
Senja terkesiap melihat pemuda yang datang.
"Pak Arkana!"
Langit mengulurkan tangannya, kearah pria asal Sumatra itu. Senja menerima uluran tangan dari rekan bisnisnya itu.
"Kalian kenal?" Cahaya bertanya, sambil menunjuk kearah suaminya setelah itu kearah sahabatnya.
"Pak Senja adalah investor di perusahaan." Langit menjawab, sambil menatap istrinya dari atas sampai kaki. Pemuda itu menatap kagum, tapi pemuda itu tidak suka, karena orang lain bisa melihat bentuk tubuh istrinya itu.
"Oh!" Cahaya mengangguk. "Iya Sen, dia suami gua, maaf waktu itu, gua enggak tahu nomor lu, jadi gua enggak bisa ngundang ke acara nikahan kita." Cahaya memperkenalkan suaminya, dengan sahabatnya itu. Senja sudah mendapatkan jawaban, sebelum dia bertanya, apa benar sahabatnya itu sudah menikah.
"Ah ...iya-iya waktu itu gua ganti nomor." Senja mengangguk.
Senja tidak tahu kenapa hatinya sesak. Saat melihat sahabatnya sudah menikah. Bukankah pria itu, masih mencintai kekasihnya yang tidak ada kabar itu.
"Om, duduk jangan berdiri." Gadis itu, menyuruh Langit, untuk duduk.
Saat Cahaya ingin duduk di sebelah Senja dengan cepat pemuda itu, menarik istrinya dan berbisik.
"Duduklah di samping Cantik!" Cahaya hanya menurut apa kata suaminya.
Langit membuka jasnya terlebih dahulu sebelum duduk. Pemuda itu, merasa jika baju yang istrinya pakai terlalu pendek. Pemuda itu, memberikan jasnya ke tangan istrinya. Kemudian membisikkan sesuatu.
"Gunakan buat menutupi lutut mu," bisik nya pemuda itu, kemudian tersenyum kearah Agam Ariaja, yang menatap dirinya aneh. Pemuda itu menarik kursi dan duduk di samping istrinya.
Langit tidak seperti pemuda pada umumnya, yang terlalu arogan dengan pasangannya. Pemuda itu mempunyai cara tersendiri. Langit bisa saja langsung mengikatkan jasnya, yang sudah di lepas ke pinggang istrinya. Tapi tidak dengan Langit! Pemuda itu tidak mau jika istrinya tersinggung. Dan yang kedua pemuda itu tidak mau dianggap terlalu memamerkan keromantisannya. Cukup istrinya saja yang merasakan keromantisan itu.
Cahaya pun melakukan apa yang suaminya bilang. Wanita itu hanya ingin mencari keridhaan suaminya dan keridhaan Allah SWT.
Karyawan minimarket tidak berkedip. Saat melihat pak bosnya, untuk yang pertama kali.
"Itu Pak bos? Ganteng menurut gua." Akira menatap pak bosnya, dari kejauhan.
"Bukan cuma itu Kir, tapi sikapnya sama bu bos, itu loh bikin meleleh." Hanik membayangkan jika dia punya suami seperti pak bosnya.
"Beda dari yang lain." Asep yang cowok, bisa menilai cara pak bosnya bersikap dengan bu bos.
"Kalau cowok lain pasti langsung, jasnya ditaruh di pundak istrinya kayak sinetron." Gito bicara sambil memasukkan sate.
"Moon maap ye Bang Git, kalau di sinetron itu ada skenarionya, artisnye disuruh akting. Nah ini dunia nyate skenario Allah, lebih bagos." Akira bicara sambil menepuk meja.
"Telat Lang?" Agam bertanya, sambil minum kopi hitam.
"Iya, untung saja kerja tim sangat membantu. Perkiraan tadi pulang jam dua belas lagi." Langit bicara, sambil mencari minuman. Tapi di sana, hanya empat gelas saja, itupun sudah sisa.
"Kang Mas, Bapak mana?" Archer berteriak.
"Di belakang sama Jo." Langit menatap adiknya.
Kenzi menatap Archer sangat lama. Membuat Alexa berpikir apa anak sambungnya itu suka sama adik iparnya Cahaya.
