Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Gagal Total Karena Ada Penjagannya


__ADS_3

Mobil silver itu membelah jalan ibu Kota. Cantik selalu mengulas kan senyum dibibir nya. gadis berwajah bulat itu, duduk di pangkuan akak Bubble-nya.


"Apa gelangnya sudah selesai di perbaiki?" Cahaya bertanya, disela keheningan.


Langit melirik istrinya sebentar, kemudian fokus pada jalan.


"Sudah, tapi aku tidak sempat ke tokonya."


Cahaya mengangguk pelan.


Mobil itu berhenti di pinggiran jalan. Langit keluar dari mobil itu.


Mata ibu-ibu berbinar karena mangsanya telah datang.


"Ah ...ayahnya Cantik datang Jeng, kita harus siap-siap menyapa," ujar ibu kurus dengan antusias.


"Untung tadi pagi, suamiku bangun pagi. Jadi tidak akan absen untuk menyapa ayahnya Cantik!"


Oh Mama! Mereka sudah seperti anak TK, yang enggak mau ketinggian absen.


"Jangan lupa Jeng, nanti kita ada pengepungan, siapa yang dapat dia yang beruntung." Ibu gendut itu masih saja ingat, agenda kemarin yang sudah direncanakan yang disetujui oleh para ibu-ibu ghibah.


"Abdi henteu tiasa ngantosan énjing ieu. Dugi ka kabawa dina impian, (Aku tak sabar menunggu pagi ini. Sampai aku terbawa mimpi,)" ujarnya, ibu berbaju hijau.


"Mimpi apa?" tanya, yang satunya kepada ibu berbaju hijau.


"Ngimpina ngudag ayahnya ,Cantik


Tapi tibatan murag kana solokan, (Mimpi mengejar ayahnya Cantik, tapi malah jatuh ke selokan,)" Jawaban ibu itu, membuat teman ghibah nya tertawa.


"Éta ngan ukur anjeun ,Jeng, (ada-ada saja kamu, Jeng)" Ibu kurus itu bicara, sambil menggelengkan kepalanya.


Ibu-ibu itu menatap kearah pemuda kemeja putih. Langit membuka pintu mobil itu. Cantik keluar dari mobil, namun pintu mobil itu masih terbuka. Membuat ibu-ibu saling bertanya. Kenapa pemuda itu, tak segera menutup pintu mobil silver itu.


Mata ibu-ibu itu menatap bagian bemper samping mobil. Kaki kanan itu, mulai keluar dari mobil dilanjutkan dengan kaki kiri. Ibu-ibu masih setia menunggu pemilik kaki itu.


Cahaya mulai keluar dari mobil itu. Semua ibu-ibu masih belum bisa melihat wajah pemilik kaki itu.


Langit mulai menutup pintu mobil silver itu. Semua ibu-ibu itu menatap, wanita berambut sebahu. Yang memakai dress hitam se bawah lutut, dan senakers warna putih.


"Masnya, ada-ada saja. Pakai nyuruh baju kayak ginian. Bukannya waktu peresmian kamu tidak suka, aku pakai dress?" Cahaya mencecar.


"Dulu terlalu pendek, kalau inikan melebihi lutut, jadi tidak masalah buat ke kantor hari ini saja. Masa ke kantor pakai jeans sama kemeja." Langit menatap istrinya.


"Apa maksudnya ke kantor saja! Masnya malu jalan sama aku, kalau pakai jeans sama kemeja?" Cahaya melotot.


Bener-bener kenapa dia sensitif sekali, saat PMS. Kapan selesainya, kalau begini terus-terusan yang ada salah paham mulu. Batin Langit, frustasi jika menghadapi istrinya yang datang bulan itu.


"Bukan begitu, maksudku."


"Terus?" Cahaya menaruh kedua tangan di dada, sambil bersandar di mobil.


"Aku takut karyawan kantor mengira, jika aku termasuk lelaki yang pelit sama perempuan." Langit memutar otak, agar istrinya tidak jadi marah padanya.


"Emang macan pakai di takutin segala?" tanya Cahaya kesal.


Yang macan itu bukan mereka. Tapi PMS kamu, yang gak ada bedanya sama macan. Batin Langit.


Sedangkan Cantik mendongakkan kepalanya. Agar melihat ekspresi kedua orang itu.


"Akak sama Om, kenapa ribut. Mami dan papi tidak pernah ribut di depanku," ujar Cantik.


Pasangan itu menatap gadis itu bersamaan, kemudian memberikan senyuman manis.


"Ayo kita antar ke kelas mu," ajak Cahaya, sambil menggandeng tangan Cantik.


Mereka bertiga pun berjalan kearah kelasnya Cantik. Ibu-ibu yang melihat pasangan itu mau melewatinya. Mereka langsung diam tak menggunjing lagi.


Pasangan baru itu melewati ibu-ibu itu. Namun Cantik berhenti di depan ibu-ibu itu.


