
Cahaya keluar dari kamarnya. Tadi wanita itu sudah pamit dengan suaminya. Mata wanita itu melihat dua dara delapan belas tahun, sedang duduk di teras rumah.
"Kalian sekolah enggak?" tanyanya sambil berjalan kearah dua dara itu.
"Kita libur," jawab si bungsu dari keluarga Raharja. Berbeda dengan adiknya yang sudah dekat dengan Cahaya. Sang kakak sepertinya belum mau menerimanya. Karena dia takut jika kang masnya tak memperhatikannya lagi.
"Apa kalian mau ikut bersamaku?"
"Kemana?" jawabnya si kakak, nadanya sedikit nyolot.
Cahaya tersenyum dengan tingkah adik iparnya itu.
"Kalian pasti suka," jawabnya.
"Ikut saja Kak, daripada kita di rumah. Disuruh jagain si Malkist mending ikut saja," ucap Archer merayu kakaknya.
"Iya juga, daripada jagain si Ball kan," pikir Arche.
Dahi Cahaya mengkerut, mereka itu membicarakan siapa. Bukankah di rumah itu. Tidak ada yang namanya Malkist dan Ball.
"Malkist siapa, dan yang Ball?" tanya Cahaya.
Si kembar tersenyum, dan saling kode memberi tanda.
"Ball!" Arche.
"Kis!"
Cahaya tahu siapa yang dimaksud, pasti bocah yang masih belajar bicara.
"Balqis, kenapa jadi Malkist?" tanya Cahaya.
"Lah ...enggak salah kita dong. Orang kita ngikut mbah. Waktu mbak Alula melahirkan, anaknya kan dikasih nama tuh. Nah ...mbah kan pendengarannya kan rada-rada tuh. Eh ...mbahnya manggil gini. Malkist, Malkist. Jadi aku sebagai cucu teladan ngikut saja." Cahaya menepuk dahi, karena jawaban Archer.
"Baiklah, kalian mau ikut enggak nih?" tanya Cahaya.
"YA." Si kembar jawab serempak.
"Tapi kalian harus izin sama ibu dulu."
Mereka berdua izin ibunya. Si kembar kembali lagi.
"Pagi Teh!" sapa Black dari mobil. Gadis berwajah bulat itu juga ikut tentunya.
"Pagi juga, hai Cantik apa kabar?" tanya Cahaya. Gadis berwajah bulat itu sedang duduk di samping kakaknya.
"Tentu saja baik, om Dosen enggak ikut?" tanya Cantik, sepertinya gadis berwajah bulat itu ingin om Dosennya ikut.
"Om Dosen sedang ada kerjaan, sayang!" jawab Cahaya.
"Apa kakak kembar ikut?" tanya Cantik, si kembar mengangguk serempak.
"Ayo masuk, kita akan berangkat sekarang," ucap Black, pemuda keturunan Aceh itu sudah mempunyai SIM jadi dia berani membawa mobil sendiri. Sekarang mobil itu sudah meninggalkan rumah itu.
"Oh, ya Black kau sudah tahu akan kuliah dimana?" tanya Cahaya, yang duduk di samping kemudi. Gadis berwajah bulat itu duduk di pangkuan akak Bubble-nya.
"Belum."
"Kenapa enggak di Fakultas, om Ari, saja yang jadi rektornya di sana?" sahut Archer.
"Enggak deh Cher, gua sepertinya akan kuliah di Yogyakarta."
"Bukannya itu lumayan jauh?" tanya Arche.
__ADS_1
"Selagi masih di dalam negeri, masih bisa gua bilang dekat."
"Emang kau mau ambil jurusan apa Black?" tanya Cahaya.
"Sebenarnya aku ingin ambil jurusan fotografi ISI Yogyakarta, tapi papi menyuruh ambil jurusan akuntansi, Teh! " jawabnya dengan nada lesu. Cahaya tahu jika keturunan Aceh itu, sangat ingin masuk Fakultas fotografi.
