Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Pertemuan Met Jamet Dengan Ajil


__ADS_3

Perkenalan ku dengannya sudah dimulai saat kita TK. Mami dan tante Abid berteman sangat baik, hingga mereka pernah berbisnis bersama tapi gagal... saat Mami bercerita aku ingin tertawa... Tapi lupakan tentang cerita Mami dan tante Abid. Aku menulis buku ini, ingin bercerita tentang keseharian ku bersama sahabat ku Ajil. Bukan! Namanya bukan Ajil!


Nama aslinya adalah Muhammad Langit Arkana Abdullah. Pertama aku bertemu dengannya saat Mami mengajakku kerumahnya tante Abid.


"Mentari!" Aku menyodorkan tanganku kearah bocah lelaki itu. Tapi sayang, dia tidak menerima uluran tangan ku. Baiklah! Namaku Mentari! Tidak akan menyerah begitu saja. Aku ingat waktu itu, aku harus mencoba kedua kalinya baru dia menerima uluran tanganku. Dasar anak laknat pikir ku waktu itu. Dan parahnya lagi dia tidak memberi tahu namanya kepadaku. Dasar Ajil!


"Siapa nama mu?"


"Langit!"


"Kita berteman." Aku bilang seperti itu, tapi dia sok enggak mau gitu.


Dan itu adalah awal mula kita bertemu.Waktu itu umurku enam tahun baru TK! Sedangkan Ajil dia setahun lebih muda dariku. Aku dan Ajil selalu berangkat sekolah bersama karena rumah kita berdekatan. Ya! tapi sayang sekali saat masuk sekolah dasar Mami dan Papi pindah di Jakarta Selatan. Baiklah! Tidak masalah, karena aku dan Ajil bisa bermain setelah sekolah. Hampir delapan tahun kita bersama kita semakin dekat dan semakin dewasa.


"Ajil! Panggil ku ke dia, dan aku masih ingat dia melotot saat aku panggil Ajil untuk pertama kalinya.


"Lu memanggil gua Ajil?" tanya dia, tadi saat kita sedang makan bakso di kantin.


Aku mulai nulis diary ini saat aku SMP.


Tepatnya malam ini sih hihihihi.


"Ya tentu saja masa orang lain." Kalau enggak salah jawabanku seperti itu, saat kita di kantin tadi.


"Dasar Met Jamet! "


"Siapa Jamet?" Aku tadi sedikit terkejut dengan ucapan Ajil.


"Lu." Dia nunjuk mukaku dengan garpu, ngeri juga si Ajil itu.


"Baiklah! Aku terima panggilan kesayangan mu itu kepadaku." Aku tidak pernah mempermasalahkan panggilan dia kepada ku.


"Ajil, kita ini sudah lama kenal, main bersama, apa enggak ada peningkatan status gitu." Tanyaku, aku tidak suka bosa-basi. Karena aku tidak suka dikasih makan nasi basi hihihi.


"Lu mau jadi pacar gua?" Si Ajil itu bertanya, seperti itu. Buat aku ingin tertawa.


Aku yang reflek tadi saat dengar itu, aku pukul wajah dia dengan keras. Enak juga nampar Ajil, kapan lagi itu terjadi kan.


"Sahabat Jil, masa kita cuma teman doang." Aku bilang gitu ke Ajil tadi waktu di kantin.


"Okey Jamet!"


Sumpah! Demi apa? Kenapa Ajil mudah menyetujui hal itu.


"Dalam persahabatan kita ini— harus ada perjanjian didalamnya Jil." Aku tidak mau jika suatu hari hubungan aku dan Ajil akan retak nantinya. Mempunyai sahabat itu adalah mimpiku sejak kecil.


"Apa?" Si Ajil ini selalu jawab dengan kalimat pendek.


"Tidak boleh jatuh cinta satu sama lain." Perjanjian itu aku lakukan, karena aku tidak mau hubungan persahabatan ini akan rusak karena salah satu dari kita saling mencintai.


"Baik!" Ajil menerima syarat yang aku buat.


Itulah cerita pertama aku dari TK bersama Ajil. Dan cerita tadi saat kita di kantin. Baiklah cerita malam ini sampai di sini aku lelah .


^^^TTD^^^


^^^Mentari!^^^


Saat mau membuka lembaran selanjutnya. Cahaya mendengar suara suaminya yang baru pulang kerja, sore itu.