"Kenapa Can?" Cahaya bertanya.

__ADS_1


Ibu-ibu itu diam, seperti menahan napas.


"Biasanya mereka selalu menyapa, tapi kenapa hari ini tidak Tan?" Cantik bertanya kepada mereka.


Ibu-ibu sangat terkejut dengan pertanyaan Cantik.


Cahaya yang semula menatap Cantik. Matanya beralih ke ibu-ibu yang berbaris seperti anak TK itu.


Ibu-ibu terdiam, saat Cahaya menatapnya.


"Maksudnya?" tanya Cahaya, menatap Cantik.


"Tante-tante ini akan bilang seperti ini, pagi Ayahnya, Cantik! Tapi kenapa hari ini tidak, aku bingung." Cantik menggaruk kepalanya yang tertutup hijab.


Cahaya yang mendengar hal itu, dia mengerutkan dahi.


Apa mereka mengira jika mas. ayahnya, Cantik. Terus setiap pagi, masnya dapat sapaan dari ibu-ibu ini. Dasar ibu-ibu enggak bisa jaga pandangan mata. Suaminya kerja, istrinya malah mencari perhatian ke suami orang. Batin Cahaya ingin memaki.


"Ayo Can!" Langit segera menarik tangan Cantik.


Pemuda itu tidak mau mendapat masalah untuk pagi itu.


Cantik dan Cahaya pun mengikuti Langit saja. Setelah kepergian ketiga orang itu, ibu-ibu itu sepertinya siap menggunjing kembali.


"Apa itu istrinya?" tanya yang kurus.


"Iya-iya lah, Jeng masa simpenan." Ibu yang satu menjawab.


"Cantik sih, tapi—" Nah kalau sudah kata 'tapi' pasti ujung-ujungnya negatif. Kebiasaan!


"Tapi kenapa Jeng?"


"Tapi kayaknya manja banget, lihat saja tadi saat turun dari mobil. Apalagi saat dia menyandarkan tubuhnya di mobil, pakai manyun segala. Sok iye deh!" Bukan main! Ibu-ibu ngomongnya pedas sekali.


"Iya, kayak menggoda gitu," ujar ibu gendut itu.


Ya elah Bu, enggak apa-apa menggoda suami sendiri dapat pahala, karena bikin hati suami senang. Nah! Kalau menggoda suami orang itu yang maslah besar, dosa iya, gak tahu diri juga.


"Ayo Can, semangat sekolah. Semoga lancar ya, hafalannya." Cahaya menyamakan tubuhnya dengan tubuh Cantik sambil memberi semangat.


"Okey!" Gadis itu memberikan kedua jempol.


Langit pun juga ikut menyamakan tingginya dengan Cantik.


"Nanti kau akan dijemput sama Akak! Kau setuju?" tanya Langit.


"Setuju!" Cantik mengangguk.


"Ya sudah, masuk bentar lagi bel!" Cahaya menyengir kan senyuman.


Gadis itu pun menyetujui. Sebelum masuk Cantik, mencium pipi kanan Cahaya setelah itu pipinya Langit. Acara keluarga KW sepertinya sudah bermula.


Cahaya dan Langit pun mencium pipi Cantik bersamaan. Cahaya memejamkan matanya.


Apa seindah ini rasanya jadi seorang ibu. Dan apa aku akan merasakan, kenikmatan ini. Tapi, Allah. Terima kasih, karena sudah membuat aku merasakan peran seorang ibu. Batin Cahaya, tak terasa air mata lolos begitu saja. Dengan cepat Cahaya menghapusnya agar tidak ketahuan suaminya.


Ya! Cahaya memang belum dikaruniai seorang anak. Tapi, Tuhan! Dia sangat baik. Dia memberikan kesempatan untuk Cahaya, untuk menggantikan peran menjadi ibunya gadis itu.


"Ayo masuklah." Langit menyuruh gadis itu masuk.


Sebelum masuk Cantik mencium tangan akak dan om Dosennya itu.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, semangat!" Cahaya menyemangati.


Pasangan itu berbalik badan, kemudian membuang napas bersamaan. Tugas pagi itu, menjadi orang tua sudah selesai.


Langit tersenyum kearah istrinya. Sedangkan ibu-ibu yang menatap dari jauh itu sangat iri, karena perilaku pemuda itu kepada istrinya. Mereka tidak mendengar apa yang pasangan itu sampaikan ke Cantik karena jaraknya lumayan jauh.


"Apa tidak mau menggandeng tangan ku?" Langit bertanya, kepada istrinya itu.

__ADS_1


Cahaya menatap suaminya, kemudian melirik kearah ibu-ibu yang berada jauh darinya. Cahaya berpikir sejenak, entah apa yang difikirkan. Satu detik wanita itu sudah bergelayutan manja di tangan suaminya. Hal itu membuat Langit tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Semua ibu-ibu itu mulai menggunjing lagi. Entah mengapa menggunjing itu, selalu mempunyai daya tarik. Umumnya teruntuk kalangan wanita.


