
Setelah pengumuman yang Devan sebarkan, dan ada beberapa Karyawan yang bisa segera datang. Devan sudah menyiapkan hadiah masing-masing 2 juta rupiah, itu adalah tanda apresiasi untuk karyawannya yang sudah mau membantunya, apalagi datang disaat mereka seharusnya tengah beristirahat. Setelah mendapatkan donor darah, keadaan Rose dinyatakan mulai membaik karena melewati masa kritisnya. Bahkan sekarang, Rose sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP.
"Nak, sebaiknya kalian pulang, ini sudah malam, dan kalian pasti lelah," saran Agam kepada kedua putrinya.
"Enggak Yah, aku mau temenin Ayah," tolak Anyelir.
"Jangan, Nak. Kalian ini sedang hamil, Ayah nggak mau tejadi sesuatu pada kalian, sebaiknya sekarang kalian pulang," titah Agam.
"Sayang, apa yang Ayah bilang benar, kamu harus banyak istirahat. Nanti, akan ada 3 anak buah ku, yang berjaga di sini, dan menemani Ayah, jadi nanti kalau Ayah butuh sesuatu bisa minta tolong sama mereka," ucap Devan, dia tahu apa yang membuat Anyelir tidak bisa meninggalkan Agam sendirian, Anyelir pasti berpikir bagaimana nanti jika ayahnya butuh sesuatu dan hanya sendirian, namun Devan sudah menyiapkan 3 anak buah yang akan ikut berjaga menemani Agam. Bahkan Devan sudah menyediakan selimut baru untuk Agam, supaya nanti Agam bisa beristirahat juga.
Akhirnya setelah dibujuk oleh suami masing-masing, Anyelir dan Gita pun mau pulang, apalagi mereka melihat, kebutuhan Agam sudah terpenuhi dan Agam juga bisa istirahat dengan nyaman di dalam. 3 anak buah, juga akan selalu siap siaga membantu Agam.
"Arman," panggil Devan setelah Anyelir dan Gita masuk mobil masing-masing.
"Iya, ada apa?" tanya Arman.
"Kamu punya musuh?" tanya Devan tiba-tiba, membuat Arman mengerutkan keningnya heran.
"Enggak, emangnya kenapa?" tanya Arman.
"Kecelakaan yang terjadi, sepertinya memang sudah direncanakan, dan bisa jadi ini karena dendam," ungkap Devan, Arman nampak terkejut dengan apa yang diatakan oleh Devan, tapi dia merasa tidak punya musuh sama sekali.
"Kamu bisa pikirkan lagi nanti, yang jelas hanya itu informasi yang bisa aku sampaikan, hati-hati di jalan," ujar Devan, sebelum masuk mobil, Devan berpesan supaya Arman tidak menceritakan apapun kepada Gita, karena takut nanti Gita akan kepikiran dan berakibat pada kehamilannya, jadi sebisa mungkin Devan mencoba bersikap biasa aja.
"Enggak, Devan cuman berpesan supaya kamu nggak terlalu memikirkan kejadian tadi, yang penting banyak berdoa untuk kesembuhan ibu," jawab Arman, dia hanya bisa menjawab dengan alasan itu, dan yakin kalau Gita pasti akan percaya.
Anyelir juga tidak jauh dari Gita, dia juga bertanya apa yang Devan bicarakan. Tapi, Devan memberikan jawaban bahwa dia berpesan supaya Arman bisa mengingatkan Gita, supaya tidak terlalu berlarut-larut, dan tidak memikirkan yang baru saja terjadi.
"Kalau kamu mengantuk, kamu tidur aja ya sayang," ucap Devan, karena ini sudah larut malam, dan biasanya Anyelir sudah tidur, Devan yakin kalau Anyelir pasti mengantuk.
"Iya, sayang," jawab Anyelir. Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah sakit.
-//-
Devan memeriksan Nadine yang sudah tertidur lelap di atas ranjang, saat ini mereka sudah sampai di rumah, dan benar saja, setelah Nadine membersihkan make up nya, dia langsung merasa ngantuk dan tidak lama tertidur, Devan duduk di sofa yang ada di kamarnya dan membaca pesan yang dikirim oleh Felix.
'Plat mobil palsu?' batin Devan.
