Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Nikmatnya Mengerjai Istri


__ADS_3

Cahaya terbangun dari tidurnya, berjalan kearah kamar mandi dengan rasa bersalah. Wanita itu, tidak bisa tidur karena belum meminta maaf kepada suaminya. Cahaya sudah kembali dari kamar mandi.


"Ya Rabb! Aku malu sekali sama, Mas. Aku belum sempat minta maaf, sampai pagi ini." Cahaya bicara pelan.


Wanita itu, berjalan ke samping suaminya. Langit masih tertidur pulas.


"Subuh, Mas!" suaranya lembut.


Namun pemuda itu, tidak berkutik sedikit pun.


"Mas, bangun nanti telat subuh." Cahaya menggoyang tubuh suaminya.


Aku akan membuat wanita ini jengkel. Langit tersenyum dalam hati.


"Ayo bangun," ujarnya, sambil menggoyang tubuh suaminya dengan kasar.


Langit pagi itu ingin membuat istrinya kesal karena ulahnya.


"Banguuun... " Cahaya berbisik di telinga suaminya dan diakhiri dengan tiupan di telinga, hal itu membuat Langit kegelian. Karena istrinya meniup telinganya. Tapi Langit, malah menutup telinganya, dengan bantal.


"Mas ...he ...bangun subuh kalau telat dosa." Tangan kanannya tidak sadar mengelus rambut suaminya.


Langit yang merasa ada yang mengelus rambutnya, matanya di buka satu kemudian ditutup lagi sebelum istrinya melihat.


"Jangan bobok ... angan bobok ...nanti di cium ...seyton" Cahaya asik bernyanyi, sambil mengelus kepala suaminya seperti anak kecil.


Langit yang mendengar hal itu, berpikir nadanya pernah dengar tapi liriknya kok aneh.


Wanita ini sudah gila, kenapa malah nyanyi kayak anak kecil. gerutu Langit dalam hatinya kepada istrinya.


"Ayo bangun, aku lelah bangunin. " Cahaya menarik selimut itu dengan lembut.


Langit mulai membuka matanya yang membuat Cahaya membuang napas lega.


Pemuda itu, berjalan kearah kamar mandi, sebelum sampai kamar mandi Langit berbicara kepada istrinya.


"Kau tidak wudhu lagi?" tanyanya, kemudian masuk kamar mandi.


Cahaya teringat, jika tadi dia batal karena membangunkan suaminya yang susah.


"Akh ... iya ... baiklah wudhu dulu."


Pasangan itu sudah selesai sholat subuh berjamaah. Cahaya pamit kepada suaminya untuk ke dapur untuk membantu masak.


"Pagi, Bu!" sapa Cahaya kepada ibu mertuanya.


"Pagi!" jawabnya sambil tersenyum.


Hanya mereka berdua yang masak karena mbok Ijah sakit. Jam dinding di rumah itu, menunjukkan pukul setengah tujuh.


"Bu! Aya ke atas dulu ya bantu Mas!" Cahaya minta ijin dahulu.


"Baiklah, semua sudah selesai, jadi kamu boleh bantu suamimu. "


Cahaya meninggalkan dapur, dan menaiki anak tangga satu per satu. Wanita itu sudah ada di depan kamarnya, tangannya mulai membuka pintu itu. Teryata suaminya sedang mengancingkan kemeja. Cahaya berjalan kearah suaminya dan langsung membantu suaminya.


"Ehm... " Sepertinya wanita itu akan memulai pembicaraan.


"Maaf!" ujarnya, sambil mengancingkan kemeja suaminya.


Langit hanya diam tidak menjawab.


"Dimaafin enggak?" tanya Cahaya, sambil merapikan kemeja itu.


Langit hanya diam tidak menjawab pertanyaan istrinya.


Cahaya membuang napas pelan karena suaminya hanya diam.

__ADS_1


"Aku minta maaf, karena waktu marah enggak bisa mengontrol omongan sama tangan." Cahaya bicara, sambil memakaikan dasi.


Sebenarnya itu siapa yang salah, dalam kasus mereka berdua.


"Mas, jangan diam dong," protes Cahaya.


"Bukanya yang kau ucapkan saat di mobil itu tulus dari lubuk hatimu?" Langit tersenyum miring.


Cahaya menggeleng kan kepala.


"Bu-bukan seperti itu." Cahaya bicara tapi terbata-bata.


"Kau bilang aku jahat, kau bilang kau membenciku, sudah pasti itu yang ada di dalam hatimu tulus tidak akan salah." Langit berjalan kearah meja rias kemudian menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Langit sangat bahagia karena bisa mengerjai istrinya itu.


