
Pagi ini, Devan sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, dia melihat Felix yang sudah datang ke kediamannya, untuk menjemput dirinya.
"Pagi, Tuan," sapa Felix.
"Pagi, Felix," jawab Devan, dia menata asisten pribadinya dengan atapan heran.
"Kamu kenapa? Sepertinya masih mengantuk sekali," tanya Devan.
"Iya, Tuan, ini karena semalam," jawab Felix seraya menundukkan wajahnya.
"Semalam? Memang ada apa?" Devan memang belum tahu soal orang yang tengah dia sekap semalam sempat kabur.
"Biar di peralanan, saya jelaskan, Tuan," jawab Felix, dia takut kalau Anyelir akan mendengarnya, dan justru menjadi boomeran bagi Devan.
"Kenapa harus di jalan?" benar saja, Anyelir tiba-tiba saja datang dengan raut wajah curiga. Devan yang menyadari, ada sesuatu hal yang tengah Felix tutupi pun, menjadi gugup sendiri.
"Sa-saya malu, Nyonya," jawab Felix seraya menundukkan wajah.
"Malu, atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu?" Anyelir semakin menekan Felix.
"Bukan Nyonya, saya benar-benar malu untuk mengatakannya," Felix masih berusaha untuk meyakinkan Anyelir.
"Sayang, udahlah. Mungkin Felix memang malu jika harus cerita ke kamu," Devan mencoba membela.
"Aku mau tahu," kekeh Anyelir, membuat Felix dan Devan saling curi tatap.
"Sa-saya nonton drakor sampai dinihari, Nyonya," akhirnya jawaban itu yang keluar dari bibir Felix.
"Apa!" bukan hanya Anyelir, tapi Devan juga terkejut mendengar pengakuan Felix. Felix sendiri justru hanya tersenyum canggung.
"Nyonya, sudah percaya, kan?" tanya Felix.
"Iya sudah, aku percaya. Kalian boleh berangkat sekarang," jawab Anyelir seraya menahan tawanya.
"Jujur sekarang, sebenarnya ada apa semalam?" saat ini Felix dan Devan sudah ada di mobil, Devan tahu Felix hanya beralibi tadi, tapi dia bersyukur karena Anyelir percaya dengan alasan Felix.
"Semalam, lelaki itu sempat kabur, Tuan," jawab Felix dengan takut-takut.
"Kabur? Kok bisa?" tanya Devan dengan raut wajah terkejut.
"Dia menggunakan kelengahan anak buah kita, Tuan. Tapi semalam saya langsung ke sana, dan berhasil menangkapnya," jelas Felix, membuat Devan bernapas lega.
"Bagaimana dengan laporan soal orang tua Arman?" tanya Devan, sebab dia memang memberikan tugas kepada anak buah dalam naungan Felix, untuk mengikuti dan mengintai Dika dan Desi.
"Laporannya, sudah ada di tangan anak buah kita, Tuan. Dan pagi ini, saya sudah suruh mereka untuk datang ke perusahaan," terang Felix. Devan tersenyum kagum dengan kinerja Felix, yang semuanya dilakukan dengan cepat. Devaa sudah tidak sabar, ingin mengetahui apa saja bukti yang sudah ditemukan oleh anak buahnya.
-//-
"Sayang, kamu nggak perlu repot begini, kamu bisa langsung ke rumah sakit," Gita, melihat sang suami yang tengah sibuk berkutat di dapur. Bukan masalah pelayan di rumah nya yang malas, melainkan Arman yang sepertinya tengah ngidam memasak untuk Gita.
"Sayang, kamu takut ya masakan aku itu rasanya nggak enak?" tanya Arman dengan raut wajah sendu.
"Bukan sayang, aku cuman kasihan lihat kamu yang harus capek bikin makanan buat aku. Di sini kan ada pelayan," kata Gita mencoba menjelaskan, supaya sang suami tidak ngambek.
"Aku mau melakukan ini, buat kamu dan anak kita," ucap Arman seraya tersenyum manis.
"Aku yakin, anak kita bangga punya ayah seperti kamu," Gita tersenyum bahagia, dia merasa dirinya bukanlah wanita baik, namun dia bersyukur karena bisa mendapatkan lelaki seperti Arman.
