Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Tibalah Dipenghujung Cerita


__ADS_3

Langit menatap pintu itu dengan tatapan tajam. Siapa yang mengetuk pintu itu, tidak tahu diri. Dia ada masalah sama istrinya juga.


"Masuk!"


Pintu itu terbuka sedikit, pria itu memasukkan kepalanya dahulu. Pria itu tersenyum lebar, dan berjalan kearah meja dirkeu. Pria itu memungut jas, yang ada di lantai. Matanya menatap kearah Cahaya dan Langit bergantian. Sepertinya pria itu memikirkan sesuatu.


"Eh... Bu Cahaya, iku ke kantor suami Bu?" tanya Jo, maklum si Jo baru pulang dinas. Jadi dia tidak bisa tidur di rumah.


Cahaya tersenyum serta mengangguk.


"Ada apa Jo?" tanya Langit, sepertinya pemuda itu merencanakan sesuatu. Lihat saja senyuman yang ada di bibirnya tersenyum penuh rencana.


"Jalok, Pak! Tapi berhubung ada Bu Cahaya, jadi jalok nya pak Hazel buat Bu Cahaya!" ujar Jo, meletakkan cilok itu di atas meja. Dilanjutkan meletakkan jas, milik Langit yang Jo pungut.


"Wah... beneran Kak Jo? Ini jatah cilok buat aku?" Cahaya bertanya, wanita itu lupa soal beli pembalut.


"Tapi jangan bilang pak Hazel, tadi pak Hazel tahu aku sudah balik dari Dinas. Aku yakin, pak Hazel menunggu jalok nya." Jo berbicara pelan.


Pintu ruangan Langit, itu terbuka. Orang yang baru diomongin datang.


"Apa maksudnya Jo?" tanya Hazel, sambil jalan kearah mereka bertiga.


Jo yang mendengar suara Hazel, pria itu menengok ke belakang. Jo menggaruk kepalanya, karena ada Hazel.


"Enggak, bisa gitu dong Jo. Sudah dua hari aku tidak makan cilok karena kamu Dinas, sekarang jalok ku, kamu hilangin bagaimana ceritanya," protes Hazel yang duduk di meja kerja Langit.


"Jatah Langit, itu yang dipegang Kakak ipar. Nah ini jatahku," ujar Hazel, menarik cilok yang ada di mejanya Langit.


Hazel tersenyum puas, karena jatahnya masih ada. Sedangkan Jo terkekeh, karena kelakuan Hazel. Langit hanya menggelengkan kepalanya, tidak mungkin dia berebut cilok dengan adik iparnya itu.


"Baiklah Jo, berhubung aku tidak dapat cilok. Aku mau kau membelikan sesuatu untukku," ujar Langit, sambil meregangkan otot-ototnya.


"Udah Jo, terima aja. Kasian Pak Dirkue, stres gara-gara istrinya yang labil," ujar Hazel yang tidak sadar. Suaminya Alula itu bicara sambil memasukkan cilok ke mulut.


Sedangkan Cahaya yang mendengar ucapan Hazel dia melotot. Kenapa adik iparnya itu bisa tahu, jika dia selalu membuat Langit stress karena kelabilan nya. Sedangkan Jo, menahan tawa, karena ucapan Hazel yang tidak sadar.


Pak Hazel ini, sebenarnya mau bikin pak Langit sama istrinya, bertengkar atau bagaimana. Bagaimana mungkin dia bicara seperti itu dihadapan bu Cahaya. Batin Jo terkekeh.


Sedangkan Langit sangat terkejut, karena Hazel bicara yang akan membuat dia mendapatkan amukan dari istri gingsulnya itu.


"Terus, bilang apa lagi Kak?" tanya Cahaya ingin tahu.


Hazel sadar saat Cahaya bertanya seperti itu. Lelaki itu tersenyum lebar, sebelum berucap. " Ah... emang apa yang aku katakan Kakak ipar?" tanya Hazel pura-pura lupa.


