
Selesai mandi dan berganti pakaian, Devan mengecek ponselnya bersamaan dengan Anyelir yang masuk ke kamar.
“Sayang, ayo sarapan.” Ajak Anyelir kepada suaminya.
“Sayang, aku harus pulang, ibu sudah mencariku sejak tadi,” ujar Devan dengan raut wajah panic.
“Iya, pergilah, kasihan kalau ibu mencari kamu terus,” Anyelir harus berbesar hati, kalau dirinya harus lebih banyak mengalah dengan ibu mertuanya.
“Kamu nggak apa-apa?” Devan nampak khawatir dengan Anyelir, ada perasaan tidak enak juga.
“Aku nggak apa-apa kok, lagi pula aku yakin saat ini ibu jauh lebih butuh kamu,” ujar Anyelir mencoba bersikap bijak. Devan tersenyum dan langsung mengajak Anyelir ke meja makan, membuat Anyelir bingung. Namun, Devan menjelaskan bahwa dia masih bisa menyempatka untuk sekedar sarapan, dan meyakinkan bahwa Felix sudah mengatur semuanya dan mengurus Mayang dengan baik.
**
Disisi lain, Mayang tengah berada dalam kamarnya, dia merasa aneh dengan Felix yang selalu saja meghilang pada pagi hari.
‘Apa selama aku sakit dia bekerja dengan sangat keras? Sampai-sampai pagi hari saja Devan sudah sibuk dengan pekerjaan,’ batin Mayang sendu, dia takut kalau karena bekerja terlau keras membuat Devan menjadi jarang istirahat dan tidak memikirkan tentang kondisinya, belum lagi sampai sekarang Devan juga belum memiliki momongan.
“Nyona??” suara Felix terdengar di depan pintu, membuat Mayang langsung keluar dari kamarnya, karena dia berpikir Devan juga sudah pulang bersama dengan Felix.
“Mana Devan?” pertanyaan yang pertama kali terucap dari bibir Mayang adalah Devan.
“Tuan Devan sedang dalam perjalanan Nyonya besar,” ujar Felix, dia berharap jawabannya bisa membuat Mayang cukup puas, namun ternyata salah.
“Apa Devan begitu sibuk?” tanya Mayang sendu.
“Nyonya …” Fellix hendak menjelaskan, namun langsung ditahan karena Mayang kembali bersuara.
__ADS_1
“Cukup, aku tahu kamu akan lebih berpihak kepada Devan, meski Devan bersalah sekalipun. Kamu jelas sangat mendukungnya,” Mayang tahu, bagaimana Felix sangat menjaga Devan dan bagaimana Felix juga menjaga rahasia Devan, bahkan Mayang yakin banyak hal yang Felix tahu namun dirinya tidak tahu.
“Tuan Devan ingin menyembuhkan anda, beliau sangat ingin melihat wanita yang begitu berarti dalam kehidupannya kembali sehar, jadi saya mohon Nyonya, jangan lagi anda berpikir macam-macam tentang tuan Devan, beliau sudah sangat bekerja keras untuk anda, dan tolonghargai beliau,” pinta Feklix, membuat Mayang menundukkan kepalanya.
“Benar apa yang kamu bilang Felix, harus nya sebagai seorang ibu dan terutama orangtua tuggal, aku harus bisa bersikap lebih dewasa dan bijak,” ada rasa penyasalan lewat sorot matanya.
“Sudahlah Nyona, tuan Devan tidak akan mempermasalahkan itu, asalkan Nyonya bisa memberikan sedikit pengertian untuk tuan Devan, biarkan tuan Devan menunjukkan bahwa beliau adalh anak lelaki yang ingin membuat anda bangga,” Mayang tersenyum, dia tahu perangai putranya yang tidak mengenal menyerah dank eras kepala. Akhirnya, setelah mendnegar penjelasan Felix, Mayang mau keluar dari kamar dan sarapan, karena saat ini Mayang masih harus teratur meminum obatnya, sebab Devan benar-benar sangat memperhatikan setiap detail perkembaangan kesehatan Mayang barang sedikitpun. Bagi Devan, berkembangan kesehatan Mayang adalah salah satu hal yang sangat dia tunggu, dia sangat ingin bisa hidup dengan bahagia bersama ibu dan juga istrinya Anyelir.
“Bu?” saat Mayang baru saja duduk, dia melihat wajah putranya yang berseri, seketika hati Mayang semakin melunak dan menyambut kedatangan putranya dengan penuh kasih sayang.
“Kamu pasti lelah, maafkan Ibu ya? karena Ibu terlalu banyak menuntut pada kamu,” ujar Mayang merasa bersalah.
“Ibu bicara apa sih? Ibu sama sekali tidak pernah menuntut apapun pada Devan, justru Devan akan sangat bahagia kalau Ibu meminta sesuatu pada Devan, dan Ibu juga bisa menikmati hasil kerja keras Devan,” ujar Devan seraya menggenggam kedua tangan ibunya.
“Apalagi yang Ibu inginkan? Semua fasilitas sudah terpenuhi, dan Ibu rasa semua sudah cukup. Tapi, hanya ada satu permintaan Ibu,” Mayang menggangtung ucapannya, membuat Devan penasaran.
