Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Memberitahukan


__ADS_3

Gita terus mendesak Arman untuk jujur dengannya. Bukan tidak percaya, hanya saja Gita khawatir kalau Arman tengah memikirkan masalah yang rumit, Gita mau Arman berbagi dengannya, supaya  Gita juga bisa memberikan pendapatnya.


"Sayang, aku serius, aku nggak apa-apa kok, aku cuman lagi banyak pikiran pekerjaan aja," elak Arman, dia tidak mau kehamilan Gita terganggu karena memikirkan masalah ini. Bagi Arman, Gita dan calon buah hatinya adalah segalanya sekarang.


"Aku yang beruntung karena memiliki kamu, lelaki yang masih mau menerima aku, padahal kamu tahu aku buka8n wanita yang baik, tapi kamu mau bertahan sama aku. Makasih ya, untuk kesabaran kamu selama ini," Gita terharu, karena dia masih diberia kesempatan untuk menikmati indahnya hidup, padahal selama ini dia sudah banyak berbuat jahat.


'Maafkan aku sayang, bukan maksud aku untuk membohongi kamu, tapi ini semua demi kebaikan kamiu,' batin Arman.


-//-


Pagi ini, kediaman Rose sudah mulai terlihat sibuk, beberapa pelayan mulai mempersiapkan bahan makanan yang akan mereka masak, sedangkan Anyelir dan Gita saat ini tengah bersama dengan suami mereka, menjemput Rose.


"Gimana Bu, kangen nggak sama rumah?" tanya Gita kepada Rose.


"Kangen sekali, Ibu kangen masakan rumah, Ibu bosen makanan di rumah sakit," keluh Rose.


"Tapi nanti di rumah Ibu harus tetap menjaga konsumsi makanan Ibu," saran Arman.


"Iya deh, Dokter Arman," canda Rose.


"Bu, ibu Mayang titip salam, maaf nggak bisa ikut jemput Ibu, soalnya Ibu Mayang masih ada di perjalanan, nanti malam mau datang untuk makan malam sama kita," terang Anyelir.


"Waalaikumsama, sampaikan rasa terimakasih Ibu ya, kemarin Ibu suka sekali dengan kue buatan bu Mayang," ujar Rose.


Setibanya di rumah, Rose langsung diantarkan ke kamarnya, sedangkan Devan justru berbicara dengan Arman dan Agam.


"Kak, mereka lagi bicara apa?" tanya Anyelir. Saat ini Gita dan Anyelir ada di balkon yang mengarah pada gazebo, bisa mereka lihat saat ini Devan, Arman dan Agam tengah berbincang cukup serius.


"Nggak tahu, memang Devan nggak ngomong apapun ke kamu?" tanya Gita, dan Anyelir hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku justru lagi heran sama Arman, jelas banget aku lihat dia seperti memikirkan sesuatu, tapi dia nggak mau jujur. Dia beralasan kalau dia hanya sedang memikirkan pekerjaan," tutur Gita.


"Mungkin, Arman nggak mau bikin Kakak kepikiran," pikir Anyelir.


"Iya sih, semenjak hamil Arman jauh lebih possesive," ucap Gita.

__ADS_1


-//-


Saat ini, Devan sudah mengumpulkan iparnya dan juga sang ayah mertua. Devan merasa, Arman harus tahu soal kejahatan yang sudah dilakukan oleh ibunya.


"Ada hal penting apa, yang ingin Nak Devan bicarakan?" tanya Agam.


"Ini soal pelaku yang sudah mencelakai ibu, Yah." jawab Devan dengan hati-hati.


"Kamu sudah menemukan pelakunya?" tanya Arman tidak sabar.


"Sudah, dan aku sudah mengumpulkan semua buktinya," jawab Devan. Devan mengeluarkan sebuah map yang memang sudah dibawanya, map itu berisi bukti percakapan antara Desi dengan Adi.


"Ini?" Arman terkejut melihat nomor ponsel milik ibunya tertera di sana.


"Iya, pelaku utamanya adalah ibu kamu Arman, dia sebenarnya mengincar Gita. Ibu kamu sudah gelap mata, dia tidak perduli ada siapaya di dalam perut istri kamu," terang Devan. Arman begitu syok mengetahui semua kejahatan ibunya, Arman merasa ngeri dengan sibunya, dia tidak menyangka ibunya bisa begitu tega ingin melenyapkan Gita dan calon cucunya sendiri.


"Aku harus menemui bunda." Arman hampir beranjak dari tempat duduknya, tapi langsung ditahan oleh Devan dan Felix. Agam juga ikut menenangkan Arman.


"Arman, aku tahu kamu kecewa, tapi apa kamu tidak bisa menghargai aku dan orang-orang ku, yang sudah mencarikan bukti ini? Kalau kamu gegabah, maka semua rencana yang sudah aku buat akan gagal," Devan mencoba meminta Arman untuk bersabar. Devan tahu, pasti saat ini, Arman tengah diselimuti oleh emosi.


