Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Permintaan maaf


__ADS_3

Saat Anyelir baru saja mengantarkan Devan pergi, tiba-tiba saja, Anyelir melihat mobil Laura yang tidak jauh dari kediamannya. Anyelir mendekat kearah gerbang, dan Laura keluar dari mobil. Laura menatap Anyelir dengan tatapan sendu, dapat Anyelir lihat, tidak ada kebencian lagi di mata Laura.


“Kak Laura,” Anyelir menitikkan air matanya, entahlah ada rasa bersalah dalam benaknya, karena kehadirannya, pernikahan Devan dan Laura harus berakhir.


“Bu, sebaiknya anda masuk,” salah satu penjaga meminta Anyelir untuk masuk, namun Anyelir menolak.


Laura berdiri, agak jauh dari gerbang, sesuai dengan perintah anak buah Devan, Laura paham, pasti mereka takut Laura menyakiti Anyelir.


“Anyelir, aku hanya ingin meminta maaf. Aku minta maaf atas sikap ku selama ini,” ujar Laura, membuat air mata Anyelir semakin deras membasahi pipinya.


“Kak, aku yang bersalah, karena sudah hadir dalam pernikahan kak Laura dan kak Devan,” Anyelir mengatakan apa yang selama ini dia pikirkan.


“Jangan berkata begitu, pernikahan aku dan Devan memang seharusnya tidak pernah terjadi. Cinta Devan sudah tidak lagi untuk ku, dan aku tahu itu semua karena kesalahanku sendiri,” Laura sudah mengakui, bahwa seharusnya, setelah dia memutuskan untuk meninggalkan Devan tepat dihari pernikahan mereka, Laura tidak lagi muncul dalam kehidupan Devan. Kisah diantara mereka berdua sudah berakhir, dan Laura tahu ini semua adalah kesalahan yang dia buat sendiri.


“Tolong sampaikan maaf ku pada Ibu, maaf karena selama ini aku tidak pernah tulus padanya, sampaikan juga terimakasih ku pada ibu, karena selama ini ibu sudah sangat menyayangi aku. AKu harap, ibu juga akan berlaku begitu pada mu Anyelir, karena kamu adalah wanita yang baik,” ujar Laura dengan tulus, dia menyeka air matanya yang mulai turun membasahi pipi.


“Anyelir, aku akan ke luar Negeri, dan mungkin kita tidak akan bertemu kembali, aku harap kamu akan selalu baik-baik saja, dan semoga pernikahan mu dengan Devan juga akan selalu dilimpahkan kebahagiaan,” harap Laura.

__ADS_1


“Aku berharap, kak Laura bisa mendapatkan kebahagiaan kakak dan cinta kakak pada orang lain, aku yakin Kakak akan mendapatkan cinta yang tulus suatu saat,” ujar Anyelir,  mendoakan yang terbaik untuk Laura.


“Terimakasih Anyelir, kalau begitu aku harus pergi, karena seseorang sudah menungguku,” Laura akan pergi bersama kekasihnya, Negara tujuan mereka adalah Jepang. Laura melambaikan tangannya kearah Anyelir, senyum teduh mereka berdua, kali ini terlihat sangat tulus. Ini kali pertama Anyelir  dan Laura saling melempar senyum, biasanya Laura selalu bersikap ketus pada Anyelir, namun kali ini berbeda.


‘Semoga kak Laura dan kekasihnya bisa hidup bersama dan saling mencintai sampai akhir hayat mereka,’ batin Anyelir. Dia merasa iba pada Laura, karena sepanjang pernikahannya dengan Devan. Laura tidak pernah mendapatkan cinta dari Devan.


.


.


Setelah kejadian terkuaknya hubungan Anyelir dengan Devan, membuat Anyelir malu untuk bertemu dengan orang lain. Bakan untuk hari ini, dia harus berangkat magang pun, rasanya Anyelir masih enggan dan ragu. Karena Anyelir tahu, mereka semua akan menatap Anyelir dan menilai Anyelir dari atas sampai bawah, itu semua membuat Anyelir tidak nyaman.


“Entah apa yang akan mereka pikirkan, mungkin mereka semua akan mengecap gue sebagai pembohong,” m,asih sangat Anyelir ingat, ketika mereka hampir ketahuan. Tapi, Devan memberikan alasan bahwa mereka adalah adik kakak, namun sekarang, rahasia tentang hubungan mereka sudah terkuak.


“Apapun yang terjadi, gue yakin masih banyak yang ada di pihak loe, karena loe orang baik Anyelir,” lagi-lagi Nabila memberikan semangat, dia berharap kalau kepercayaan diri Anyelir bisa kembali.


“Ayo masuk.” Ajak Nabila, mereka memasuki gedung kantor milik Devan, dan tanpa diduga, mereka semua menyambut kedatangan Anyelir dan memberikan salam hormat.

__ADS_1


“Selamat datang Bu Anyelir,” Ayu, Mike dan Daniel.


“Kak, kenapa manggil aku gitu sih?” tanya Anyelir dengan sendu, dia merasa kehilangan sosok Ayu, Mike dan Daniel, karena biasanya mereka tidak pernah menjaga sikap begini. Dan Anyelir lebih suka sikap mereka yang apa adanya.


“Kan, Ibu istri dari atasan kami,” jawab Daniel mewakili.


“Anyelir memang istri saya,” tiba-tiba saja Devan muncul, dan membuat kaget semua karyawan yang kebetulan tengah berada di lobby.


“Tapi, rumah …” lanjut Devan seraya menatap Anyelir dalam, “tapi di kantor, Anyelir adalah mahasiswi yang tengah magang, jadi dia butuh pengalaman dan belajar. Kalau sikap kalian seperti ini, maka apa yang akan Anyelir dapatkan? Jadi saya mohon, bersikaplah biasa saja,” ujar Devan, dan setelah itu dia melangkah menuju lift. Anyelir tersenyum, karena sekarang ini Devan sudah tahu apa yang diinginkan Anyelir.


“Saya harap, penjelasan dari Pak Devan sudah cukup mewakili. Jadi bersikaplah biasa saja terhadap saya, dan saya juga mohon kerja samanya,” pinta Anyelir, nampaknya semua karyawan sudah mulai paham.


Hari ini pekerjaan Anyelir bisa terbilang seperti biasa, namun entah kenapa Anyelir merasa, suasana ruangan menjadi sangat sepi. Anyelir menatap Ayu yang tengah fokus begitupun dengan Daniel dan Mike, sedangkan Della tengah sibuk dengan ponselnya.


“Kak Ayu, Kak Daniel, dan Kak Mike …” lirih Anyelir, namun masih didengar oleh Mike, Daniel dan juga Ayu.


“Aku minta maaf, karena mungkin kalian merasa aku sudah membohongi kalian,” raut wajah Anyelir berubah sendu, “tapi percayalah, aku tidak bermaksud begitu, ini semua sangat sulit aku jelaskan,” air mata mulai menggenang di pelupuk mata Anyelir, dia menundukkan wajahnya karena tidak mau mereka melihat air mata Anyelir yang hampir menetes.

__ADS_1


“Berada di posisi ku juga sulit waktu itu, bahkan sampai sekarang pun masih,” Anyelir terisak, padahal sudah sebisa mungkin dia menahannya, namun isakan dan air mata lolos begitu saja.


__ADS_2