"Az-zahra!"


"Masnya sudah datang, baiklah aku akan membaca buku ini lain kali saja. " Cahaya menutup buku itu, dan berlari kearah pintu yang terbuat dari kaca. Ada banyak cerita dibuku itu yang berkaitan dengan Cahaya.


"Kau dari balkon?" tanya pemuda itu, yang melepaskan jas.


Cahaya mengangguk pelan, sepertinya suaminya tahu jika dia suka menghabiskan waktu di balkon.


Ajil dan Met Jamet ternyata mereka punya panggilan kesayangan. Batin Cahaya yang masih ingat isi diary Mentari.


"Kenapa kau hanya diam, biasanya membantuku melepas dasi?" Langit bertanya, kepada istrinya itu yang hanya diam.


"Ehem ...maaf." Cahaya mulai membantu suaminya itu.


"Apa kau ingat waktu malam takbiran?"


Wanita mengerutkan dahi, ah iya waktu malam takbiran wanita itu mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara.


"Tentu. " Cahaya mencoba melepaskan kancing kemeja satu persatu.


"Aku menariknya untuk malam ini."


Cahaya yang mendengar hal itu, tangannya berhenti melepaskan kancing baju suaminya. Wanita itu mendongak menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Narik?" tanya Cahaya mengerutkan dahi, ah—apa wanita itu lupa.


"Apa kau lupa, biar aku ingatkan— " Langit tersenyum licik sedangkan Cahaya mencoba mengingat-ingat.


"Jika itu, yang bisa menyempurnakan statusku sebagai istri— " Langit tersenyum, tidak melanjutkan ucapnya.


Cahaya yang mendengar hal itu, tersenyum kaku tubuhnya bergetar. Langit berjalan maju mendekati tubuh istrinya, sedangkan Cahaya sedikit mundur. Langit terus berjalan membuat Cahaya mundur sampai terduduk di ranjang. Langit tersenyum puas karena wajah istrinya yang menurutnya lucu. Pemuda itu sudah menghimpit tubuh istrinya itu. Cahaya yang melihat wajah suaminya semakin dekat. Dia menjauhkan wajahnya pelan-pelan. Saat kepala Cahaya mau nempel dengan kasur, tangannya pegangan leher suaminya. Langit tersenyum karena mata Cahaya tertutup.


Bug—kepala Cahaya sudah nempel kasur itu. Posisi yang tidak pernah dilakukan pasangan itu sebelumnya.


"Sepertinya kau sudah siap." Pemuda tersenyum licik.


Cahaya yang mendengar hal itu matanya tertutup rapat.


"Jangan sekarang nanti malam saja." Pemuda itu, melepaskan tangan istrinya yang ada di lehernya itu. Kemudian berdiri dari posisi yang tidak pernah ia duga.


Hah kenapa masnya bilang gitu kok aku ngerasa aku yang minta. Batin Cahaya yang masih menutup mata.


"Aku mau mandi dulu." Langit meninggalkan istrinya, yang masih setia memejamkan mata.


Cahaya mulai membuka matanya, dan membuang napas lega.


"Ya Rabb, kenapa aku waktu itu bilang siap. Jika aku tahu rasanya berdekatan dengan Masnya, kayak tadi saja... akh... " Cahaya menarik rambutnya frustasi.


Sedangkan Langit yang ada di kamar mandi tersenyum puas, karena bisa menggoda istrinya. Langit pagi itu belum menggoda istrinya, jadi saat pulang kerja dia wajib menggoda istrinya.


Pasangan itu sudah siap untuk sholat magrib berjamaah.


"Sudah siap?" tanya Langit, menengok ke belakang. Cahaya hanya mengangguk pelan. Jam menunjukkan setengah tujuh malam. Pasangan baru itu, masih ada di dalam kamar.


"Kita makan dibawah ya?" tanya Langit.


"Baiklah." Cahaya sangat malas jika harus bertemu Eyang.


Mereka sudah ada dibawah untuk makan malam bersama. Cahaya harus menunggu suaminya makan setelah itu dia baru boleh makan.


"Kau tahu Bid, tadi Ami lihat sinetron seorang istri tidak bisa punya anak. Maka istrinya harus rela suaminya poligami." Eyang selalu membuat ulah.


