Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Perasaan Rose


__ADS_3

"Jangan berterimakasih, Nak. Justru kami harusnya minta maaf atas sikap Gita selama ini. Dan kami juga berterimakasih karena kamu mau bertahan dengan Gita." Agam menepuk bahu Arman pelan. Sungguh, sebagai seorang Ayah, Agam merasa malu dan bersalah kepada Arman, karena dia merasa gagal dalam mendidik Gita.


"Saya sudah berjanji Yah, bahwa saya akan setia dengan Gita apapun yang terjadi. Saya yakin, bisa merubah sikap Gita nantinya," ujar Arman dengan percaya diri.


Akhirnya, mau tidak mau Gita ikut pulang bersama suaminya. Meskipun dari raut wajahnya, sudah bisa ditebak, kalau Gita sama sekali tidak mau pulang. Tapi, karena Ayahnya yang sudah memberikan perintah, jadi Gita tidak bisa berkutik.


Agam dan Rose terus menatap mobil Arman, yang menjauh meninggalkan pekarangan rumah. Tadinya Rose sudah menawarkan supaya Arman dan Gita pergi setelah mereka sarapan pagi. Tapi Gita menolak dengan keras, mungkin karena dia malu.


"Semoga dengan begini, Gita bisa sadar ya Yah," ucap Rose sembari menatap laju mobil.


"Ayah juga berharp begitu, Bu. Ayah harap, Gita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi karena bagaimanapun Gita adalah anak Ayah, dan Ayah sedih karena Ayah merasa gagal dalam mendidik Gita." Tatapan mata Agam berubah sendu, kemudian dia menatap Rose dengan tatapan penuh cinta.


"Tapi, di lain sisi aku juga tengah bahagia," ucap Agam, dia menyelipkan anak rambut Rose ke belakang telinga. "aku ternyata masih memiliki kamu, wanita yang aku cintai ternyata tidak berubah sama sekali," ujar Agam tersenyum begitu hangat.


Rose tersenyum membalas senyum hangat suaminya. Rose paham apa maksud Agam, yang tidak lain soal sikapnya dulu terhadap Anyelir.


"Aku paham Mas, pasti pada saat itu kamu berpikir kamu kehilangan aku yang dulu. Padahal dia masih ada di sini." Rose menunjuk tepat di dadanya. "aku masih ada di sini, hanya saja aku harus bersandiwara," lanjutnya dengan nada sendu.


"Gita memang keterlaluan, dia membuat hubungan kamu dan Anyelir semakin menjauh, padahal. Kalian adalah ibu dan anak," emosi Agam kembali naik.


Rose dengan senyumnya yang meneduhkan, dia mengelus bahu suaminya, memberikan ketenangan. "Tenanglah Mas, semua sudah berlalu. Kamu jangan terus emosi begini, aku takut darah tinggi kamu kumat," saran Rose, "sebaiknya sekarang kita makan ya?" Rose menggandeng lengan suaminya, dan mengajak sang suami untuk sarapan.


.


.


Anyelir, tengah duduk di gazebo. Dia membolak-balik majalah dengan rasa bosan. Ya, Anyelir mulai merasa bosan karena dia tidak bisa melakukan apapun di rumah. Tidak ada kesibukan sama sekali.

__ADS_1


"Anda kenapa Nyonya muda?" tanya Larissa, yang kebetulan datang membawakan buah untuk Anyelir.


"Aku bosan, ibu nggak di rumah, karena sedang ada urusan keluarga, sekarang aku nggak punya teman ngobrol," keluh Anyelir. Mayang memang tengah pergi untuk beberapa hari, karena ada acara.


"Kenapa Nyonya tidak mengundang ibu Rose untuk datang?" Larissa memberikan sebuah ide yang mungkin akan disukai oleh Anyelir.


"Kamu benar Larissa, kenapa nggak kepikiran dari tadi ya?" ternyata Anyelir benar-benar setuju dengan Larissa. Anyelir pun segera menghubungi Rose.


Tidak perlu waktu lama, panggilan telepon Anyelir langsung dijawab oleh Rose, Anyelir pun segera menyampaikan maksudnya menghubungi sang ibu.


["Ya sudah, Ibu segera ke sana ya?"] ujar Rose, membuat Anyelir tersenyum.