"Nanti setelah kuliah akutansi, Cut Abang kuliah lagi saja di foto kopi," celetuk gadis berwajah bulat, yang tadi hanya diam saja. Semua tertawa karena ucapan gadis itu, Black juga, malah dia yang paling keras tawanya.
"Kalau Cantik nanti mau kuliah di mana?" tanya Arche.
"Tk, dulu baru SD, SMP aku mau Aliyah dan kuliah di Harvard University." Dari mana gadis berwajah bulat itu tahu Harvard.
"Harvard, kamu tahu darimana Cantik?" tanya Cahaya.
"Papi, dia selalu bercerita saat malam sebelum aku tidur. Kalau mami juga suka bercerita tentang—" ucapnya tak diselesaikan karena mereka sudah sampai di tempat yang dituju.
Mereka keluar dari mobil, si kembar dibuat bingung kenapa mereka di tempat pembelanjaan.
"Ngapain disini?" tanya Arche.
"Lu akan tahu nanti," jawab Balck.
Mereka masuk dan mencari barang-barang yang diperlukan.
"Mungkin kita cari makan ringan yang bisa tahan lama. Teliti sebelum mengambil makanan, lihat tanggal eks payet, ini udah Teteh tulis semua. Kalian cari lah," ucap Cahaya, memberi selembar kertas kepada Black dan Arche.
"Cantik ikut, Akak atau Cut Abang?" tanya Cahaya.
"Ikut Akak!"
Mereka berpisah, pemuda keturunan Aceh itu, mulai mencari bahan makanan. Cahaya di bantu gadis berwajah bulat itu.
"Ambil apa sekarang Akak?"
Si kembar juga sedang mencari barang, yang sudah di catat kakak iparnya itu.
"Mau ngapain sih mereka?" tanya Arche kepada adiknya.
"Enggak tahu, mungkin mau dimakan bersama kita," jawab Arche memilih minum botol seperti teh.
Mereka mulai antre untuk membayar belanjaannya.
"Cantik tidak mau beli sesuatu, sayang?" tanya Cahaya di sela-sela menunggu antrean.
"Sebenarnya aku mau eskrim," ucapnya memelas, hal itu membuat Cahaya menahan tawanya. Karena wajah melas Cantik.
"Baiklah, Akak akan menyuruh Kak Arche jagain belanjaan kita."
"Ar, tolong kamu yang antre, aku dan Cantik akan cari es krim." Arche berjalan kebelakang, karena tadi Arche ada di depan Cahaya. Dara delapan belas tahun itu, hanya mengacungkan jempol.
Cahaya dan gadis berwajah bulat itu, berjalan kearah lemari eskrim.
"Cut abang suka eskrim, enggak Can?" tanya Cahaya, sambil memilih beberapa rasa eskrim.
"Tidak." Gadis itu menggeleng.
"Baiklah, kalau begitu kita carikan minuman kesukaan cut abang, kamu tahu?" tanya Cahaya, gadis itu mengangguk.
Setelah mereka membayar belanjaan, mereka keluar dan mereka sudah ada di dalam mobil.
"Kita, makan eskrim dulu ya, ini untuk Cut Abang!" ucap Cahaya memberikan minuman bersoda.
"Thanks!" jawabnya. Mereka meminum minuman itu terlebih dahulu didalam mobil. Kaca mobil dibuka biar bisa merasakan AC alami.
__ADS_1
"Akak kenapa beli air putih?"
"Manfaat yang ada di dalam air putih sangat banyak sayang. Jadi Akak membeli air putih saja."
"Apa baik untuk kesehatan?" tanya Arche. Cahaya tersenyum karena adik iparnya yang satu itu, karena bertanya kepadanya. Sepertinya proses pendekatan dengan adik ipar hari itu berjalan dengan baik.
"Tentu saja, kau tahu ...almarhumah ibu selalu sedia air dikamar kami. Aku mulai terbiasa minum air putih, saat umurku dua tahun. Dan manfaat yang aku rasakan aku jarang sakit. Aku berpikir jika itu karena aku selalu minum air putih."
