Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Memulangkan


__ADS_3

"Pak, tolong bawakan koper Gita," pinta Arman, dan diangguki oleh satpam jaga. Arman segera menggendong Gita, memasuk rumah. Gita sempat berontak, tapi tidak dihiraukan oleh Arman.


"Loh, Den Arman, Non Gita?" asisten rumah tangga Agam, nampak terkejut saaat membukakan pintu untuk Arman dan Gita, apalagi melihat koper besar yang turut serta, "silahkan masuk, Non Gita, Den Arman."


"Ayah sama ibu ada?" tanya Arman langsung.


"Ada Den, silahkan duduk dulu, biar saya panggilkan," ucap asisten rumah tangga, dia pun segera bergegas menuju kolam renang. Karena Agam tengah berada di sana menanangkan diri.


"Permisi, Tuan," asiten rumah tangga tadi menghampiri Agam.


"Ada apa?" tanya Agam masih menatap lurus ke arah kolam.


"Ada Non Gita sama Den Arman, Tuan."


Agam menoleh sejenak, dengan alis berkerut, ini sudah cukup malam bagi seseorang bertamu, meskipun itu adalah anak dan menantunya, tapi tetap saja rasanya aneh bertamu malam-malam disaat semua orang harusnya beritirahat.


"Ada apa mereka datang malam-malam begini, apa ada masalah?" tanya Agam seraya menyelidik.


"Maaf, Tuan saya tidak tahu. Tapi tadi Den Arman membawa koper, Non Gita," jawab sang asisten rumah tangga seraya menundukkan wajahnya. Agam yang mendengarpun langsung mengusap wajahnya dengan kasar, dia segera memasuki rumah dan melangkah menuju ruang tamu. Saat sampai di depan tangga, dia bertemu dengan Rose yang nampaknya juga sudah tahu soal kedatangan Gita dan Arman. Mereka berdua segera menemui anak dan menantu mereka, yang saat ini tengah saling diam di ruang tamu.


"Ayah, Ibu?" Arman menghampiri Agam dan Rose, bahkan mencium tangan mereka, sedangkan Gita hanya diam seraya memasang wajah kesal.


"Ada apa ini, Nak?" tanya Rose yang mulai membaca ada hal yang tidak beres pada Gita juga Arman.

__ADS_1


"Sebelumnya saya ingin minta maaf, kepada Ayah dan Ibu. Mungkin keputusan saya ini, sangat mengejutkan Ayah juga Ibu, tapi ini semua saya lakukan karena ada alasannya," Arman melirik pada Gita, yang masih saja diam tidak bergeming.


"Saya ingin memulangkan Gita," ucap Arman tiba-tiba, membuat Agam juga Rose tentu saja terkejut.


"Apa! Memangnya Gita salah apa, Nak Arman, sampai harus dipulangkan?" tanya Agam heran, dia yakin Gita sudah sangat membuat Arman kesal, sampai-sampai lelaki sesabar Arman, bisa melepaskan Gita begitu saja. Padahal, Arman adalah suami yang baik untuk Gita, dia selalu membela Gita di hadapan keluarganya, terlepas dari apa kesalahan yang Gita lakukan selama ini.


Arman menundukkan wajahnyam. "Arman minta maaf, Yah. Aman tahu, Ayah pasti kecewa sama Arman karena terlalu cepat menyerah, tapi Arman sudah berusaha selama ini, Yah. Dan Arman sudah nggak bisa lagi mendidik Gita, sesuai yang Ayah pesankan kepada Arman, jika Arman merasa tidak mampu mendidik Gita, maka Arman kembalikan Gita kepada Ayah," ucap Arman dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Nggak!" tolak Gita, yang tiba-tiba bersuara, "aku nggak mau di sini, aku mau sama kamu, Arman." Gita tiba-tiba memeluk Arman dengan begitu erat.


"Gita, tanpa kehadiran aku, kamu akan tetap hidup, aku yakin itu. Kamu selalu bisa melakukan apapun sendiri, saat aku mengingatkan kamu, maka kamu nggak akan terima. Lalu, buat apa aku ada? Sedangkan pernikahan ini, hanya sebagai ajang pembuktian bahwa kamu bisa seperti Anyelir, bahkan kamu selalu ingin lebih dari Anyelir. Aku menyerah Git, aku nggak bisa menuhi semua keinginan kamu," pungkas Arman.