["Baik Bu, hati-hati ya. Anyelir tunggu di rumah,"] ujar Anyelir, dengan raut wajah bahagia.


Rose pun segera bersiap untuk berkunjung ke kediaman Anyelir. Mumpung sekarang di rumah tidak ada Gita, jadi Rose bisa pergi ke manapun dia mau. Termasuk untuk menemui Anyelir.


"Gita? Kamu datang, Nak?" tanya Rose, dia berusaha untuk bersikap setenang mungkin.


"Iya Bu, aku bosan di rumah," jawab Gita, dia kembali memakan camilannya.


"Ibu mau ke mana?" tanya Gita lagi, karena tadi pernyataannya belum dijawab oleh Rose.


"Ibu, mau arisan," jawab Rose dengan cepat, dia tidak mau kalau sampai Gita curiga dirinya sedang berbohong. Rose sebisa mungkin bersikap tenang. Dia juga duduk menemani Gita.


"Oh arisan." Gita mengangukkan kepalanya. "berati Ibu lagi ada duit dong, aku minta ya?"ucap Gita seraya tersenyum.


"Berapa, Nak?" tanya Rose dengan nada lembut.

__ADS_1


"Sepuluh juta aja Bu, aku pengen ke mall, sama temen-temen," jawab Gita dengan begitu santai.


"Gita, kalau segitu Ibu nggak punya, gimana kalau 5 juta aja?" tanya Rose.


"Bu, 5 juta buat ke mall bisa dapat apa? Ibu udah nggak sayang ya sama aku?" Gita mulai memperlihatkan wajahnya yang menyedihkan, yang membuat Rose tidak tega.


"Nak, bukan begitu, Ibu sayang sekali sama kamu. Tapi, memang Ibu nggak bisa kasih kamu sebanyak itu," Rose mencoba memberikan penjelasan, berharap Gita mau mengerti.


"Ibu kan bisa, telepon Ayah, alasan apa kek buat minta uang sepuluh juta itu," Gita terus saja memaksa Rose, agar memberikan apa yang diinginkannya.


"Baiklah, Ibu akan kasih kamu." Akhirnya mau tidak mau Rose memberikan apa yang Gta mau.


"Sudah Ibu transfer," ucap Rose.


"Makasih ya Bu." Gita langsung mengecek ponselnya, dan benar saja, uang dari Rose sudah masuk ke dalam rekening.


"Oh iya Bu, Ibu nggak pernah ngomong apapun kan ke Ayah, soal aku?" Gita menaikkan sebalah alisnya.


Rose yang mendadak mendapatkan pertanyaan itu, tentu saja terkejut, tapi dia berusaha untuk bersikap tenang, supaya Gita tidak curiga.a


"Tidak, Nak. Kamu tenang saja," ucap Rose meyakinkan.


"Oke, kalau gitu aku pergi ya Bu." Setelah mengatakan itu, Gita pun langsung pergi dengan raut wajah bahagianya. Sedangkan Rose kembali mendudukkan dirinya karena dia merasa lemah saat berhadapan dengan Gita.


'Kenapa aku tidak bisa melawan Gita? Apa karena aku takut Gita bisa berbuat apa saja terhadap Anyelir?' batin Rose.


Rose masih mencoba mengatur debaran jantungnya, setiap kali dia bertemu dengan Gita, maka beginilah respone Rose. Bayangan Gita yang hendak menabrak Anyelir, selalu saja muncul diingatan Rose, membuat dia seolah lemah di hadapah Gita, dan selalu memenuhi dan menuruti apa saja yang diinginkan oleh Gita. Rose sadar, dirinya sudah tidak baik-baik saja, dan dia harus bertemu dengan Psikiater.

__ADS_1


'Aku harus memeriksakan diriku, aku harus bisa menguatkan diriku lagi. Aku tidak mau terus menerus menjadi boneka Gita, dan terus tunduk di hadapan Gita, karena jika aku terus begini, maka Gita juga tidak akan pernah berubah,' gumam Rose bertekad. Tapi sepertinya Rose akan merahasiakan ini lebih dulu dari Agam, karena dia tidak mau jika suaminya nanti khawatir dengan keadaan Rose.


__ADS_2