"Kak Jo, juga ada?" Archer bertanya girang. Entah apa yang ada di pikiran Archer.
Orang yang di tanyakan Archer masuk kafe. Kenzi yang melihat Archer sangat gembira bibirnya tersenyum simpul.
"Abang suka dengan gadis itu?" Alexa berbisik kearah anak tirinya itu.
Kenzi mengangkat bahunya acuh. Alexa menghela napas panjang, karena anak sambungnya belum bisa berdamai dengan permainan takdir.
"Kak Jo!!!! " Archer berteriak, seperti anak muda. Kalau bertemu gebetannya
terlalu agresif.
"His ...kau itu ini diluar bukan di rumah." Arche mendesis menarik tubuh adiknya agar duduk kembali.
Pak Khan sudah duduk bergabung dengan keluarganya. Jo berdiri di samping Archer. Menatap eyang membuatnya takut. Bagaimana tidak! Jika eyang selalu menyindir Jo. Karena Jo diangkat jadi anak oleh keluarga Raharja. Bukan cuma omongan, tapi Jo juga masuk kartu keluarga. Alula dan Langit sudah mempunyai kartu keluarga sendiri.
"Kak Jo, kenapa tidak pulang?" Archer bertanya sambil mendongak.
Jo berbisik di telinga Archer.
"Kau tidak tahu? Bagaimana sikap Eyang terhadapku, pasti dia akan menghina." Jo berbisik sangat pelan
Archer menyuruh Jo, mendekatkan telinganya ke bibirnya. Kemudian berbisik sangat pelan.
"Sekarang sasarannya Teteh, Kak."
"Allahu Akbar." Jo terperanjat membuat gengs Raharja menatapnya. Akh— Jo mendapat tatapan mematikan dari eyang.
Jo yang salah tingkah, langsung duduk di samping Archer.
Sedangkan Kenzi merasa tidak suka, dengan kedekatan kedua orang itu.
Wanita berambut sebahu itu sangat bahagia, karena suaminya datang. Matanya saja tidak teralihkan dari wajah suaminya.
__ADS_1
Senja yang melihat tatapan Cahaya kearah Langit. Pria berkulit gelap itu, bisa menilai jika mata itu penuh dengan cinta.
"Om Dosen, cari apa?" Cantik bertanya, gadis itu memperhatikan gerak-gerik om dosennya seperti mencari sesuatu.
"Ah—aku sedang cari minum Can!" Langit sudah sangat haus, karena setelah mengirim pesan ke istrinya. Pemuda itu tidak sempat minum. Karena harus cepat menyelesaikan kerjaannya.
Cahaya langsung berdiri, ingin mengambilkan minuman untuk suaminya.
"Mau kemana?" Langit bertanya.
"Ambilin minum untuk Mas!" jawab Cahaya.
"Om Dosen, minum sisa aku aja." Gadis itu berjalan kearah Langit dan meletakkan gelas itu didepan om Dosennya.
Langit yang sudah tidak tahan lagi, pemuda itu langsung meneguk oren juice. Satu detik, gelas itu sudah kosong. Gadis berwajah bulat itu tersenyum, karena rencananya berhasil.
"Akak, lihatlah Om menghabiskan minuman ku— jadi— Akak harus menggantinya. Aku mau minuman seperti Om Hazel!"
Langit yang mendengar hal itu, dia menatap gadis yang memakai baju Tionghoa. Bukankah gadis itu, yang menawari dia minum. Gadis berwajah bulat itu benar-benar licik.
Semua tertawa, karena kecerdikan gadis itu.
"Oke sayang! Akak, akan mengganti minuman mu, yang di habiskan Om!" Cahaya bicara, sambil menahan tawanya, karena ulah gadis itu. Cahaya bisa melihat wajah suaminya mlongo.
Cahaya berjalan kearah dapur, di sana sudah ada ibu penyandang tuna wicara dan Gibril.
"Kakak baik, butuh apa?" Gibril bertanya.
"Aku akan buat minuman." Cahaya menjawab.
"Ya sudah Kakak baik balik saja, nanti biar aku yang membawa minuman itu," ujar Gibri.