__ADS_1
Setelah pengumuman yang Devan sebarkan, dan ada beberapa Karyawan yang bisa segera datang. Devan sudah menyiapkan hadiah masing-masing 2 juta rupiah, itu adalah tanda apresiasi untuk karyawannya yang sudah mau membantunya, apalagi datang disaat mereka seharusnya tengah beristirahat. Setelah mendapatkan donor darah, keadaan Rose dinyatakan mulai membaik karena melewati masa kritisnya. Bahkan sekarang, Rose sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP.
"Nak, sebaiknya kalian pulang, ini sudah malam, dan kalian pasti lelah," saran Agam kepada kedua putrinya.
"Enggak Yah, aku mau temenin Ayah," tolak Anyelir.
"Jangan, Nak. Kalian ini sedang hamil, Ayah nggak mau tejadi sesuatu pada kalian, sebaiknya sekarang kalian pulang," titah Agam.
"Sayang, apa yang Ayah bilang benar, kamu harus banyak istirahat. Nanti, akan ada 3 anak buah ku, yang berjaga di sini, dan menemani Ayah, jadi nanti kalau Ayah butuh sesuatu bisa minta tolong sama mereka," ucap Devan, dia tahu apa yang membuat Anyelir tidak bisa meninggalkan Agam sendirian, Anyelir pasti berpikir bagaimana nanti jika ayahnya butuh sesuatu dan hanya sendirian, namun Devan sudah menyiapkan 3 anak buah yang akan ikut berjaga menemani Agam. Bahkan Devan sudah menyediakan selimut baru untuk Agam, supaya nanti Agam bisa beristirahat juga.
Akhirnya setelah dibujuk oleh suami masing-masing, Anyelir dan Gita pun mau pulang, apalagi mereka melihat, kebutuhan Agam sudah terpenuhi dan Agam juga bisa istirahat dengan nyaman di dalam. 3 anak buah, juga akan selalu siap siaga membantu Agam.
"Arman," panggil Devan setelah Anyelir dan Gita masuk mobil masing-masing.
"Iya, ada apa?" tanya Arman.
"Kamu punya musuh?" tanya Devan tiba-tiba, membuat Arman mengerutkan keningnya heran.
"Enggak, emangnya kenapa?" tanya Arman.
"Kecelakaan yang terjadi, sepertinya memang sudah direncanakan, dan bisa jadi ini karena dendam," ungkap Devan, Arman nampak terkejut dengan apa yang diatakan oleh Devan, tapi dia merasa tidak punya musuh sama sekali.
"Kamu bisa pikirkan lagi nanti, yang jelas hanya itu informasi yang bisa aku sampaikan, hati-hati di jalan," ujar Devan, sebelum masuk mobil, Devan berpesan supaya Arman tidak menceritakan apapun kepada Gita, karena takut nanti Gita akan kepikiran dan berakibat pada kehamilannya, jadi sebisa mungkin Devan mencoba bersikap biasa aja.
"Enggak, Devan cuman berpesan supaya kamu nggak terlalu memikirkan kejadian tadi, yang penting banyak berdoa untuk kesembuhan ibu," jawab Arman, dia hanya bisa menjawab dengan alasan itu, dan yakin kalau Gita pasti akan percaya.
Anyelir juga tidak jauh dari Gita, dia juga bertanya apa yang Devan bicarakan. Tapi, Devan memberikan jawaban bahwa dia berpesan supaya Arman bisa mengingatkan Gita, supaya tidak terlalu berlarut-larut, dan tidak memikirkan yang baru saja terjadi.
"Kalau kamu mengantuk, kamu tidur aja ya sayang," ucap Devan, karena ini sudah larut malam, dan biasanya Anyelir sudah tidur, Devan yakin kalau Anyelir pasti mengantuk.
"Iya, sayang," jawab Anyelir. Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah sakit.
-//-
Devan memeriksan Nadine yang sudah tertidur lelap di atas ranjang, saat ini mereka sudah sampai di rumah, dan benar saja, setelah Nadine membersihkan make up nya, dia langsung merasa ngantuk dan tidak lama tertidur, Devan duduk di sofa yang ada di kamarnya dan membaca pesan yang dikirim oleh Felix.
'Plat mobil palsu?' batin Devan.
