Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Singkatan Dari KW Adalah...


__ADS_3

Pemuda itu baru keluar dari masjid. Langit menaiki tangga dengan cepat.


"Lumayan sepi!" Pemuda itu bicara, sambil menatap sekitar.


Pemuda itu berjalan kearah dapur kafe. Dilihatnya sang istri sedang kewalahan, saat menenangkan Cantik dan Balqis.


Langit segera menggantikan posisi istrinya untuk menggendong Balqis.


"Alqis! Cup ...cup... " Langit menimang keponakannya di gendongannya.


"Huaaaaaaa huuuuu


huaaaaaaa." Cantik semakin keras saja menangis nya. Membuat Cahaya kaget.


"Kenapa kau nangis?" tanya Langit, sambil menatap gadis berwajah bulat itu. Balqis sudah diam, bocah itu kalau di gendongannya Langit pasti diam.


"Masa Om, huuuu. Kalau si bengkok huuuaaa, jadi Malaikat Izrail huaa ...aku mau dicabut nyawanya sebelum lahir ...huaaaaaaa." Gadis itu mengadukan kepada om Dosennya, sambil mengelap matanya dengan tangannya.


Langit yang mendengar hal itu melotot. Kenapa mereka bahas malaikat.


"Kan, aku bercanda Antena!" Gibril membela diri.


Salah siapa Cantik menghina namanya Gibril yang bagus itu. Jadi Gibril balas sedikit enggak opo-opo toh.


"Sudah, jangan debat. Can! Kita makan, setelah itu Om, antar pulang." Langit meninggalkan dapur itu sambil menggendong Balqis.


Cantik mengikuti om Dosennya dari belakang. Cahaya berjalan kearah dapur dan diikuti oleh Gibril.


"Gib, kamu bisa membantuku membawa nampan ini?" Cahaya bertanya.


"Tentu saja, Kakak baik!" ujarnya, sambil membawa nampan berisi minuman.


Keduanya pun keluar dari dapur, menuju kearah meja pemuda itu.


"Antena, ini minuman untukmu." Gibril bicara, sambil meletakkan minum jeruk itu.


Cantik sangat sebal karena Gibril selalu memanggilnya Antena.


"Ini buat Om!" Gibril meletakkan minuman itu didepan Langit, sambil tersenyum tipis.


"Makasih!" Langit memberikan senyuman tipis untuk Gibril.


"Makan Can, baksonya. Bukanya tadi kamu minta sepuluh? Tuh udah Akak, kasih sepuluh." Cahaya menaruh mangkuk ke depan Cantik.


Gadis berwajah bulat itu, langsung mengambil garpu dan sendok, kemudian memakannya.


"Antena, apa kau tidak pernah makan? Kenapa kau rakus sekali." Gibril melihat gaya Cantik makan.


"Hidung Bengkok, apa kau tidak bisa diam." Gadis berwajah bulat itu, berdiri dari duduknya. Dan menatap tajam Gibril.


Cahaya menggaruk kepalanya karena ulah kedua tunggul itu.


"Cantik, Gibril jangan berdebat." Cahaya bicara.


Kedua bocah itu menatap Cahaya bersamaan. Kemudian duduk kembali.


"Can! Makanlah, nanti ini kita pulang!" Langit bicara, sambil makan bakso. Sedangkan Balqis duduk diam dipangkuan omnya.


"Aku mau nginap dirumahnya kakek. Aku mau denger cerita dari Akak Bubble, seperti saat ramadhan." Cantik menjawab, sambil menusuk bakso pakai garpu.


Langit dan Cahaya saling tatap. Cahaya tidak mempermasalahkan jika Cantik, ingin tidur bersamanya.


"Bolehkan Om?" Gadis itu bertanya lagi.


"Izin dulu sama mami, kau belum izin, besok kau juga harus sekolah," ujar Langit.


"Pasti boleh, jika Om, bilang begini ke


mami." Cantik memberi jeda sebelum melanjutkan ucapnya. "Ehem! Mi nanti malam, Cantik. Biar tidur denganku ya. Aku kangen tidur dengannya, mi." Gadis itu mempraktikkan saat om Dosen-


nya meminta izin kepada ibunya Cantik.


