Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Gengsi atau uang


__ADS_3

Setelah kejadian pertengkaran tadi pagi, kini Rosse sudah membuatkan kopi untuk suaminya, bahkan berlaku begitu lembut, tentu Agam tahu kenapa Rose begitu berbeda, tidak lain karena hari ini jatah uang bulanan Rose sendiri.


“Mas, uang bulanan?” benar dugaan Agam, inilah maksud tersembunyi Rose.


“Lihatlah,” Agam memperlihatkan sebuah pesan yang dikirim oleh Devan.


[Ayah, untuk sementara waktu keuangan akan diambil alih oleh salah satu orang kepercayaan ku, dan untuk uang bulanan Ayah sudah aku kirim, tidak beserta Ibu, karena jika Ibu mau, Ibu bisa datang pada ku. Dan satu hal lagi, jika Ayah memberikan Ibu uang, maka perusahaan jaminannya.]


Rose langsung menatap suaminya tidak percaya, namun Aga nampak santai tidak keberatan sama sekali.


“Jadi maksud kamu, aku harus datang dan menemui Devan?” tanya Rose tidak percaya.


“Iya, begitulah. Itu pun kalau kamu masih mau hidup sesuai dengan yang kamu inginkan, kalau tidak, maka silahkan saja terserah apa maumu,” jawab Agam dengan santai, sembari memakan sarapannya. Rosse benar-benar menahan emosinya, yang saat ini dia harus pikirkan, kenapa Devan tiba-tiba saja melakukan hal ini padanya?


Setelah Agam pergi ke kantor, Rose langsung mengirimkan pesan, menanyakan seputar uang bulanan, dan jawaban Devan cukup singkat, dia hanya memberikan sebuah alamat restaurant, dan jam kapan mereka bertemu, tepat jam makan siang.


‘Aku yakin, Devan ingin membahas sesuatu,’ batin Rose.


“Sayang, kita mau ke mana?” Devan mengajak Anyelir makan di luar saat jam istirahat kantor.


“Makan di salah satu restaurant yang aku sukai,” jawab Devan sembari tersenyum. Akhirnya mereka berdua tiba di tempat tujua.


“Sayang, kamu masuk dulu, aku sudah pesan tempat,” titah Devan, “aku akan menghubungi kolega ku, karena mungkin aku akan datang terlambat nanti,” Devan akhirnya memberikan alasan, sebelum Anyelir bertanya lebih jauh. Akhirnya Anyelir turun lebih dulu dari mobil dan masuk ke dalam restaurant.


“Masuklah,” Devan berbicaran kepada Rose yang baru saja tiba, Rose masuk ke dalam mobil milik Devan. Dengan tatapaan dingin, Devan menatap Rose yang seolah ingin menusuknya.

__ADS_1


“A-ada apa kamu mengundang Ibu?” tanya Rose terbata.


“Bukankah Ibu butuh uang? Kalau tidak, Ibu bisa pergi sekarang,” dengan enteng Devan berkata demikaian. Tentu, yang gelagapan adalah Rose, karena disini dia yang membutuhkan.


“Iya, Ibu masih butuh uang, karena itu uang bulanan Ibu,” jawab Rose, dan Devan terlihat menyeringai.


“Ibu tahu, aku menantikan saat ini, apa Ibu sadar dengan yang selama ini Ibu lakukan terhadap Anyelir?” inilah rencana Devan sesungguhnya.


“Maksud kamu? selama ini Ibu baik-baik aja kok,” elak Rose, namun hanya Devan kembali tersenyum tipis.


“Oh iya? Selama ini Ibu sudah merasa adil?” tanya Devan lagi.


“Nggak perlu di perpanjang, yang tahu tentang Anyelir ya Ibu, karena Ibu adalah Ibu kandungnya,” ujar Rose lagi.


“Yakin? Selama ini Anyelir terus menangis melihat sikap Ibunya yang seolah tidak bisa menjaga perasaan Anyelir, haruskah seperti itu terus menerus Bu? apa Ibu tidak sadar selama ini Ibu menikmati hasil dari pengorbanan Anyelir?” Devan mulai tersulut emosi, karena nampaknya Rose sama sekali tidak merasa takut terhadapnya.


“Kalau saja waktu itu Anyelir tidak menikah denganku, apa ayah masih bisa mengurus perusahaan?” tanya Devan dan Rose hanya terdiam. Jangankan perusahaan, mungkin hidup bebas pun tidak akan bisa.