Cahaya yang mendengar hal itu menelan ludahnya dengan kasar. Kenapa Eyang selalu membuatnya tersudut kan.


"Hanya sinetron, jadi enggak usah dibawa sampa dunia nyata, toh itu juga yang buat orang! Bukan Yang di Atas." Abidah Aminah menjawab, sambil menuangkan lauk di piring suaminya.


"Tapi bisa aja, dan dalam islam juga diperbolehkan lelaki untuk berpoligami." Eyang itu tidak punya malu, dia juga wanita tapi kenapa nyinyir banget.


"Harus boleh dong, Bid! Apa gunanya nikah jika tidak punya keturunan." Eyang melirik kearah Cahaya.


Langit membuang napas kasar, dia tidak mau mendengar ucap eyang yang akan menyakiti istrinya.


"Bu! Malam ini, aku mau nginap di rumahnya, papi!" Langit berbicara agar eyang tidak bicara lagi.


"Kenapa, Kang Mas, kok tiba-tiba?" tanya Abidah Aminah.


"Cantik katanya kangen sama Akak Bubble-nya!" Langit melirik kearah istrinya yang selalu menunduk jika eyang bicara.


"Oh... baiklah berapa hari?" tanya Abidah Aminah.


"Cuman malam ini mungkin Bu!" jawabnya sambil berdiri dari duduknya.


"Kok Kang Mas makanya enggak dihabiskan?" tanya Arche.


"Sudah kenyang, nanti aku akan makan dijalan bersama istriku. Biar kayak orang pacaran... bukan begitu Eyang?" Langit tersenyum tipis.


Sedangkan Eyang hanya diam tidak suka. Berbeda dengan Eyang! Hazel dan si kembar tersenyum dalam hati.


"Ayo... " Langit menarik tangan istrinya yang masih duduk di kursi makan.


Cahaya hanya menurut saja, apa yang suaminya bilang. Mereka sudah ada di kamar.


"Emang benar Cantik, kangen sama aku?" tanya Cahaya menelisik.


"Kau akan tahu nanti ...sekarang kau ambil pakaian buat aku kerja dan pakaianmu." Langit berbicara, sambil memasukkan laptop ke tas kerjanya. Cahaya hanya menurut, wanita itu sangat sedih karena ucapan eyang. Tapi tidak! Cahaya tidak bisa memperlihatkan kesedihannya didepan suaminya.


"Sudah semua, tidak ada yang tertinggal kan?" tanya Langit, menutup tas ransel itu.


Cahaya hanya mengangguk pelan.


"Baiklah kita ke bawah sekarang." Langit membawa tas kerjanya dan tas ransel itu.


Mereka sudah di ruang makan, semua masih ada di sana.


"Kita pamit Bu!" Langit mencium tangan ibunya.


Cahaya ingin mencium tangan eyang, tapi eyang malah berdiri dari duduknya meniggalkan Cahaya. Archer yang melihat hal itu, hanya membuang napas.

__ADS_1


"Ayo ...kita berangkat sekarang." Langit menarik tangan istrinya.


Mobil silver itu terus melaju, sesekali Langit melirik istrinya yang hanya diam menatap luar jendela.


Mereka telah memasuki gerbang rumah berwarna gold itu. Mereka keluar dari mobil dan berjalan kearah pintu utama.


Tok... tok... tok... Langit mengetuk pintu itu sampai tiga kali.


"Eh ...Abang sama Teh Cahaya, ayo masuk." Black menyuruh mereka masuk. Saat pasangan baru itu masuk Black berpikir sejenak.


Kenapa bawa ransel segala, apa mereka diusir. Ngaco banget sih pikiran gua. Black menutup pintu utama.


"Eh ...kalian ...kenapa kesini malam-malam?" tanya istri Agam Ariaja, sambil membawa makanan dari dapur yang mau ditaruh di meja makan.


Cahaya mengerutkan dahi, bukannya suaminya bilang jika gadis yang biasanya memanggilnya 'akak Bubble' merindukan dia.


Cahaya menjawab. "Kata Masnya, Cantik rindu sama aku."


Langit yang ada di belakang Cahaya, memberi kode kepada istri Agam Ariaja dengan mengedipkan sebelah mata.


"Astaghfirullah, kan Mami tadi yang telpon," ujar istri Agam Ariaja, yang faham dengan kode itu.