"Mas!" panggil Cahaya, sambil berjalan.


"Hmmm!" Langit menjawab singkat. Mempunyai istri seperti Cahaya, membuat pemuda itu harus banyak bicara.


"Sudah lama tak memanggilku dengan panggilan Az-zahra!" ujarnya lembut, dan mengingatkan suaminya.


Langit yang mendengar hal itu, tidak bisa menahan senyumnya dan rasa bahagia dalam hati.


"Coba panggil Masnya dulu." Sepertinya pemuda itu juga ingin minta DP. Duluan panggil maksudnya.


"Masnya!"


Cahaya tidak mengerti kenapa suaminya hanya diam.


"Kenapa, enggak dibalas?" Cahaya bertanya.


Langit menaikan alisnya, kalau saja Cahaya tidak sedang kedatangan bulan. Pemuda itu, pasti akan menggoda istrinya dan pastinya membuat istrinya sebal. Pasangan itu sudah melewati ibu-ibu yang suka menggunjing itu.


Pagi itu, ibu-ibu tidak biasa menjalankan agendanya untuk mengepung suaminya orang. Sudah gitu, ibu-ibu itu juga tidak bisa menyapa pemuda yang setiap pagi mereka sapa itu. Mereka takut karena sudah ada penjaganya.


"Pagi ini kita gagal, Jeng!" Ibu gendut itu mengawali pembicaraan.


"Iya, mending enggak usah sama istrinya kita bisa menyapa," ujar ibu kurus itu.


"Kasian suamiku, tadi aku bangunin jam tiga agar biar bantu aku masak di dapur. Aku pikir aku pagi ini bisa menyapa ayahnya, Cantik. Tapi malah gagal total." Sepertinya ibu yang satu itu menyesal, karena membangunkan suaminya sepagi itu hanya, untuk suami orang.


Makanya Bu sadar, kalau ada yang halal ngapain nyari yang enggak boleh Bu. Ibunya terlalu ribet!


"Kita doa saja, semoga besok enggak sama istrinya," ibu baju merah pantang menyerah.


"Setuju, kita doa bersama biar dikabulkan," ujar ibu kurus.


Ibu kurus itu tidak punya malu, masa berdoa kepada Sang Khalik mintanya yang tidak baik. Minta itu di


ampun kan dosanya, semoga suaminya diberi kelancaran saat berkerja. Lah kalau mintanya cuci mata, lihat suaminya orang itu bisa dibilang zina.


'Macam zina dibagi menjadi tiga. Zina Al-Laman, Zina Muhsan, Zina Gairu Muhsan' Zina Al-Laman merupakan macam zina dilakukan dengan menggunakan panca indera. Nabi SAW bersabda.'Telah diterapkan bagi anak-anak Adam yang pasti terkena, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah kata-kata, tangan zinanya adalah mengikuti, kaki zinanya adalah berjalan, hati zinanya adalah keinginan (hasrat) dan yang membenarkan dan mendustakannya adalah ********. (HR. Muslim).


Langit dan istrinya sudah ada di depan mobil. Pemuda itu membukakan pintu untuk istrinya.


"Silakan masuk Az-zahra!"


Akhirnya, Cahaya bisa mendengar panggilan kesayangan dari mulut sang suami.


Cahaya tersenyum puas, karena sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Makasih!" Wanita berambut sebahu itu, masuk mobil.


Pemuda itu menutup pintu bagian kanan. Kemudian pemuda itu masuk mobil kursi bagian kemudi.


Mobil silver itu menyebrangi jalan, setelah itu memasuki area kantor.


"Kalau tahu dekat gini, ngapain harus pakai seat belt." Cahaya menggerutu.


Langit hanya menggelengkan kepalanya, karena ulah istrinya itu.


"Patuhi peraturan," ujarnya, sambil tersenyum tipis.


"Berarti dekat ya, Mas! Kantor sama sekolahnya Cantik. Tinggal nyebrang sampai." Cahaya menatap suaminya.


"Ya seperti itulah." Langit menjawab sambil membuka pintu mobil.


Cahaya beberapa hari kebelakang, itu menjadi manja. Yang dulunya Langit enggak perlu bukain pintu untuk istrinya, seminggu kebelakang dia wajib bukain pintu untuk istrinya itu. Kalau tidak Cahaya tidak akan keluar dari mobil, sampai Langit membukakan pintu mobil untuk wanita itu. Itu semua salah pemuda itu sendiri, karena memanjakan istrinya. Kena karma!


Wanita itu turun dari mobil silver itu, sambil memperbaiki tas selempang itu.


"Ayo!" Langit menggenggam tangan istrinya itu.

__ADS_1


Cahaya hanya menurut saja, pagi itu Cahaya berkunjung ke kantor suaminya untuk yang pertama kali.


__ADS_2