Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Namanya Paket Komplit


__ADS_3

Rabu 12 September 2007 bertepatan dengan hari pertama puasa. Kandungan Cahaya, semakin membesar saja. Pertanda sang bayi akan keluar. Prediksi dokter Cahaya akan melahirkan, setelah lebaran lebih lima hari. Tapi entah takdir apa yang tulis untuk pasangan itu.


Pasangan itu ada di kamar sedang bersiap untuk tarawih.


"Yakin, mau tarawih?" Langit bertanya sambil memakai peci.


"Iya, katanya dokter kalau buat gerak tambah baik. Biar kalau lahiran mudah!" Cahaya mengenakan mukena.


"Baiklah, ayo kita ke bawah. Mungkin semua orang sudah menunggu." Langit bicara sambil keluar dari kamar. Sedangkan Cahaya mengikuti dari belakang.


Mereka telah sampai dibawah, dan benar semua keluarga sudah siap ke masjid.


"Bumil, mangat bener kayaknya!" goda Alula, yang sudah ikut tarawih. Karena anaknya sudah ada yang jaga.


"Harus semangat, karena bulan suci!" Cahaya bicara, sambil membenahi mukena bagian wajah,


"Ya sudah kita berangkat!" ajak pak Khan. Malam itu yang tidak ikut jamaah adalah eyang.


"Sahur! Sahur!" Archer berteriak tidak ada bedanya dengan orang yang tidak waras.


"Ssttt!" Langit menyuruh adiknya diam.


Sedangkan Arche menahan tawanya karena adiknya dapat teguran dari Langit.


Jamaah sudah bersiap semua, mereka merapikan saf.


Langit sudah ada di balkon menatap rembulan. Sedangkan Cahaya, wanita itu berjalan mendekati suaminya.


"Ternyata kita sudah satu tahun berumah tangga!" Langit yang semula menatap rembulan, berganti menatap istrinya.


"He'em!" Cahaya mengangguk pelan.


"Suka duka kita lewati bersama, saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Ternyata hubungan suami-istri itu mubarok ya!" Langit tersenyum, pemuda itu. Tidak pernah terlintas dalam benaknya, jika dia akan menemukan seseorang yang ia butuhkan dalam hidupnya itu.


"He'em!" Cahaya mengangguk lagi.


"Singkat sekali jawabnya!" keluh Langit karena istrinya, hanya menjawab singkat.


"Seperti, Masnya waktu itu! Dulu Masnya, irit bicara. Aku mencoba untuk mengingatkan saja!"


"Kau itu!" Langit ingin menggelitik tubuh istrinya. Tapi Cahaya menggeleng kepala cepat.


"Jangan, nanti kandungan ku kenapa-napa!" Cahaya takut jika kandungannya kenapa-napa.


"Ah!" Langit mendengus sebal, pemuda itu sangat lemah jika mengenai kandungan istrinya. Dia amat sangat mencintai istrinya dan dedek bayi.


"Kapan kita belanja, keperluan dedek?" Cahaya bertanya.


Pasangan itu belum juga membeli, satupun barang untuk keperluan bayi mereka.


"Nanti ya, kalau ada kesempatan libur."


"Iya!" Cahaya mengangguk setuju.


"Aku ada pertanyaan untukmu," ujar Langit, pemuda itu belum sempat bertanya tentang hal itu kepada istrinya.


"Coba saja, aku akan menjawab." Cahaya menatap wajah suaminya dalam.


"Siapa cinta pertamamu, sebelum menikah dengan ku?" Langit menatap istrinya dengan tatapan dekat.

__ADS_1


Cahaya yang mendengar pertanyaan yang suaminya tanyakan. Wanita itu tidak tahu harus jawab atau tidak.


"Apakah ini penting, buat mu?" tanya Cahaya menelisik.


"Entahlah, aku tidak tahu." Langit mengangkat bahu. Kemudian melanjutkan pembicaraan kembali. "Seperti yang, kau tahu. Kamu tahu, tentang cinta pertamaku. Lantas apa salahnya, jika aku ingin tahu?"


