
Saat Anyelir tengah menyetir mobil dengan tenang, tiba-tiba saja ada seseorang yang menyeberang jalan membuat Anyelir terkejut karena hampir menabrak, beruntung Anyelir langsung mengerem mendadak. Meskipun begitu, debaran jantung Anyelir masih tersu berdetak dengan cepat karena terkejut, namun mau tidak mau Anyelir langsung turun untuk mengecek keadaan pejalan kaki tadi.
“Ibu nggak apa-apa?” Anyelir langsung mendekat, ketika dia melihat pejalan kaki tadi adalah seorang ibu-ibu, yang ditafsir berusia hampir 45 tahun.
“Saya nggak apa-apa,” dengan tangan gemetar, ibu itu menjawab. Anyelir tahu, pasti ibu-ibu itu sangat ketakutan sekarang.
“Ibu mau ke mana?” tanya Anyelir setelah menepi, dia melihat kanan dan kiri namun ibu itu hanya sendirian.
“Pu-pulang,” jawab ibu itu dengan tergagap.
“Ibu ke sini sama siapa?” tanya Anyelir lagi.
“Suster,” dari jawaban Anyelir, dia berpikir apakah ibu itu adalah pasien rumah sakit yang kabur? Namun Anyelir kembali berpikir, rumah sakit cukup jauh dari tempat mereka sekarang.
“Ibu, ingat nomor telepon yang bisa dihubungi tidak?” tanya Anyelir lagi, mungkin Anyelir bisa menghubungi sanak saudara, atau suami dari Ibu yang nampak linglung tersebut. Namun, gelengan kepala Ibu tadi menunjukkan bahwa dia tidak mengingatnya.
“Baiklah, lalu apa Ibu ingat alamat rumah Ibu?” Anyelir harap, wanita paruh baya itu ingat dengan alamat rumahnya, agar Anyelir bisa mengantarkan pulang, kalau tidak mungkin jalan satu-satunya adalah lapor polisi, karena tidak mungkin Anyelir membawa Ibu itu pulang, meskipun dia sangat ingin, karena melihat ibu itu Anyelir menjadi terenyuh, namun Anyelir takut kalau Devan tidak setuju dan marah padanya. Beruntung karena ibu itu menyebutkan alamat rumahnya sembari sesekali mencoba mengingat.
“Ya sudah, Ibu saya antar pulang ya?” tawar Anyelir, namun Ibu itu nampak was-was karena takut Anyelir adalah orang yang jahat. Anyelir tersenyum, dan meyakinkan bahwa dirinya bukan orang jahat, dia juga menyebutkan namanya untuk berkenalan.
__ADS_1
“Saya Anyelir Bu, kalau nama Ibu siapa?” tanya Anyelir sopan.
“Ma-Mayang,” Iya, dia adalah Mayang, yang tidak lain Ibu dari Devan dan berarti ibu mertua Anyelir. Namun, mereka baik Anyelir maupun Mayang tidak ada yang tahu bahwa satu sama lain bahwa mereka memiliki ikatan hubungan antara menantu dan ibu mertua, karena yang Mayang tahu, istri Devan hanya satu yaitu Laura. Anyelir mencoba membujuk Mayang lagi, dan akhirnya Mayang pun mau untuk ikut dengan Anyelir, dengan mengandalkan gps Anyelir mengetikkan alamat tersebut. Sebenarnya Anyelir was-was dan ragu untuk mengatarkan ibu itu ke rumahnya, karena Anyelir pikir ibu itu sengaja ditelantarkan, namun Anyelir menepis pikiran tersebut.
**
“Apa! hilang?!” Devan begitu terkejut karena mendapatkan telepon dari suster yang menjaga Mayang, bahwa Mayang hilang setelah mereka pergi ke pusat per belanjaan. Devan pun memutuskan untuk pulang dan meminta penjelasan secara detail, dari informasi yang Devan dapatkan dari suster, Mayang merasa bosan di rumah, dan memaksa suster untuk mengantarkan Mayang ke pusat perbelanjaan, namun belum juga mereka sampai, mobil tiba-tiba saja berhenti karena ban mobil yang bermasalah, suster penjaga Mayang juga berpamitan kepada Mayang untuk mencari toilet umum, karena sudah ingin buang air kecil.
“Saat itu, bu Mayang sudah janji tidak akan keluar dari mobil tuan, tapi saat saya kembali ibu Mayang sudah tidak berada di tempatnya, sopir pikir ibu Mayang berada dalam mobil, namun saat dia selesai mengganti bal mobil, ibu sudah tidak ada di sana,” jelas suster dengan takut-takut. Devan menyugar rambutnya, dia sangat khawatir dengan keadaan Mayang yang belum sembuh betul.