Langit dan Cahaya mengerutkan dahi, karena ulah gadis itu. Sedangkan Gibril hanya mengamati Cantik.


"Tapi aku tidak merasa seperti itu." Langit berbicara sesuai fakta.


"Ayolah, Om! Cuma kali ini saja. Besok kalau sekolah, aku mau dianterin Om sama Akak!" Cantik merayu om Dosennya itu.


"Beneran, cuma sekali. Besok-besok enggak lagi." Cahaya bertanya, wanita berambut sebahu itu sangat bersyukur jika ada Cantik. Karena Cantik adalah pelipur lara, di saat eyang menghujat.


Cantik tersenyum kaku, karena tawaran akak Bubble-nya yang menggiurkan baginya.


"Baiklah, kalau itu mau mu. Aku akan melakukan apa yang kau mau," ujarnya Langit, sambil berdiri dan menyerahkan Balqis kearah istrinya.


"Hore!!!! " Gadis itu berseru riang.


"Tapi ini yang terakhir." Langit menatap Cantik.

__ADS_1


"Kok gitu Om?" Gadis itu bertanya.


"Bukanya, kau yang bilang cuma kali ini saja?" tanya Langit, sambil memperbaiki jasnya.


Cantik terdiam karena ucapan im Dosennya itu.


"Baiklah, aku kerja dulu." Langit menatap istrinya.


"Om jangan lupa, bawakan baju tidur sama mapel pelajaran buat besok." Cantik mengingatkan om Dosennya.


"Hem!" Langit mengangguk.


Jam menunjukkan pukul tiga sore. Mobil berwarna silver itu, keluar dari gerbang rumah berwarna gold.


"Huft!" Helaian napas dari mulut.


Pemuda itu mengemudikan mobilnya, dengan kecepatan maksimal.


"Aku harap dengan adanya Cantik, dia bisa tersenyum."


Mobil silver memasuki gerbang rumah kakek Raharja. Langit keluar dari mobil, sambil membawa tas kerjanya dan tas milik si gadis berwajah bulat itu.


Langit sudah ada di depan kamarnya, pemuda itu bisa mendengar tawa dari dalam.


"Dia tertawa," ucap pemuda itu, sambil membuka pintu perlahan.


Mata pemuda itu, melihat kearah ranjang. Sepertinya istrinya dan gadis berwajah bulat itu, sedang asik bercanda dibawah selimut.


Cahaya yang tak mendengar suara pintu terbuka, wanita itu asik tertawa karena candaan yang Cantik lontarkan.


Langit berjalan mendekati rajang, kemudian menarik selimut dengan paksa.


Kedua orang yang ada di bawah selimut itu kaget, saat selimut yang menutupi tubuh itu ditarik seseorang.


"Om Dosen!" Gadis berwajah bulat itu, langsung terbangun kemudian duduk di ranjang. Cahaya pun melakukan hal yang sama seperti Cantik lakukan.


"Sudah pulang, Mas?" tanya Cahaya, sambil bangkit dari ranjang. Setelah itu ia mencium tangan suaminya.


"Hmmm!" jawaban singkat.


Cantik pun berdiri di atas ranjang, kemudian berjalan ke pinggiran ranjang. Agar bisa mencium tangan om dosennya itu.


"Om, biasanya kalau papi, pulang dari kerja. Papi mencium kening mami. Kenapa Om, enggak melakukan apa yang papi sama mami lakukan?" tanya gadis berwajah bulat itu.


Si Cantik itu weker untuk Langit, melakukan yang belum pernah pemuda itu lakukan dengan istrinya.


Langit yang mendengar ocehan gadis itu. Pemuda itu berpikir, kenapa adegan cium kening istri saat pulang kerja tidak ia masukan ke list kesehariannya.


"Apa kau ingin aku melakukannya?" tanya Langit, sambil menatap gadis berwajah bulat itu dengan serius.


Gadis berwajah bulat itu mengangguk antusias.


