
"Gimana kabar Ibu?" sekarang Anyelir dan Gita sudah ada di rumah sakit, mereka tengah berbincang dengan Rose yang sepertinya, keadaannya sudah jauh lebih baik.
"Ibu baik, kalian juga baik, kan?" tanya Rose kepada kedua putrinya. Rose sama sekali tidak membedakan antara anak kandung dan anak tirinya, baginya Gita juga adalah putrinya, titipan dari mendiang ibu Gita.
Kabar baik itu, tentu saja disambut dengan baik oleh Gita dan Anyelir. Mereka berdua sudah heboh membuat rencana untuk menyambut kepulangan ibu mereka.
-//-
Brakkk! Suara pintu yang didobrak dengan kasar oleh Devan, dia langsung menatap wajah si pelaku dengan tajam, sedangkan si pelaku nampak terkejut, namun tidak lama dia langsung merubah raut wajahnya menjadi biasa.
"Apa anda datang untuk menanyakan siapa yang menyuruh saya? Itu akan sia-sia, karena saya tidak akan mengatakannya," kata si pelaku dengan penuh percaya diri. Namun Devan justru tersenyum miring.
"Benarkah, meskipun aku menghadirkan wanita ini ke sini?" Devan menunjukkan foto wanita yang tengah hamil besar di rumah sakit. Benar saja, si pelaku nampak kaget, namun sebisa mungkin menutupinya.
"Aku tidak kenal," si pelaku langsung berujar demikian.
"Aku bahkan tidak menanyakan hal itu padamu." Devan semakin yakin, lelaki di hadapannya ini, ada kaitannya dengan wanita yang ada di foto.
"Tapi, baiklah jikau kau tidak mengenali wanita ini. Maka tidak akan masalah jika aku membawanya ke sini," ujar Devan.
"Felix, bawa bawa wanita itu ke tempat kita," titah Devan, dia bahkan hendak melangkah pergi meninggalkan si pelaku. Akan tetapi, saat Devan baru melangkahkan kakinya, si pelaku menahan Devan.
"Tuan tolong, jangan sentuh istri ku," pinta si pelaku dengan memohon. Cara Devan ternyata berhasil, dia hanya berbohong ingin melibatkan wanita hamil itu, karena Devan sendiri juga tidak akan tega.
"Sekarang katakan, apa Desi yang menyuruh mu?" tanya Devan.
"Aku janji, akan melindungi istri mu, apapun yang Desi janjikan, aku akan memberikan berkali-kali lipat," Devan memberikan penawaran yang tidak main-main, dia juga selalu menepati apa yang sudah dia katakan.
"Baiklah, Tuan. Saya akan jujur, tapi saya mohon, jaga istri saya, saya tidak mau istri dan calon anak saya celaka," dengan mengiba, si pelaku memohon kepada Devan.
"Aku tidka pernah mengkhianati janji ku, istriku juga sedang hamil, aku tahu apa yang kau rasakan," tatapan mata Devan berubah, dia tidak setajam tadi, karena dia yakin saat ini pelaku itu akan mengatakan semuanya kepada Devan, soal Desi dan apa maunya.
"Bu Desi memang meminta saya untuk mencelakai wanita bernama Gita," ucap si pelaku.
"Gita?" tanya Devan memastikan.
"Iya, katanya dia adalah menantunya yang saat ini sedang hamil, tapi bu Desi tidak mau memiliki menantu seperti dia, karena Gita adalah anak di luar nikah, dan tidak tahu siapa ayahnya," terang si pelaku.
"Tapi, saat itu saya melihat ada dua orang, GIta dan ibu mertua anda, saya sudah mengatakannya kepada bu Desi, tapi dia meminta saya untuk menabrak keduanya," lanjutnya, tangan Devan sudah terkepal dengan erat mendengar semua penjelasan itu.
"Gimana kabar Ibu?" sekarang Anyelir dan Gita sudah ada di rumah sakit, mereka tengah berbincang dengan Rose yang sepertinya, keadaannya sudah jauh lebih baik.
"Ibu baik, kalian juga baik, kan?" tanya Rose kepada kedua putrinya. Rose sama sekali tidak membedakan antara anak kandung dan anak tirinya, baginya Gita juga adalah putrinya, titipan dari mendiang ibu Gita.
Kabar baik itu, tentu saja disambut dengan baik oleh Gita dan Anyelir. Mereka berdua sudah heboh membuat rencana untuk menyambut kepulangan ibu mereka.
-//-
Brakkk! Suara pintu yang didobrak dengan kasar oleh Devan, dia langsung menatap wajah si pelaku dengan tajam, sedangkan si pelaku nampak terkejut, namun tidak lama dia langsung merubah raut wajahnya menjadi biasa.
"Apa anda datang untuk menanyakan siapa yang menyuruh saya? Itu akan sia-sia, karena saya tidak akan mengatakannya," kata si pelaku dengan penuh percaya diri. Namun Devan justru tersenyum miring.
__ADS_1
"Benarkah, meskipun aku menghadirkan wanita ini ke sini?" Devan menunjukkan foto wanita yang tengah hamil besar di rumah sakit. Benar saja, si pelaku nampak kaget, namun sebisa mungkin menutupinya.
