Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Berkunjung


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Arman sudah harus bersiap untuk kembali bekerja. Sebenarnya, dia was-was meninggalkan Gita, karena takut bundanya akan datang saat dia tidak di rumah. Tapi, Gita meyakinkan, bahwa di apartement ada asisten rumah tangga, yang dipekerjakan oleh Dika, jadi Arman tidak perlu khawatir.


"Kamu hati-hati di jalan, semangat kerjanya, dan nggak perlu khawatir, aku akan di rumah aja kok," ucap Gita meyakinkan Arman, agar bisa bekerja dengan tenang.


Gita hendak menutup pintu apartementnya, setelah memastikan bahwa sang suami sudah benar-benar masuk lift, tapi seseorang menahan pintu itu.


"Ayah?" ucap Gita, saat dia melihat siapa orang yang sudah menahan pintunya.


"Terkejut?" tanya Agam.


"Kami datang untuk menjenguk kamu, Nak, bukan menagih hutang," ucap Rose, dia tahu kalau Gita sedang mebghindari mereka. Mau tidak mau Gita pun akhirnya membukakan pintu untuk Agam dan Rose.


'Setidaknya, Arman nggak di rumah, jadi kalaupunn Ayah membahas soal di rumah sakit, Arman nggak akan tahu,' batin Gita.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Rose, saat ini mereka sudah ada di ruang tamu, Gita meminta asistennya untuk menyiapan minuman dan camilan.


"Baik, Bu," jawab Gita singkat.


"Kami bersyukur kamu sudah kembali pulih, dan kami harap kandungan kamu juga selalu sehat," harap Agam. Gita hanya merespone sekenanya, nampak  sekali dia tidak menyambut Agam dan Rose dengan sepenuh hati.


"Kamu kenapa sih, nggak suka kami datang?" Agam menyadari bahwa Gita nampak tidak nyaman.


"Gita, kapan sih kamu bisa berubah. Kami tahu kok, kamu sebenarnya hanya sedang menghindari kamu, kan? Atas kejadian di rumah sakit itu, waktu kamu lembar Anyelir dengan bantal?" benar saja apa yang dipikirkan oleh Gita, ternyata benar Agam membahas soal kejadian di rumah sakit.


"Gita, harusnya kamu bersyukur, karena Anyelir masih bersikap baik ke kamu, dia masih mau membesuk kamu atas semua kejahatan yang kamu lakukan," ujar Agam.


"Kejahatan?" Gita sepertinya tidak terima sang ayah menyebutnya melakukan kejahatan.


"Iya, kejahatan. Dengan kamu mengancam Ibu Rose, untuk membenci Anyelir, dan kamu mengancam kalau sampai Rose berbuat baik kepada ANyelir, maka kamu akan mencelakainya, apa itu tidak jahat namanya?" terang Agam. GIta menatap Rose dengan dingin, seolah mengatakan bahwa dia marah, karena Rose sudah ingkar janji.


"Ayah tanya kenapa? Karena aku benci mereka," jawab Gita dengan menggebu.


"Wanita ini," Gita menunjuk Rose dengan tatapan benci. "Dia sudah hadir menjadi orang ketiga, dalam rumah tangga Ayah dan bunda, sampai akhirnya bunda meninggal," Gita begitu  pedih saat menyebut bundanya, dia tidak terima atas semua yang dilakukan oleh  Rose.


"Gita sabar, kamu sedang hamil," Rose mengingatkan.


"Nggak usah sok perduli, aku tahu pasti kamu ingin bayiku ini nggak lahir, supaya anak Anyelir yang mewarisi semua harta Ayah!" tuduh Gita, tapi Rose menggelengkan kepalanya.


"Buat apa Anyelir berharap warisan dari Ayah?" Agam angkat bicara, "sedangkan, harta suaminya jauh lebih banyak dari Ayah," lanjutnya.


"Kamu harus tahu Gita, semua yang kamu ketahui selama ini adalah salah. Kamu sudah salah sangka dengan selama ini," ujar Agam membuat Gita mengernyit heran.


"Maksudnya?" tanya Gita.


Agam mengeluarkan sesuatu, dan menunjukkan pada Gita. "Bacalah," titah Agam. Gita nampak ragu untuk mengambilnya, karena kertas itu sudah nampak usang. Tapi akhirnya Gita mengambilnya juga karena penasaran.


Perlahan, Gita membuka surat tersebut, dia tahu itu tulisan milik siapa, Gita sangat hapal. Bundanya, ya Gita yakin itu adalah tulisan tangan bundanya.


"Lewat surat ini, kamu akan tahu semuanya, soal rahasia yang kami simpan," ujar Agam membuat jantung Gita semakin berdebar.