"Itu, kata Kak Hazel tadi, labil-labil,siapa yang labil, maksudnya Kak?" tanya Cahaya.


Jo yang mendengar pertanyaan hal itu dia tertawa. Dia tahu Hazel ingin menyelamatkan Langit.


"Emang tadi aku bilang labil-labil, gitu Jo?" tanya Hazel, sambil memberi isyarat.


"Emmm... aku tak mendengarnya," jawab Jo menggelengkan kepalanya.


Sedangkan ekspresi Cahaya seperti orang bodoh.


"Kamu dengar aku bilang gitu Lang?" tanya Hazel kepada Langit.


Langit menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kenapa mereka tidak mendengar Kakak ipar?" tanya Hazel, seperti orang bodoh.


Cahaya memejamkan matanya sejenak. Saat itu juga, ketiga lelaki itu tersenyum. Cahaya berfikir apa dia yang salah dengar.


Apa benar, aku yang salah dengar? Tapi aku rasa kucingku ini masih bisa di buat mendengar dengan baik. Akh... efek datang bulan otakku jadi loading mulu. Batin Cahaya.


Mata Cahaya terbuka kembali. Ketiga lelaki itu mengembalikan ekspresi wajahnya datar.


"Akh... mungkin aku yang salah dengar kali Kak!" ujar Cahaya, sambil menggabungkan kepalanya.


Hazel tersenyum lebar, karena dia tidak dapat amukan dari Langit. Sedangkan Langit bernapas lega, karena nyoya pengisi hatinya tidak akan ngoceh gaje. Sedangkan Jo, pria itu tidak dapat keuntungan sedikitpun.


"Baiklah aku keluar dulu, mau telponan sama istri tercintaaaa," ujar Hazel, yang tidak mau berlama-lama ada di ruangan dirkue. Takut kena masalah lagi.


"Saya juga," ujar Jo, sambil membalikkan badannya.


"Tunggu Jo!"


Jo membalikkan badannya karena panggilan itu.

__ADS_1


"Ada apa Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Jo, takut kena masalah.


"Tentu saja, tolong belikan keperluan yang udah aku tulis disini," ujar Langit, meletakkan kertas kecil di atas meja.


Jo pun mengambil kertas itu, dan membacanya. Mata Jo melotot karena daftar yang harus dibeli.


Bagaimana mungkin ini terjadi. Apa ini benar, masa aku disuruh beli, pembalut, celana, sama dress se bawah lutut. Jo membaca tulisan itu dalam hati.


"Pak, ini enggak salah kan?" tanya Jo pelan, sudah begitu dia harus menelan ludahnya jika itu benar.


"Tidak Jo, itu sangat-sangat benar, kalau, yang nomor dua beli satu bungkus, size berapa istriku?" tanya Langit.


Cahaya yang enak makan cilok terhenti karena suara suaminya.


"Apanya yang size berapa?" tanya Cahaya tidak tahu.


"Celana."


"L- langit!" jawabnya Cahaya, membuat Jo menahan tawa.


"Aku bertanya beneran,"'ujar Langit, yang tidak suka jika namanya disandingkan dengan size celana.


" Size L,"jawab Cahaya, semua yang Cahaya pake itu sizenya L.


"L, Jo!" ujar Langit.


Jo membuang napas pelan, karena dia harus membeli peralatan wanita.


"Baiklah!" Jo keluar dari ruangan.


Sedangkan Langit tersenyum karena dia bebas dari rasa malu.


Didalam lift Jo memaki Langit habis-habisan. Bagaimana mungkin dia yang harus kesusahan, untuk membelikan peralatan yang haram bagi Jo.


"Istri siapa, yang harus beli peralatan siapa." Jo ingin rasanya menyobek kertas yang ada ditangannya itu.


"Sepertinya, pak Langit sudah merencanakan hal ini. Aduh Jo, kenapa tadi tidak langsung cabut saja kalau begini." Jo menjabak rambutnya dengan keras.


