malam, di tambah bintang yang bertaburan menghiasi langit malam. Malam itu rembulan membulat sempurna.


"Aku ingin kau ikut bersamaku," ucap pemuda yang memakai kemeja hitam dengan lengan yang digulung sampai sikut. Cahaya terdiam, wanita berambut sebahu itu tidak tahu apa maksud suaminya. Tanpa kata pemuda itu, menarik tangan istrinya. Sang istri hanya diam, tidak mengeluarkan kata sepatah kata pun.


Melewati tangga dengan cepat, sambil menggandeng tangan istrinya itu. Mereka sudah ada di dalam mobil berwarna silver itu.


Mobil terus melaju membelah jalan. Takbir dari masjid masih terdengar sangat jelas.


"Kita mau kemana Mas?" pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut sang istri. Pemuda itu hanya melirik tidak menjawab.


Mobil silver itu berhenti dekat jalan raya. Pemuda itu keluar dari mobil di ikuti sang istri.


"Ngapain kita disini?"

__ADS_1


"Kau akan tahu," ucapnya Langit menggenggam tangan istrinya. Pemuda itu menaiki tangga sambil menggenggam tangan istrinya.


Langit mencari ponselnya untuk senter. Mendorong pintu yang terbuat dari kaca itu. Gelap tidak ada lampu di ruangan itu.


"Kau tetap disini," ucapnya yang mau meninggalkan istrinya. Tapi langkahnya terhenti, saat istrinya memegang lengannya.


"Kenapa?" tanyanya, sambil mengarahkan senter ponsel kearah wajah istrinya. Istrinya tidak mengeluarkan suara hanya menggelengkan kepala saja.


"Kau takut?" tanya Langit, Cahaya mengangguk.


"Jika kau takut gelap kau bisa lihat rembulan," ucapnya, sambil memutar tubuh istrinya agar menghadap kearah luar yang memperlihatkan rembulan yang indah.


"Pandang rembulan itu, nikmati keindahannya. Coba berbicara dengan rembulan pasti tidak akan takut lagi."


Cahaya mulai melakukan apa yang suaminya katakan. Bibirnya mulai tersenyum memandang rembulan yang nampak besar di ketinggian dua lantai. Langit yang melihat hal itu, dia mulai meninggalkan istrinya. Pemuda itu, mencari saklar untuk menghidupkan lampu ruangan itu.


Klek....


Ruangan itu mulai terang, dan disaat itu pula Cahaya membalikkan badannya. Banyak kursi dan meja berjejer, bau cet tembok masih tercium. Sepertinya ruangan itu baru selesai renovasi. Mata wanita itu tertuju pada tulisan 'AZ-ZAHRA ISTIMEWA'


Kata Az-zahra membuat Cahaya mengerutkan dahi.


"Ngapain kita disini Mas?"


"Ini untukmu Az-zahra!" ucap Langit berjalan kearah istrinya. Cahaya mengerutkan dahi siapa Az-zahra itu. Mungkin itu yang ada di benak wanita berambut sebahu itu.


"Az-zahra?"


"Az-zahra itu adalah nama yang bagus. Jadi aku memanggilmu Az-zahra!" jawaban santai dari Langit.


"Namaku Cahaya bukan Az-zahra!"


Langit tersenyum, mendengar ucapan istrinya. Sedangkan Cahaya merinding, karena baru pertama kali dia melihat senyuman itu.


"Az-zahra sendiri berasal dari bahasa Arab. Zahraa sendiri dapat diartikan cantik, bercahaya atau juga cemerlang. Sementara tulisan Arab Zahrah bunga mekar dan keindahan."


"Terus hubungannya apa dengan ku?" Cahaya bertanya.


"Kau tidak paham juga sepertinya." Langit tersenyum tipis. Cahaya menelan ludahnya karena suaminya mengejeknya. Langit mengambil napas, sebelum menjawab. "Karena semua artinya sangat bagus. Mewakili


Cahaya baru paham, apa yang suaminya maksud.


"Kau tahu kisah cinta Sayyidah Fatimah sama Sayyidina Ali?"


"Cinta dalam diam." Cahaya.


Bagaimana mungkin wanita itu tidak tahu tentang kisah cinta mereka. Kisah cinta mereka sangat Masya Allah. Karena sebelum Rasulullah menikahkan keduanya. Allah sudah menikahkan mereka berdua di langit.


