Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Hubungan membaik


__ADS_3

Anyelir, Agam, dan Rose, kini tengah berbicang, mereka membahas soal kabar satu sama lain. Tidak lupa, Agam juga meminta maaf atas sikapnya jika terkesan tidak bisa adil antara  Gita dan Anyelir. Tapi, Anyelir menyadari, dia berkata bahwa dirinya yang tidak bisa memahami situasi dan kondisi kedua orang tuanya.


"Lalu, apa kak Gita sudah pulang, Yah?" tanya Anyelir.


"Kamu sabar ya, rencananya kami akan buka semua rahasia kami setelah kandungan Gita sudah benar-benar baik," Rose mencoba meyakinkan Anyelir, bahwa kali ini, janjinya benar-benar akan terlaksana.


"Iya, Ibu sama Ayah tenang aja, Anyelir mengerti kok, kak Gita saat ini nggak boleh banyak pikiran. Biar bagaimanapun kesehatan kak Gita adalah yang utama," Anyelir mulai mengerti dan sabar akan semuanya. Hanya saja, dia juga belum mau bertemu dengan Gita, karena takut kejadian seperti di rumah sakit akan kembali terjadi. Anyelir tahu, Gita sangat membencinya dan tidak mau melihat Anyelir bahagia.


Agam dan Rose lebih lega sekarang, karena sudah bertemu dengan putri mereka, dan menjelaskan secara langsung, permasalahan mereka juga sudah selesai. Hanya saja, permasalahan dengan Gita memang belum selesai, Rose dan Agam tahu bahwa Gita saat ini sedang menghindar, setelah kejadian di rumah sakit, Gita menyerang Anyelir. Yang pasti Gita takut, jika Rose dan Agam datang berkunjung, Gita tahu pasti mereka akan membahas soal perlakuan Gita, dan akan terdnegar di telinga Arman.


"Apa, tante Desi belum bisa terima kak Gita, Bu?" tanya Anyelir.


"Iya, Nak, bahkan Ibu dengar semalam bu Desi datang ke rumah sakit dan membuat kekacauan," tutur Rose, dia tahu dari Arman, tadi pagi Arman memberitahukan soal kepulangan Gita. Dan Arman juga meminta maaf karena Gita tidak mau diganggu.


"Kasihan kak Gita, dia pasti tertekan," Anyelir merasa iba dengan keadaan Gita.


"Iya, sikap Desi berubah semenjak Gita melakukan kesalahan, dan hampir membuat rumah sakit di buat kacau gara-gara Gita berurusan dengan Devan," jelas Rose.


"Semoga,  bu Desi masih bisa memberikan maaf untuk kak Gita, dan semoga kak Gita mau berubah ya, Bu. Apalagi, kak Gita juga mau jadi ibu, kan?" harap Anyelir, itu juga menjadi harapan Rose juga Agam tentunya.


-//-


"Arman!" brak ... brak !!! suara pintu yang digedor dengan cukup keras.


"Arman!" Desi, masih belum menyerah, dia terus memanggil nama putranya.


"Sayang, bunda dateng ya?" Gita, yang memang mendengar suara keributan Desi, merasa kesal, tapi sebisa mungkin dia menyembunyikannya.


"Iya, mungkin bunda mau ketemu sama aku," jawab Arman.


"Kamu mau nemuin bunda?" tanya Gita dengan heran.


"Iya sayang, kalau enggak bunda bakal manggil aku terus, aku malu sama tetangga apartement kita," Arman mau tidak mau harus menemui Desi, karena jika tidak maka suara Desi akan mengganggu penghuni apartement lain.

__ADS_1


"Ya udah, kamu hati-hati," pesan Gita, dia memilih untuk masuk ke dalam kamar, karena takut nanti Desi menerobos masuk dan membahayakan Gita serta kandungannya.


"Arman!" seru Desi, dia hendak kembali mengetuk pintu Arman, tapi diurungkan, karena pintu terbuka.


"Apa sih, Bun?" Arman dengan kesal membuka pintu, benar saja, saat dia membuka pintu, beberapa tetangga apartementnya keluar dan menatap sinis ke arah Desi.


"Bunda mau ketemu istri kamu," jawab Desi, dia hendak menerobos masuk, tapi dihadang oleh Arman.


"Nggak bisa, Bun. Gita sedang istirahat," tolak Arman mentah-mentah.


"Bunda harus buktikan, bahwa apa yang Bunda katakan itu benar," Desi masih bersikeras soal ucapannya. Arman semakin tidak enak karena Desi yang tidak bisa menurunkan nada bicaranya, akhirnya dia pun membawa Desi ke suatu tempat, yaitu restaurant yang ada di dekat apartement. Desi awalnya menolak, karena dia ingin melabrak sang menantu, tapi Arman terus menghadang.


"Kenapa sih, Bunda keras kepala. Arman yakin, kalau Ayah pasti sudah memberikan Bunda peringatan," Arman tahu, ayahnya juga sangat menantikan cucu, dan sangat hati-hati dengan Gita, karena tahu wanita hamil itu sangat sensitif. Jadi, jika Desi terus menerus menggangu Gita, pasti ayahnya akan sangat marah.


Desi hanya mendengus kesal. "Kamu jangan terus menerus melindungi wanita itu, Bunda mau kamu tinggalin dia. Dia itu mau menghancurkan keluarga kita, Arman," ujar Desi, mencoba membuat Arman percaya.


"Bun, aku capek Bunda terus menerus meminta aku meninggalkan Gita, bukankah aku sudah bilang, bahwa aku nggak bisa, karena aku sangat mencintai Gita," dengan penuh penekanan, Arman mencoba menjelaskaan kepada bundanya, yang entah apakah bundanya akan mendengarkan Arman atau tidak.