"Baiklah, but Cantik harus membelakangi kita." Langit berbicara.


"Oke, Om!" Gadis berwajah bulat itu langsung membalikkan badannya. Seperti apa yang om Dosennya katakan.


Langit pun mencium kening istrinya dengan lembut. Et Dah! Bukan hanya kening tapi pipi kanan-kiri juga Oke.


Pemuda itu jarang sekali mencium kening istrinya setelah pulang kerja. Hanya saat mereka menginap di rumah Agam Ariaja. Saat itu Langit mencium leher istrinya. Ya, cuman sekali saja kalau dihitung.


"Sudah belum Om? Kenapa lama sekali?" tanya gadis itu, yang masih setia membelakangi om Dosennya dan akak Bubble-nya.


Langit yang mendengar weker, bisa jalan itu ,segera menyudahi acaranya itu.


"Hmmm!" Langit menjawab.


Gadis berwajah bulat itu, membalikkan badannya dan tersenyum lebar.


"Kenapa lama Om? Biasanya papi cuma sebentar itu pun aku bisa melihatnya." Gadis itu bertanya, tapi sedikit protes. Karena om Dosennya tidak seperti ayahnya Cantik.


Ya maklum lah Can, kan om Dosennya ciumannya enggak cuma di kening dong.


"Lupakan! Cobalah cek pelajaran mu besok pagi sudah benar belum." Langit mengalihkan pembicaraan.


"Jawab dulu, pertanyaan ku Om!" Gadis itu sangat ingin tahu.


Langit dan Cahaya saling tatap, kenapa gadis yang ada di depannya itu, bersi keras ingin tahu.


"Can, apa besok ada PR?" Cahaya bertanya tentang PR, agar gadis itu lupa dengan pertanyaan yang gadis itu lontarkan kepada Langit.


"Akh ...iya, aku lupa ada PR dari bu guru!" Gadis itu menepuk dahinya, kemudian loncat dari ranjang dan segera berlari kearah sofa. Karena Langit meletakkan tas gadis berwajah bulat itu di sofa.


Cahaya sangat pintar, mengalihkan sesuatu hal.


"Biar ku bantu melepaskan dasi." Cahaya bicara kepada suaminya.


Langit hanya diam saja, membiarkan Cahaya menjalankan kewajibannya sebagai istri.

__ADS_1


"Terima kasih." Cahaya bicara sambil melepaskan jas suaminya.


Langit mengerutkan dahi, kenapa istrinya berterima kasih tanpa sebab. Emang apa yang dia lakukan, pikir Langit waktu itu.


"Untuk?"


"Rela berkerja keras, hanya untuk mencari nafkah untuk ku. Rela lelah untuk mencukupi kebutuhan ku. Rela sakit kepala, saat kerja untuk membuat aku merasa cukup." Cahaya tersenyum menatap suaminya.


Langit tidak percaya jika istrinya itu menghargai apa yang ia lakukan untuk istrinya.


"Bukanya itu sudah kewajiban ku?" Langit bertanya, sambil menaikan alisnya yang sebelah kanan.


"Aku tahu, tapi tetap saja aku harus berterima kasih. Anggap saja ini bentuk apresiasi ku padamu." Cahaya bicara sambil, mencopot kancing suaminya satu persatu.


Langit mengangguk mengelus rambut istrinya itu.


Cantik yang sedang duduk di sofa sambil memegang pena dan buku. Dia ingin bertanya sesuatu kepada Cahaya.


"Akak!" Gadis berwajah bulat itu memanggil.


Cahaya yang semula menatap suaminya. Pandangannya ia alihkan kearah gadis itu, yang duduk anteng sambil memegang pena yang Cantik gunakan buat memukul kepalanya pelan.


"Iya!" Cahaya menjawab.


Gadis berwajah bulat itu menatap pasangan itu.


"Akak, tadi kan, Om! Sudah cium Akak, jadi Akak harus cium balik karena itu termasuk perbuatan membalas budi!" Gadis berwajah bulat itu, selalu menjadi anugrah buat Langit.


