Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Parsel Buah


__ADS_3

Mendengar permintaan Gita, yang menurut Arman, hanya ingin bersaing dengan Anyelir, tentu saja Arman cukup keberatan. Arman sebenarnya juga sangat ingin memiliki momongan, hanya saja jika diawal rencana Gita sudah tidak baik, maka Arman akan menenantangnya.


"Aku nggak mau program hamil, kalau kamu juga belum siap punya anak," jawab Arman, membuat Gita langsung mendelik tak percaya.


"Kamu nggak mau punya anak sama aku?"  tanya Gita  dengan raut wajah tak percaya.


"Kamu bisa bedain nggak sih, Nggak mau sama ditunda? Aku bilang, aku mau punya anak asalkan kamu udah siap. Aku tahu kok, kamu pengan punya anak karena kamu merasa tersaingi dengan Anyelir, kan?" pertanyaan yang dilontarkan oleh Arman, membuat Gita terdiam.


'Sial, kok dia bisa tahu sih?' batin Gita.


"Kenpa diam? Apa pertanyaan aku benar?" tanya Arman sekali lagi.


"Iya! Apa yang kamu katakan memang benar!" seru Gita dengan nada emosi.


"Aku mau hamil karena aku nggak mau terus menerus dibandingkan dengan dia! Aku tahu, kamu juga masih berharap kan dengan Anyelir?  Dan aku tahu, setelah ini kamu akan membanding aku, yang belum hamil sampai sekarang!" seru Gita, menuduh Arman dengan tanpa bukti.


"Semua yang kamu ucapkan, tidak beralasan sama sekali, dan kamu juga berpikir terlalu jauh. Aku dan Anyelir, sudah memiliki kehidupan sendiri. Aku sekarang sudah bersama kamu, apa pernikahan belum bisa menjadi bukti bahwa aku mencintai kamu Gita?" tanya Arman dengan tatapan memicing.


"Memiliki keturunan bukanlah ajang perlombaan Gita. Itu adalah tanggung jawab yang besar, dan aku nggak yakin kamu bisa. Karena di hati kamu, cuman ada kebencian dan rasa selalu ingin menang dari Anyelir!" seru Arman, kali ini dia ingin bertindak tegas dengan Gita, karena menurut Arman, Gita memang sudah keterlaluan.


.


.


Pagi ini, Anyelir bangun seperti biasanya, selama hamil muda Anyelir memang sering mengalami morning sickness. Devan, bertindak sebagai suami yang siaga, dia selalu berusaha ada untuk sang istri. Seperti pagi ini, Devan tengah memijit tengkuk sang istri, untuk mengurangi rasa  mual. Teh hangat, juga sudah disediakan, berharap tenaga Anyelir akan segera pulih dan mengurangi rasa mualnya.


"Kamu beneran nggak apa-apa sayang?" tanya Devan dengan raut wajah risau. Dia tidak tega melihat keadaan Anyelir yang nampak sangat lemas.


"Aku nggak apa-apa kok, kan kamu denger sendiri kata Dokter, kalau hal seperti ini biasa terjadi pada kehamilan muda," jelas Anyelir.


Devan duduk berjongkok di hadapan Anyelir, yang saat ini tengah duduk di kursi sofa kamar mereka. Devan mengelus perut Anyelir dan mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan singkat.


"Anak Papah, jangan nakal ya di sana.  Kasihan Mamah." ucap Devan, dia mendaratkan satu kecupan lagi dan mengelus perut Anyelir. Bagaikan obat, Anyelir merasa mualnya sedikit berkurang.


"Sepertinya, kelak dia akan lebih nurut sama kamu," ucap Anyelir menatap Devan.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Devan heran.


"Buktinya, rasa mual ku langsung reda." jawab Anyelir dengan senyum yang mengembang.


"Benarkah??" Devan nampak takjub, mendapatkan jawaban anggukkan dari Anyelir. Devan kembali mendudukkan wajahnya ke perut sang istri dan kembali mendaratkan kecupan.


"Kalau begitu, ayo kita sarapan." ajak Devan, dia menggenggam tangan Anyelir dan melangkah dengan perlahan. Anyelir begitu bahagia karena merasa diratukan oleh sang suami.


.


.


Anyelir, baru saja mengantarkan Devan sampai ke depan pintu, tidak lama setellah Devan pergi, seorang satpam menghampiri Anyelir.


"Maaf Nyonya, ada pakte parsel buah untuk, Nyonya."  ucap satpam, seraya menyerahkan parsel  buah untuk Anyelir.


"Paket? Dari siapa?" tanya Anyelir.