Anyelir, Agam, dan Rose, kini tengah berbicang, mereka membahas soal kabar satu sama lain. Tidak lupa, Agam juga meminta maaf atas sikapnya jika terkesan tidak bisa adil antara  Gita dan Anyelir. Tapi, Anyelir menyadari, dia berkata bahwa dirinya yang tidak bisa memahami situasi dan kondisi kedua orang tuanya.


"Lalu, apa kak Gita sudah pulang, Yah?" tanya Anyelir.


"Kamu sabar ya, rencananya kami akan buka semua rahasia kami setelah kandungan Gita sudah benar-benar baik," Rose mencoba meyakinkan Anyelir, bahwa kali ini, janjinya benar-benar akan terlaksana.


"Iya, Ibu sama Ayah tenang aja, Anyelir mengerti kok, kak Gita saat ini nggak boleh banyak pikiran. Biar bagaimanapun kesehatan kak Gita adalah yang utama," Anyelir mulai mengerti dan sabar akan semuanya. Hanya saja, dia juga belum mau bertemu dengan Gita, karena takut kejadian seperti di rumah sakit akan kembali terjadi. Anyelir tahu, Gita sangat membencinya dan tidak mau melihat Anyelir bahagia.


Agam dan Rose lebih lega sekarang, karena sudah bertemu dengan putri mereka, dan menjelaskan secara langsung, permasalahan mereka juga sudah selesai. Hanya saja, permasalahan dengan Gita memang belum selesai, Rose dan Agam tahu bahwa Gita saat ini sedang menghindar, setelah kejadian di rumah sakit, Gita menyerang Anyelir. Yang pasti Gita takut, jika Rose dan Agam datang berkunjung, Gita tahu pasti mereka akan membahas soal perlakuan Gita, dan akan terdnegar di telinga Arman.


"Apa, tante Desi belum bisa terima kak Gita, Bu?" tanya Anyelir.


"Iya, Nak, bahkan Ibu dengar semalam bu Desi datang ke rumah sakit dan membuat kekacauan," tutur Rose, dia tahu dari Arman, tadi pagi Arman memberitahukan soal kepulangan Gita. Dan Arman juga meminta maaf karena Gita tidak mau diganggu.


"Kasihan kak Gita, dia pasti tertekan," Anyelir merasa iba dengan keadaan Gita.

__ADS_1


"Iya, sikap Desi berubah semenjak Gita melakukan kesalahan, dan hampir membuat rumah sakit di buat kacau gara-gara Gita berurusan dengan Devan," jelas Rose.


"Semoga,  bu Desi masih bisa memberikan maaf untuk kak Gita, dan semoga kak Gita mau berubah ya, Bu. Apalagi, kak Gita juga mau jadi ibu, kan?" harap Anyelir, itu juga menjadi harapan Rose juga Agam tentunya.


-//-


"Arman!" brak ... brak !!! suara pintu yang digedor dengan cukup keras.


"Arman!" Desi, masih belum menyerah, dia terus memanggil nama putranya.


"Sayang, bunda dateng ya?" Gita, yang memang mendengar suara keributan Desi, merasa kesal, tapi sebisa mungkin dia menyembunyikannya.


"Iya, mungkin bunda mau ketemu sama aku," jawab Arman.


"Kamu mau nemuin bunda?" tanya Gita dengan heran.


"Iya sayang, kalau enggak bunda bakal manggil aku terus, aku malu sama tetangga apartement kita," Arman mau tidak mau harus menemui Desi, karena jika tidak maka suara Desi akan mengganggu penghuni apartement lain.


"Ya udah, kamu hati-hati," pesan Gita, dia memilih untuk masuk ke dalam kamar, karena takut nanti Desi menerobos masuk dan membahayakan Gita serta kandungannya.


"Arman!" seru Desi, dia hendak kembali mengetuk pintu Arman, tapi diurungkan, karena pintu terbuka.


"Apa sih, Bun?" Arman dengan kesal membuka pintu, benar saja, saat dia membuka pintu, beberapa tetangga apartementnya keluar dan menatap sinis ke arah Desi.


"Bunda mau ketemu istri kamu," jawab Desi, dia hendak menerobos masuk, tapi dihadang oleh Arman.


"Nggak bisa, Bun. Gita sedang istirahat," tolak Arman mentah-mentah.


"Bunda harus buktikan, bahwa apa yang Bunda katakan itu benar," Desi masih bersikeras soal ucapannya. Arman semakin tidak enak karena Desi yang tidak bisa menurunkan nada bicaranya, akhirnya dia pun membawa Desi ke suatu tempat, yaitu restaurant yang ada di dekat apartement. Desi awalnya menolak, karena dia ingin melabrak sang menantu, tapi Arman terus menghadang.


"Kenapa sih, Bunda keras kepala. Arman yakin, kalau Ayah pasti sudah memberikan Bunda peringatan," Arman tahu, ayahnya juga sangat menantikan cucu, dan sangat hati-hati dengan Gita, karena tahu wanita hamil itu sangat sensitif. Jadi, jika Desi terus menerus menggangu Gita, pasti ayahnya akan sangat marah.


Desi hanya mendengus kesal. "Kamu jangan terus menerus melindungi wanita itu, Bunda mau kamu tinggalin dia. Dia itu mau menghancurkan keluarga kita, Arman," ujar Desi, mencoba membuat Arman percaya.

__ADS_1


"Bun, aku capek Bunda terus menerus meminta aku meninggalkan Gita, bukankah aku sudah bilang, bahwa aku nggak bisa, karena aku sangat mencintai Gita," dengan penuh penekanan, Arman mencoba menjelaskaan kepada bundanya, yang entah apakah bundanya akan mendengarkan Arman atau tidak.


__ADS_2