"Az-zahra, aku ingin minta maaf kepada mu," ucapnya.


Dahi Cahaya berkerut, mendengar ucapan suaminya itu.


"Maaf?" tanya Cahaya bingung.


"Ya, semenjak kedatangan Cantik waktu itu, aku selalu mencium pipimu, saat kau sedang terlelap."


"Oh... " Cahaya mengangguk-mengangguk. Sedetik kemudian wanita itu tersadar.


"Apa?" tanya Cahaya kaget.


"Bukannya sudah jelas, ngapain tanya?" nadanya sedikit nyolot.


Pemuda itu berjalan keluar ruangan. Dan Cahaya juga mengikuti dari belakang kemudian berdiri di samping suaminya.


"Okey!" jawab Cahaya mengangguk.


"Masalah kafe ini, aku harap kau bisa mengelolanya sendiri. Ini hadiah untukmu, katanya kamu ingin punya karyawan istimewa. Dan untuk minimarket kau yang akan membantu ku."


"Maksudnya?"


"Lupakan kita bahas besok, tapi malam ini ada sesuatu yang lebih penting."

__ADS_1


Langit memegang tangan istrinya dengan kedua tangannya. Cahaya sedikit terkejut dengan kelakuan suaminya itu.


"Aku tahu!" Langit memberi jeda sebentar. Sebelum berucap kembali. "Kita belum saling mencintai, tapi kalau aku boleh jujur aku nyaman denganmu Az-zahra. Maka malam ini aku berjanji, jikalau suatu saat aku sudah mencintaimu, maka akan aku ungkapkan isi hatiku padamu." Pemuda itu benar-benar misterius dan penuh kejutan. Cahaya yang mendengar hal itu. Perasannya dibuat campur aduk ada bangga, karena suaminya yang mengutarakan isi hatinya. Senang dengan ucapan sang suami karena mau bicara terus terang.


"Az-zahra! Aku mempunyai dua kabar. Yang pertama kabar baik dan yang kedua kabar buruk," ucapnya, yang sudah tidak memegang tangan istrinya. Cahaya terdiam. Cahaya, dia tidak tahu apa maksud suaminya itu.


"Kabar baiknya aku diterima kerja, tapi kabar buruknya. Kerja pertama ku tanggal— " ucapnya tak diselesaikan, dia tahu istrinya akan sedih.


"Pasti hari ketiga atau keempat lebaran kan?" tebak sang istri dan itu tebakan yang tepat.


"Hem... " jawab pemuda itu mengangguk pelan.


Raut wajah wanita itu menjadi sedih, karena jadwal berkunjung ke makam ibu sepertinya akan gagal. Langit membuang napas kasar. Karena wajah istrinya berubah sendu.


"Kau tidak usah khawatir, kita akan tetap ke Semarang ke makam ibu. Kita majukan jadwal ke Semarang nya. Aku akan meminta si kembar ikut agar bisa gantian nyetir. Jaraknya lumayan jauh perkiraan lima sampai enam jam," desis pemuda itu diakhir kalimatnya.


"Kita pulang," ajak Langit.


Mobil itu meninggalkan ruko berlantai dua.


Malam kemenangan Cahaya menemukan kebahagiaan tiada tara. Namun terkadang kebahagiaan itu akan menjadi kesedihan kedepannya. Malam kemenangan akan selalu teringat dibenak semua orang. Sampai tua pun kejadian itu akan diingat keduanya, karena bertepatan dengan malam kemenangan. Kejadian malam itu akan menjadi kenangan yang indah bagi keduanya. Namun tidak tahu takdir Tuhan kedepannya.


Mereka sudah berbaring di ranjang. Malam itu berbeda dari malam biasanya, karena kebanyakan orang kalau malam takbiran jarang bisa terlelap. Karena mikirin kebahagiaan yang akan datang untuk esok hari. Pun sama dengan pasangan baru itu, hanya diam saling memandang.


"Kau tidak tidur?" tanya suaminya memandang mata istrinya.


"Susah." Cahaya menjawab enggan memalingkan penglihatannya kearah lain, Cahaya lebih menikmati wajah suaminya itu.


