Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Papa Aku Pergi...


__ADS_3

"Pak, bantu saya berdiri!" Langit bicara dengan suara bergetar. Tatapannya kosong.


Setelah rekan kerjanya membantu dia berdiri. Pemuda itu, berlari entah mau kemana.


"ZEL!" teriak Langit, sambil masuk ke dalam ruangan Hazel.


Hazel yang sedang melakukan penelitian laporan, dia terkejut. Saat melihat kakak iparnya dengan pakaian kusut, dasi longgar tidak seperti semestinya dan matanya memerah.


"Ada apa Lang?" Hazel berlari kearah Langit, yang mau terjatuh. Dengan cepat Hazel menahan.


Napasnya naik-turun membuat Hazel sedikit takut. Sebenarnya hal apa yang terjadi, yang membuat kakak iparnya seperti malam itu.


"Katakan, Lang! Ada apa ini? Kenapa kau seperti ini?" Hazel mengguncang bahu Langit.


Langit tidak bersuara, dia hanya menyerahkan ponselnya kearah Hazel. Hazel menerimanya, dan menyuruh Langit berpegangan tembok agar tidak jatuh.


Hazel mulai membaca pesan itu.


Kang mas, segeralah ke rumah sakit. Teteh jatuh dari tangga. 15:40


Kang mas, segeralah kemari. Kang mas harus kuat, bahwa takdir tidak mengizinkan kang mas, menjadi seorang papa. 18:20.


Hazel yang membaca pesan itu, segera memasukkan ponsel ke saku.


"Lang, kau kuat!" Hazel memberikan pelukan, untuk menguatkan kakak iparnya.


"Kenapa ini terjadi Zel?" Langit bertanya dengan tatapan kosong. Matanya memerah, air mata itu menetes membasahi pipi.


"Lang, ayo kita ke sana!" Hazel meminta Langit, mengusap matanya.


Mereka masuk lift, saat kedua orang itu keluar. Dan berjalan cepat keluar dari kantor. Asya mengerutkan dahi kemudian mengikuti dari belakang.


Hazel segera masuk mobil milik Langit dan segera tancap gas. Mobil Asya ada dibelakangnya mobil itu.


"Lang, minumlah!" Hazel menyodorkan minuman kearah Langit.


"Tidak, Zel!" Langit bicara dengan tatapan lurus ke depan. Sedangkan Hazel menaruh botol itu kembali, kemudian Hazel mengemudi dengan kecepatan sangat tinggi.


Setelah ada diparkiran rumah sakit. Langit segera berlari ke dalam rumah sakit itu. Hazel mengikuti Langit dari belakang, sedangkan Asya perempuan itu. Masih memikirkan sesuatu.


Langit berlari kearah ruang operasi karena istrinya ada di sana.


"Kang Mas!" panggil Abidah Aminah menghampiri anaknya. Langit segera memeluk ibunya. Katanya sedewasa apapun kamu. Ibu adalah orang yang bisa menenangkan mu.


"Ibu, apa dia baik-baik saja?" tanya Langit, seakan takut kehilangan istrinya.


"Dia akan baik-baik saja, tapi kamu tahu yang satu tidak selamat!"


Langit mengangguk pelan.


"Dimana bayinya Ibu?" tanya Langit mengusap matanya.


"Dokter masih memandikan jenazah anakmu!" Abidah Aminah tidak kuasa menahan tangis.


Brian datang sambil menggendong bayi di tangannya. Langit yang melihat hal itu dia menangis. Pemuda itu mendekati mertuanya.


"Ayah, izinkan aku menggendongnya untuk yang pertama dan terakhir!" Brian segera memberikan bayi itu kepada menantunya. Bibirnya tersenyum, saat melihat bayi mungil itu sudah berwujud.


"Wajahmu seperti bunda mu dek!" Langit mencium wajah bayi itu.


Mungkinkah bayi itu, marah dengan papanya. Karena kedua orang tuanya, tidak pernah memanggilnya dengan panggilan. 'ANAK KU' Mereka selalu memanggilnya dengan panggilan 'DEDEK' Bahkan Langit pernah berkata jika bayi itu anak 'PANDA' Meskipun itu sebuah singkatan. Tapi tetep saja orang tua bayi itu, tidak pernah memanggilnya 'Anakku'.


Dan inilah arti mimpi Cahaya. Saat Cahaya didatangi Mentari. Emas itu artinya anak. Sedangkan dalam mimpi Cahaya. Emas itu hilang saat Mentari juga pergi.


Pintu ICU terbuka dokter keluar. Langit yang melihat hal itu, pemuda mendekati dokter itu.


"Bagaimana istri saya dok?" tanya Langit mencoba tenang.


"Istri Anda kritis, benturan di kepalanya sangat fatal! Tapi Anda tenang saja, kami akan menangani pasien dengan baik!" Langit yang mendengar hal itu, jantungnya berdetak kencang.


