Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Malam Banyak Menemukan


__ADS_3

Malam ke-lima puasa. Keluarga Raharja sholat tarawih di masjid dekat rumah. Langit dan istrinya jalan beriringan. Si kembar dan ibu ada di belakang dengan Bapak.


Kakek Raharja sedang libur karena kakinya sakit, asam uratnya kambuh. Hazel berjalan lebih cepat dan sudah ada di samping kakak iparnya saja.


"Gimana tadi interview nya Lang?" tanyanya, sambil memperbaiki pecinya.


"Lancar, tinggal nunggu interview yang kedua kalau diterima."


Cahaya yang ada di sampingnya hanya diam. Sesekali ada ibu-ibu komplek menyapanya. Wanita itu tersenyum dan mengangguk.


"Siapa tadi yang interview, Bapak tah?"


"Wakilnya." Hazel mengangguk.


Mereka sudah siap untuk melaksanakan sholat tarawih. Malam itu yang menjadi imamnya adalah pak Khan. Dikarenakan imam yang biasanya jadi imam ada urusan mendadak. Hampir tiga puluh menit sholat itu selesai. Cahaya dan ibu mertuanya pulang duluan. Sedangkan yang lain masih ikut tadarus.


"Andai saja perut ku tidak sakit Buk, aku ikut tadarusan," ujar Cahaya, berjalan beriringan dengan ibu mertuanya.


"Lain waktu kan bisa, Nak. Allah itu Pengertian kok pada hamba-Nya."


Cahaya sudah ada di kamarnya. Dia sangat jenuh sendirian. Matanya bersinar saat lihat benda yang berdiri di pojokan dekat lemari. Wanita itu langsung berjalan dan mengambil benda mati berwarna coklat itu. Dia tersenyum kemudian berjalan kearah balkon kamar. Cahaya duduk di bersandar di pintu kaca. Cahaya mendongak untuk melihat keindahan langit malam. Bintang-gemintang berjejer membentuk formasi indah. Rembulan terlihat lebih jelas dari biasanya. Wanita itu mulai memetik gitar.


Jreng.... wanita itu tersenyum.


Jreng... wanita itu tersenyum belum memulai bermain dengan benar.


Pemuda itu sudah pulang dari tadarus nya. Dahinya mengkerut saat mau membuka kamar tidur. Terdengar suara petikan gitar dengan indah.


"Ku pejamkan mata ini. Mencoba 'tuk melupakan."


Langit mendengar suara halus yang mengiringi petikan gitar.


"Siapa yang main gitar?" Langit bertanya kepada dirinya sendiri. Pemuda itu membuka pintu perlahan. Suara itu semakin jelas.


"Segala kenangan indah.Tentang dirimu.Tentang mimpiku."


"Dimana dia?" Langit mencari istrinya, pemuda itu memutuskan untuk berganti pakaian. Setelah dua menit pemuda itu sudah memakai celana selutut dan kaus hitam.


"Semakin aku mencoba.Bayangmu semakin nyata. Merasuk hingga ke jiwa.Tuhan, tolonglah. Diriku."


Langit melihat bayangan wanita sedang duduk di balkon. Pemuda itu mulai berjalan kearah bayangan itu.


"Entah di mana dirimu berada. Hampa terasa hidupku tanpa dirimu. Apakah di sana kau rindukan aku? Seperti diriku yang selalu merindukanmu. Selalu merindukanmu."


Langit melihat istrinya sedang bermain gitar. Namun Cahaya tidak melihat jika suaminya sedang bersandar di pintu kaca sambil meletakkan kedua tangannya di dada.


"Tak bisa aku ing... " Cahaya tidak meneruskan lirik lagu yang baru rilis tahun 2003 itu. Karena melihat bayangan seperti lelaki. Cahaya menengok kesamping, kemudian mendongak untuk melihat bayangan milik siapa itu.


"Ma-masnya sudah pulang?" tanya Cahaya terbata-bata karena malu.


Pemuda itu mengangguk kemudian duduk di samping istrinya.


"Kau suka main gitar?" tanya suaminya kepada istrinya.


"Oh ...maaf Mas, aku tidak bertanya kepadamu dahulu sebelum menyentuh barang miliki mu." Cahaya tak menjawab pertanyaan dari suaminya.


"Aku bertanya! Kau suka main gitar? Jadi kenapa jawabnya berbelit-belit." Langit berbicara sambil melihat bintang. Cahaya terdiam, dia pikir suaminya akan marah kepadanya.


"Iya, waktu itu aku pernah punya gitar. Dan gitarnya sama persis dengan gitar ini," ucap Cahaya, gitar yang ia pegang malam itu sama persis dengan miliknya dulu.