"Aku tidak kenal," si pelaku langsung berujar demikian.
"Aku bahkan tidak menanyakan hal itu padamu." Devan semakin yakin, lelaki di hadapannya ini, ada kaitannya dengan wanita yang ada di foto.
"Tapi, baiklah jikau kau tidak mengenali wanita ini. Maka tidak akan masalah jika aku membawanya ke sini," ujar Devan.
"Felix, bawa bawa wanita itu ke tempat kita," titah Devan, dia bahkan hendak melangkah pergi meninggalkan si pelaku. Akan tetapi, saat Devan baru melangkahkan kakinya, si pelaku menahan Devan.
"Tuan tolong, jangan sentuh istri ku," pinta si pelaku dengan memohon. Cara Devan ternyata berhasil, dia hanya berbohong ingin melibatkan wanita hamil itu, karena Devan sendiri juga tidak akan tega.
"Sekarang katakan, apa Desi yang menyuruh mu?" tanya Devan.
"Aku janji, akan melindungi istri mu, apapun yang Desi janjikan, aku akan memberikan berkali-kali lipat," Devan memberikan penawaran yang tidak main-main, dia juga selalu menepati apa yang sudah dia katakan.
"Baiklah, Tuan. Saya akan jujur, tapi saya mohon, jaga istri saya, saya tidak mau istri dan calon anak saya celaka," dengan mengiba, si pelaku memohon kepada Devan.
"Aku tidka pernah mengkhianati janji ku, istriku juga sedang hamil, aku tahu apa yang kau rasakan," tatapan mata Devan berubah, dia tidak setajam tadi, karena dia yakin saat ini pelaku itu akan mengatakan semuanya kepada Devan, soal Desi dan apa maunya.
"Bu Desi memang meminta saya untuk mencelakai wanita bernama Gita," ucap si pelaku.
"Gita?" tanya Devan memastikan.
"Iya, katanya dia adalah menantunya yang saat ini sedang hamil, tapi bu Desi tidak mau memiliki menantu seperti dia, karena Gita adalah anak di luar nikah, dan tidak tahu siapa ayahnya," terang si pelaku.
"Tapi, saat itu saya melihat ada dua orang, GIta dan ibu mertua anda, saya sudah mengatakannya kepada bu Desi, tapi dia meminta saya untuk menabrak keduanya," lanjutnya, tangan Devan sudah terkepal dengan erat mendengar semua penjelasan itu.
"Gimana kabar Ibu?" sekarang Anyelir dan Gita sudah ada di rumah sakit, mereka tengah berbincang dengan Rose yang sepertinya, keadaannya sudah jauh lebih baik.
"Ibu baik, kalian juga baik, kan?" tanya Rose kepada kedua putrinya. Rose sama sekali tidak membedakan antara anak kandung dan anak tirinya, baginya Gita juga adalah putrinya, titipan dari mendiang ibu Gita.
Kabar baik itu, tentu saja disambut dengan baik oleh Gita dan Anyelir. Mereka berdua sudah heboh membuat rencana untuk menyambut kepulangan ibu mereka.
-//-
Brakkk! Suara pintu yang didobrak dengan kasar oleh Devan, dia langsung menatap wajah si pelaku dengan tajam, sedangkan si pelaku nampak terkejut, namun tidak lama dia langsung merubah raut wajahnya menjadi biasa.
"Apa anda datang untuk menanyakan siapa yang menyuruh saya? Itu akan sia-sia, karena saya tidak akan mengatakannya," kata si pelaku dengan penuh percaya diri. Namun Devan justru tersenyum miring.
"Benarkah, meskipun aku menghadirkan wanita ini ke sini?" Devan menunjukkan foto wanita yang tengah hamil besar di rumah sakit. Benar saja, si pelaku nampak kaget, namun sebisa mungkin menutupinya.
"Aku tidak kenal," si pelaku langsung berujar demikian.
"Aku bahkan tidak menanyakan hal itu padamu." Devan semakin yakin, lelaki di hadapannya ini, ada kaitannya dengan wanita yang ada di foto.
"Tapi, baiklah jikau kau tidak mengenali wanita ini. Maka tidak akan masalah jika aku membawanya ke sini," ujar Devan.
"Felix, bawa bawa wanita itu ke tempat kita," titah Devan, dia bahkan hendak melangkah pergi meninggalkan si pelaku. Akan tetapi, saat Devan baru melangkahkan kakinya, si pelaku menahan Devan.
"Tuan tolong, jangan sentuh istri ku," pinta si pelaku dengan memohon. Cara Devan ternyata berhasil, dia hanya berbohong ingin melibatkan wanita hamil itu, karena Devan sendiri juga tidak akan tega.
__ADS_1
"Sekarang katakan, apa Desi yang menyuruh mu?" tanya Devan.
"Aku janji, akan melindungi istri mu, apapun yang Desi janjikan, aku akan memberikan berkali-kali lipat," Devan memberikan penawaran yang tidak main-main, dia juga selalu menepati apa yang sudah dia katakan.