Mobil mulai berjalan kearah tempat yang dituju. Tak perlu waktu lama mobil itu telah berhenti didekat jembatan. Si kembar saling tatap dan menggeleng bersamaan. Seolah bertanya apa kau mengerti, mungkin itu artinya.
"Kita akan membagikan makanan itu disini Ar, Cher turunlah." Cahaya tahu kalau adik iparnya itu butuh jawaban.
Mereka mulai turun dari mobil. Gadis berwajah bulat itu, sangat bahagia karena bisa berjumpa dengan orang yang hampir setahun ia temui. Waktu mereka membagikan nasi pecel. Mereka mulai membagi makanan ringan itu. Saat Arche memberikan makan kepada wanita paruh baya, dia sangat kesal. Karena wanita itu tidak bilang terima kasih. Wanita itu hanya menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Arche. Cahaya yang melihat hal itu dari jauh, dia tersenyum. Wanita itu mendekati adik iparnya.
"Ar, coba lihatlah ke sana," ucap Cahaya, menunjuk kearah wanita paruh baya, yang tadi dikasih Arche makan ringan. Arche mengikuti arah tangan kakak iparnya. Dara delapan belas tahun itu, terdiam saat melihat wanita paruh baya yang membuatnya kesal.
"Semua pasti ada alasannya, Ar!" ucap Cahaya.
"Aku tidak tahu jika wanita itu tidak bisa bicara," jawab Arche, yang masih setia memandang wanita paruh baya itu. Dara delapan belas tahun itu masih melihat wanita yang tadi membuatnya kesal, sedang berbicara dengan bahasa isyarat.
"Terkadang kita terlalu mudah menilai seseorang. Butuh pendekatan untuk mengerti sifat dan karakter seseorang. Mari kita belajar untuk tidak mudah menilai seseorang." Cahaya menepuk bahu Arche, dan dijawab anggukan.
Acara berbagi cukup sampai disitu saja. Mobil itu sudah meninggalkan tempat itu lima menit yang lalu.
Dalam perjalanan pulang Arche berpikir uang darimana mereka untuk berbagi.
"Kalau berbagai itu uangnya darimana?" tanya Arche.
"Uang itu hasil kita patungan Ar!" jawab Black.
"Maksudnya Tam?" Yang tanya si bungsu dari keluarga Raharja.
Cahaya menjawab. "Maksudnya kita berdua Cher!"
"Tadi habis berapa?" tanya Arche.
"800.000 karena orang yang ada di sana cuma 20 orang saja, berarti kira-kira satu orang dapat 40.000. Mungkin kapan-kapan kita bagi sembako saja, Teh!" jawab Black.
"Aku rasa itu ide bagus Black, tapi—" ucapnya diberi jeda sejenak, sebelum dilanjutkannya. "Apa mereka punya peralatan untuk masak?"
"Cut Abang, bukan kah mami punya perabotan masak banyak di rumah." Gadis berwajah bulat itu, juga angkat bicara.
"Gua tahu maksudnya si Ndutt, mungkin dia ingin mengatakan jika kita sumbangkan peralatan masak yang sudah tidak dipakai lagi," ucap Archer kepada semuanya.
"Aku rasa begitu, Cher!" jawab Cahaya.
"Lima hari lagi bulan ramadhan, apa tidak sebaiknya jika kita cepat ngasih barang itu kepada mereka," ucap Arche, yang dijawab anggukan ketiga orang itu.
"Apa Teh Cahaya bisa ngasih uang ke Black 200.000?" Arche bertanya.
"Buat apa Ar?" tanya Black.
"Kita akan ikut patungan. Nanti kita bayar ke Teh Cahaya!" Arche memberi jawaban.
Mereka telah sampai di rumah Raharja. Ketiga wanita itu turun dari mobil.
"Can apa kau tidak mau tertinggal di sini, nanti Akak dan om Dosen akan main ke rumahmu."
Gadis berwajah bulat itu matanya berbinar. Tatkala akak Bubble-nya menawari dirinya untuk main di rumah Raharja.
"Apa boleh Cut Abang?' tanya Cantik, yang duduk di samping kakaknya.
"Baiklah, tapi jangan merepotkan ya!"
__ADS_1