"Tapi— " Cahaya tidak melanjutkan ucapannya. Karena ibu penyandang tuna wicara itu menggelengkan kepalanya. Seolah ibu itu berkata 'tidak usah, biar saya yang buatin minumannya'.
"Baiklah terima kasih!" Cahaya meninggalkan dapur itu.
"Mana minumannya Akak Sudah habis ya?" Gadis itu langsung bertanya, karena akak Bubble-nya tidak membawa minuman.
"Can!" tegur Agam Ariaja.
"Sedang dibuatin." Cahaya memberi tahu gadis itu.
"Hore!" Gadis itu bersemangat.
Hampir lima menit menunggu minuman datang.
Langit yang sedang asyik bicara, penglihatannya teralihkan saat ada suara.
Langit menatap wajah Gibril, sepertinya pemuda itu tidak asing dengan wajah itu.
Wajahnya! Wajah siapa ini? Kenapa sepertinya aku pernah melihatnya. Batin Langit, yang bersi keras untuk mengingat wajah yang mirip dengan bocah lelaki bermata coklat.
Oh Tuhan! Apa pemuda itu lupa, dengan wajah itu. Bahkan orang yang mempunyai wajah yang mirip dengan Gibril itu. Sangat dekat dengannya. Bahkan pernah menolongnya sangat dia butuh bantuan. Semua yang ada di sana seolah berkaitan satu sama lain.
"Kenalin dia Gibril, yang waktu itu aku ceritain ke Mas!" Cahaya mengelus kepala Gibril sambil tersenyum kearah si bule.
Langit mengangguk, tangan kanannya mengusap rambut Gibril. Gibril tersenyum kearah Langit. Langit juga pernah melihat senyuman itu sebelumnya.
"Siapa dia Akak?" Gadis berwajah bulat itu ingin tahu.
"Gib kenalan dulu sama gadis ini." Cahaya menyuruh, Gibril berkenalan dengan Cantik.
"Aku Cantik!" Cantik mengulurkan tangannya.
Gibril menatap Cahaya dan dijawab anggukan kepala.
"Kau terlalu PD!" Gibril menjabat tangan gadis berwajah bulat itu, dan segera melepaskan acara jabatan tangan.
Semua yang ada di sana, menatap kedua bocah yang memiliki perbedaan dua tahunan.
"Apa maksudnya?" Gadis berwajah bulat itu, menaruh kedua tangannya di pinggang.
"Masa baru kenal sudah bilang, aku Cantik!" Gibril bicara sambil mengulangi logat yang gadis berwajah bulat itu gunakan, untuk memperkenalkan diri.
Semua yang ada di sana menahan tawanya, karena kesalahan pahaman antara dua bocah itu.
"Hey kau." Cantik menunjuk wajah Gibril sambil melotot. Sebelum berbicara kembali. "Namaku emang Cantik! Lihatlah hidungmu bengkok." Gadis itu mengejek bentuk hidung Gibril. Orang bule memang mempunyai ciri khas hidungnya bengkok karena sangking mancungnya.
"Kau juga bulat, kenapa di kepala mu ada antenanya, dua lagi." Gibril bicara, sambil memegang kedua antena yang Cantik pasang di kepalanya.
Semua orang tertawa, karena ucapan Gibril. Tapi tidak dengan Langit dan Cantik kedua orang itu tidak ikut tertawa. Cantik sangat kesal karena Gibril.
"Bukan antena, ini itu namanya Ce-Pol!" Gadis berwajah bulat itu, memegang kedua antena yang dia miliki.
"Ce-Pol itu saudaranya jempol?" Gibril bertanya, sambil memainkan jempolnya di depan Cantik.
__ADS_1
"Ah, udah ah enggak tahu aku." Gadis itu bicara, sambil duduk di kursinya kembali.
"Kakak baik, gadis itu sangat aneh." Gibril bicara dengan Cahaya.
Cahaya menaruh telunjuknya di mulut, agar Gibril tidak bicara lagi. Bagaimana pun Cahaya menjaga hati orang tua gadis itu.
"Akak pilih aku atau si hidung bengkok?" Cantik tidak suka jika akak Bubble-nya dekat dengan Gibril.