"Baiklah, Tuan. Saya akan jujur, tapi saya mohon, jaga istri saya, saya tidak mau istri dan calon anak saya celaka," dengan mengiba, si pelaku memohon kepada Devan.
"Aku tidka pernah mengkhianati janji ku, istriku juga sedang hamil, aku tahu apa yang kau rasakan," tatapan mata Devan berubah, dia tidak setajam tadi, karena dia yakin saat ini pelaku itu akan mengatakan semuanya kepada Devan, soal Desi dan apa maunya.
"Bu Desi memang meminta saya untuk mencelakai wanita bernama Gita," ucap si pelaku.
"Gita?" tanya Devan memastikan.
"Iya, katanya dia adalah menantunya yang saat ini sedang hamil, tapi bu Desi tidak mau memiliki menantu seperti dia, karena Gita adalah anak di luar nikah, dan tidak tahu siapa ayahnya," terang si pelaku.
"Tapi, saat itu saya melihat ada dua orang, GIta dan ibu mertua anda, saya sudah mengatakannya kepada bu Desi, tapi dia meminta saya untuk menabrak keduanya," lanjutnya, tangan Devan sudah terkepal dengan erat mendengar semua penjelasan itu.
"Gimana kabar Ibu?" sekarang Anyelir dan Gita sudah ada di rumah sakit, mereka tengah berbincang dengan Rose yang sepertinya, keadaannya sudah jauh lebih baik.
"Ibu baik, kalian juga baik, kan?" tanya Rose kepada kedua putrinya. Rose sama sekali tidak membedakan antara anak kandung dan anak tirinya, baginya Gita juga adalah putrinya, titipan dari mendiang ibu Gita.
Kabar baik itu, tentu saja disambut dengan baik oleh Gita dan Anyelir. Mereka berdua sudah heboh membuat rencana untuk menyambut kepulangan ibu mereka.
-//-
Brakkk! Suara pintu yang didobrak dengan kasar oleh Devan, dia langsung menatap wajah si pelaku dengan tajam, sedangkan si pelaku nampak terkejut, namun tidak lama dia langsung merubah raut wajahnya menjadi biasa.
"Apa anda datang untuk menanyakan siapa yang menyuruh saya? Itu akan sia-sia, karena saya tidak akan mengatakannya," kata si pelaku dengan penuh percaya diri. Namun Devan justru tersenyum miring.
"Benarkah, meskipun aku menghadirkan wanita ini ke sini?" Devan menunjukkan foto wanita yang tengah hamil besar di rumah sakit. Benar saja, si pelaku nampak kaget, namun sebisa mungkin menutupinya.
"Aku tidak kenal," si pelaku langsung berujar demikian.
"Aku bahkan tidak menanyakan hal itu padamu." Devan semakin yakin, lelaki di hadapannya ini, ada kaitannya dengan wanita yang ada di foto.
"Tapi, baiklah jikau kau tidak mengenali wanita ini. Maka tidak akan masalah jika aku membawanya ke sini," ujar Devan.
"Felix, bawa bawa wanita itu ke tempat kita," titah Devan, dia bahkan hendak melangkah pergi meninggalkan si pelaku. Akan tetapi, saat Devan baru melangkahkan kakinya, si pelaku menahan Devan.
"Tuan tolong, jangan sentuh istri ku," pinta si pelaku dengan memohon. Cara Devan ternyata berhasil, dia hanya berbohong ingin melibatkan wanita hamil itu, karena Devan sendiri juga tidak akan tega.
"Sekarang katakan, apa Desi yang menyuruh mu?" tanya Devan.
"Aku janji, akan melindungi istri mu, apapun yang Desi janjikan, aku akan memberikan berkali-kali lipat," Devan memberikan penawaran yang tidak main-main, dia juga selalu menepati apa yang sudah dia katakan.
"Baiklah, Tuan. Saya akan jujur, tapi saya mohon, jaga istri saya, saya tidak mau istri dan calon anak saya celaka," dengan mengiba, si pelaku memohon kepada Devan.
"Aku tidka pernah mengkhianati janji ku, istriku juga sedang hamil, aku tahu apa yang kau rasakan," tatapan mata Devan berubah, dia tidak setajam tadi, karena dia yakin saat ini pelaku itu akan mengatakan semuanya kepada Devan, soal Desi dan apa maunya.
"Bu Desi memang meminta saya untuk mencelakai wanita bernama Gita," ucap si pelaku.
"Gita?" tanya Devan memastikan.
__ADS_1
"Iya, katanya dia adalah menantunya yang saat ini sedang hamil, tapi bu Desi tidak mau memiliki menantu seperti dia, karena Gita adalah anak di luar nikah, dan tidak tahu siapa ayahnya," terang si pelaku.
"Tapi, saat itu saya melihat ada dua orang, GIta dan ibu mertua anda, saya sudah mengatakannya kepada bu Desi, tapi dia meminta saya untuk menabrak keduanya," lanjutnya, tangan Devan sudah terkepal dengan erat mendengar semua penjelasan itu.