Satu ucapan istrinya terngiang di kepala. Saat dia menyuruh istrinya berjanji agar tidak meninggalkan dia. 'Aku tidak bisa berjanji, karena aku tak tahu takdir apa yang Pencipta, tuliskan untukku. 'Aku memang tidak bisa berjanji untuk selalu bersamamu. Tapi aku akan berusaha untuk mendampingi mu, sampai Allah yang memisahkan kita. Pada dasarnya, saat kita diberi rasa memiliki. Akan ada saatnya kita disuruh merelakan'

__ADS_1


Langit menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak! Itu tidak mungkin!" Pemuda itu sangat takut, jika istrinya meninggalkan dia.


"Abang! Kau kenapa?" tanya istrinya Agam Ariarja, sambil mengelus pundak Langit.


"Mi, dia tidak mungkin meninggalkanku sama seperti bayiku dan Mentari kan Mi?" tanya Langit kepada istrinya Agam Ariarja.


Istrinya Agam Ariarja yang mendengar hal itu, wanita paruh baya itu. Mundur satu langkah, dia juga tidak mau kehilangan seseorang yang membuat dia kembali semangat hidup.


"Lang, semua akan baik-baik saja Nak!" Agam Ariarja mencoba menenangkan Langit.


"Ya, Bang! Aku yakin semua akan baik-baik saja!" Black menimpali ucapan ayahnya.


Langit mencoba untuk tenang, meskipun memang sulit.


"Dok, apa saya boleh masuk?" tanya Langit penuh harap.


"Tapi—" jawabnya terpotong oleh Black. "Izinkan, atau dokter mau bogeman ini melayang di muka!" suaranya sangat datar.


"Ba-baiklah! Sebentar saja, karena nanti kita akan operasi istri Anda!"


Langit segera masuk ke ruangan itu, dengan menggendong jenazah bayinya. Langit mendekati ranjang istrinya.


"Lihatlah dia sepertimu! Wajahnya, matanya, hidungnya. Semua kamu istriku." Langit menatap wajah kedua orang itu bergantian.


"Jangan tinggalkan aku, sepertinya dedek yang tidak mau bersamaku!" Langit mencium kening istrinya.


Kemudian meletakkan wajah bayi itu, untuk mencium wajah Cahaya .


"Aku kasih, dia nama Skystar! Karena dia akan menjadi bintang di langit. Ku gabungkan nama kita untuk dedek!" Langit bicara pelan.


Langit keluar dari ruangan istrinya, dia harus segera memakamkan bayi itu.


"Lang semua sudah siap, kita makamkan sekarang!" Hazel memberi tahu. Semua orang ada di sana pak Khan dan Jo baru datang. Sedangkan Senja dan sahabat Cahaya yang lain juga ada di sana.


"Terus siapa yang akan menemani istriku?" Langit bertanya.


"Biar Eyang saja!" Nenek tua itu bersuara.


"Rencana ku berhasil!" Eyang tersenyum lebar.


"Aku harap dia juga mati!" Eyang tersenyum sinis.


Perempuan yang bersandar di tembok itu, menggeleng tidak percaya.


"Orang tahunnya jika si kampung itu, terpeleset. Padahal semua itu rencana ku hahaha!" Eyang tertawa terbahak-bahak


Perempuan yang bersandar di tembok itu, menggenggam tangannya kuat. Karena muak dengan ulah nenek tua itu.


Langit telah memakamkan bayi itu. Semua keluarga kembali ke rumah sakit. Meninggalkan Langit dan Black.


"Dek, kenapa kamu enggak mau sama Papa?" tanyanya dengan mengelus batu nisan itu.


"Kamu tahu Dek? Papa sama bunda mu, menunggumu lahir. Perkiraan dokter, kamu akan lahir satu minggu setelah lebaran. Tapi— ternyata maju ya Dek!" Langit tidak percaya dengan semua itu. Malam takbiran tahun itu dia kehilangan anaknya.


"Bang, balik yuk!" ajak Black yang setia menemani Langit.


"Aku masih ingin di sini Black!" jawabnya pelan.


"Bang, aku tahu! Kalau Abang enggak mau ninggalin Skystar! Tapi, ada seseorang membutuhkan Abang!"


Langit menatap Black sejenak.


"Ayo Bang, teteh mau di operasi! Abang harus ada di sampingnya!" Black memaksa.


Langit dia tidak boleh egois, dia juga harus bersama istrinya.


"Dek, yang tenang di sana. Do'akan bunda baik-baik saja. Hanya dia yang Papa! Miliki!" Kecupan mendarat batu nisan itu.


Langit dan Black telah kembali, mereka sudah ada di rumah sakit.

__ADS_1


"Sebenarnya, apa yang terjadi? Kok aku ngerasa ada yang janggal! Cahaya tidak mungkin tidak berhati-hati dalam hal apa pun. Apalagi saat hamil, dia sangat menjaga kandungannya." Istrinya Agam Ariarja berbicara.


Kebetulan mereka pada ngumpul di depan ruangan Cahaya.


"Mungkin enggak sih, jika dia sakit kepala terus jatuh." Eyang bicara seakan gelisah.


"PEMBOHONG KAU!" Perempuan yang bersandar di tembok itu, mengeluarkan diri.


Semua orang yang tadinya duduk, mereka berdiri serempak.