Beberapa hari berlalu, Arman sudah harus bersiap untuk kembali bekerja. Sebenarnya, dia was-was meninggalkan Gita, karena takut bundanya akan datang saat dia tidak di rumah. Tapi, Gita meyakinkan, bahwa di apartement ada asisten rumah tangga, yang dipekerjakan oleh Dika, jadi Arman tidak perlu khawatir.


"Kamu hati-hati di jalan, semangat kerjanya, dan nggak perlu khawatir, aku akan di rumah aja kok," ucap Gita meyakinkan Arman, agar bisa bekerja dengan tenang.


Gita hendak menutup pintu apartementnya, setelah memastikan bahwa sang suami sudah benar-benar masuk lift, tapi seseorang menahan pintu itu.


"Ayah?" ucap Gita, saat dia melihat siapa orang yang sudah menahan pintunya.


"Terkejut?" tanya Agam.


"Kami datang untuk menjenguk kamu, Nak, bukan menagih hutang," ucap Rose, dia tahu kalau Gita sedang mebghindari mereka. Mau tidak mau Gita pun akhirnya membukakan pintu untuk Agam dan Rose.


'Setidaknya, Arman nggak di rumah, jadi kalaupunn Ayah membahas soal di rumah sakit, Arman nggak akan tahu,' batin Gita.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Rose, saat ini mereka sudah ada di ruang tamu, Gita meminta asistennya untuk menyiapan minuman dan camilan.

__ADS_1


"Baik, Bu," jawab Gita singkat.


"Kami bersyukur kamu sudah kembali pulih, dan kami harap kandungan kamu juga selalu sehat," harap Agam. Gita hanya merespone sekenanya, nampak  sekali dia tidak menyambut Agam dan Rose dengan sepenuh hati.


"Kamu kenapa sih, nggak suka kami datang?" Agam menyadari bahwa Gita nampak tidak nyaman.


"Gita, kapan sih kamu bisa berubah. Kami tahu kok, kamu sebenarnya hanya sedang menghindari kamu, kan? Atas kejadian di rumah sakit itu, waktu kamu lembar Anyelir dengan bantal?" benar saja apa yang dipikirkan oleh Gita, ternyata benar Agam membahas soal kejadian di rumah sakit.


"Gita, harusnya kamu bersyukur, karena Anyelir masih bersikap baik ke kamu, dia masih mau membesuk kamu atas semua kejahatan yang kamu lakukan," ujar Agam.


"Kejahatan?" Gita sepertinya tidak terima sang ayah menyebutnya melakukan kejahatan.


"Iya, kejahatan. Dengan kamu mengancam Ibu Rose, untuk membenci Anyelir, dan kamu mengancam kalau sampai Rose berbuat baik kepada ANyelir, maka kamu akan mencelakainya, apa itu tidak jahat namanya?" terang Agam. GIta menatap Rose dengan dingin, seolah mengatakan bahwa dia marah, karena Rose sudah ingkar janji.


"Ayah tanya kenapa? Karena aku benci mereka," jawab Gita dengan menggebu.


"Wanita ini," Gita menunjuk Rose dengan tatapan benci. "Dia sudah hadir menjadi orang ketiga, dalam rumah tangga Ayah dan bunda, sampai akhirnya bunda meninggal," Gita begitu  pedih saat menyebut bundanya, dia tidak terima atas semua yang dilakukan oleh  Rose.


"Gita sabar, kamu sedang hamil," Rose mengingatkan.


"Nggak usah sok perduli, aku tahu pasti kamu ingin bayiku ini nggak lahir, supaya anak Anyelir yang mewarisi semua harta Ayah!" tuduh Gita, tapi Rose menggelengkan kepalanya.


"Buat apa Anyelir berharap warisan dari Ayah?" Agam angkat bicara, "sedangkan, harta suaminya jauh lebih banyak dari Ayah," lanjutnya.


"Kamu harus tahu Gita, semua yang kamu ketahui selama ini adalah salah. Kamu sudah salah sangka dengan selama ini," ujar Agam membuat Gita mengernyit heran.


"Maksudnya?" tanya Gita.


Agam mengeluarkan sesuatu, dan menunjukkan pada Gita. "Bacalah," titah Agam. Gita nampak ragu untuk mengambilnya, karena kertas itu sudah nampak usang. Tapi akhirnya Gita mengambilnya juga karena penasaran.


Perlahan, Gita membuka surat tersebut, dia tahu itu tulisan milik siapa, Gita sangat hapal. Bundanya, ya Gita yakin itu adalah tulisan tangan bundanya.


"Lewat surat ini, kamu akan tahu semuanya, soal rahasia yang kami simpan," ujar Agam membuat jantung Gita semakin berdebar.