Gita terus mendesak Arman untuk jujur dengannya. Bukan tidak percaya, hanya saja Gita khawatir kalau Arman tengah memikirkan masalah yang rumit, Gita mau Arman berbagi dengannya, supaya  Gita juga bisa memberikan pendapatnya.


"Sayang, aku serius, aku nggak apa-apa kok, aku cuman lagi banyak pikiran pekerjaan aja," elak Arman, dia tidak mau kehamilan Gita terganggu karena memikirkan masalah ini. Bagi Arman, Gita dan calon buah hatinya adalah segalanya sekarang.


"Aku yang beruntung karena memiliki kamu, lelaki yang masih mau menerima aku, padahal kamu tahu aku buka8n wanita yang baik, tapi kamu mau bertahan sama aku. Makasih ya, untuk kesabaran kamu selama ini," Gita terharu, karena dia masih diberia kesempatan untuk menikmati indahnya hidup, padahal selama ini dia sudah banyak berbuat jahat.


'Maafkan aku sayang, bukan maksud aku untuk membohongi kamu, tapi ini semua demi kebaikan kamiu,' batin Arman.


-//-


Pagi ini, kediaman Rose sudah mulai terlihat sibuk, beberapa pelayan mulai mempersiapkan bahan makanan yang akan mereka masak, sedangkan Anyelir dan Gita saat ini tengah bersama dengan suami mereka, menjemput Rose.


"Gimana Bu, kangen nggak sama rumah?" tanya Gita kepada Rose.


"Kangen sekali, Ibu kangen masakan rumah, Ibu bosen makanan di rumah sakit," keluh Rose.

__ADS_1


"Tapi nanti di rumah Ibu harus tetap menjaga konsumsi makanan Ibu," saran Arman.


"Iya deh, Dokter Arman," canda Rose.


"Bu, ibu Mayang titip salam, maaf nggak bisa ikut jemput Ibu, soalnya Ibu Mayang masih ada di perjalanan, nanti malam mau datang untuk makan malam sama kita," terang Anyelir.


"Waalaikumsama, sampaikan rasa terimakasih Ibu ya, kemarin Ibu suka sekali dengan kue buatan bu Mayang," ujar Rose.


Setibanya di rumah, Rose langsung diantarkan ke kamarnya, sedangkan Devan justru berbicara dengan Arman dan Agam.


"Kak, mereka lagi bicara apa?" tanya Anyelir. Saat ini Gita dan Anyelir ada di balkon yang mengarah pada gazebo, bisa mereka lihat saat ini Devan, Arman dan Agam tengah berbincang cukup serius.


"Nggak tahu, memang Devan nggak ngomong apapun ke kamu?" tanya Gita, dan Anyelir hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku justru lagi heran sama Arman, jelas banget aku lihat dia seperti memikirkan sesuatu, tapi dia nggak mau jujur. Dia beralasan kalau dia hanya sedang memikirkan pekerjaan," tutur Gita.


"Mungkin, Arman nggak mau bikin Kakak kepikiran," pikir Anyelir.


"Iya sih, semenjak hamil Arman jauh lebih possesive," ucap Gita.


-//-


Saat ini, Devan sudah mengumpulkan iparnya dan juga sang ayah mertua. Devan merasa, Arman harus tahu soal kejahatan yang sudah dilakukan oleh ibunya.


"Ada hal penting apa, yang ingin Nak Devan bicarakan?" tanya Agam.


"Ini soal pelaku yang sudah mencelakai ibu, Yah." jawab Devan dengan hati-hati.


"Kamu sudah menemukan pelakunya?" tanya Arman tidak sabar.


"Sudah, dan aku sudah mengumpulkan semua buktinya," jawab Devan. Devan mengeluarkan sebuah map yang memang sudah dibawanya, map itu berisi bukti percakapan antara Desi dengan Adi.


"Ini?" Arman terkejut melihat nomor ponsel milik ibunya tertera di sana.


"Iya, pelaku utamanya adalah ibu kamu Arman, dia sebenarnya mengincar Gita. Ibu kamu sudah gelap mata, dia tidak perduli ada siapaya di dalam perut istri kamu," terang Devan. Arman begitu syok mengetahui semua kejahatan ibunya, Arman merasa ngeri dengan sibunya, dia tidak menyangka ibunya bisa begitu tega ingin melenyapkan Gita dan calon cucunya sendiri.

__ADS_1


"Aku harus menemui bunda." Arman hampir beranjak dari tempat duduknya, tapi langsung ditahan oleh Devan dan Felix. Agam juga ikut menenangkan Arman.


"Arman, aku tahu kamu kecewa, tapi apa kamu tidak bisa menghargai aku dan orang-orang ku, yang sudah mencarikan bukti ini? Kalau kamu gegabah, maka semua rencana yang sudah aku buat akan gagal," Devan mencoba meminta Arman untuk bersabar. Devan tahu, pasti saat ini, Arman tengah diselimuti oleh emosi.


__ADS_2