Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Rencana keluarga Herlambang


__ADS_3

Arman bergegas pulang saat dia mendapatkan kabar dari salah satu asisten rumah tangganya, bahwa orang tua Gita datang berkunjung. Tapi saat Arman pulang, baik Rose maupun Agam sudah pulang, dan hanya menyisakan Gita dengan mata sembabnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arman dengan cemas, dia takut kalau kedatangan Rose dan Agam ke sini, hanya untuk kembali memarahi Gita.


"Apa yang ayah dan ibu katakan? Apa mereka membuat kamu sedih?" tanya Arman.


Mendengar pertanyaan dari sang suami, dengan cepat Gita menggelengkan kepalanya. "Bukan sayang, ayah dan ibu bukan mengatakan hal-hal yang menyakiti ku," sanggah Gita.


"Lalu, kenapa kamu menangis?" tanya Arman dengan cemas.


"Bacalah, aku harap dengan membaca ini, perasaan kamu nggak berubah." Gita memberikan surat, yang diberikan oleh Agam. Dengan perlahan Arman membacanya, dari nama yang tertera di surat tersebut, Arman sudah tahu bahwa itu adalah tulisan tangan mendiang bunda Gita.


"Jadi, maksudnya, kamu bukan anak dari ayah Agam?" tanya Arman memastikan.


"Iya, mereka semua sudah tahu sejak lama, tapi mereka masih mau menerima aku, bahkan aku juga jadi tahu, bahwa ternyata, bukan ibu Rose yang menjadi istri kedua, justru bunda yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka," isak Gita, dia berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya, ternyata masih tidak bisa.


"Aku jahat Arman, selama ini aku membenci ibu dan juga Gita, karena aku berpikir bahwa aku ingin membalaskan dendam ku pada mereka, ternyata aku salah besar," isak Gita lagi.


"Sayang, sudahlah jangan begini," Arman memeluk Gita dan mencoba menanangkannya.


"Arman, apa kamu masih mau menerima aku, setelah  kamu tahu seperti apa aku? Aku adalah anak haram Arman, aku adalah anak yang beruntung bisa dirawat dengan sangat baik oleh ayah Agam dan ibu Rose," ucap Gita lagi. Dia tahu Arman adalah anak dari keluarga yang terpandang, akan menjadi gosip buruk jika semua orang tahu soal Gita, dan bisa saja kedua orang tua Arman, termasuk Desi akan semakin membenci Gita dan tidak akan pernah bisa menerima Gita menjadi menantu mereka lagi.


"Siapapun kamu, siapapun orang tua kamu, aku tetap sayang pada kamu, Gita. Kamu adalah istri ku, ibu dari anak-anak kita nanti, aku mau kamu mendampingi aku dan kita membesarkan anak-anak kita bersama, kita menua bersama, aku mau sehidup semati bersama kamu," ucap Arman dengan tatapan mata yang begitu tulus, membuat GIta semakin tidak kuasa membendung air matanya. Mereka saling memeluk satu sama lain.


Tanpa Arman dan Gita sadari, pelayan rumah yang memang ditugaskan oleh Dika, untuk bekerja di kediaman Arman dan Gita, ternyata juga memiliki tugas lain, yaitu melaporkan semua kejadian di rumah itu dan memberikan informasi penting pada Dika, termasuk infomasi seputar kenyataan bahwa Gita bukanlah anak kandung Agam pun dilaporkan.


Dika yang mendapatkan laporan itu, seketika tertegun, dia jelas tidak mau putranya memiliki hubungan dengan anak yang tidak jelas asal dan usulnya. Tapi, saat ini Gita dan Arman bukan lagi berpacaran, mereka sudah menikah dan bahkan GIta tengah hamil, yang berarti Gita tengah mengandung cucu pertama keluarga Herlambang.


"Yah, udahlah. Nagapain kita mempertahankan menantu yang gak jelas keluarganya. Meskipun pak Agam memberikan nama besar keluarga di balik nama Gita, tapi darah Gita tidak sedikitpun mengalir darah pak Agam," ucap Desi mencoba memprovokator suaminya.


