
Anyelir belum juga bisa tidur, dia memikirkan bagaimana perasaan Agam setelah tahu soal Gita, memang Gita belum sempat hamil, karena Gita sudah memakai pengaman, tapi di sini bukan soal itu yang Agam sesali, namun karena Gita sudah melakukan hubungan itu sebelum mereka menikah. Agam merasa terpukul, karena sebagai ayah dia merasa sudah gagal dalam mendidik Gita.
Gita sendiri masih terus marah dan kesal kepada Anyelir, dia terus menyalahkan Anyelir dalam hal ini, karena bagi Gita, Anyelir adalah sumber masalah dalam hidupnya. Gita mencoba menghubungi Anyelir untuk melampiaskan semua kekesalannya.
[“Kak Gita?”] Anyelir begitu lega karena Gita menghubunginya.
[“Loe itu emang perempuan sial tahu nggak! Karena ad aloe, nyokap gue meninggal, dan karena loe juga gue kehilangan kasih sayang ayah! Sekarang gara-gara loe, gue harus menikah muda!” seru Gita memaki Anyelir, membuat Anyelir merasa sedih, karena sebenarnya Anyelir tidak pernah bermaksud begitu.
[“Gue benci sama loe!”] seru Gita lagi, “andai loe nggak dateng dalam kehidupan gue, gue yakin kehidupan gue bakalan baik-baik aja!” mendengar makian Gita, membuat Anyelir terisak, dia tidak menyangka kalau Gita sebegitu bencinya dengan dirinya, padahal selama ini Anyelir selalu berusaha untuk selalu menjaga perasaan Gita, bahkan sering kali Anyelir mengalah hanya demi Gita.
[“Aku minta maaf kak,”] hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir Anyelir, rasanya begitu sakit mendengar ucapan Gita yang mengatakan bahwa dirinya adalah pembawa sial. Saat Gita tengah menghubungi Anyelir, Rose pun masuk untuk melihat keadaan putri sambungnya.
[“Gita? Kamu sedang apa Nak?”] tanya Rose dengan lembut, melihat kedatangan Rose, akhirnya Gita mulai memanfaatkan keadaan, dia berbisik pada Rose bahwa Anyelir menghubunginya dan mengejek Gita yang akan menikah secara sederhana, mendengar hal itu, Rose pun marah besar, dia langsung merebut ponsel milik Gita dan memaki Anyelir.
[“Kamu itu anak nggak tahu diri, nggak tahu sopan santun!”] sentak Rose, membuat Anyelir terkejut karena tiba-tiba Rose yang berbicara dan giliran memakinya.
[“Ibu?”] lirih Anyelir, dia tidak paham kenapa Rose bisa begitu marah padanya.
__ADS_1
[“Jangan lagi ganggu keluarga Ibu, kamu sudah menikah dan memiliki kehidupan sendiri, biarkan Ibu bahagia, dan jangan lagi ganggu Gita, kamu harus sadar, semenjak kedatangan kamu kasih ayah kepada Gita berkurang, itu sebabnya Ibu lebih menyayangi Gita, karena Ibu kasihan dan Iba pada Gita. Jadi, Ibu mohon dengan sangat, jangan lagi datang di keluarga ini,”] Anyelir hampir tidak percaya dengan pendengarannya, rasanya begitu sesak ketika Rose berkata demikian. Anyelir diminta untuk menjauhi keluarganya sendiri? Sadarkah apa yang Rose ucapkan barusan? Rasa bersalah pada Gita, membuat Rose lupa bahwa Anyelir adalah putri kandungnya, yang juga butuh kasih sayang.
Anyelir mencoba menghela napas panjang, mencoba bersikap tegar meskipun saat ini perasaannya begitu sakit.
[“Baiklah Bu, kalau itu yang Ibu mau, maka akan aku kabulkan, aku akan melakukan apa yang Ibu mau. Ibu mau aku tidak perduli lagi pada Ibu kan? maka akan aku kabulkan, dan aku tidak akan lagi ikut campur urusan keluarga, apapun itu, kalau begitu selamat malam,”] Anyelir menutup panggilan telepon, dadanya terasa sesak karena menahan isak tangis, dia terus saja memukul bagian dada, agar tidak terlalu sakit, namun tetap saja ucapan Rose yang bagaikan tombak runcing langsung menembus ke hati Anyelir, membuatnya terlalu sakit.