"Ti-tidak!" Cahaya sudah berdiri di samping suaminya.


"Hmm..." Langit hanya mengangguk yang membuat Cahaya berpikir itu sebuah ejekan.


Langit yang mau jalan langkahnya terhenti, saat istrinya menarik tangannya. Hal itu membuat Langit mundur ke belakang. Sedangkan Cahaya yang tubuhnya kecil terjatuh. Karena tubuh suaminya menatap tubuhnya, hal itu membuat mereka terjatuh di atas kasur.


Deg... deg... deg... Langit tersenyum mendengar detak jantung istrinya yang ada di ba*hnya. Sedangkan wanita itu, ada dib*wah suaminya, memegang jantungnya dan keringat membasahi dahinya.


"Apa yang ingin kau katakan, sampai menarik aku segala?" Langit bertanya, sambil menatap wajah istrinya dengan posisi tangannya menghimpit tubuh istrinya.


"Ma-af." Cahaya berucap, wanita itu tidak akan lega jika suaminya tidak memaafkannya.


"Mau di maafin?" tanya Langit menyeringai.


Cahaya hanya mengangguk pelan.


"Baiklah, kau bahagia?" Langit berucap sambil mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.


Cahaya tersenyum sambil mengangguk.


"Aku kasih tanda, permintaan maaf mau? Kalau ada tandanya berarti kau sudah dapat maaf dariku." Entah ide gila apa lagi.


Langit segera menyelesaikan acara memberi tanda cukup satu saja. Pemuda itu tersenyum puas. Sedangkan istrinya masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ayo bangun." Langit menarik tangan istrinya agar bangun dari tiduran.


Cahaya memegang lehernya, wanita itu mengigit bibir bawahnya.


"Kau keberatan?" tanya Langit, sambil merapikan jas.


Cahaya hanya bisa menggelengkan kepala. Langit membelakangi istrinya. Saat itu digunakan Cahaya buat bercermin. Wanita itu, bisa melihat tanda merah di lehe*nya. Langit melirik kebelakang, saat melihat istrinya memegang tanda permintaan maaf. Pemuda itu tersenyum tipis, dia pagi itu bisa mengerjai istrinya habis-habisan.


"Kita ke bawah, mungkin semua pada nunggu." Langit berbicara, sambil meninggalkan istrinya. Cahaya langsung berbalik badan, mengekori suaminya. Sambil menutupi tanda merah yang ada di lehernya dengan tangan kirinya.


Gimana nanti kalau orang tahu. Astafirullah kenapa tadi aku hanya mengangguk saja. Batin Cahaya.


Mereka telah sampai di ruang makan. Langit sudah duduk di samping eyang. Cahaya masih saja diam, tidak seperti biasanya yang langsung mengambilkan makanan untuk sang suami.


"Heh ...suamimu mau kerja ...beri dia makan jangan hanya diam!" Eyang bicara dengan sinis.


"Iy-iya Eyang!" Cahaya bicara, sambil mengambil piring suaminya. Namun tangan kirinya masih di taruh di leher. Langit menikmati hal itu, karena istrinya dengan susah-payah menutupi tanda merah itu.


Semua yang ada di sana heran dengan gelagat Cahaya yang tidak seperti biasanya.


"Kenapa Nak?" tanya pak Khan kepada menantunya, yang belum mengambilkan makanan untuk anaknya.


"Ehm ...ti-tidak Pak!" Cahaya menjawab, sambil menutupi tanda merah itu, dengan mengangkat pundak kiri. Wanita itu mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Ada apa dengan lehermu Ay, kenapa sepertinya ada sesuatu." Alula bertanya. Hazel pikirannya sudah kemana-mana lelaki itu menatap Langit seolah memberi kode. 'Apa kau yang melakukannya'. Itulah yang Langit tangkap dari tatapan Hazel. Tapi Langit hanya membalas dengan menaikan bahu.


"Ti-tidak Mbak!" Cahaya berucap, sambil duduk dan menaruh makanan di depan suaminya.


"Kenapa Teteh bicaranya terbata-bata?" tanya Arche, yang sudah siap masuk sekolah.

__ADS_1


"Emm." Cahaya mau menjawab, tapi suaminya berbisik kearahnya.


"Kau tak usah menjawab, jika kau menjawab pasti kau terlihat seperti orang—" Langit tersenyum tidak meneruskan ucapannya.


"Yah Kak Arche di kacangin." Archer tersenyum puas.


Mas benar-benar ingin mempermalukan aku sepertinya. Bagaimana ini? Aku harus menutupi tanda ini, sampai kapan Ya Rabb. Batin Cahaya menatap suaminya yang asik makan.


Uhuk... uhuk... Langit tersedak.