Beberapa hari berlalu, Arman sudah harus bersiap untuk kembali bekerja. Sebenarnya, dia was-was meninggalkan Gita, karena takut bundanya akan datang saat dia tidak di rumah. Tapi, Gita meyakinkan, bahwa di apartement ada asisten rumah tangga, yang dipekerjakan oleh Dika, jadi Arman tidak perlu khawatir.


"Kamu hati-hati di jalan, semangat kerjanya, dan nggak perlu khawatir, aku akan di rumah aja kok," ucap Gita meyakinkan Arman, agar bisa bekerja dengan tenang.


Gita hendak menutup pintu apartementnya, setelah memastikan bahwa sang suami sudah benar-benar masuk lift, tapi seseorang menahan pintu itu.


"Ayah?" ucap Gita, saat dia melihat siapa orang yang sudah menahan pintunya.


"Terkejut?" tanya Agam.


"Kami datang untuk menjenguk kamu, Nak, bukan menagih hutang," ucap Rose, dia tahu kalau Gita sedang mebghindari mereka. Mau tidak mau Gita pun akhirnya membukakan pintu untuk Agam dan Rose.


'Setidaknya, Arman nggak di rumah, jadi kalaupunn Ayah membahas soal di rumah sakit, Arman nggak akan tahu,' batin Gita.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Rose, saat ini mereka sudah ada di ruang tamu, Gita meminta asistennya untuk menyiapan minuman dan camilan.


"Baik, Bu," jawab Gita singkat.


"Kami bersyukur kamu sudah kembali pulih, dan kami harap kandungan kamu juga selalu sehat," harap Agam. Gita hanya merespone sekenanya, nampak  sekali dia tidak menyambut Agam dan Rose dengan sepenuh hati.


"Kamu kenapa sih, nggak suka kami datang?" Agam menyadari bahwa Gita nampak tidak nyaman.


"Gita, kapan sih kamu bisa berubah. Kami tahu kok, kamu sebenarnya hanya sedang menghindari kamu, kan? Atas kejadian di rumah sakit itu, waktu kamu lembar Anyelir dengan bantal?" benar saja apa yang dipikirkan oleh Gita, ternyata benar Agam membahas soal kejadian di rumah sakit.


"Gita, harusnya kamu bersyukur, karena Anyelir masih bersikap baik ke kamu, dia masih mau membesuk kamu atas semua kejahatan yang kamu lakukan," ujar Agam.


"Kejahatan?" Gita sepertinya tidak terima sang ayah menyebutnya melakukan kejahatan.


"Iya, kejahatan. Dengan kamu mengancam Ibu Rose, untuk membenci Anyelir, dan kamu mengancam kalau sampai Rose berbuat baik kepada ANyelir, maka kamu akan mencelakainya, apa itu tidak jahat namanya?" terang Agam. GIta menatap Rose dengan dingin, seolah mengatakan bahwa dia marah, karena Rose sudah ingkar janji.


"Ayah tanya kenapa? Karena aku benci mereka," jawab Gita dengan menggebu.

__ADS_1


"Wanita ini," Gita menunjuk Rose dengan tatapan benci. "Dia sudah hadir menjadi orang ketiga, dalam rumah tangga Ayah dan bunda, sampai akhirnya bunda meninggal," Gita begitu  pedih saat menyebut bundanya, dia tidak terima atas semua yang dilakukan oleh  Rose.


"Gita sabar, kamu sedang hamil," Rose mengingatkan.


"Nggak usah sok perduli, aku tahu pasti kamu ingin bayiku ini nggak lahir, supaya anak Anyelir yang mewarisi semua harta Ayah!" tuduh Gita, tapi Rose menggelengkan kepalanya.


"Buat apa Anyelir berharap warisan dari Ayah?" Agam angkat bicara, "sedangkan, harta suaminya jauh lebih banyak dari Ayah," lanjutnya.


"Kamu harus tahu Gita, semua yang kamu ketahui selama ini adalah salah. Kamu sudah salah sangka dengan selama ini," ujar Agam membuat Gita mengernyit heran.


"Maksudnya?" tanya Gita.


Agam mengeluarkan sesuatu, dan menunjukkan pada Gita. "Bacalah," titah Agam. Gita nampak ragu untuk mengambilnya, karena kertas itu sudah nampak usang. Tapi akhirnya Gita mengambilnya juga karena penasaran.


Perlahan, Gita membuka surat tersebut, dia tahu itu tulisan milik siapa, Gita sangat hapal. Bundanya, ya Gita yakin itu adalah tulisan tangan bundanya.


"Lewat surat ini, kamu akan tahu semuanya, soal rahasia yang kami simpan," ujar Agam membuat jantung Gita semakin berdebar.


