Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Melahirkan


__ADS_3

Setelah pertengkarannya dengan Erma, Agam memutuskan untuk pergi ke kediaman Rose, untuk menenangkan diri. Bagi Agam, Rose adalah tempay yang terbaik baginya untuk pulang. Kedatangan suami ke kediamannya tentu saja disambut hangat oleh Rose, tapi Rose juga merasa aneh. Karena seharusnya, Agam bersama dengan Erma malam ini.


"Kamu ada masalah dengan Erma?" tanya Rose, dia menghidangkan secangkir teh hangat di hadapan Agam.


"Iya." Jawab Agam seraya menyesap teh buatan Rose.


"Ada apa lagi sekarang?" tanya Rose.


"Aku kesal dengan sikapnya, dia sudah keterlaluan. Kali ini, dia merendahkan kamu sayang, dan aku tidak terima," jawab Agam, terlihat dia begitu geram dengan Erma.


Rose tidak mau membahas terlalu jauh. Karena Rose tidak mau kalau nantinya suasana hati Agam semakin memanas.


"Kamu sabar ya, aku yakin nanti Erma akan perlahan berubah. Kamu, sebagai seuami wajib sering mengingatkannya." Rose mengelus punggung tangan suaminya dengan lembut.


"Maafkan aku ya Mas, gara-gara aku yang meminta kamu menikah dengan Erma, kamu jadi begini. Kamu yang menjadi koban." Rose menundukkan wajahnya lesu.


Agam, menatap Rose dan memegang jemarinya. "Kamu tidak perlu merasa bersalah begitu. Apapun yang terjadi pada kita saat ini, anggap saja bahwa ini adalah salah satu ujian yang harus kita hadapi," ujar Agam.


"Iya Mas." Rose menganggukkan kepalanya.


.

__ADS_1


.


Kini, Agam dan Rose tengah menunggu di depan ruang tunggu rumah sakit, dengan cemas. Ya, hari ini Erma akan melahirkan, tadi pagi Erma, sudah merasakan perutnya mulai kontraksi, Agam pun langsung membawa Erma ke rumah sakit.


"Mas, bayinya sudah lahir," ucap Rose. Mereka mendengar suara tangisan bayi dari ruang bersalin Erma. Tidak lama, terlihat perawat yang keluar dari ruangan Erma.


"Bagaimana keadaan anak dan ibunya, Sus?" tanya Rose.


"Alhamdulillah, ibu dan bayinya dalam keadaan sehat. Bayinya lahir normal, sehat dan tanpa kurang suatu apapun," jelas Suster.


"Syukurlah ...." Rose dan Agam mengucapkan syukur.


.


.


"Selamat ya Erma, akhirnya putri kamu sudah lahir," ucap Rose.


"Terimakasih, aku sangat bahagia karena akhirnya aku sudah menjadi wanita yang sempurna. Karena aku sudah memberikan keturunan untuk Mas Agam," ucap Erma, seolah menyindir Rose.


"Erma, jangan berkata begitu," tegur Agam.

__ADS_1


"Ya memang benar, kan Mas. Buat apa juga sih, kamu pertahanin wanita seperti dia? Jelas dia nggak bisa kasih keturunan, beda sama aku," ucap Erma dengan sombong.


"Erma ka-," perkataan Agam terpotong, karena suara Rose yang menghentikan.


"Sudah lah Mas, biarkan saja," cegah Rose.


"Tapi dia sudah keterlaluan," tegas Agam.


"Itu memang benar Mas, aku memang bukan wanita sempurna. Jangan ada keributan, ini adalah hari bahagia kamu dan Erma. Aku lebih baik permisi," Rose pun memilih untuk pergi. Agam menatap Erma dengan semburat kecewa, lalu memilih untuk mengejar Rose.


"Rose." Agam mencekal tangan Rose.


"Mas, awwww." Rose memegang kepalanya yang terasa pening.


"Kamu kenapa Rose?" tanya Agam dengan khawatir.


"Kepalaku pusing, Mas," jawab Rose dengan nada merintih. Tiba-tiba saja, pandangan Rose mulai kabur dan menghitam.


Agam khawatir, dia menepuk pipi Rose berharap Rose akan segera merespone. Namun hasilnya nihil. Agam langsung memanggil perawat untuk membantunya membawa Rose.


'Ya Tuhan, aku mohon semoga tidak terjadi sesuatu dengan Rose,' batin Agam.

__ADS_1


__ADS_2