[“Apa anak yang sudah menikah akan dianggap begini oleh orangtuanya? Apa anak perempuan yang sudah menikah akan menjadi orang asing dalam keluarganya?”] tanya Anyelir dengan menahan isak tangisnya.
[“Apa Ibu tidak sadar? Kenapa aku menikah? ini semua demi kalian, aku lakukan ini demi bakti ku kepada ayah dan Ibu. Tapi, tidak masalah, anggap saja aku sudah mati dan tidak ada hubungan apapun diantara kita,”] ujar Anyelir, bukan maksudnya memutuskan hubungan antara dirinya dengan orangtua, namun perkataan Rose sendiri seolah menunjukkan bahwa Anyelir tidak lah penting dalam kehidupannya.
**
“Dev, kamu sudah pulang?” sapa Laura, “aku ada pekerjaan mendadak, dan aku harus terbang ke New York, bolehkan?” tanya Laura, dan diangguki oleh Devan, mendapatkan persetujuan dari suaminya, Laura pun segera berpamitan kepada ibu mertuanya. Setidaknya dalam hati Laura dia sangat bahagia, karena akhirnya bisa bebas dalam hal mengurus Mayang, sebenarnya, kalau bukan karena Mayang satu-satunya orang yang bisa membuat Laura tetap bertahan menjadi istri Devan, dia tidak akan mau mengurus Mayang, meskipun sebenarnya Laura tidak banyak mengambil peran, karena sudah ada suster yang membantu.
“Dev?” panggil Mayang.
“Iya Bu?” Devan menghampiri Ibunya yang tengah duduk di ruang keluarga.
__ADS_1
“Kenapa semua foto keluarga menghilang? Bahkan tidak ada foto pernikahan kamu dengan Laura,” ujar Mayang bertanya membuat Devan nampak bingung menjelaskan, dia cukup berhati-hati kalau harus menyangkut Mayang.
“Iya Bu, di rumah ini kan sekarang banyak orang asing, dan Devan tidak mau silsilah keluarga kita diketahui oleh publik, jadi Devan memutuskan untuk menyimpan foto keluarga ini,” jawab Devan.
“Ya sudah, kalau itu keinginan kamu,” jawab Mayang.
**
Hari ini, Anyelir hendak mencari gaun untuk menghadiri anniversary perusahaan, dan kini Anyelir juga Nabila sudah berada disalah sat butik, mereka sengaja menyempatkan pulang kerja untuk datang ke butik, karena mereka sudah tidak punya banyak waktu. Anyelir menjatuhkan pilihannya pada dress berwarna peach, dengan panjang lengan sebahu dengan model sabrina, terdapat bordiran bunga full dress, sangat cocok dikenakan oleh Anyelir.
“Nye, sumpah loe cantik banget, gue saranin loe ambil deh,” Nabila memuji kecantikan Anyelir ketika Anyelir mencoba dress tersebut, tanpa berpikir panjang lagi, Anyelir pun memilih gaun tersebut.
“Ya udah Nye, gue duluan ya?” Nabila nampak gugup, karena tiba-tiba saja art di rumahnya jatuh sakit, sedangkan kedua orangtua Nabila sendiri sedang tidak di rumah, Nabila pun berencana untuk membawa art nya ke rumah sakit.
“Ya udah, loe hati-hati nggak usah ngebut,” ujar Anyelir was-was, dia tahu seperti apa Nabila berkendara kalau dia sudah sangat kepepet, anggukan kepala sebagai jawaban Nabila nampaknya belum bisa membuat Anyelir tenang.
Karena sudah mendapatkan apa yang dia cari, akhirnya Anyelir memutuskan untuk segera pulang, karena hari sudah cukup sore. Anyelir sudah sempat meminta izin pada Devan sebelum datang ke butik, jadi dia juga bisa lebih tenang berbelanja, hari ini Devan juga tidak bisa mampir ke kediaman Anyelir, karena banyak urusan kantor yang harus dia selesaikan, apalagi tinggal beberapa hari lagi, kantor akan mengadakan acara anniversary.
__ADS_1