Pagi ini, Devan sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, dia melihat Felix yang sudah datang ke kediamannya, untuk menjemput dirinya.
"Pagi, Tuan," sapa Felix.
"Pagi, Felix," jawab Devan, dia menata asisten pribadinya dengan atapan heran.
"Kamu kenapa? Sepertinya masih mengantuk sekali," tanya Devan.
"Iya, Tuan, ini karena semalam," jawab Felix seraya menundukkan wajahnya.
"Semalam? Memang ada apa?" Devan memang belum tahu soal orang yang tengah dia sekap semalam sempat kabur.
"Biar di peralanan, saya jelaskan, Tuan," jawab Felix, dia takut kalau Anyelir akan mendengarnya, dan justru menjadi boomeran bagi Devan.
"Kenapa harus di jalan?" benar saja, Anyelir tiba-tiba saja datang dengan raut wajah curiga. Devan yang menyadari, ada sesuatu hal yang tengah Felix tutupi pun, menjadi gugup sendiri.
"Sa-saya malu, Nyonya," jawab Felix seraya menundukkan wajah.
"Malu, atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu?" Anyelir semakin menekan Felix.
"Bukan Nyonya, saya benar-benar malu untuk mengatakannya," Felix masih berusaha untuk meyakinkan Anyelir.
"Sayang, udahlah. Mungkin Felix memang malu jika harus cerita ke kamu," Devan mencoba membela.
"Aku mau tahu," kekeh Anyelir, membuat Felix dan Devan saling curi tatap.
"Sa-saya nonton drakor sampai dinihari, Nyonya," akhirnya jawaban itu yang keluar dari bibir Felix.
"Apa!" bukan hanya Anyelir, tapi Devan juga terkejut mendengar pengakuan Felix. Felix sendiri justru hanya tersenyum canggung.
"Nyonya, sudah percaya, kan?" tanya Felix.
"Iya sudah, aku percaya. Kalian boleh berangkat sekarang," jawab Anyelir seraya menahan tawanya.
"Jujur sekarang, sebenarnya ada apa semalam?" saat ini Felix dan Devan sudah ada di mobil, Devan tahu Felix hanya beralibi tadi, tapi dia bersyukur karena Anyelir percaya dengan alasan Felix.
"Semalam, lelaki itu sempat kabur, Tuan," jawab Felix dengan takut-takut.
__ADS_1
"Kabur? Kok bisa?" tanya Devan dengan raut wajah terkejut.
"Dia menggunakan kelengahan anak buah kita, Tuan. Tapi semalam saya langsung ke sana, dan berhasil menangkapnya," jelas Felix, membuat Devan bernapas lega.
"Bagaimana dengan laporan soal orang tua Arman?" tanya Devan, sebab dia memang memberikan tugas kepada anak buah dalam naungan Felix, untuk mengikuti dan mengintai Dika dan Desi.
"Laporannya, sudah ada di tangan anak buah kita, Tuan. Dan pagi ini, saya sudah suruh mereka untuk datang ke perusahaan," terang Felix. Devan tersenyum kagum dengan kinerja Felix, yang semuanya dilakukan dengan cepat. Devaa sudah tidak sabar, ingin mengetahui apa saja bukti yang sudah ditemukan oleh anak buahnya.
-//-
"Sayang, kamu nggak perlu repot begini, kamu bisa langsung ke rumah sakit," Gita, melihat sang suami yang tengah sibuk berkutat di dapur. Bukan masalah pelayan di rumah nya yang malas, melainkan Arman yang sepertinya tengah ngidam memasak untuk Gita.
"Sayang, kamu takut ya masakan aku itu rasanya nggak enak?" tanya Arman dengan raut wajah sendu.
"Bukan sayang, aku cuman kasihan lihat kamu yang harus capek bikin makanan buat aku. Di sini kan ada pelayan," kata Gita mencoba menjelaskan, supaya sang suami tidak ngambek.
"Aku mau melakukan ini, buat kamu dan anak kita," ucap Arman seraya tersenyum manis.
"Aku yakin, anak kita bangga punya ayah seperti kamu," Gita tersenyum bahagia, dia merasa dirinya bukanlah wanita baik, namun dia bersyukur karena bisa mendapatkan lelaki seperti Arman.
