Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Gertakan jadi kenyataan


__ADS_3

"Tapi, mungkin kak Gita akan bersikap jauh lebih baik, nggak seperti sekarang," Anyelir cukup kesal, atas rahasia yang selama ini disembunyikan darinya.


Devan membawa Anyelir ke dalam dekapannya, menenangkan sang istri yang kini tengah terbakar amarah. Wajar saja Anyelir marah, hanya saja Devan juga berpikir bahwa dia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan sang mertua. Karena Devan yakin, mereka punya alasan satu sama lain, kenapa menyembunyikan semua kebenaran itu.


"Jangan menyimpulkan sendiri, sayang." Devan mengusap puncak kepala Anyelir dengan begitu lembut. "Aku yakin, ayah dan ibu punya alasan kuat, kenapa mereka melakukan itu, berikan mereka kesempatan untuk menjelaskan," saran Devan.


"Iya, aku akan bertanya pada ayah dan ibu, aku juga mau mereka jujur kepada kak Gita, bahwa apa yang selama ini dia pikirkan itu salah," putus Anyelir. Dan Devan hanya bisa tersenyum.


"Ya sudah, ayo sekarang istirahat, jangan terlalu banyak pikiran, kasihan anak kita," Devan mengulurkan tangannya dang mengusap perut Anyelir, di mana saat ini ada janin anaknya yang tengah berkembang.


-//-


"Apa! Jadi Gita minta uang lagi sama kamu?" Agam nampak emosi, saat mendapatkan laporan dari sang istri, tentang perilaku putrinya saat ini.


"Iya, Mas. Tapi udahlah kamu jangan marah, aku udah bohong kok sama Gita, kalau sekarang uang aku di pegang sama kamu," Rose mencoba menenangkan suaminya, dia tidak mau kalau sampai terjadi hal buruk pada kesehatan sang suami.


"Bagaimana kamu masih begitu tenang, sedangkan anak kurang ajar itu, sudah membuat kamu menderita dan hidup dalam ketakutan. Dia sangat picik, sifatnya persis dengan mendiang ibunya," geram Agam.


"Mas, sudah jangan bicara begitu," Rose tidak mau Agam membicarakan hal buruk soal mendiang Erma.


"Itu kenyataan Rose. Karena dalam tubuhnya tidak ada darah ku," ucap Agam lagi, membuat Rose memalingkan wajahnya. Satu Fakta yang memang sudah di ketahui Agam dan juga Rose, fakta itu mereka ketahui saat detik-detik Erma menghembuskan napas terakhirnya. Agam mendapatkan surat yang sudah Erma tulis, dan dalam surat itu Erma mengakui satu kesalahan fatalnya, dia sudah menduakan Agam. Berdalih Agam yang tidak bisa sepenuhnya mencintainya, juga tidak mau kehilangan kesempatan emas menjadi istri seorang pengusaha kaya, Erma menghalallkan segala cara.

__ADS_1


Agam dan juga Rose mulanya tidak sepenuhnya percaya, tapi saat mereka diam-diam melakukan tes DNA, semua terbukti, ucapan Erma jujur sepenuhnya. Marah, kecewa dan sedih bercampur menjadi satu. Tapi, dalam kondisi ini, Rose meminta pada Agam untuk tidak membicarakan apapun soal hal ini kepada Gita. Alasannya jelas karena Rose ingin menjaga mental Gita, yang sempat terganggu karena ditinggal bundanya untuk selama-lamanya.


"Mas, aku mohon jangan pernah ungkit itu," pinta Rose, sebab dari surat terakhir yang Erma tulis, dia meminta supaya Gita tetap diterima dengan baik.


Agam tertawa. "Lalu, apa kita akan terus memaklumi semua tindakannya? Sedangkan putri kandung kita yang menjadi korban?" tanya Agam dengan raut wajah kecewa. "Aku nggak bisa lagi mentolerir ini, dia sudah keterlaluan," geram Agam, dia pun melangkah menuju keluar dari kamarnya, meninggalkan Rose. Rose tidak mengejar, dia tahu sang suami butuh ruang untuk sendiri lebih dulu.