“Cucu,” seketika Devan terdiam, dia juga ingin memberikan Mayang seorang cucu, namun dia sadar ini bukanlah waktunya. Devan ingin memberikan cucu kepada Mayang, seorang penerus keluarga Willson yang lahir dari Rahim Anyelir.
“Ibu sabar ya? suatu saat nanti, kalau memang sudah waktunya Devan akan memberikan Ibu cucu,” hanya jawaban ini yang bisa Devan berikan, setidaknya agar Mayang bisa lebih tenang.
“Kenapa tidak coba program bayi tabung?” usul Mayang, membuat Devan gelagapan dan dia harus mencari alasan yang sekiranya cocok.
“Eeem itu Bu … kan Ibu tahu kalau Laura sangat sibuk dengan kegiatannya saat ini,” akhirnya Dvan bisa juga menggunkan nama Laura, dia beralasan kalau Laura masih banyak urusan pekerjaan yang belum diselesaikan, sebagai seorang model, tentu penampilan yang menunjang adalah point utama.
“Kalau begini terus, kapan kalian bisa memberikan Ibu cucu, kaian saja terus sibuk,” keluh Mayang, dia membayangkan bagaimana suasa rumahnya saat suara tangisan bayi suda mulai terdengar, pasti Mayang tidak akan merasakan kesepian lagi.
“Berdoa saja Bu …” hanya itu jawaban yang bisa Devan berikan, dia berharap Mayang tidak akan merengek minta cucu dalam waktu dekat.
__ADS_1
‘Ibu cepatlah sembuh, dengan begitu aku bisa mengakhiri pernikahanku dengan Laura dan bisa kembali fokus pada Anyelir,’ batin Devan. Saat Devan tengah memikirkan Anyelir, tiba-tiba saja Mayag juga memikirkannya.
“Oh iya, kamu sudah mencari wanita bernama Anyelir?” tanya Mayang tiba-tiba.
“Belum Bu, memangnya kenapa?” jawab Devan bohong.
“Ibu harap bisa bertemu lagi dengan dia, karena kamu harus tahu, Anyelir adalah wanita yang sangat baik dan Ibu merasakan dia adalah gadis yang memiliki perangai lembut,” jelas Mayang, namun Devan malah tertawa dibuatnya.
“Oh ya Bu, nanti malam aka nada acara anniversary perusahaan.”
“Ibu ikut ya?” pinta Mayang, namun tentu Devan langsung menola, bisa kacau kalau nantinya Mayang ikut dan melihat keberadaan Anyelir.
“Jangan Bu, Ibu istiraraht aja di rumah, aku nggak mau kalau Ibu terlalu sering kena angina malam,” saran Devan, dan akhirnya Mayang pun menuruti perkataan putranya, padahal saat aniverasry dulu Mayang selalu turut hadir dalam acara perayaan dan mendapampingi suaminya. Namun semuanya sudha berubah. Selesai menemani Mayang sarapan, Devan langsung berpamitan bersama dengan Felix juga, untuk pergi ke kantor, karena pagi ini mereka akan mengadakan meeting soal pekerjaan kita di minggu-minggu ini. Sebenarnya ada alasan lain kenapa Devan sangat ingin pergi ke kantor, itu semua karena dia ingin bertemu dengan Anyelir, wanita pujaan hatinya.
Sebelum berangkat ke kantor, Devan kembali mengingatkan kepada semua penjaga rumah agar lebih waspada dan semakin memperketat pengawasan, Devan tidak mau kejadian kemarin Mayang hilang, kembali terjadi lagi.
.
.
Malam sudah tiba, semua orang sudah mulai berdatangan dengan penampilan terbaik mereka untuk memenuhi undangan dari perusahaan Devan Willson, acara anniversary perusahaan Devan digelar di salah satu hotel bintang 5 milik keluarga Devan. Tempat acara sudah disulap sedemikian rupa hingga terlihat megah dan mewah, membuat mata menatap takjub dalam setiap detail dekorasi. Ada satu hal lagi yang menarik perhatian, stand makanan yang berjajar, dimana semua makanan bukan dimasak oleh chef ternama ataupun makanan kebaratan, namun makanan ini lebih ke makanan Indonesia, ada Bakso, siomay, mie ayam, sate, dan lain sebagainya. Devan ingin merayakan keberhasilan perusahaannya dengan cara yang berbeda, dia ingin memperkenalkan kembali makanan-makanan yang sering dijajakan oleh pedagang kaki lima yang saat ini sudah mulai dilupakan.
Semua mata mulai menatap bintang acara malam ini, siapa lagi kalau bukan CEO Willson Group, lelaki berparas tampan dan banyak digilai oleh wanita, kini tengah berjalan dengan langkah tegap menuju ke mejanya, Devan benar-benar berkharisma, membuat semua wanita sangat sulit melepaskan pandangan kagum mereka pada Devan, sang CEO. Saat semua orang menata Devan dengan tatapan memuja, Devan justru hanya menatap wanita yang sangat dia cintai, yaitu Anyelir. Diam-diam mereka saling mencuri pandang satu sama lain, pujian dalam hati Devan terus tertuju kepada istrinya. Sungguh, kalau Devan tidak ingat tempat, dia pasti sudah membawa Anyelir pergi, karena dia tidak mau laki-laki lain melihat dan memandang wajah cantik Anyelir.
...Haii terimakasih yaa untuk semuanya yang sudah mendukung cerita ini🥰🥰...
__ADS_1