Pagi ini, Devan sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, dia melihat Felix yang sudah datang ke kediamannya, untuk menjemput dirinya.
"Pagi, Tuan," sapa Felix.
"Pagi, Felix," jawab Devan, dia menata asisten pribadinya dengan atapan heran.
"Kamu kenapa? Sepertinya masih mengantuk sekali," tanya Devan.
"Iya, Tuan, ini karena semalam," jawab Felix seraya menundukkan wajahnya.
"Semalam? Memang ada apa?" Devan memang belum tahu soal orang yang tengah dia sekap semalam sempat kabur.
"Biar di peralanan, saya jelaskan, Tuan," jawab Felix, dia takut kalau Anyelir akan mendengarnya, dan justru menjadi boomeran bagi Devan.
"Kenapa harus di jalan?" benar saja, Anyelir tiba-tiba saja datang dengan raut wajah curiga. Devan yang menyadari, ada sesuatu hal yang tengah Felix tutupi pun, menjadi gugup sendiri.
"Sa-saya malu, Nyonya," jawab Felix seraya menundukkan wajah.
"Malu, atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu?" Anyelir semakin menekan Felix.
"Bukan Nyonya, saya benar-benar malu untuk mengatakannya," Felix masih berusaha untuk meyakinkan Anyelir.
"Sayang, udahlah. Mungkin Felix memang malu jika harus cerita ke kamu," Devan mencoba membela.
"Aku mau tahu," kekeh Anyelir, membuat Felix dan Devan saling curi tatap.
"Sa-saya nonton drakor sampai dinihari, Nyonya," akhirnya jawaban itu yang keluar dari bibir Felix.
"Apa!" bukan hanya Anyelir, tapi Devan juga terkejut mendengar pengakuan Felix. Felix sendiri justru hanya tersenyum canggung.
"Nyonya, sudah percaya, kan?" tanya Felix.
"Iya sudah, aku percaya. Kalian boleh berangkat sekarang," jawab Anyelir seraya menahan tawanya.
"Jujur sekarang, sebenarnya ada apa semalam?" saat ini Felix dan Devan sudah ada di mobil, Devan tahu Felix hanya beralibi tadi, tapi dia bersyukur karena Anyelir percaya dengan alasan Felix.
"Semalam, lelaki itu sempat kabur, Tuan," jawab Felix dengan takut-takut.
"Kabur? Kok bisa?" tanya Devan dengan raut wajah terkejut.
"Dia menggunakan kelengahan anak buah kita, Tuan. Tapi semalam saya langsung ke sana, dan berhasil menangkapnya," jelas Felix, membuat Devan bernapas lega.
"Bagaimana dengan laporan soal orang tua Arman?" tanya Devan, sebab dia memang memberikan tugas kepada anak buah dalam naungan Felix, untuk mengikuti dan mengintai Dika dan Desi.
"Laporannya, sudah ada di tangan anak buah kita, Tuan. Dan pagi ini, saya sudah suruh mereka untuk datang ke perusahaan," terang Felix. Devan tersenyum kagum dengan kinerja Felix, yang semuanya dilakukan dengan cepat. Devaa sudah tidak sabar, ingin mengetahui apa saja bukti yang sudah ditemukan oleh anak buahnya.
-//-
"Sayang, kamu nggak perlu repot begini, kamu bisa langsung ke rumah sakit," Gita, melihat sang suami yang tengah sibuk berkutat di dapur. Bukan masalah pelayan di rumah nya yang malas, melainkan Arman yang sepertinya tengah ngidam memasak untuk Gita.
"Sayang, kamu takut ya masakan aku itu rasanya nggak enak?" tanya Arman dengan raut wajah sendu.
"Bukan sayang, aku cuman kasihan lihat kamu yang harus capek bikin makanan buat aku. Di sini kan ada pelayan," kata Gita mencoba menjelaskan, supaya sang suami tidak ngambek.
"Aku mau melakukan ini, buat kamu dan anak kita," ucap Arman seraya tersenyum manis.
"Aku yakin, anak kita bangga punya ayah seperti kamu," Gita tersenyum bahagia, dia merasa dirinya bukanlah wanita baik, namun dia bersyukur karena bisa mendapatkan lelaki seperti Arman.