"Gita sedang hamil, apapun yang terjadi itu cucu pertama kita, dalam tubuhnya ada darah keluarga kita, dan aku tidak mau cucuku hidup menderita di luaran sana," jawab Dika dengan penuh pertimbangan.


"Jadi, kamu masih mau mempertahankan dia?" tanya Desi nampak keberatan.


"Setidaknya, tunggu sampai dia melahirkan," sanggah Dika, karena memang tidak akan bisa jika Dika mendesak Arman menceraikan Gita dalam keadaan hamil, paling tidak mereka harus berpisah saat Gita sudah tidak mengandung nantinya.


-//-


Hari ini, Arman dan Gita sudah melakukan janji temu dengan kedua orang tuanya juga Anyelir, mereka akan berkumpul untuk bisa berbicara dari hati ke hati. Apalagi GIta, banyak hal yang ingin dia bicarakan dan termasuk permintaan maaf, banyak kesalahan yang dia sadari sudah dia lakukan kepada Anyelir sejak dulu.

__ADS_1


"Kamu sudah siap sayang?" kini Devan tengah bersama dengan Anyelir, mereka sudah tiba di lokasi di mana mereka melakukan janji temu.


"Sudah, Mas, tapi jujur aku deg-degan, nggak tahu kenapa," jellas Anyelir, mengutarakan apa yang tengah dia rasakan saat ini.


"Aku yakin, itu karena kamu akan bertemu dengan Gita, tapi dalam keadaan berbeda. JIka biasanya kamu bersiap akan semua kemarahan Gita, kali ini kamu akan bertemu dengan dia dalam suasana yang berbeda, Gita mungkin akan bersikap berbeda, dan jauh lebih baik, setelah dia menyadarai semua kesalahan yang sudah dia perbuat," ujar Devan.


"Iya, aku harap setelah ini, hubungan aku dengan kak Gita juga semakin baik, kami bisa berhubungan selayaknya kakak beradik," harap Anyelir. Devan pun keluar lebih dulu dari mobilnya, lalu berpindah ke pintu Anyelir dan membukakan pintu untuk sang istri. Dengan telaten Devan membantu Anyelir dan memapahnya, memastikan bahwa sang istri akan baik-baik saja.


Setibanya mereka di restaurant VIP, mereka sempat tertegun karena ternyata di dalam sudah ada Gita dan Arman, Rose dan Agam. Ternyata mereka datang lebih dulu dibandingkan dengan Anyelir.


"Anyelir?" gumam Gita menatao ANyelir dengan tatapan haru, langkah mereka berdua saling mendekat, Devan masih siaga di belakang Anyelir, setelah mereka berdua sudah saling dekat, tatapan mereka bertemu, Anyelir tersenyum dengan tatapan tulus, sedangkan Gita nampak menatap Anyelir dengan tatapan sesal, dan haru.


"Anyelir." Gita memeluk Anyelir, pelukan pertama kali yang Anyelir rasakan dengan rasa ketulusan. Anyelir sampai menitikkan air matanya, dia tidak menyangka akhirnya malam ini datang juga.


"Kak Gita," isak Anyelir dalam pelukan sang kakak.


"Maafin aku Anyelir," isak GIta, dia merasa menyesal atas perbuatannya selama ini, kejahatan yang dia lakukan terhadap Anyelir, semua seolah tergambar jelas dalam ingatannya.


Gita melepas pelukannya dan menatap Anyelir. "Aku banyak melakukan salah sama kamu, aku merebut kebahagiaan kamu, aku selalu berbuat semena-mena, dan bahkan aku menjauhkan kamu dari ibu kamu sendiri," isak Gita dengan perasaan penyesalan yang paling dalam. Derai air mata sudah menjelaskan betapa besar penyesalan Gita saat ini, dan hal itu seolah tidak bisa hanya diungkapkan dengan kata-kata semata.