Lift terbuka Jo, keluar dari lift. Saat itu Asya juga ada di lantai satu.


Perempuan itu melihat Jo, seperti orang frustasi dia berinisiatif untuk mendekati pria itu.


"Ck... bagaimana mungkin saya bisa petakilan, jika tugas dari pak Dirkue sangat berat," jawab J,o yang berdiri di samping Asya.


"Apa ini mengenai tangung jawab mu sebagai seorang manager pemasaran, Jo?" tanya Asya yang ingin tahu.


"Bukan!" jawab Jo, singkat.


"Terus masalah apa, yang membuatmu bilang sangat berat, jika tidak promosi, atau mengatur budget untuk iklan?" tanya Asya lagi.


"Masalah pembelian Bu Asya!" jawab Jo, tersenyum geregetan karena gebetannya itu banyak tanya.


"Pembelian apa maksudmu Jo?" Asya sangat kepo.


Jo menyodorkan kertas kecil itu kearah Asya. Asya pun menerimanya, perempuan itu membacanya. "Pembalut, celana, sama dress sebawah lutut. Hahaha!" Asya tertawa saat membaca kertas itu. Asya yang tidak kuat menahan tawanya, dia pegangan pundak Jo karena itu sangat lucu di mata Asya.


Sedangkan Jo menelan ludahnya dengan kasar, sebegitu kah nasibnya. Sampai-sampai gebetannya, mentertawakan dia tanpa ada rasa kasihan.


Ini semua gara-gara pak Hazel, coba saja. Tadi jalok punya pak Langit tidak diambil pasti, aku tidak ada dalam masalah besar. Batin Jo, mengumpat Hazel.


Sebenarnya yang buat Jo dalam masalah itu siapa, Langit apa Hazel.


"Hahaha, Jo! Jo! Nasib jadi jomblo. Tapi kenapa, kamu harus beli peralatan cewek kayak sudah jadi suami!" ujar Asya menutup mulutnya, karena tidak bisa menahan tawa.


Seluruh karyawan itu menatap kearah Asya yang tertawa tidak ada remnya.


"Cie-cie Pak Jo sama Bu Asya!’ ujar karyawan yang melewati keduanya.


Asya yang tertawa, perlahan tawa itu hilang karena rekan kerjanya menggoda dia.


" Pepet terus Jo, jangan kasih kendor!" teman Jo.


"Ayo Jo, status jofisa istiqomah udah hapus saja," goda yang satunya.


"Kalau istiqomah itu imannya, masa jomblo istiqomah. Bilang saja menjomblo selamanya," celetuk Jo yang sewot.


Semua orang terdiam karena celetukan Jo itu.

__ADS_1


"Pak Dirkue enak-enakan, aku yang harus menanggung malu, untuk beli peralatan istrinya," ujar Jo, yang sangat kesal dengan istrinya.


"Baiklah Jo, berhubung hari ini tugas enggak banyak. Aku akan membantumu," ucap Asya, yang membuat Jo tak percaya.


"Beneran, Bu?" tanya Jo girang, yang pertama dia tidak akan malu. Dan Jo, dapat bonus bisa jalan sama gebetan pula. Wah... Jo harus berterima kasih sama Langit dan Hazel, karena mereka dia dapat waktu bersama gebetan.


"Ya, emang muka saya, muka pembohong Jo?" tanya Asya.


"Baiklah, terima kasih banyak Bu!"


Mereka keluar dari kantor dan berjalan kearah mobilnya Jo.


Didalam mobil keduanya tidak saling bicara, sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka keluar dari mobil, Asya segera masuk toko itu. Asya mencari dress yang cocok untuk Cahaya. Perempuan itu menempelkan ke tubuhnya, takut jika terlalu pendek saat istrinya pak dirkue yang memakainya.


"Bagaimana dengan ini Jo?" tanya Asya, sambil memperlihatkan dress bewarna hitam.