“Ayo kita cari,” ucap Devan, Felix sudah mengerahkan semua anak buah untuk mencari Mayang, dan beberapa berada di rumah untuk berjaga, karena takut kalau nantinya Mayang pulang. Baik Devan maupun Felix mencari Mayang dengan berpencar, karena mereka yakin dengan begitu akan lebih cepat ketemu. Devan memilih mencari Mayang di sekitar lokasi hilangnya Mayang atau pada saat mobil berhenti, karena Devan berpikir mungkin Mayang akan kembali lagi.
.
.
“Itu rumahnya Bu?” tanya Anyelir kepada Mayang, kini mereka sudah hampir di kediaman Mayang.
“Iya Nak,” jawab Mayang sumringah, sekarang ini sudah jam 7 malam, dan Anyelir sudah sangat terlambat mengantarkan Mayang, itu semua karena tadi mereka sempat makan disalah satu restauran, karena Anyelir tahu pasti Mayang lapar.
__ADS_1
“Anyelir menepikan mobilnya di pinggir jalan, lalu membuka pagar sendiri, karena memang tidak ada satpam yang bertugas, sebenarnya ada namun mereka kini lebih fokus mencari Mayang disekitaran komplek. Semua penjaga begitu terkejut karena kepulangan Mayang, namun mereka tidak tahu menahu soal Anyelir, karena penjaga di rumah Devan dan rumah Mayang memang berbeda. Mereka pun langsung memberikan kabar kepada Devan dan Felix bahwa Mayang sudah kembali. Beruntung, karena Felix sendiri kini sudah berada di komplek perumahan Mayang, jadi hanya butuh waktu sebentar untuk sampai.
“Ayo Nak, kita masuk,” ajak Mayang kepada Anyelir, sebenarnya Anyelir ingin langsung pulang, tapi Anyelir tidak enak untuk menolak, Anyelir juga merasa butuh menjelaskan semuanya kepada keluarga Mayang. Dan lagi, Anyelir ingin menilai apakah hilangnya Mayang adalah ketidak sengajaan atau memang sengaja ditelantarkan.
“Nyonya?” Felix yang baru saja tiba di kediaman Mayang begitu lega melihat Mayang yang kembali dalam keadaan baik-baik saja, namun saat wanita di samping Mayang menoleh ke arahnya, Felix sangat terkejut, begitupun dengan Anyelir.
“Nyonya anda baik-baik saja?” Felix nampak merubah raut keterkejutannya menjadi biasa saja, namun berbeda dengan Anyelir, dia merasa Felix nampak sekali sengaja tidak menatap dirinya.
“Aku baik, tidak perlu khawatir Felix. Karena aku bertemu dengan wanita yang sangat baik, yaitu Anyelir,” Mayang memperkenalkan Anyelir kepada Felix, Anyelir pikir Felix akan menjawab bahwa di mengenal Anyelir dan mungkin akan memperkenalkan Anyelir sebagai istri Devan, namun pikiran Anyelir salah, Felix mengulurkan tangannya dan mengucapkan terimakasih.
“Terimakasih Nona Anyelir, anda sudah menjaga Nyonya Mayang dengan sangat baik,” ujar Felix seperti orang yang tidak mengenal Anyelir, mau tidak mau Anyelir menerima uluran tangan Felix dengan perasaan yang campur aduk,.
“Sama-sama,” hanya itu jawaban yang mampu Anyelir ucapkan.
“Oh iya Nak, ayo masuk, nanti Ibu kenalkan kamu pada putra semata wayang Ibu, namanya Devan,” Anyelir sebisa mungkin menahan kakinya agar tetap bertenaga, rasanya tidak menyangka dengan semua kenyataan yang Anyelir dengan sekarang.
“Tapi, kamu jangan terpesona ya sama putra Ibu, soalnya dia sudah menikah, namanya Laura,” deg-deg-deg, debaran jantung Anyelir semakin tidak menentu, Laura tahu soal Mayang tapi Anyelir tidak tahu sama sekali, Anyelir seperti orang yang baru keluar dari gua, dan hari ini baru saja melihat semuanya tentang DEvan yang sebenarnya. Sebisa mungkin Anyelir menahan air matanya agar tidak jatuh, rasanya teramat sakit mengetahui ini semua, andai saja Devan mau jujur sedari awal, mungkin rasanya tidak akan sesakit ini. Anyelir menatap Felix dengan tatapan kecewa, namun Felix nampak memutus kontak mata dengan Anyelir.
__ADS_1