Pemuda itu berbeda dengan pemuda pada umumnya. Andai saja itu orang lain pasti sudah menyerang wanita yang ada di depannya itu dengan ciuman tiba-tiba. Tidak! Langit berbeda dia sangat menghargai wanita sekalipun itu istrinya, dia tidak akan bisa melecehkan istrinya. Jika dia ingin pasti akan izin dengan pemiliknya dahulu. Mengenai ciuman di pipi tiap malam dia berharap ciuman itu akan membuat dia mencintai istrinya lebih cepat.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya sang suami, yang baru angkat bicara setelah dua puluh menit terdiam.


Sang istri mengangguk, masih setia menatap wajah suaminya.


"Apa aku bisa memberi mu nafkah batin?" tanya pemuda itu, menatap dalam mata istrinya.


Cahaya gelagapan saat suaminya bilang begitu. Kenapa harus gelagapan. Bukanya saat sang suami ngasih dia nafkah zhaahir dia tidak menolak, malahan dia bilang makasih. Apa dia tidak bisa bilang makasih karena dengan senang hati suaminya menawarkan nafkah batin untuknya.


Langit yang melihat hal itu dia merasa tidak enak hati.


"Em... " ucapan Langit terpotong suara lembut milik istrinya.


"Jika itu, yang bisa menyempurnakan statusku sebagai istri, aku ikhlas Mas!" jawabnya malu-malu sambil menutupi wajahnya dengan bantal.


Langit yang mendengar hal itu, dia sangat bahagia karena istrinya tahu bagaimana jadi istri yang baik. Langit merampas bantal yang istrinya gunakan untuk menutupi wajahnya karena malu.


"Eh... " ucap Cahaya, segera tarik selimut, agar suaminya tidak melihat wajahnya merah karena malu. Malam itu Langit sangat jahil. Setelah merampas bantal ganti menarik selimut, yang digunakan istrinya untuk menutupi wajahnya.


"Eh... " Cahaya lagi-lagi hanya bilang. Eh saja. Wanita itu memutuskan membelakangi suaminya agar tidak bisa melihat wajahnya yang memerah.


Langit yang melihat hal itu dia memepetkan tubuhnya dengan tubuh istrinya. Memeluknya dari belakang yang membuat istrinya membulatkan mata dengan sempurna.


"Kau tidak keberatan kan?" tanya pemuda itu. Cahaya menggeleng, tidak enak jika menolak.


"Sayang sekali ini malam kemenangan, jadi kita tidak boleh melakukan," ucap Langit yang dapat di dengar istrinya dengan jelas. Cahaya sedikit takut juga ingin tertawa karena ucapan suaminya. Campur aduk lah pokoknya.


"Terkadang yang bersabar ...mendapatkan sesuatu yang lebih indah ...dan siapa yang bersabar pasti dia akan menang!"


"Kau tidak tidur, ini sudah jam setengah dua?" ucap pemuda itu lembut.


"Terlalu bahagia untuk hari esok jadi susah tidur."


Langit membalikkan tubuh istrinya agar menghadapnya. Cahaya menatap wajah sang suami.


"Tidurlah jaga kesehatan, besok malam kita ke Semarang." Langit memeluk tubuh istrinya dalam pelukannya. Cahaya menyembunyikan wajahnya di dada sang suami, dan membalas pelukan hangat itu dengan erat. Baru lima belas menit, wanita itu sudah tertidur lelap. Pemuda itu melihat apa istrinya sudah tidur. Ah...


ternyata sudah dari tadi pikirnya. Dicium lah pipi sang istri.


Kemudian membisikkan sesuatu, dan bibir istrinya, selalu tersenyum disaat dia menciumnya.


"Mimpi indah Az-zahra!"

__ADS_1


Mereka menjalani rumah tangga tanpa cinta. Tapi seiring berjalannya waktu. Cinta itu semakin tumbuh diantara keduanya. Biarlah waktu yang menjawab semua pertanyaan yang ada di dalam hati Cahaya. Yang namanya pernikahan tidak luput dari sebuah permasalahan, pun mereka juga akan merasakan tahap yang lebih menguji seberapa setianya dan cinta yang mereka memiliki.


Kapan merasakan kenikmatan dunia? Batin Langit.


__ADS_2