“Aku akan memberikan uang yang Ibu minta, asalkan Ibu meminta maaf kepada Anyelir dengan tulus, dan berjanji akan merubah sikap Ibu, maka aku janji akan memberikannya saat itu juga,” janji Devan, tentu saja batin Rose menolak dengan tegas, dia tidak akan mau melakukannya, namun apa boleh buat? Rose butuh uang dan Devan menginginkan Rose meminta maaf kepada Anyelir, setidaknya dengan demikian perasaan sakit hati Anyelir akan sedikit berkurang.


“Aku? meminta maaf?” Rose nampak keberatan.


“Iya, bagaimana? Ibu tidak mau?” Devan sama sekali tidak akan  goyah, Devan yakin Rose akan mau mengesampingkan rasa malu dan egonya, dan memilih untuk menuruti permintaannya. Rose masih nampak berpikir, Devan sangat yakin, banyak kebimbangan yang tengah ditimang oleh Rose.


“Kalau Ibu tidak mau, juga tidak masalah, aku akan terus menahan uang ini, karena uang ini ada juga karena pengorbanan Anyelir, bahkan bisa saja aku meminta Ayah untuk tidak memberikan apapun kepada Ibu, supaya Ibu tahu bagaimana rasanya mencari uang,” gertakan dari Devan sukses membuat Rose ketakutan.

__ADS_1


“Ba-baiklah, Ibu akan meminta maaf dengan Anyelir,” akhirnya Rose sudah mengambil keputusan, membuat Devan tersenyum tentunya, karena apa yang dia harapkan akhirnya terwujud.


“Baiklah, Ibu bisa berlatih lebih dulu, saya akan masuk menemui istri tercinta saya, dan pastikan Anyelir tidak curiga,” ujar Devan kembali mengingatkan Rose, dan Rosse hanya bisa mengangguk pasrah.


‘Akan aku tunjukkan, bahwa mereka tanpa kamu bisa apa Anyelir?’ batin Devan, dia ingin istrinya bisa jauh lebih dihargai lagi, karena selama ini, Devan melihat kalau Anyelir sering diremehkan, bahkan oleh ibu kandungnya sendiri. Devan menyusul Anyelir yang sudah menunggunya cukup lama, bahkan makan siang mereka juga sudah tersedia, karena Devan sudah memesan makanan seraya memesan tempat.


“Kamu dari mana aja sih?” tanya Anyelir curiga.


“Maaf ya? tadi kolega ku cukup sulit untuk diajak bernegoisasi,” Devan hanya bisa memberikan alasan kolega, supaya Anyelir bisa percaya, dan benar saja, Anyelir benar-benar percaya. Devan memilih ruang VIP bermaksud untuk menjaga privasi mereka.


“Permisi, Tuan , Nona?” salah satu pelayan masuk ke ruang mereka berdua.


“Maaf, ada ibu-ibu yang memaksa masuk, namanya ibu Rose,” mendengar nama Rosse, tentu Anyelir mengizinkan, karena dia berpikir mungkin itu Ibunya, dan benar saja, saat seorang wanita paruh baya masuk, ternyata Rose orangnya.


“A-Anyelir?” Rosse nampak tergagap, dan Anyelir juga nampak terkejut, karena mereka kini berada di ruang VIP di mana orang di luar ruangan tidak bisa melihatnya, namun bagaimana bisa Rose tahu?


“Maaf, Ibu pikir Nak Devan tidak bersama kamu Nak, jadi Ibu memaksa masuk, karena pikiran Ibu yang terlalu jauh,” Rose menampilkan senyumnya, dan itu semua tidak lain perintah dari Devan. Devan memang memberikan perintah kepada Rose, supaya di depan Anyelir, Rose berpura-pura bahwa dia melihat Devan berjalan sendirian ke ruang VIP.


“Oh begitu Bu,” Anyelir mendekati Ibunya, “Ibu tenang aja, mas Devan nggak akan melakukan hal seperti itu kok,” Anyelir merasa bahagia, karena dia berpikir dengan begini Rose perduli padanya, dan Anyelir berpikir bahwa Rose menyayanginya.


“Ayo Bu, kita makan siang.” Ajak Anyelir, namun langsung di tolak oleh Rose.


“Oh, ti-tidak sayang, Ibu harus segera pergi, karena ayah juga ingin makan siang bersama Ibu di kantor,” tentu saja itu semua hanyalah alasan.


“Oh … begitu Bu,” ujar Anyelir, dia tidak kecewa, karena Anyelir justru senang, kedua orangtuanya bisa menghabiskan waktu berdua, supaya bisa menjaga keromantisan hubungan mereka.

__ADS_1


“Lain kali, kita makan siang bersama ya?” Anyelir tersenyum mendengar ajakan Rose yang meskipun entah kapan.


__ADS_2