Pagi ini, Devan sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, dia melihat Felix yang sudah datang ke kediamannya, untuk menjemput dirinya.
"Pagi, Tuan," sapa Felix.
"Pagi, Felix," jawab Devan, dia menata asisten pribadinya dengan atapan heran.
"Kamu kenapa? Sepertinya masih mengantuk sekali," tanya Devan.
"Iya, Tuan, ini karena semalam," jawab Felix seraya menundukkan wajahnya.
"Semalam? Memang ada apa?" Devan memang belum tahu soal orang yang tengah dia sekap semalam sempat kabur.
"Biar di peralanan, saya jelaskan, Tuan," jawab Felix, dia takut kalau Anyelir akan mendengarnya, dan justru menjadi boomeran bagi Devan.
"Kenapa harus di jalan?" benar saja, Anyelir tiba-tiba saja datang dengan raut wajah curiga. Devan yang menyadari, ada sesuatu hal yang tengah Felix tutupi pun, menjadi gugup sendiri.
"Sa-saya malu, Nyonya," jawab Felix seraya menundukkan wajah.
__ADS_1
"Malu, atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu?" Anyelir semakin menekan Felix.
"Bukan Nyonya, saya benar-benar malu untuk mengatakannya," Felix masih berusaha untuk meyakinkan Anyelir.
"Sayang, udahlah. Mungkin Felix memang malu jika harus cerita ke kamu," Devan mencoba membela.
"Aku mau tahu," kekeh Anyelir, membuat Felix dan Devan saling curi tatap.
"Sa-saya nonton drakor sampai dinihari, Nyonya," akhirnya jawaban itu yang keluar dari bibir Felix.
"Apa!" bukan hanya Anyelir, tapi Devan juga terkejut mendengar pengakuan Felix. Felix sendiri justru hanya tersenyum canggung.
"Nyonya, sudah percaya, kan?" tanya Felix.
"Iya sudah, aku percaya. Kalian boleh berangkat sekarang," jawab Anyelir seraya menahan tawanya.
"Jujur sekarang, sebenarnya ada apa semalam?" saat ini Felix dan Devan sudah ada di mobil, Devan tahu Felix hanya beralibi tadi, tapi dia bersyukur karena Anyelir percaya dengan alasan Felix.
"Semalam, lelaki itu sempat kabur, Tuan," jawab Felix dengan takut-takut.
"Kabur? Kok bisa?" tanya Devan dengan raut wajah terkejut.
"Dia menggunakan kelengahan anak buah kita, Tuan. Tapi semalam saya langsung ke sana, dan berhasil menangkapnya," jelas Felix, membuat Devan bernapas lega.
"Bagaimana dengan laporan soal orang tua Arman?" tanya Devan, sebab dia memang memberikan tugas kepada anak buah dalam naungan Felix, untuk mengikuti dan mengintai Dika dan Desi.
"Laporannya, sudah ada di tangan anak buah kita, Tuan. Dan pagi ini, saya sudah suruh mereka untuk datang ke perusahaan," terang Felix. Devan tersenyum kagum dengan kinerja Felix, yang semuanya dilakukan dengan cepat. Devaa sudah tidak sabar, ingin mengetahui apa saja bukti yang sudah ditemukan oleh anak buahnya.
-//-
"Sayang, kamu nggak perlu repot begini, kamu bisa langsung ke rumah sakit," Gita, melihat sang suami yang tengah sibuk berkutat di dapur. Bukan masalah pelayan di rumah nya yang malas, melainkan Arman yang sepertinya tengah ngidam memasak untuk Gita.
"Sayang, kamu takut ya masakan aku itu rasanya nggak enak?" tanya Arman dengan raut wajah sendu.
"Bukan sayang, aku cuman kasihan lihat kamu yang harus capek bikin makanan buat aku. Di sini kan ada pelayan," kata Gita mencoba menjelaskan, supaya sang suami tidak ngambek.
"Aku mau melakukan ini, buat kamu dan anak kita," ucap Arman seraya tersenyum manis.
"Aku yakin, anak kita bangga punya ayah seperti kamu," Gita tersenyum bahagia, dia merasa dirinya bukanlah wanita baik, namun dia bersyukur karena bisa mendapatkan lelaki seperti Arman.