Arman bergegas pulang saat dia mendapatkan kabar dari salah satu asisten rumah tangganya, bahwa orang tua Gita datang berkunjung. Tapi saat Arman pulang, baik Rose maupun Agam sudah pulang, dan hanya menyisakan Gita dengan mata sembabnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arman dengan cemas, dia takut kalau kedatangan Rose dan Agam ke sini, hanya untuk kembali memarahi Gita.


"Apa yang ayah dan ibu katakan? Apa mereka membuat kamu sedih?" tanya Arman.


Mendengar pertanyaan dari sang suami, dengan cepat Gita menggelengkan kepalanya. "Bukan sayang, ayah dan ibu bukan mengatakan hal-hal yang menyakiti ku," sanggah Gita.


"Lalu, kenapa kamu menangis?" tanya Arman dengan cemas.


"Bacalah, aku harap dengan membaca ini, perasaan kamu nggak berubah." Gita memberikan surat, yang diberikan oleh Agam. Dengan perlahan Arman membacanya, dari nama yang tertera di surat tersebut, Arman sudah tahu bahwa itu adalah tulisan tangan mendiang bunda Gita.


"Jadi, maksudnya, kamu bukan anak dari ayah Agam?" tanya Arman memastikan.


"Iya, mereka semua sudah tahu sejak lama, tapi mereka masih mau menerima aku, bahkan aku juga jadi tahu, bahwa ternyata, bukan ibu Rose yang menjadi istri kedua, justru bunda yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka," isak Gita, dia berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya, ternyata masih tidak bisa.


"Aku jahat Arman, selama ini aku membenci ibu dan juga Gita, karena aku berpikir bahwa aku ingin membalaskan dendam ku pada mereka, ternyata aku salah besar," isak Gita lagi.


"Sayang, sudahlah jangan begini," Arman memeluk Gita dan mencoba menanangkannya.

__ADS_1


"Arman, apa kamu masih mau menerima aku, setelah  kamu tahu seperti apa aku? Aku adalah anak haram Arman, aku adalah anak yang beruntung bisa dirawat dengan sangat baik oleh ayah Agam dan ibu Rose," ucap Gita lagi. Dia tahu Arman adalah anak dari keluarga yang terpandang, akan menjadi gosip buruk jika semua orang tahu soal Gita, dan bisa saja kedua orang tua Arman, termasuk Desi akan semakin membenci Gita dan tidak akan pernah bisa menerima Gita menjadi menantu mereka lagi.


"Siapapun kamu, siapapun orang tua kamu, aku tetap sayang pada kamu, Gita. Kamu adalah istri ku, ibu dari anak-anak kita nanti, aku mau kamu mendampingi aku dan kita membesarkan anak-anak kita bersama, kita menua bersama, aku mau sehidup semati bersama kamu," ucap Arman dengan tatapan mata yang begitu tulus, membuat GIta semakin tidak kuasa membendung air matanya. Mereka saling memeluk satu sama lain.


Tanpa Arman dan Gita sadari, pelayan rumah yang memang ditugaskan oleh Dika, untuk bekerja di kediaman Arman dan Gita, ternyata juga memiliki tugas lain, yaitu melaporkan semua kejadian di rumah itu dan memberikan informasi penting pada Dika, termasuk infomasi seputar kenyataan bahwa Gita bukanlah anak kandung Agam pun dilaporkan.


Dika yang mendapatkan laporan itu, seketika tertegun, dia jelas tidak mau putranya memiliki hubungan dengan anak yang tidak jelas asal dan usulnya. Tapi, saat ini Gita dan Arman bukan lagi berpacaran, mereka sudah menikah dan bahkan GIta tengah hamil, yang berarti Gita tengah mengandung cucu pertama keluarga Herlambang.


"Yah, udahlah. Nagapain kita mempertahankan menantu yang gak jelas keluarganya. Meskipun pak Agam memberikan nama besar keluarga di balik nama Gita, tapi darah Gita tidak sedikitpun mengalir darah pak Agam," ucap Desi mencoba memprovokator suaminya.