Rose dan Agam hanya bisa diam, mereka berdua saling tatap, ada rasa iba kepada Gita, tapi mereka juga iba dengan Arman, yang selama ini mau berjuang demi Gita. Gita, yang mendengar jawaban penolakan dari Arman, langsung menangis histeris, dia tidak mau hidup menjada diusia muda, dan lagi pasti nantinya akan banyak yang menggunjing Gita.


Arman tersenyum dan menghela napasnya berat. "Ini sudah menjadi keputusan akhir Arman, Yah."


Arman menatap Gita, yang saat ini tengah ditenangkan oleh Rose dalam dekapannya. "Gita, aku akan urus semuanya, kamu nggak perlu khawatir," ucap Arman kepada Gita, "aku minta maaf, jika selama kamu menjadi istri aku, kamu belum pernah merasakan bahagia, aku harap kamu bisa berubah menjadi jauh lebih baik, dan bisa menemukan pengganti ku," harap Arman, memberikan doa terbaik untuk Gita, dengan begitu tulus. Meskipun sebenarnya, perkataan itu juga sangat sulit keluar dari bibirnya.


Arman beralih menartap Agam dan Rose secara bergantian. "Arman pamit, maaf sudah mengganggu istirahat Ayah dan Ibu," ucap Arman sebelum akhirnya memutuskan pergi.


"Arman, aku nggak mau, aku mau sama kamu!" seru Gita meraung memanggil nama Arman, namun Arman seolah menulikan pendengarannya.


"Gita, sudah." Agam terus mencekal pergelangan tangan Gita, supaya tidak lari mengejar Arman.

__ADS_1


"Nggak, Gita harus kejar Arman!" raung Gita semakin menjadi, "akkhhhh!!" tiba-tiba saja, setelah Arman berlalu mengemudikan mobilnya, Gita memegang perutnya dan terlihat sangat kesakitan, bahkan keringat mulai bercucuran membasahi dahi Gita.


"Gita, kamu kenapa, Nak?" Rose dan Agam panik seketika.


"Sakit, perut a-aku sa-sakit," jawab Gita seraya terbata, dia terus meremas perutnya, wajahnya langsung berubah pucat pasi.


"Ayo, kita ke rumah sakit." Agam langsung menggendong Gita menuju mobil. Kepanikan langsung melanda seisi rumah.


-//-


"Bagaimana keadaan putri kami, Dok?" tanya Agam, kini Gita baru saja selesai di periksa, setelah diberikan penenang, barulah Gita baru bisa tidur.


"Tidak perlu khawatir, Pak. Ini adalah salah satu gejala awal, ibu yang tengah hamil muda," jawab Dokter dengan begitu yakin.


"Apa, jadi maksudnya anak kamu hamil, Dok?" tanya Rose yan nampaknya masih belum begitu percaya.


"Dari hasil pemeriksaan saya begitu. Besok, bisa diperiksakan kepada Dokter kandungan, supaya bisa lebih jelas lagi. Untuk malam ini, biarkan pasien beristirahat," saran Dokter.


Rose dan Agam saling memeluk, mereka begitu bahagia mendengar kabar kehamilan Gita. Dokter ikut tersenyum melihat pasangan yang sudah tidak lagi muda, namun terlihat masih romantis.


"Terimakasih banyak ya, Dok." Agam menjabat tangan Dokter dengan begitu bahagia, mereka berdua yakin Gita juka akan sangat bahagia jika mendengar kabar bahagia ini. Karena Gita juga sedang menantikannya.


"Kita harus hubungi Arman, Yah," Rose sudah mengeluarkan ponselnya, untuk menghubungi sang menantu, biar bagaimanapun Arman berhak tahu.

__ADS_1


"Jangan sekarang, Bu. Arman pasti sedang istirahat, besok kita bisa hubungi Arman, saat kita sudah memastikan kondisi Gita," saran Agam.


__ADS_2