"Pernah? Maksudnya?"


"Dua tahun yang lalu, aku sangat butuh uang buat kebutuhan kuliah, seperti foto kopi. Dan aku tidak punya uang, jadi aku menjualnya ke toko jual beli gitar bekas."


Cahaya menjawab sambil memandang bintang. Langit yang tadi melihat bintang. Pemuda itu melihat kearah istrinya. Dahinya mengkerut apa tadi yang istrinya bilang.


"Aku membeli gitar itu dua tahun yang lalu dalam keadaan bekas di toko dekat indomaret," jawab Langit. Membuat wanita yang ada di sampingnya itu kaget.

__ADS_1


"Apa namanya tokonya B3?" tanya Cahaya.


"B3?"


"Maksudnya Barang Bekas Berkelas"


Langit mengerutkan dahi. Mencoba mengingat-ingat toko dua tahun silam.


"Sepertinya."


Cahaya mulai mengecek bagian pojok gitar itu. Kalau gitar itu punyanya pasti ada tulisan 'LBCB'. Mata Cahaya melotot, benar saja itu gitar miliknya.


"Ini gitar ku Mas!" Cahaya menunduk sambil ngecek gitar itu.


"Jangan ngada-ngada."


"Benar Mas, ini tulisanku dan kode ini juga aku yang buat." Cahaya memperlihatkan tulisan yang ada di gitar itu.


"LBCB?"


"Langit Bintang Cahaya Bulan!" ucap Cahaya.


"Kenapa ada kata langit?" tanya pemuda itu, yang berpikir kenapa seperti namanya.


"Ya karena bintang dan bulan ada di langit lah Mas."


Apa memang takdir ini sudah tahu jika Tuhan menginginkan mereka bersama. Kenapa semua kebetulan. Kenapa gitar milik Cahaya ada ditangan Langit. Dan mengapa kode yang wanita itu buat kata pertamanya adalah nama suaminya sekarang.


"Oh ...ya Mas ngomong-ngomong berapa harga gitar ini waktu Mas, beli. Dan kenapa Mas beli barang bekas kan istilah Masnya kan bisa dibilang cukup lah."


Sepertinya malam itu adalah malam paling indah bagi Cahaya karena bisa berbincang dengan suaminya.


"Dua tahun silam aku tinggal di Singapura, tapi pada waktu itu ibu sakit jadi aku pulang. Dan saat aku pulang tak sengaja aku lihat toko itu. Dan aku mampir dahulu sebelum pulang ke rumah. Gitar ini pernah aku ajak ke Singapura, saat malam aku selalu bermain untuk menghibur diri." Pemuda itu tak sadar, atau bagaimana kenapa dia bicara sepanjang itu.


"Aku membeli dengan harga 250.000."


"Wah mahal ya," celetuk Cahaya. Waktu itu gitarnya hanya dibeli 125.000.


"Gingsul," ucap sang suami, yang tak sadar dengan apa yang baru saja diucapkan.


"Apa Mas?" tanya Cahaya.


"Lupakan."


"Sini gitarnya," ucap Langit, meminta gitar itu dari istrinya.


Langit mulai memetik gitar itu dan mengeluarkan irama yang lebih bagus daripada petikan gitar istrinya.


"Kenapa diam?"


"Maksudnya?"


"Bukanya tadi kau bernyanyi lagu Hampa punya nya Ari Lasso sekarang coba nyanyikan kembali."


Cahaya menggeleng dia sangat malu.


"Malu?" tanya Langit, yang tangannya tidak berhenti memetik gitar itu. Gitar itu terus mengeluarkan suara.


Cahaya mengangguk, wanita itu sangat senang karena bisa menghabiskan malam panjang bersama suaminya yang banyak tanya.


"Sama siapa, tidak ada orang bukan. Ayo menyanyi lah."


"Tak ada sedikitpun sesalku." Langit tahu kunci gitar lagu yang dinyanyikan istrinya itu. Karena lagu itu baru rilis tahun lagu tepatnya 2005 judulnya Cinta Tak Bersyarat . Cahaya sangat kaget karena suaminya tahu lagu yang ia bawa itu.


"Tlah bertahan dengan setiaku. Walau diakhir jalan ku harus melepaskan dirimu."


Keduanya tidak sengaja saling menatap.

__ADS_1


"Ooh ...ternyata kau tak mampu melihat. Dalamnya cintaku yang hebat. Hingga ada alasan bagimu tuk tinggalkan setiamu."