"Gita sedang hamil, apapun yang terjadi itu cucu pertama kita, dalam tubuhnya ada darah keluarga kita, dan aku tidak mau cucuku hidup menderita di luaran sana," jawab Dika dengan penuh pertimbangan.


"Jadi, kamu masih mau mempertahankan dia?" tanya Desi nampak keberatan.


"Setidaknya, tunggu sampai dia melahirkan," sanggah Dika, karena memang tidak akan bisa jika Dika mendesak Arman menceraikan Gita dalam keadaan hamil, paling tidak mereka harus berpisah saat Gita sudah tidak mengandung nantinya.


-//-


Hari ini, Arman dan Gita sudah melakukan janji temu dengan kedua orang tuanya juga Anyelir, mereka akan berkumpul untuk bisa berbicara dari hati ke hati. Apalagi GIta, banyak hal yang ingin dia bicarakan dan termasuk permintaan maaf, banyak kesalahan yang dia sadari sudah dia lakukan kepada Anyelir sejak dulu.


"Kamu sudah siap sayang?" kini Devan tengah bersama dengan Anyelir, mereka sudah tiba di lokasi di mana mereka melakukan janji temu.


"Sudah, Mas, tapi jujur aku deg-degan, nggak tahu kenapa," jellas Anyelir, mengutarakan apa yang tengah dia rasakan saat ini.


"Aku yakin, itu karena kamu akan bertemu dengan Gita, tapi dalam keadaan berbeda. JIka biasanya kamu bersiap akan semua kemarahan Gita, kali ini kamu akan bertemu dengan dia dalam suasana yang berbeda, Gita mungkin akan bersikap berbeda, dan jauh lebih baik, setelah dia menyadarai semua kesalahan yang sudah dia perbuat," ujar Devan.


"Iya, aku harap setelah ini, hubungan aku dengan kak Gita juga semakin baik, kami bisa berhubungan selayaknya kakak beradik," harap Anyelir. Devan pun keluar lebih dulu dari mobilnya, lalu berpindah ke pintu Anyelir dan membukakan pintu untuk sang istri. Dengan telaten Devan membantu Anyelir dan memapahnya, memastikan bahwa sang istri akan baik-baik saja.


Setibanya mereka di restaurant VIP, mereka sempat tertegun karena ternyata di dalam sudah ada Gita dan Arman, Rose dan Agam. Ternyata mereka datang lebih dulu dibandingkan dengan Anyelir.


"Anyelir?" gumam Gita menatao ANyelir dengan tatapan haru, langkah mereka berdua saling mendekat, Devan masih siaga di belakang Anyelir, setelah mereka berdua sudah saling dekat, tatapan mereka bertemu, Anyelir tersenyum dengan tatapan tulus, sedangkan Gita nampak menatap Anyelir dengan tatapan sesal, dan haru.


"Anyelir." Gita memeluk Anyelir, pelukan pertama kali yang Anyelir rasakan dengan rasa ketulusan. Anyelir sampai menitikkan air matanya, dia tidak menyangka akhirnya malam ini datang juga.


"Kak Gita," isak Anyelir dalam pelukan sang kakak.


"Maafin aku Anyelir," isak GIta, dia merasa menyesal atas perbuatannya selama ini, kejahatan yang dia lakukan terhadap Anyelir, semua seolah tergambar jelas dalam ingatannya.


Gita melepas pelukannya dan menatap Anyelir. "Aku banyak melakukan salah sama kamu, aku merebut kebahagiaan kamu, aku selalu berbuat semena-mena, dan bahkan aku menjauhkan kamu dari ibu kamu sendiri," isak Gita dengan perasaan penyesalan yang paling dalam. Derai air mata sudah menjelaskan betapa besar penyesalan Gita saat ini, dan hal itu seolah tidak bisa hanya diungkapkan dengan kata-kata semata.

__ADS_1


__ADS_2