"Bu Asya!" Langit, Hazel, Jo dan Alula bicara serempak.


Sedangkan eyang, tercengang karena kedatangan Asya.


"Apa maksudnya? Siapa kamu nuduh Ibu saya pembohong!" Abidah Aminah tidak terima.


"SAYA TIDAK AKAN, BICARA JIKA TIDAK ADA BUKTI!" Asya bicara dengan menggebu-gebu.


"Dengarkan baik-baik!" Asya mulai memutar rekaman. Asya merekam semua ucapan yang eyang, katakan saat mereka pergi ke makam.


Semua orang tercengang, karena rekaman itu.


"Asya, bukannya kamu selama ini selalu mendukung ku?" Eyang bicara tanpa sadar.


"Apa maksudnya Eyang?" tanya Langit menatap eyang.


Sedangkan eyang, nenek tua itu tidak bersuara lagi.


"Semua itu rencana mu, aku tak sedikitpun ikut dalam rencana busuk mu itu." Asya tersenyum sinis.


"Bukanya kamu bilang kalau kau suka dengan Langit?" teriak eyang, yang membuat semua orang tercengang. Apalagi Langit, pemuda sangat shock.


"AKU TIDAK PERNAH MENYUKAI PAK ARKANA!! Tapi aku ingin membalas budi, kepada Pak Arkana! Karena itulah aku bilang jika aku mencintai cucu eyang! Agar aku tahu, apa rencana mu. Untuk memisahkan Cahaya dengan suaminya!" Asya bicara seperti orang kehilangan akal.


"Kau penghianat Asya! Kau penghianat!" Eyang berteriak.


"Bukan aku yang mengkhianati! TAPI KAU LAH YANG MENGKHIANATI KELUARGA MU!" tunjuk Asya tepat di wajah eyang.


"Cahaya juga tahu tentang hal ini. Aku tahu, KAU pasti heran kenapa Cahaya selalu selamat, saat kau mau mencelakai dia. Semua itu, karena aku selalu memberikan peringatan untuknya!"


"Tapi malah ini! Malam ini! Iya malam ini. Aku gagal mencegah kejadian fatal ini terjadi. Aku baru membaca pesan yang kau kirim. Saat Pak Arkana keluar dari lift! Disitu aku berpikir apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa Pak Arkana seperti orang yang sedih." Asya terduduk di depan Langit, sambil menangis.


"Maafkan aku Pak! Karena aku tidak mengecek ponsel ku. Harusnya aku tidak mematikannya tadi. Aku minta maaf Pak!"


Asya menangis sesenggukan, perempuan itu merasa salah besar karena kelalaiannya.


Langit yang mendengar semua kenyataan itu. Bahwa eyang penyebab semuanya dia masih shock.


"Bangkitlah, Anda tidak salah!" Langit bicara datar.


"KENAPA KAU MENCELAKAI ANAKKU? APA SALAHNYA DENGAN MU?" Ayah Brian berteriak didepan eyang. Paruh baya itu, tidak Terima anak semata wayangnya menderita. Sedangkan eyang mundur sedikit.


“Ayah! Ayah jangan marah! Anak Ayah, tidak suka jika melihat Ayah seperti ini. Dia tidak suka dengan lelaki yang kasar!" Langit memegang tubuh mertuanya.


"Tapi dia sudah, benar-benar kelewat batas!" Brian bicara dengan urat yang kelihatan.


"Iya, Ayah! Aku tahu! Biar hukum yang memproses! Ayah duduk!" Langit menyuruh mertuanya duduk. Pemuda itu, berusaha tegar dengan cobaan yang menimpa dirinya.


"Tidak! Aku tidak mau masuk penjara!" Eyang menggeleng cepat.


Langit yang sangat menghargai neneknya dia tidak tahu harus apa. Sedangkan karena neneknya, dia kehilangan anaknya.


"Ibu!" Langit duduk di depan ibunya, dia menyembunyikan wajahnya dipangkuan sang ibu.


"Aku harus bagaimana? Aku bingung Bu!" Abidah Aminah mengelus rambut anaknya. Wanita paruh baya itu, menangis karena anaknya mendapat ujian yang sangat berat.


"Ibu!" Langit menatap wajah ibunya, yang mengeluarkan air mata.


"Izinkan aku, melaporkan Eyang, ke penjara Bu!" Pemuda itu menangis, bagaimana mungkin dia bisa menjebloskan eyang, yang selalu merawat dia saat kecil. Mencintai dia melebihi kak Bumi dan adik-adiknya.


"Tapi Bu, bagaimanapun Eyang adalah nenekku! Tapi jika aku tidak melakukan ini, aku tidak adil sebagai seorang Papa dan seorang suami!" Langit terombang-ambing oleh sebuah pilihan.

__ADS_1


"Kang Mas, aku tidak bisa memberi solusi. Ibu juga bingung Nak!" Abidah Aminah menangis. Menyembunyikan wajahnya tepat di kepala anaknya.


"Serahkan, semua pada Yang Maha Memberi Solusi!" ujar Agam Ariarja.


__ADS_2