__ADS_1
Setelah pengumuman yang Devan sebarkan, dan ada beberapa Karyawan yang bisa segera datang. Devan sudah menyiapkan hadiah masing-masing 2 juta rupiah, itu adalah tanda apresiasi untuk karyawannya yang sudah mau membantunya, apalagi datang disaat mereka seharusnya tengah beristirahat. Setelah mendapatkan donor darah, keadaan Rose dinyatakan mulai membaik karena melewati masa kritisnya. Bahkan sekarang, Rose sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP.
"Nak, sebaiknya kalian pulang, ini sudah malam, dan kalian pasti lelah," saran Agam kepada kedua putrinya.
"Enggak Yah, aku mau temenin Ayah," tolak Anyelir.
"Jangan, Nak. Kalian ini sedang hamil, Ayah nggak mau tejadi sesuatu pada kalian, sebaiknya sekarang kalian pulang," titah Agam.
"Sayang, apa yang Ayah bilang benar, kamu harus banyak istirahat. Nanti, akan ada 3 anak buah ku, yang berjaga di sini, dan menemani Ayah, jadi nanti kalau Ayah butuh sesuatu bisa minta tolong sama mereka," ucap Devan, dia tahu apa yang membuat Anyelir tidak bisa meninggalkan Agam sendirian, Anyelir pasti berpikir bagaimana nanti jika ayahnya butuh sesuatu dan hanya sendirian, namun Devan sudah menyiapkan 3 anak buah yang akan ikut berjaga menemani Agam. Bahkan Devan sudah menyediakan selimut baru untuk Agam, supaya nanti Agam bisa beristirahat juga.
Akhirnya setelah dibujuk oleh suami masing-masing, Anyelir dan Gita pun mau pulang, apalagi mereka melihat, kebutuhan Agam sudah terpenuhi dan Agam juga bisa istirahat dengan nyaman di dalam. 3 anak buah, juga akan selalu siap siaga membantu Agam.
"Arman," panggil Devan setelah Anyelir dan Gita masuk mobil masing-masing.
"Iya, ada apa?" tanya Arman.
"Kamu punya musuh?" tanya Devan tiba-tiba, membuat Arman mengerutkan keningnya heran.
"Enggak, emangnya kenapa?" tanya Arman.
"Kecelakaan yang terjadi, sepertinya memang sudah direncanakan, dan bisa jadi ini karena dendam," ungkap Devan, Arman nampak terkejut dengan apa yang diatakan oleh Devan, tapi dia merasa tidak punya musuh sama sekali.
"Kamu bisa pikirkan lagi nanti, yang jelas hanya itu informasi yang bisa aku sampaikan, hati-hati di jalan," ujar Devan, sebelum masuk mobil, Devan berpesan supaya Arman tidak menceritakan apapun kepada Gita, karena takut nanti Gita akan kepikiran dan berakibat pada kehamilannya, jadi sebisa mungkin Devan mencoba bersikap biasa aja.
"Enggak, Devan cuman berpesan supaya kamu nggak terlalu memikirkan kejadian tadi, yang penting banyak berdoa untuk kesembuhan ibu," jawab Arman, dia hanya bisa menjawab dengan alasan itu, dan yakin kalau Gita pasti akan percaya.
Anyelir juga tidak jauh dari Gita, dia juga bertanya apa yang Devan bicarakan. Tapi, Devan memberikan jawaban bahwa dia berpesan supaya Arman bisa mengingatkan Gita, supaya tidak terlalu berlarut-larut, dan tidak memikirkan yang baru saja terjadi.
"Kalau kamu mengantuk, kamu tidur aja ya sayang," ucap Devan, karena ini sudah larut malam, dan biasanya Anyelir sudah tidur, Devan yakin kalau Anyelir pasti mengantuk.
"Iya, sayang," jawab Anyelir. Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah sakit.
-//-
Devan memeriksan Nadine yang sudah tertidur lelap di atas ranjang, saat ini mereka sudah sampai di rumah, dan benar saja, setelah Nadine membersihkan make up nya, dia langsung merasa ngantuk dan tidak lama tertidur, Devan duduk di sofa yang ada di kamarnya dan membaca pesan yang dikirim oleh Felix.
'Plat mobil palsu?' batin Devan.
__ADS_1