Mereka berdua memutuskan untuk kedalam karena sudah malam juga. Jam tiga harus bangun untuk sahur. Pasangan baru itu sudah berbaring di kasur. Berbeda dari malam biasanya Cahaya tidak tidur membelakangi suaminya. Wanita itu melihat kearah suaminya yang sedang menatap langit-langit kamar. Perlahan mata Cahaya tertutup wanita itu sangat ngantuk karena waktu siang tidak tidur. Langit mulai membalikkan badannya untuk melihat wajah istrinya. Tangannya mulai meraba wajah istrinya. Dielus lah pipi milik istrinya itu.


Jam menunjukkan pukul 03:08 dini hari. Pasangan suami istri itu masih terlelap padahal sebentar lagi Imsak.


"Cher coba bangunin kang mas, tidak biasanya mereka seperti ini. Aya biasanya juga bantuin masak tapi entah hari ini tidak," ucap Abidah Aminah.


"Bentar lagi punya cucu Buk!" celetuk Hazel.


"Bisa jadi tuh Buk!" Alula membenarkan ucapan suaminya.


"Do'akan sajalah biar tambah ramai," ucap Abidah Aminah.


Archer sudah ada di depan kamar pasangan baru itu.


Tok... tok... Penghuninya kamar itu tidak mendengar ketukan pintu dari luar.


Tok... tok...


"Emmm, iya," sahutnya dari dalam.


"Sahur Kang Mas bentar lagi Imsak." Archer meninggalkan kamar pasangan baru itu.


Langit melihat istrinya yang masih terlelap dengan wajah teduh milik istrinya.


Digoyang lah tubuh istrinya itu. Namun tak ada pergerakan. Langit menggoyang tubuh istrinya lagi.


"Az-zahra bangun sahur."


Langit bisa melihat senyuman di bibir istrinya. Cahaya samar-samar mendengar suara namun kenapa bukan namanya yang dipanggil.


"Az-zahra bangun kau sahur tidak?" Suara lembut yang jarang Cahaya dengar memenuhi alam bawah sadar.


Pemuda itu menghela napas. Kenapa istrinya itu kalau dibangunin enggak ada bedanya sama Kebo.


"Gingsul bangun," ucap pemuda itu sambil mengguncang tubuh istrinya sangat kencang. Cahaya mulai membuka matanya saat panggilan ke-tiga.


"Cepat turun bentar lagi Imsak," ucapnya, sambil meninggalkan istrinya. Suaranya tidak selembut tadi saat bilang Az-zahra.


Cahaya menggaruk rambutnya dengan keadaan seperti orang bodoh.


Aku tadi, seperti mendengar orang memanggil Az-zahra dan kenapa suaranya begitu lembut. Apa emang tadi itu suara masnya. Akh ...mana mungkin. Yang ada di manggil gingsul.


Langit mulai menuruni anak tangga, pemuda itu tadi cuci muka dan gosok gigi dahulu.


"Mana istrimu?" tanya pak Khan.


Pemuda itu menjawab dengan mendongak kan kepala. Yang artinya masih dikamar. Pemuda itu duduk dan mengambil makanan sendiri. Cahaya meminta maaf kepada ibu mertuanya karena tidak bantu masak.


"Sudahlah cepat makan Nak, biasanya juga kamu yang masak sahur sama mbok kan?" ucap Abidah Aminah.


"Kalian ngapain kenapa selalu telat? Ya.. ya kan pasangan baru maklum kalau telat," goda Hazel di sela-sela makan.


"Lupa nyalain jam Kak," jawab Cahaya.


Ya! Biasanya Cahaya selalu dibangunkan jam weker tapi malam itu dia lupa mengatur ulang jamnya.


"Aku kira mau buat Langit junior!" Kali ini Hazel bicara terus terang. Langit yang mendengar hal itu ia terbatuk-batuk.


Uhuk... uhuk...


"Minum dulu Kang Mas!" ucap Alula menyodorkan gelas berisi air putih kearah Langit.


Cahaya yang tahu maksudnya Kak Hazel tangannya mencengkram ujung bajunya. Wajahnya pucat keringat dingin. Bukan apa masalahnya tadi sebelum tidur dia sangat dekat dengan suaminya itu. Wanita itu tidak pernah pacaran sama sekali. Sekalinya dapet eh ...langsung nikah.


"Kak Hazel itu kalau bizara enggak di filter," gerutu Arche.

__ADS_1


"Bicara bukan bizara apalagi Az-zahra."


Dengar ucapan Hazel meyebut kata Az-zahra membuat Cahaya mengingat panggilan lembut tadi saat dia masih tertidur.


__ADS_2