Beberapa hari berlalu, Arman sudah harus bersiap untuk kembali bekerja. Sebenarnya, dia was-was meninggalkan Gita, karena takut bundanya akan datang saat dia tidak di rumah. Tapi, Gita meyakinkan, bahwa di apartement ada asisten rumah tangga, yang dipekerjakan oleh Dika, jadi Arman tidak perlu khawatir.


"Kamu hati-hati di jalan, semangat kerjanya, dan nggak perlu khawatir, aku akan di rumah aja kok," ucap Gita meyakinkan Arman, agar bisa bekerja dengan tenang.


Gita hendak menutup pintu apartementnya, setelah memastikan bahwa sang suami sudah benar-benar masuk lift, tapi seseorang menahan pintu itu.


"Ayah?" ucap Gita, saat dia melihat siapa orang yang sudah menahan pintunya.


"Terkejut?" tanya Agam.


"Kami datang untuk menjenguk kamu, Nak, bukan menagih hutang," ucap Rose, dia tahu kalau Gita sedang mebghindari mereka. Mau tidak mau Gita pun akhirnya membukakan pintu untuk Agam dan Rose.


'Setidaknya, Arman nggak di rumah, jadi kalaupunn Ayah membahas soal di rumah sakit, Arman nggak akan tahu,' batin Gita.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Rose, saat ini mereka sudah ada di ruang tamu, Gita meminta asistennya untuk menyiapan minuman dan camilan.


"Baik, Bu," jawab Gita singkat.


"Kami bersyukur kamu sudah kembali pulih, dan kami harap kandungan kamu juga selalu sehat," harap Agam. Gita hanya merespone sekenanya, nampak  sekali dia tidak menyambut Agam dan Rose dengan sepenuh hati.


"Kamu kenapa sih, nggak suka kami datang?" Agam menyadari bahwa Gita nampak tidak nyaman.


"Gita, kapan sih kamu bisa berubah. Kami tahu kok, kamu sebenarnya hanya sedang menghindari kamu, kan? Atas kejadian di rumah sakit itu, waktu kamu lembar Anyelir dengan bantal?" benar saja apa yang dipikirkan oleh Gita, ternyata benar Agam membahas soal kejadian di rumah sakit.


"Gita, harusnya kamu bersyukur, karena Anyelir masih bersikap baik ke kamu, dia masih mau membesuk kamu atas semua kejahatan yang kamu lakukan," ujar Agam.


"Kejahatan?" Gita sepertinya tidak terima sang ayah menyebutnya melakukan kejahatan.


"Iya, kejahatan. Dengan kamu mengancam Ibu Rose, untuk membenci Anyelir, dan kamu mengancam kalau sampai Rose berbuat baik kepada ANyelir, maka kamu akan mencelakainya, apa itu tidak jahat namanya?" terang Agam. GIta menatap Rose dengan dingin, seolah mengatakan bahwa dia marah, karena Rose sudah ingkar janji.


"Ayah tanya kenapa? Karena aku benci mereka," jawab Gita dengan menggebu.


"Wanita ini," Gita menunjuk Rose dengan tatapan benci. "Dia sudah hadir menjadi orang ketiga, dalam rumah tangga Ayah dan bunda, sampai akhirnya bunda meninggal," Gita begitu  pedih saat menyebut bundanya, dia tidak terima atas semua yang dilakukan oleh  Rose.


"Gita sabar, kamu sedang hamil," Rose mengingatkan.


"Nggak usah sok perduli, aku tahu pasti kamu ingin bayiku ini nggak lahir, supaya anak Anyelir yang mewarisi semua harta Ayah!" tuduh Gita, tapi Rose menggelengkan kepalanya.


"Buat apa Anyelir berharap warisan dari Ayah?" Agam angkat bicara, "sedangkan, harta suaminya jauh lebih banyak dari Ayah," lanjutnya.


"Kamu harus tahu Gita, semua yang kamu ketahui selama ini adalah salah. Kamu sudah salah sangka dengan selama ini," ujar Agam membuat Gita mengernyit heran.


"Maksudnya?" tanya Gita.


Agam mengeluarkan sesuatu, dan menunjukkan pada Gita. "Bacalah," titah Agam. Gita nampak ragu untuk mengambilnya, karena kertas itu sudah nampak usang. Tapi akhirnya Gita mengambilnya juga karena penasaran.


Perlahan, Gita membuka surat tersebut, dia tahu itu tulisan milik siapa, Gita sangat hapal. Bundanya, ya Gita yakin itu adalah tulisan tangan bundanya.

__ADS_1


"Lewat surat ini, kamu akan tahu semuanya, soal rahasia yang kami simpan," ujar Agam membuat jantung Gita semakin berdebar.


__ADS_2