"Black, antar Teh Cahaya ke kamar. Yang bersebelahan dengan kamar mu, dan tas yang dibawa Abang juga bawa ke atas." Istri Agam Ariaja menyuruh anaknya.


"Ayo, Teh!" Black dan Cahaya sudah menaiki tangga.


"Lang, malam-malam ke sini?" tanya Agam Ariaja, yang baru datang di meja makan.


"Sebenarnya ada apa?" tanya istri Agam Ariaja yang ingin tahu.


"Eyang!" Langit menjawab sambil duduk di samping kursi Agam Ariaja.


Pasangan itu sangat tahu dengan sifat eyang, karena dulu Mentari juga pernah jadi sasaran eyang.


"Masalah apa?" Agam Ariaja bertanya, sambil meletakkan cangkir kopi di atas meja.


"Eyang selalu nyindir dia." Langit berbicara sambil meneguk air putih.


"Tentang?" tanya istri Agam Ariaja yang duduk di depan Langit.


"Anak!" jawaban Langit, membuat pasangan itu terdiam. Istri Agam Ariaja itu juga pernah disindir masalah anak, karena enam tahun lamanya belum dikasih dan yang nyindir bukan orang jauh tapi orang-orang terdekatnya.


"Lupakan, Lang! Jika sudah saatnya pasti akan datang. Tugas mu hanya menyemangati istrimu." Agam Ariaja menepuk pundak pemuda itu.


Semua sudah ada di meja makan. Malam itu, istri Agam Ariaja masak-masakan Aceh, seperti kuah sie itiek (kuah bebek), ayam tangkap, mie Aceh tak lupa sambal ganja yang terbuat dari udang dan pastinya ada cabai.


Cahaya yang melihat hal itu menelan ludahnya karena sudah lapar.


"Ayo, Nak! Kau bisa makan sepuas mu, tanpa dipungut biaya," ujar Agam Ariaja tersenyum.


"Akak, gimana kalau kita balapan makan. Yang menang dapat es krim dari yang kalah," ujar gadis berwajah bulat itu.


"Baiklah!" Cahaya menjabat tangan gadis itu.


Langit yang melihat istrinya seperti itu, dia mengerutkan dahi. Porsi makan Cahaya sangat sedikit.


'Kenapa dia kurus sekali, seperti si kembar. Malahan lebih besar si kembar badannya' Baiklah Eyang aku akan makan banyak agar Eyang tidak menghinaku lagi, kata Mas jadikan kritikan orang menjadi motivasi. Batin Cahaya tersenyum.


"Siap Can?" tanya Cahaya, yang sudah siap memasukkan mie Aceh itu ke mulutnya.


"Siap!" Cantik sudah makan mie itu, gadis berwajah bulat itu curang. Belum bilang ready, sudah main masukin mie ke mulut aja.


Agam Ariaja dan istrinya menggeleng karena ulah Cantik dan Cahaya. Sedangkan si Black menjadi suporter keduanya dengan memukul meja dengan sendok dan garpu sambil bilang 'ayo-ayo'. Sepertinya malam itu Langit salah tempat mengajak istrinya ke rumah Agam Ariaja. Harusnya malam itu pemuda itu ngajak istrinya ke hotel.


"Huuuuuuuuu, aku menang!" Cantik berseru turun dari kursi sambil jingkrak-jingkrak.


"Besok, Akak harus nepatin janji, okey."


"Oke, hah." Cahaya malam itu, makan sangat banyak tiga kali dari porsi biasanya.


Langit yang melihat istrinya makan dengan lahap hanya menelan ludahnya.


Pasangan itu sudah ada di kamar. Malam itu mereka bisa melihat mobil yang sili berganti diketinggian dua lantai. Rumah Agam Ariaja itu dekat dengan jalan raya. Langit dan istrinya ada di balkon rumah Agam Ariaja.


"Kau tahu? Kenapa aku mengajakmu kemari?" Langit berdiri di samping istrinya.


Cahaya menggeleng, dia pikir jika gadis berwajah bulat itu, yang meminta dia untuk nginap di rumah itu.


"Aku ingin kau merasakan kebahagiaan sebentar. Aku tahu ini adalah pilihan yang pas."


"Maksudnya?"


"Setelah kita pulang dari rumah ini. Aku harap kau bisa lebih sabar menghadapi Eyang."

__ADS_1


__ADS_2