Pagi ini, Devan sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, dia melihat Felix yang sudah datang ke kediamannya, untuk menjemput dirinya.
"Pagi, Tuan," sapa Felix.
"Pagi, Felix," jawab Devan, dia menata asisten pribadinya dengan atapan heran.
"Kamu kenapa? Sepertinya masih mengantuk sekali," tanya Devan.
"Iya, Tuan, ini karena semalam," jawab Felix seraya menundukkan wajahnya.
"Semalam? Memang ada apa?" Devan memang belum tahu soal orang yang tengah dia sekap semalam sempat kabur.
"Biar di peralanan, saya jelaskan, Tuan," jawab Felix, dia takut kalau Anyelir akan mendengarnya, dan justru menjadi boomeran bagi Devan.
"Kenapa harus di jalan?" benar saja, Anyelir tiba-tiba saja datang dengan raut wajah curiga. Devan yang menyadari, ada sesuatu hal yang tengah Felix tutupi pun, menjadi gugup sendiri.
"Sa-saya malu, Nyonya," jawab Felix seraya menundukkan wajah.
"Malu, atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu?" Anyelir semakin menekan Felix.
"Bukan Nyonya, saya benar-benar malu untuk mengatakannya," Felix masih berusaha untuk meyakinkan Anyelir.
"Sayang, udahlah. Mungkin Felix memang malu jika harus cerita ke kamu," Devan mencoba membela.
"Aku mau tahu," kekeh Anyelir, membuat Felix dan Devan saling curi tatap.
"Sa-saya nonton drakor sampai dinihari, Nyonya," akhirnya jawaban itu yang keluar dari bibir Felix.
"Apa!" bukan hanya Anyelir, tapi Devan juga terkejut mendengar pengakuan Felix. Felix sendiri justru hanya tersenyum canggung.
"Nyonya, sudah percaya, kan?" tanya Felix.
"Iya sudah, aku percaya. Kalian boleh berangkat sekarang," jawab Anyelir seraya menahan tawanya.
"Jujur sekarang, sebenarnya ada apa semalam?" saat ini Felix dan Devan sudah ada di mobil, Devan tahu Felix hanya beralibi tadi, tapi dia bersyukur karena Anyelir percaya dengan alasan Felix.
"Semalam, lelaki itu sempat kabur, Tuan," jawab Felix dengan takut-takut.
"Kabur? Kok bisa?" tanya Devan dengan raut wajah terkejut.
"Dia menggunakan kelengahan anak buah kita, Tuan. Tapi semalam saya langsung ke sana, dan berhasil menangkapnya," jelas Felix, membuat Devan bernapas lega.
"Bagaimana dengan laporan soal orang tua Arman?" tanya Devan, sebab dia memang memberikan tugas kepada anak buah dalam naungan Felix, untuk mengikuti dan mengintai Dika dan Desi.
"Laporannya, sudah ada di tangan anak buah kita, Tuan. Dan pagi ini, saya sudah suruh mereka untuk datang ke perusahaan," terang Felix. Devan tersenyum kagum dengan kinerja Felix, yang semuanya dilakukan dengan cepat. Devaa sudah tidak sabar, ingin mengetahui apa saja bukti yang sudah ditemukan oleh anak buahnya.
-//-
"Sayang, kamu nggak perlu repot begini, kamu bisa langsung ke rumah sakit," Gita, melihat sang suami yang tengah sibuk berkutat di dapur. Bukan masalah pelayan di rumah nya yang malas, melainkan Arman yang sepertinya tengah ngidam memasak untuk Gita.
"Sayang, kamu takut ya masakan aku itu rasanya nggak enak?" tanya Arman dengan raut wajah sendu.
"Bukan sayang, aku cuman kasihan lihat kamu yang harus capek bikin makanan buat aku. Di sini kan ada pelayan," kata Gita mencoba menjelaskan, supaya sang suami tidak ngambek.
"Aku mau melakukan ini, buat kamu dan anak kita," ucap Arman seraya tersenyum manis.
__ADS_1
"Aku yakin, anak kita bangga punya ayah seperti kamu," Gita tersenyum bahagia, dia merasa dirinya bukanlah wanita baik, namun dia bersyukur karena bisa mendapatkan lelaki seperti Arman.