"Pilih aku saja, kalau Kakak baik pilih dia takutnya kesetrum karena antenanya itu." Gibril tidak mau kalah. Bagaimanapun Gibril tidak pernah dekat dengan seseorang, apalagi menyayanginya seperti kakak baik itu.
"Akak, aku."
"Kakak baik, sama aku saja."
"Jangan sama dia, aku saja." Gadis berwajah bulat itu tidak mau kalah.
"Aku saja Kakak baik!" Gibril bicara tidak mau kalah.
"Hey... Kakak baik sama Akak punya suaminya." Arche berteriak.
Dua bocah itu menatap Arche yang berteriak.
"Hey... kalian tungul jangan debat, takutnya kalau udah gede jadi suka. Teh Cahaya itu punya Kang Mas. No debat-debat." Archer tidak mau kalah dari Arche.
"Mohon maaf, ini bukan acara jubir jadi enggak boleh debat," ujar Hazel.
Kafe nampak sepi, karena semua tamu sudah pulang lima belas menit. Cahaya masih ada di sana.
"Kalian mau kemana?" Cahaya bertanya, saat melihat ibu tuna wicara, kakek tua dan Gibril ingin keluar kafe. Ella sudah pulang dijemput keluarganya. Ella termasuk beruntung karena keluarganya orang berada.
"Mau cari tempat tidur untuk malam ini Neng!" Kakek tua itu menjawab.
"Ngapain? Sudah di sini saja, enggak apa-apa dari pada di jalan, tapi maaf disini tidak ada kasur." Cahaya berbicara.
"Emang boleh Kakak baik?" Gibril bertanya antusias.
"Tentu saja, dari pada tidur di jalan mending, gunain kafe ini buat kalian berteduh tidak kehujanan kan lumayan." Cahaya berbicara, sambil memberikan kunci kafe itu ke ibu tuna wicara.
"Kita pamit ya!" Cahaya bicara, sambil menggandeng lengan suaminya.
Cahaya dan Langit sudah ada di bawah.
"Mas, kita lihat rembulan dulu." Cahaya mengajak suaminya untuk menikmati rembulan.
"Kenapa enggak di rumah saja?" tanya Langit.
"Kali-kali kita menikmati rembulan di dekat jalan raya." Cahaya menatap rembulan yang hampir tertutup selaput putih.
"Bisa enggak?" Langit bertanya, karena istrinya kesusahan untuk naik kebagian depan mobil Jeep.
"Susah." Cahaya menyerah.
"Naikkan lah." Langit berlutut di depan istrinya.
"Enggak mau ah ...enggak usah naik, berdiri saja liat rembulan nya." Cahaya bicara, sambil menyelipkan rambutnya ke telinga.
"Ayo Az-zahra Mas bantu, kau tidak akan tahu rasanya menikmati rembulan di atas mobil." Langit berbicara.
"Gimana ini caranya?'"
"Pegang tangan Mas, gunakan pahaku untuk naik ke atas." Langit bicara sambil menggenggam tangan istrinya.
"Kalau celananya kotor gimana?" tanya Cahaya.
"Lupakan, ayo cepat."
Cahaya melepaskan sandal jepit itu. Kemudian kaki kirinya ia taruh di paha suaminya.
"Enggak apa-apa kan, Mas?" Cahaya bertanya takut, jika suaminya keberatan.
"Az-zahra ayo cepat."
Cahaya reflek segera melakukan perintah suaminya. Akhirnya wanita itu bisa naik juga di atas mobil Jeep, dengan bantuan paha suaminya. Langit segera berdiri dan duduk di samping istrinya dengan mudah.
"Kok bisa Mas?"
"Iya karena tinggi, kamu kan pendek jadi harus dibantu." Langit mencibir.
"His... " Cahaya menepuk paha suaminya keras.
"Karena ada paha ini, kau bisa naik, coba kalau enggak, kau enggak akan bisa naik." Langit menatap wajah istrinya yang sangat dekat.
"Oh, iya-ya maaf ya paha." Cahaya mengelus paha suaminya.
"Kau sudah gila, minta maaf ke paha, minta maaf itu ke orangnya." Langit berbicara, sambil nunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Maaf sang pemilik paha." Cahaya reflek menepuk pelan pipi suaminya itu.
Langit tersenyum mengacak rambut istrinya.