Cahaya yang mendengar hal itu, dia membulatkan matanya. Aduh yang benar saja, kenapa gadis itu otaknya sangat pintar.


"Kamu ingin kita melakukannya?" Bukan Cahaya tapi Langit lah yang bertanya kepada Cantik.


Cahaya yang mendengar hal itu, hanya melongo. Sedangkan Cantik mengangguk lebih antusias.


"Maka, kau harus menutup matamu," ucap Langit.


"Kenapa aku harus menutup mataku?" Gadis itu bertanya, sambil memperbaiki posisi duduknya.


"Kau mau tidak, kalau tidak ya sudah," ujarnya Langit, sok jual mahal kepada Cantik.


Cahaya menatap suaminya yang berbicara dengan Cantik. Cahaya hanya menggeleng kepalanya. Karena Cantik dan suaminya sudah seperti orang yang tidak waras.


"Yasudah kalau Om, enggak mau di cium sama Akak. Mending Akak, cium aku saja nanti aku cium balik. Om enggak mau kan?" Gadis itu bertanya.


Si*l! Langit pikir Cantik akan menuruti ucapnya. Ternyata Langit salah besar, gadis itu malah menikung nya terang-terangan.


Cahaya menahan tawanya, karena melihat wajah suaminya yang masam. Sedangkan Cantik tidak merasa bersalah, gadis itu malah bersandar di sofa dengan posisi paling wenak.


"Gimana Om?" tanya Cantik.


"Apanya yang gimana?"


"Om, mau enggak dicium Akak?" Gadis itu bertanya.


Langit hanya diam saja, malu jika harus mengakui hal itu didepan gadis berwajah bulat itu.


Sedangkan Cahaya, hanya menggelengkan kepalanya. Sore itu Cahaya sangat terhibur karena kedatangan Cantik. Ditambah saat pulang dari kafe tidak dapat sindiran dari eyang. Kalau bahasa gaulnya mah 'fa bi-ayyi aalaaa-i robbikumaa tukazzibaan' (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)


Cahaya berjalan kearah gadis berwajah bulat dan duduk di samping Cantik.


"Oke, Om enggak mau dapat ciuman, kalau gitu aku yang dapat." Gadis itu menyengir.


Langit hanya diam saja, karena hari itu dia harus menghadapi si bulat yang jenius.


"Kau mau di cium?" Cahaya bertanya, kepada Cantik.


Gadis berwajah bulat itu mengangguk.


Cup... cup... cup... cup... Kening... pipinya kanan-kiri dan yang terakhir bikin Langit menelan ludahnya. Bagaimana tidak! Jika istrinya mencium bibir Cantik. Dia saja tidak pernah digituin istrinya. Cuma pipi itu pun saat makan martabak dulu.


Cantik pun mencium Akak Bubble-nya itu. Sedangkan Langit berdiri di pinggiran ranjang, sambil mengusap rambutnya kasar.


Cantik tertawa, karena merasa geli. Saat hidungnya terbentur dengan hidung milik Cahaya.


Langit tambah frustasi karena adegan itu.


"Om, harusnya tadi Om bilang mau." Gadis itu menatap om Dosennya.


Langit membanting kan tubuhnya ke kasur, karena ucapan si bulat.


Cahaya yang melihat hal itu ingin tertawa.


Cantik mendekatkan bibirnya ke telinga akak Bubble-nya. Sepertinya gadis itu membisikkan sesuatu. Cahaya mengangguk menyetujui.


Kedua orang itu bangkit dari sofa dan berlari kearah ranjang.


Bug... bug... suara seseorang yang menjatuhkan tubuh ke kasur.

__ADS_1


Langit yang tengkurap, dikagetkan oleh kedua orang yang mencium pipinya itu. Ya! C two itu mencium pipi Langit bersamaan. Cantik dapat pipi kanan om Dosennya. Sedangkan Cahaya mencium pipi kiri suaminya.


Langit tersenyum tipis karena keduanya. Mereka itu keluarga KW alias Keluarga Kurang Waras.


__ADS_2