Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Akhirnya tahu


__ADS_3

“Tapi, kamu jangan terpesona ya sama putra Ibu, soalnya dia sudah menikah, namanya Laura,” deg-deg-deg, debaran jantung Anyelir semakin tidak menentu, Laura tahu soal Mayang tapi Anyelir tidak tahu sama sekali, Anyelir seperti orang yang baru keluar dari gua, dan hari ini baru saja melihat semuanya tentang DEvan yang sebenarnya. Sebisa mungkin Anyelir menahan air matanya agar tidak jatuh, rasanya teramat sakit mengetahui ini semua, andai saja Devan mau jujur sedari awal, mungkin rasanya tidak akan sesakit ini. Anyelir menatap Felix dengan tatapan kecewa, namun Felix nampak memutus kontak mata dengan Anyelir.


“Maaf Bu, saya harus segera pulang, karena sudah malam, saya langsung permisi saja ya?” ujar Anyelir, dia tidak bisa bertahan terlalu lama lagi.


“Loh, nggak mau Ibu kenalin dulu sama anak Ibu?” tanya Mayang memastikan lagi.


“Enggak Bu, salam aja ya buat anak Ibu dan menantu Ibu,” jawab Anyelir yakin, sebisa mungkin dia menampilkan senyumnya, meskipun dalam hatinya saat ini terasa seperti puluhan panah yang menusuk hati Anyelir.


“Iya nanti Ibu sampaikan, ya sudah Felix kamu antar Anyelir ya? kasihan kalau pulang sendiri,” titah Mayang kepada Felix, namun langsung Anyelir tolak karena dia butuh waktu sendiri. Akhirnya Anyelir pun berpamitan kepada Mayang, dia melangkah dengan derai air mata yang tanpa Mayang tahu.


Dalam perjalanan Anyelir terus menangis dan beberapa kali memukul stir mobilny, dia merutuki kebodohannya yang sudah percaya dan jatuh cinta kepada Devan, andai saja Anyelir tidak menaruh harapan dan perasaan kepada Devan, mungkin dia tidak akan merasakan sakit karena sebuah kebohongan, sekarang ini Anyelir berpikir bahwa dia bukanlah apa-apa bagi Devan, itu semua terbukti karena Devan hanya memberitahukan semuanya kepada Laura, dan dirinya hanya dianggap angin lalu bagi Devan, meski sebenarnya Devan tidak seperti apa yang Anyelir pikirkan, namun pikiran-pikiran tersebut sudah tertanam dalam hati Anyelir, dia kembali membatasi diri dan memberi tameng pada hatinya agar tidak lagui jatuh hati pada Devan.


Anyelir, menepikan mobilnya, dan mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang, tidak lain adalah Laura. Ada hal yang ingin dia tanyakan seputar wanita itu.


[“Ada apa?”] suara Laura terdengar tidak bersahabat.


[“Maaf kalau aku mengganggu kakak, tapi ada hal yang ingin aku tanyakan,”] ujar Anyelir tanpa basa-basi.


[“Kenapa kak Devan memilih menikahi ku, aku tahu itu semua karena perusahaan ayahku yang hampir bangkrut, tapi bukankah kak Devan bisa meminjamkan uang? Apa untungnya menikahi aku? yang jelas kak Devan memiliki kak Laura yang jauh lebih baik dari aku,”] akhirnya Anyelir menanyakan hal yang selama ini dia pendam, Anyelir harap jawaban dari Laura bisa membuat Anyelir puas.

__ADS_1


Bibir Laura tertarik mundur, tersenyum devil atas pertanyaan madunya, dia cukup pintar dalam membaca situasi, dan Laura sudah bisa menebak bahwa hubungan Anyelir dengan Devan sedang tidak baik-baik saja.


‘Ini waktunya aku membuat mereka semakin renggang,’ batin Laura.


[“Memangnya Devan tidak menceritakan semuanya?” tanya Laura, sengaja mengulur waktu. Jawaban tidak dari Anyelir, seolah angina segar yang Laura dapatkan.


[“Baiklah, aku dan Devan sudah menikah selama 2 tahun, namun aku dan Devan belum juga diberi momongan, akhirnya semua masalah yang menimpa ayah kamu dijadikan alat Devan untuk bisa mendapatkan anak, dari kamu. Itu berarti kamu hanya akan dijadikan pencetak anak bagi Devan, setelah kamu melahirkan nanti kamu akan didepak dari kehidupan Devan, dan lebih parahnya kamu tidak akan bertemu dengan anak kamu. Sebenarnya aku malas membicarakan ini dengan kamu, tapi aku juga seorang wanita, pasti sakit bukan?”] Laura sengaja memanas-manasi Anyelir, agar hubungan anatara Devan dan juga Anyelir semakin kacau, karena itu adalah keinginan Laura, menghancurkan pernikahan madunya.