Cahaya berpikir sejenak, dia harus bisa membuat suaminya paham sesuatu hal.


"Mas! Bukanya aku tak mau memberi tahu. Siapa cinta pertamaku, tapi aku menghindari percekcokan antara kita. Aku tidak mau ke salah pahaman ada di antara kita." Cahaya menjelaskan dengan hati-hati.


"Kenapa? Bukanya aku, juga bercerita tentang cinta pertamaku, kepada mu. Lantas mengapa kau tidak mau berbagi cerita dengan ku?"


"Situasinya berbeda Mas! Mas cinta pertama mu, sudah meninggalkan dunia ini. Dengan kepergian dia, aku pribadi. Masih mempunyai rasa cemburu, dengan dia. Tapi aku sadar. Jika, dia sudah tidak ada bersama kita.


Sedangkan cinta pertamaku, dia masih bersama kita. Biarkanlah aku dan Tuhan, yang tahu."


"Maksudnya? Hanya kau dan Tuhan?"


"Aku yakin kau tahu maksudnya, cintaku tak terbalas." Cahaya tersenyum simpul.


"Terus, bagaimana dengan dia sekarang?"


"Dia sudah bahagia dengan istrinya." Cahaya membayangkan masa lalunya,


"Masih ada rasa?" Langit sangat ingin tahu.


"Tidak! Semua hilang begitu saja, disaat dia mencintai seseorang." Cahaya menatap kosong.


"Terkadang kamu itu harus merasakan sakit hati dahulu. Sebelum kau menemukan cinta terbaik untukmu." Langit merengkuh tubuh istrinya.


Cahaya mendongak untuk melihat wajah suaminya itu.


Langit mendengus sebal, karena istrinya mengejeknya.


"Terkadang kata-kata, yang keluar dari mulut kita. Karena kita pernah ada di posisi itu."


"Iya-iya!" Cahaya mengangguk paham.


"Tengoklah bintang di langit Az-zahra!" Langit menyuruh istrinya menengok.


"Sebuah perumpamaan, Seribu bintang di langit. Akan kalah dengan satu cahaya bulan. Seribu kebaikan akan kalah dengan satu kesalahan."


"Aku percaya itu. Karena seseorang tidak mengingat yang banyak. Tapi seseorang mengingat yang sedikit." Cahaya melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.


"Ya! Karena manusia ingatannya terbatas. Jadi yang sedikit yang diingat." Langit bicara sambil mengelus lembut bahu istrinya.


Sejenak mereka tidak mengeluarkan suara.


"Az-zahra tengoklah rembulan." Cahaya hanya mengikuti apa yang suaminya bilang.


"Kenapa Mas?" tanya Cahaya mengerutkan dahi.


"Tengoklah rembulan yang ada di langit, meski tak punya teman. Tapi dia mampu berdiri sendiri, untuk menyinari dunia ini. Berbeda dengan bintang, yang mempunyai banyak teman. Maka, jadilah seperti rembulan yang tidak punya teman, tapi mampu memancarkan cahayanya melebihi seribu bintang."


"Namaku mah paket komplit Mas!" Cahaya terkekeh karena ucapannya.


"Iya, semua yang ada di langit malam itu namamu. Bintang Cahaya Bulan! Harusnya sekalian Awan, juga ikut," canda Langit tentang nama istrinya.


"Enggak ah , nanti mendung dong."

__ADS_1


Saat mereka sedang menikmati waktu luang. Dering ponsel milik Cahaya berbunyi.


Cahaya tersenyum melihat nama yang tertera di layar ponsel.


"Assalamualaikum kakak Baik!" suara dalam ponsel.


"Wa'alaikumsalam, bagaimana kabar Gib. Sudah seminggu aku tidak ke kafe." Cahaya melirik suaminya itu.


"Aku baik, Kakak! Oh ... Kakak sampaikan, rasa terima kasih ku kepada Om yang tinggi itu ya!"