"Tadi sih, si pengirim tertulis, Tn. Agam." ucap satpam seraya memperlihatkan sebuah kertas tanda pengirim.


"Parsel buah dari siapa , Nak?" tanya Mayang, yang melihat Anyelir membawa parsel buah.


"Dari ayah, Bu." jawab Anyelir seraya mendekat ke arah Mayang, dan menunjukkan parselnya.


"Wah, ayah pasti sangat bahagia, dia sam[ai memperhatikan asupan buah untuk putrinya," ucap Mayang.


"Iya, Bu. Nanti, Anyelir mau telepon ayah, mau bilang makasih," ucap Anyelir.


"Ya sudah, Ibu minta pelayan cucikan buahnya ya? Supaya bisa langsung kamu makan." Mayang pun memanggil pelayan untuk mencuci buah parsel dan menyiapkan untuk Anyelir.


.


.


Di sisi lain, saat ini Devan tengah berada di kantornya. Dia tengah berdiskusi dengan Felix, pekerjaan. Namun, tiba-tiba saja, Devan teringat dengan Anyelir.

__ADS_1


"Anda kenapa, Tuan?" tanya Felix, yang tahu perubahan wajah Devan.


"Aku memikirkan Anyelir," jawab Devan dengan lesu.


"Memangnya kenapa dengan Nyonya, Tuan? Nyonya ngidam?" tanya Felix asal.


"Bukan, aku hanya sedang memikirkan perasaan istriku. Semalam kau tahu, kan?  ibu Rose tidak datang di acara makan malam," ucap Devan.


"Kalau sudah watak memang suit, Tuan. Sepertinya, ibu Rose sangat menjaga perasaan putri sambungnya, sampai lupa dengan perasaan putri sendiri," ujar Felix, dia juga merasa gemas dengan perlakuan Rose yang tidak bisa adil dengan kedua putrinya.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tahu, meskipun Anyelir sudah berkata bahwa dia sama sekali, tidak akan memikirkan hal ini. Tapi, tetap saja pasti dia akan teringat dengan sikap ibunya. Biar bagaimana pun, ibu Rose adalah wanita yang sudah melahikan Anyelir." Devan mengungkapkan kegundahan hatinya.


"Aku takut, hal ini akan berakibat fatal dengan kehamilan Anyelir juga," ucap Devan lagi.


"Coba anda bicara dari hati ke hati dengan ibu Rose," ucap Felix  memberikan ide.


"Tapi, apa dia akan mendengarkan aku? Dulu, aku pernah memaksanya meminta maaf pada Anyelir, itu pun aku ancam menggunakan uang," Devan mengingat, pada saat dia mengancam Rose dulu, untuk bersandirwara meminta maaf pada Anyelir. Sebab, Devan tidak tega melihat Anyelir yang nampak terus bersedih.


"Kali ini, anda harus bicara dengan lebih tenang.  Jangan terus menggunakan uang atau lain sebaginya, Tuan. Sebab, dengan begitu tidak akan ada ketulusan dala diri ibu Rose," ucap Felix.


Devan, menganggukkan kepalanya. "Kau benar, sepertinya memang harus ku coba," ucap Devan.


.


.


Kini, Anyelir tengah mencoba untuk menghubungi ayahnya, Anyelir ingin sekali mengucapkan terimakasih untuk parsel buah yang sudah dia terima. Namun, dua kali percobaan Anyelir menghubungi Agam, gagal. Nampaknya, Agam memang tengah sibuk, jadi Anyelir pun mencoba untuk mengirimkan pesan.


(Ayah, terimakasih atas parsel buahnya. Sudah Anyelir terima.) Anyelir mengirimkan pesan tersebut, dan berharap ayahnya akan segera membalas pesan Anyelir.  Tidak lama, Agam benar-benar membalas pesan Anyelir.


(Maaf, Nak. Tadi Ayah sedang meeting. Oh iya soal parsel buah, Ayah tidak mengirimkannya.) balasan pesan dari Agam membuat Anyelir tertegun.


"Kenapa Anyelir?" tanya Mayang, yang sedari tadi memang berada di samping Anyelir.


"Ini bukan buah dari ayah, Bu."  jawab Ayelir, sambil memperlihatkan jawaban pesan dari Agam.

__ADS_1


"Apa?" Mayang nampak kaget, "cepat muntahkan buahnya!" seru Mayang panik. Dia meminta Anyelir mengeluarkan buah yang sudah masuk ke dalam mulut Anyelir. Kalau bukan Agam yang mengirim, lalu siapa?


__ADS_2