[“Baik, kak terimakasih,”] ucap Anyelir, dia langsung menutup teleponnya dan menangis meratapi nasib dan kebodohannya. Anyelir percaya pada perkataan Laura dan menganggap Devan adalah lelaki yang paling jahat yang dia kenal.


Disisi lain, Laura tertawa karena dia yakin bahwa Anyelir percaya pada perkataannya itu, hal ini tentu menguntungkan Laura, karena akhirnya hubungan Devan dengan Anyelir semakin memburuk karena karangan cerita Laura, dan bisa Laura pastikan Anyelir bisa saja pergi meninggalkan Devan. Dengan begitu Lauara akan kembali menjadi istr Devan satu-satunya.


“Bu?” dengan tergesa Devan menghampiri Ibunya yang tengah duduk di ruang keluarga, Felix juga berada di sana menjaga Mayang.


“Devan?” Mayang lega, karena bisa melihat putranya lagi, padahal saat dia tengah tersesat dan tidak tahu arah jalan pulang, dia berpikir bahwa dia tidak bisa bertemu dengan Devan lagi, namun Mayang bersyukur karena ketakutannya tidak terjadi, dan itu semua berkat Anyelir, maka dari itu Mayang merasa sangat berhutang budi dengan Anyelir, dan berharap suatu saat bisa bertemu kembali.


“Ibu, jangan pergi lagi ya? jangan jauh-jauh dari pengawasan suster,” ucap Devan, dia begitu khawatir terjadi hal buruk pada Ibunya.


“Iya, Ibu minta maaf, karena sudah membuat kekacauan dan membuat kamu khawatir,” ucap Mayang.

__ADS_1


“Terus Ibu pulang sama siapa?” Devan memang belum tahu soal Anyelir yang mengantarkan Mayang pulang.


“Anyelir, dia gadis yang sangat baik dan dia menolong Ibu dengan sangat sabar,” ujar Mayang, dia menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Anyelir, bahkan menceritakan tentang bagaimana telatennya Anyelir kepada dirirnya saat mereka hendak makan, di mana Anyelir menanyakan dengan detail penyakit apa yang diderita oleh Mayang dan juga pantangan makanannya. Devan sendiri malah memikirkan, apakah Anyelir yang dimaksud oleh Mayang adalah Anyelir yang dia kenal, Devan menatap Felix yang berdiri di samping Mayang, seolah tahu apa maksud tatapan Devan, Felix menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Devan tentang siapakah Anyelir yang dimaksud oleh Mayang, yaitu Anyelir yang Devan kenal, Anyelir yang tidak lain adalah istri Devan.


“Ya sudah, Ibu sekarang istirahat ya? pasti Ibu lelah,” titah Devan, selain ingin menjaga kesehatan Ibunya, Devan juga ingin berbicara 4 mata dengan Felix seputar Anyelir, karena perasaan Devan mengatakan bahwa hal ini akan berpengaruh pada hubungannya dan Anyelir.


“Bailah, tapi kamu temani Ibu ya?” pinta Mayang, memang setelah keluar dari rumah sakit, Mayang harus tidur ditemani oleh Devan lebih dulu, dengan begitu dia akan merasa nyaman melihat kehadiran putranya di samping dirinya.


“Baik Bu, tapi Ibu ke kamar dulu ya? ada hal yang harus Devan bicarakan dengan Felix,” ucap Devan dan diangguki oleh Mayang, Devan langsung meminta suster membawa Mayang ke kamar agar beristirahat. Setelah memastikan Mayang sudah pergi, Devan langsung menatap Felix dengan mimic wajah serius.


“Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Anyelir yang mengantar Ibu?” tanya Devan dengan risau.


“Itu semua karena ketidak sengajaan Tuan,” jawab Felix, dia tahu pasti saat ini Devan tengah memikirkan Anyelir, dan tidak akan bisa fokus pada Mayang.


“Pastikan Anyelir tidak pergi ke mana pun, karena aku akan ke sana, dan pastikan Anyelir sudah pulang dengan keadaan baik-baik saja,” titah Devan.


“Baik Tuan,” dengan segera Felix mengabari orang kepercayaannya yang mengikuti mobil Anyelir tadi, untuk memastikan bahwa Anyelir baik-baik saja.


__ADS_1


__ADS_2