Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Akhirnya tahu


__ADS_3

Pukul 14.00 siang, akhirnya tamu yang ditunggu oleh Devan datang, dia pun menyambutnya dengan ramah. Apalagi, yang datang adalah CEO perusahaan Denta Group sendiri.


"Silahkan duduk Pak Bagas," Devan mempersilahkan tamunya untuk duduk. Sekilas, Bagas takjub dengan interior ruangan kerja Devan. Lalu tatapannya beralih, pada pigura foto yang cukup besar.


"Apakah itu Anyelir? Anak dari pak Agam?" tanya Bagas memastikan.


"Benar, Pak Bagas. Dari mana anda tahu?" tanya Devan heran.


Bagas tersenyum. "Dulu, saat pak Agam belum memboyong istri dan anaknya ke kediamn istri kedua. Ibu Rose adalah tetangga saya, bahkan istri saya berteman baik dengan beliau," jelas Bagas.


"Istri kedua?" tanya Devan dengan bingung, setahu dia, selama ini yang menjadi istri kedua adalah Rose.


"Iya, apakah Pak Devan tidak tahu?" tanya Bagas dengan was-was. Dia takut, kalau ucapannya justru akan menjadi boomerang.

__ADS_1


Devan langsung mengelak. "Bukan Pak, saya memang sudah tahu, tapi saya sepertinya salah paham. Selama ini saya pikir, ibu mertua saya adalah istri kedua," jawab Devan cepat.


"Tidak, itu salah. Pasti Pak Devan melihatnya dari kelahiran putri pertama pak Agam dan Anyelir. Padahal, itu semua ada kisahnya," jelas Bagas begitu yakin.


"Apa Bapak tahu semua kisahnya?" tanya Devan dengan nada penasaran.


"Iya, tapi saya rasa bukan ranah saya untuk menjelaskan," ujar Bagas tak enak hati.


'Jadi, selama ini bukan ibu Rose yang merebut ayah Agam. Tapi ibunya Gita?' batin Devan.


"Lalu kenapa ibu dan ayah menyembunyikan semuanya, bahkan ibu rela dibenci selama ini oleh Gita," gumam Devan. Sekarang dia sudah selangkah lebih tahu soal kisah masa lalu kedua orang tuanya. Dan Devan berharap, dengan begini dia bisa membuat Gita sadar atas segala sikap buruknya selama ini.


.

__ADS_1


.


Sedangkan kini, Rose baru saja tiba di salah satu taman. Setelah dia berpamitan kepada Anyeir, untuk pulang. Nyatanya Rose tidak pulang, dia justru datang ke taman yang cukup nyaman, tidak terlalu bising, tapi juga masih banyak beberpa orang yang datang, sekedar untuk duduk dan merenung biasanya. Kedatangan Rose ke sini, yaitu untuk bertemu dengan psikolog. Rose disambut hangat di sana, karena sudah sedari lama Rose merencanakan pertemuan ini.


"Apa kabar Ibu Rose?" Winda wanita yang berusia lebih muda dari Rose 2 tahun, dia bertanya dengan begitu ramah kepada Rose, menciptakan suasana yang nyaman bagi Anyelir.


"Saya baik, Bu Winda," jawab Rose dengan begitu tenang.


"Ibu dari mana? Sepertinya habisa pergi," tanya Winda, memulai pendekatannya.


Rose tersenyum. "Iya Bu, saya dari kediaman anak saya. Dia bilang sangat kesepian," jelas Rose, entah kenapa saat membicarakan Anyelir, perasaan Rose tiba-tiba menghangat.


"Wah, sepertinya Ibu sangat sayang dengan putri Ibu. Terlihat raut wajah Ibu yang berseri, saat membicarakannya," pungkas Winda, hal itu membuat Rose tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2