"Cocok Bu, pak Dirkue sangat suka warna hitam," ujarnya, Jo tidak suka banyak pilih.


"Oke, kita pilih ini kalau begitu." Asya meninggalkan Jo. Perempuan itu berjalan kearah bagian baju dalaman. Asya tidak perlu bertanya, kepada Jo. Perempuan itu bisa mengira-ngiranya, untuk ukuran Cahaya.


Di ruangan direktur keuangan, Cahaya bertanya kepada suaminya. "Mas!" panggil Cahaya yang duduk di depan kersi suaminya.


"Hmmm!"


"Apa, kak Jo yang kamu surat buat beli keperluanku?" tanya Cahaya, yang malu jika itu benar-benar terjadi.


"Hmmm!" Langit mengangguk, sedangkan pemuda itu sedang berkerja.


"Kenapa enggak kamu yang beli? Sebenarnya siapa suamiku, yang asli kak Jo apa Masnya?" tanya Cahaya kesal.


"Tentu saja, aku!" jawab Langit, sambil menggaris kertas HVS dengan penggaris.


"La... kalau begitu kenapa kak Jo, yang beli. Pamali tahu," ujar Cahaya, yang menakut-nakuti suaminya. Sebenarnya Cahaya sangat ingin melihat suaminya membelikan pembalut untuknya.


"Aku lebih percaya takdir Tuhan!" Langit menjawab santai.


Cahaya terdiam jika sudah menyangkut nama Tuhan, Cahaya tidak bisa berucap kembali. Karena pada dasarnya, dalam dunia ini kita harusnya percaya sama Tuhan. Karena tidak ada daya upaya dan kekuataan melainkan dengan pertolongan Allah. Semua itu meliput ilmu Allah.


Tok... tok...


Cahaya menatap pintu ruangan suaminya.


"Masuk!" ujar Langit.


Pintu terbuka, masuklah sosok pria sambil membawa paper bag.


"Pesanannya Pak Langit!" Jo menaruh paper bag itu, di atas mejanya Langit.


Cahaya langsung mengambil paper bag itu. Cahaya mulai mengecek, apa yang Jo beli.


"Wah... Kak Jo, hebat... tahu aja kalau aku tidak suka terbang," ujar Cahaya, menatap ke dalam paper bag itu.


Sedangkan Langit mengerutkan dahi, apa yang istrinya maksud.


"Apanya yang terbang?" tanya Langit yang tidak tahu.


"Tanya saja, sama Kak Jo, dia adalah suami idaman," ujar Cahaya, yang tidak menatap kedua lelaki itu. Wanita berambut sebahu itu fokus pada isi paper bag itu.


Langit tidak suka saat istrinya memuji lelaki lain, selain dia.


"Jo, kau tahu maksudnya? Coba kasih tahu aku, apanya yang terbang?" tanya Langit menatap Jo.


Jo menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu maksud yang Cahaya ucapkan.


"Aku tidak paham, maksudnya apanya yang terbang Bu. Emang Bu Cahaya, bisa terbang?" tanya Jo polos, mungkin saja Jo pengen ikut terbang Cahaya.


Cahaya yang mendengar Jo bertanya kepadanya, dia mengalihkan pandangannya ke Jo.


"Bukannya ini semua Kak Jo, yang beli?" tanya Cahaya.


"Sebenarnya, bu Asya yang membeli semua itu," jawab Jo, membuat pasangan itu kaget.


"Oh... pantas... ternyata bukan Kak Jo, yang beli... Kak Jo tidak jadi suami idaman," ujar Cahaya, yang membuat Langit tersenyum puas.


"Apanya yang terbang?" tanya Langit ingin tahu.


"Sstt, diam!" Cahaya berbicara kemudian meninggalkan kedua orang itu. Wanita itu akan berganti baju.

__ADS_1


"Jo, yang terbang apa?"


__ADS_2