Cahaya yang ada di sampingnya, segera menuangkan air ke gelas. Wanita itu lupa dengan tanda permintaan maaf, semua orang bisa melihat hal itu. Semua yang ada di sana menahan tawanya, tidak dengan eyang dan si kembar. Si kembar lebih fokus pada makanan. Sedangkan eyang tidak suka dengan tanda itu.


"Minum dulu!" Cahaya membantu suaminya minum.


"Wah ...tatonya bagus Ay!" celetuk Alula, yang dengan susah payah menahan tawanya. Kakek Raharja juga menahan tawanya.


"Tato?" Cahaya bertanya kembali. Wanita itu, tidak sadar jika tangannya kirinya, sudah tidak digunakan buat nutupin tanda permintaan maaf.


Langit tahu maksud adiknya itu. Tapi pemuda itu, lebih asik makan.


"Tato yang ada di lehermu, sepertinya limited edition," ujarnya Alula, yang menahan tawanya sambil menggelengkan kepala.


Cahaya reflek menutupi lehernya kembali. Menatap suaminya yang sepertinya tidak kasian dengan nasibnya.


"Ehm... Al makanlah jangan menggoda menantu kesayangan Mbah!" ujar kakek Raharja, yang bisa mendengar suara cucunya. Karena suara Alula sedikit keras jadi kakek mendengar.


Dasar besan bangga banget punya menantu kampungan, kecil tidak molek. Batin eyang.


"Berapa menit kau membuatnya Lang?" Hazel bertanya, tapi mendapat tatapan tajam dari eyang membuat Hazel terdiam. Jo tidak berani pulang ke rumah jika ada eyang. Pria itu, lebih memilih tinggal di hotel entah sampai kapan.


Makan pagi itu telah selesai. Keluarga itu mengantar suaminya ke depan rumah.


"Hati-hati Pak, sudah tua jaga kesehatan. Harusnya Bapak, enggak usah kerja. Tapi ...bagaimana lagi ...emang udah gini jalannya." Abidah Aminah mencium tangan pak Khan.


"Ya sudah lah Bu, buktinya Bapak diberikan kesehatan sama Allah. Jadi Bapak ya harus kerja ...tiga tahun lagi masa jabatannya sudah selesai ...dan Bapak akan di rumah main dengan cucu kita nanti." Pak Khan membalas ucapan Abidah Aminah.


Cahaya yang mendengar kata cucu ada getaran di hatinya.


"Hati-hati Yang, kerja yang benar. Bikin orang yang ada di dekatmu bangga dan bikin Balqis bangga punya Daddy, seperti kamu." Alula merapikan jas suaminya.


"Oke siap, Yang!" Hazel mencium istrinya.


"Pak, kita ke dalam mobil dulu, biar pasangan baru ini romantis-romantisan." Hazel menatap Cahaya dan Langit bergantian.


"Ti-tidak Pak!" Cahaya angkat bicara, tapi membuat semua tertawa, karena jawaban Cahaya. Sedangkan Langit menggerutu karena kekonyolan istrinya itu. Bukanya sudah dibilang tidak boleh bicara, kenapa masih bicara.


"Ayo Zel! Sepertinya menantu kedua ku, sudah tidak sabar mencium anakku. Bu masuklah jangan ganggu mereka." Pak Khan, tersenyum kearah Cahaya. Sedangkan Cahaya hanya tersenyum kaku.


Masih meninggalkan pasangan baru itu. Cahaya menatap mata suaminya.


"Masnya sengaja ya, mau bikin aku malu?" tuduh Cahaya kepada suaminya. Langit tidak tahu apa maksud istrinya itu.


"Ma-maksudnya ini." Tunjuk Cahaya kearah lehernya.


Langit paham maksud istrinya itu.


"Kau menuduh ku?" tanya Langit, memepetkan tubuhnya dengan tubuh istrinya. Cahaya mundur bukan apa itu adegan ada di luar rumah tidak di kamar.


"His ...jangan mepet-mepet dilihat orang." Cahaya berucap.


"Terus... "


"Sudah kerja saja jangan main-main. Nanti beliin martabak ya." Cahaya tersenyum mengingat martabak itu.


"Enggak... " Langit menggelengkan kepala dan tangannya menyentuh leher istrinya yang ada tanda permintaan maaf.


"Iih ...Mas ...malu, sana kerja ...semoga dilancarkan semua!" Cahaya memukul pergelangan tangan suaminya yang ada di lehernya.

__ADS_1


"Baiklah aku berangkat, harus kuat." Langit menepuk pundak istrinya sambil tersenyum. Cahaya mengangguk pelan dan tersenyum.


__ADS_2