Rose memejamkan matanya, dia terisak karena merasa gagal mendidik Gita, menjadi wanita yang lebih baik. Nyatanya, dia sendiri justru sulit mengendalikan tingkah laku Gita, yang memang sudah terlewat batas. Rose selalu merasa kalah jika berhadapan dengan Gita, ada rasa tidak tega, yang menjalari hatinya.


Sedangkan kini, Gita tengah berada di kediamannya bersama dengan sang suami, Arman. Arman geleng kepala melihat belanjaan istrinya yang nampak tertumpuk di atas ranjang mereka, dan belum dibereskan. Arman yang sudah cukup lelah bekerja, merasa moddnya rusak melihat kamar yang nampak berantakan.


"Gita!" seru Arman memanggil sang istri, tapi belum ada jawaban, "Gita!" seru Arman lagi.


"Duh, apa sih, kamu berisik banget," ketus Gita, seraya berkaca pinggang.


"Besok, nunggu art dateng," tolak Gita. Memang, art di apartement Gita, akan pulang saat jam 18.30, tadinya belanjaan itu sudah dikemas oleh art, namun Gita yang tengah mencoba semua barang belanjaan, tidak kembali merapikan seperti semula.


"Gita, aku mau tidur, aku capek!" nada bicara Arman naik satu oktaf.


"Kamu berani bentak aku?" tanya Gita dengan berani, biasanya Arman akan langsung meminta maaf jika Gita sudah mengeluarkan jurusnya ini.


"Iya!" bentak Arman, membuat Gita terkejut, "kenapa? Kaget, atau nggak terima? Mau balik ke rumah orang tua kamu?" tanya Arman, sebab biasanya Gita akan mengancam demikian.

__ADS_1


"Iya! Kamu udah nggak sayang sama aku!" Gita ikut berteriak dengan lantang.


"Oke," jawab Arman, dia langsung melangkah menuju lemari, dan mengemas baju-baju Gita, tidak lupa barang belanjaan Gita yang baru dibelinya. Gita terkejut, dia mulai sadar, kalau saat ini Arman sepertinya akan melakukan apa yang dikatakan olehnya.


"Arman, kamu ngapain?" Gita menghampiri Arman yang tengah mengemasi barang-barangnya.


"Beresin barang-barang kamu. Kamu mau ke rumah orang tua kamu, kan?" tanya Arman dengan begitu santai. Dia menurunkan koper milik Gita.


"Arman, a-aku," Gita nampak bingung harus berkata apa, dia tidak menyangka kalau Arman justru akan melakukan hal ini, bukan mengalah atau membujuknya. Gita terlalu menjunjung tinggi gengsinya, dia malu untuk meminta maaf, atau sekedar menarik ucapannya.


"Ayo." Arman menarik tangan Gita keluar dari unit apartement mereka, dengan langkah tegap dan tanpa ragu, dia melangkah seraya menyambar kunci mobil miliknya.


"Arman!" Gita mencoba melepaskan tangan Arman, tapi itu terlalu erat, Gita kalut, dia bingung harus berbuat.


"Masuk!" titah Arman saat mereka sampai diparkiran mobil, Gita menurut dengan langkah lemas, Arman mulai memasukkan koper besar milik Gita, dan melajukan mobil menuju kediaman Agam dan Rose.


'Sial, kenapa Arman jadi beda gini sih,' batin Gita kesal, dia masih tidak menyangka kalau Arman benar-benar akan melakukan hal ini. Gita pikir, Arman akan membujuknya dan meminta maaf padanya, seperti biasa. Saat Gita yang bersalah, Arman akan jauh lebih banyak mengalah, tapi malam ini sepertinya keberuntungan tidak lagi berpihak pada Gita.


"Ayo keluar." Arman meminta Gita keluar dari mobil, saat ini mereka baru saja sampai di kediaman Agam. Gita nampak bingung, dia menatap Arman dengan tatapan memelas, berharap Arman akan luluh.


"Cepat Gita," titah Arman lagi, berarti rencana Gita gagal.

__ADS_1


"Den Arman, Non Gita?" satpam menghampiri Arman dan Gita, sedari tadi melihat pasangan suami istri itu, yang masih berada dalam mobil.


"Pak, tolong bawakan koper Gita," pinta Arman, dan diangguki oleh satpam jaga. Arman segera menggendong Gita, memasuk rumah. Gita sempat berontak, tapi tidak dihiraukan oleh Arman.


__ADS_2