"Bicaralah, dia sedang bersamaku, sekarang!" Cahaya menyerah ponselnya kearah suaminya.


"Iya, Gin! Kamu mau bicara apa denganku?" tanya Langit kepada Gibril.


"Om Tinggi, aku ingin bilang terima kasih. Karena sudah mendaftarkan aku sekolah!" Suaranya terdengar riang sekali. Di dendang telinga milik Langit.


"Iya sama-sama, kamu yang pintar sekolahnya. Jangan bikin Kakak Baik, kecewa. Karena dialah, yang memintaku untuk mendaftarkan mu ke sekolah." Langit melirik istrinya, Cahaya emang selalu merayu suaminya agar mau mendaftarkan Gibril untuk sekolah.


"Iya-iya Om Tinggi, aku tahu itu. Mamanya aku panggil dia, Kakak baik! Karena dia baik sekali sama Gibril!" Gibril sangat cerewet, membuat Cahaya selalu tersenyum jika dekat dengan Gibril.


"Aku juga selalu berdoa agar Allah. Memberi kebahagiaan buat Kakak Baik dan Om Tinggi!" Gibril terus bicara membuat pasangan itu menggeleng bersamaan.


"Aku menyayangimu Gib!" Cahaya tersenyum, bahkan wanita itu sudah menanggap Gibril sebagai keluarga.


"Kau cinta pertamaku Kakak Baik!" Suara Gibril terdengar bergetar.


"Kamu masih kecil Gib!" Langit menyahut.


"Umurku depan tahun, apa itu masih kecil?" Gibril bertanya.


"Kau masih kecil jika membahas tentang cinta.Tapi kau sudah baligh, dimata Allah!" Cahaya tersenyum karena jawaban suaminya.


"Iya-iya Om Tinggi! Apa Om, cemburu saat aku bilang cinta kepada Kakak Baik hehehe!" Gibril tertawa karena bisa bicara dengan Langit, yang ia idolakan itu.


"Anak kecil!" panggil Langit.


"Iya, Om Tinggi! Aku bukan mencintai Kakak Baik saja, tapi aku juga mencintai Om Tinggi. Karena kalianlah aku bisa tahu arti sebuah cinta dan kasih sayang!" Suara Gibril terdengar sedih.


"Terima kasih, karena kalian pula, aku merasakan cinta keluarga!"


"Gib, kalau kamu sedih nanti Kakak juga sedih. Dan dedek yang ada di perut Kakak juga akan sedih. Jadi kamu enggak boleh sedih. Ada Allah yang selalu bersamamu bukan?" Cahaya sangat sedih, jika Gibril membahas mengenai keluarga kandung Gibril yang tidak diketahui bocah itu.


"Oke Kakak Baik, aku tutup ya. Ponselnya sudah mau aku kembalikan ke orangnya!" Ya! Saat kangen dengan Cahaya. Gibril akan meminjam ponsel penjaga minimarket.


"Assalamu'alaikum Gib!" Cahaya akan salam sebelum menutup panggilan itu. Jika tidak Gibril akan protes.


"Wa'alaikumsalam!"


Langit terdiam, sepertinya dia memikirkan sesuatu. Cahaya yang melihat suaminya seperti orang bingung. Ia memutuskan bertanya. "Kenapa Mas?" tanya Cahaya mencari tahu.


"Aku sedang mengingat seseorang, tapi aku lupa." Langit mencoba mengingat seseorang.


"Siapa?"


"Aku lupa, tapi wajahnya mirip dengan Gibril!" Suaranya pelan.


"Yang benar Mas?" tanya Cahaya serius.


"Iya, saat aku bertemu pertama kali dengan Gibril. Aku kaget dengan wajah Gibril seperti seseorang yang pernah aku lihat." Langit menggaruk kepalanya. Kenapa dia tidak bisa mengingat. Padahal sudah hampir satu tahun, dia mengenal bocah bermata coklat itu.

__ADS_1


Mereka akan melewati masalah besar. Sebelum Gibril tahu siapa orang tuanya yang sesungguhnya.


__ADS_2