Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Tragedi


__ADS_3

Anyelir tersenyum, dia menggenggam jemari kakaknya dengan lembut. "Kak, jangan berpikir yang sudah-sudah, aku sudah memaafkan semuanya, dan aku harap Kak Gita dan aku, bisa membuka lembaran baru, meninggalkan cerita lama, dan kita buat kisah indah bersam-sama," harap Anyelir.


"Kamu masih mau, menjadi adikku? Setelah kamu tahu bahwa aku bukan anak kandung ayah?" tanya Gita.


Waktu sudah semakin malam, mereka memutuskan untuk pulang, setelah berpamitan satu sam lain, mereka pun segera menuju ke parkiran mobil, yang memang hanya tingal menyebrang tidak terlalu jauh.Gita memutuskan untuk menyebrang lebih dulu bersama Rose, karena Arman melupakan kunci mobilnya di dalam.


"Gita, Ibu awas!" teriak Arman dari depan restaurant, semua pun menatap pada Gita dan Rose, sebuah mobil dengan jarak dekat melajukan kendaraannya dengan cepat, Rose langsung mendorong tubuh sang putri.


Brraakkk!! suara tubuh Rose yang tertabrak mobil dan terpental, tubub Rose bahkan sempat terguling di atas mobil. Sedangkan Gita yang hampir terjatuh sempat ditangkap oleh Agam.


"Ibu!" teriak Anyelir dengan histeris, Anyelir dan Devan segera menghampiri tubuh Rose yang sudah tekapar lemas tidak berdaya, kepalanya mengeluarkan darah segar, tangan kaki nya lecet.


"Ibu!" Gita langsung terisak, kejadian begitu cepat, membuat mereka semua begitu terkejut. Sasana parkiran yang semula senyap, langsung berubah ramai, mereka dengan sigap menghubungi mobil ambulance dan meminta agar mereka segera datang.


"Bu, tolong bertahan." Agam menatap wajah istrinya dengan perasaan kalut.


"Sayang," Devan mencoba menenangkan sang istri, Anyelir begitu histeris melihat kondisi ibunya. Tidak lama mobil ambulance datang, mereka segara membawa tubuh Rose ke dalam mobil dan diberikan penanganan pertama. Agam diminta ikut dan dengan sigap dia pun naik ke dalam mobil.


"Yah, aku ikut ya?" pinta Gita dan Anyelir.


"Jangan, Nak. Kalian bersama suami kalian saja," pinta Agam, dan akhirnya mau tidak mau Gita dan Anyelir pun menurut. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Agam terus meminta pada Rose untuk bertahan dan tidak meninggalkannya, Agam masih ingin bersama dengan sang istri, Agam tidak bisa membayangkan jika hidupnya tanpa Rose.


"Bu, Ayah mohon, demi aku tolong bertahan," pinta Agam dengan isakannya, rasanya dia merasa suami yang tidak bertanggung jawab, karena tidak bisa menjaga sang istri dengan baik.


"Pak, tenang ya, berdoa lah. Karena hanya kepada Yang Maha Kuasa, kita bisa meminta pertolongan," saran perawat yang berada di samping Rose. Agam menganggukkan kepalanya.


Sedangkan kini, di dalam mobil Devan, Anyelir juga masih terus terisak +


memikirkan bagaimana kondisi sang ibu. Anyelirmelihat dengan jelas bagaimana kerasnya mobil itu menabrak tubuh Rose, rasa takut langsung menjalar pada tubuhnya.


"Sayang, kita doakan ibu ya, semoga tidak terjadi hal buruk pada ibu," ucap Devan. dia menggengam jemari Anyelir mencoba memberikan ketenangan. Devan pun kembali berpikir, soal kejadian kecelakaan tadi, dia yakin hal itu pasti sudah disengaja. Tapi, Devan tidak bisa mengatakan apa yang dipikirkannya sekarang, karena keadaan yang tidak memungkinkan.


Akhirnya, mereka tiba di rumah sakit, Rose langsung di bawa ke ruang IGD, Dokter juga segera datang memberikan penanganan. Anyelir, Gita, dan Agam jelas masih saja terlihat begit khawatir, apalagi saat mereka melihat begitu banyak darah yang keluar.


["Tenang ya sayang,"] Arman terus memeluk Gita memberikan kekuatan.


["Kamu sama ayah dulu ya?"] ucap Devan kepada Anyelir. Devan sedikit menjauh, dia tengah mencoba menghubungi seseorang.


["Tuan, ada apa? Apa ada yang Tuan butuhkan?"] tanya Felix dengan sigap.


["Iya, aku ingin kamu melakukan sesuatu Felix,"] ucap Devan, dia pun menceritakansoal kejadian kecelakaan yang menimpa ibu mertuanya dan hampir mengenai Gita juga. ["Aku ingin, kamu memeriksa cctv sekarang juga, karena aku yakin kecelakaan ini sudah di rencanakan,"] titah Devan.


["Baik, Tuan saya akan segera menjalankan tugas ini,"] tanpa pikir panjang, jelas Felix segera mengiyakan tugas tersebut. Bahkan, dia pun segera bersiap menuju restaurant teresebut, karena Felix takut pelaku ini lebih dulu menghancurkan barang bukti.


Felix akhirnya sampai di restaurant yang diberitahukan oleh Devan, dia langsung menuju ke manager restaurant.

__ADS_1


"Saya Felix, asisten Tuan Devan Willson, salah satu pengunjung, yang tadi ibu mertuanya mengalami kecelakaan di depan restaurant," jelas Felix memperkenalkan. Manager restaurant yang mendengar nama Devan Willson, terkejut, mereka jelas mengenal siapa Devan Willson, karena memang Devan adalah seorang pebisnis yang terkenal.


Felix melihat rekaman cctv, mobil itu datang dan nampak pengemudi tidak keluar sama sekali, mobil itu datang setelah mobil Arman dan Gita sampai di restaurant, dan anehnya pengemudi mobil itu, sama sekali tidak keluar, sampai terlihat keluarga Nadine mulai keluar dari restaurant. Kejadian kecelakaan itu, terekam jelas di cctv, Felix sudah mengantongi bukti, dia mencatat nomor plat mobil itu, dan mengirimkan pada salah satu anak buahnya, untuk melacak plat mobil itu, namun hasilnya nihil. Itu adalah plat mobil palsu.


Di sisi lain, Devan dan yang lainnya, masih menunggu Dokter yang masih menangani Rose. Tidak lama, Dokter keluar dengan memasang wajah yang nampak mengkhawatirkan. Agam pun bergegas mendekati Dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Agam.


"Istri Bapak, kehilangan banyak darah, dan kami butuh darah B, kebetulan rumah sakit hanya ada satu kantung, mungkin dari keluarga ada," tanya Dokter.


"Darah saya B, Dok," ucap Anyelir, tapi Dokter yang melihat Anyelir tengah hamil menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Bu. Ibu sedang hamil, kan?" tanya Dokter.


"Iya, Dok," jawab Anyelir.


"Maaf, Ibu tidak bisa mendonorkan darah, itu terlalu riskan," ujar Dokter.


"Dok, tapi bagaiman dengan ibu saya. Ibu saya butuh saya, Dok,"Anyelir terisak, memohon supaya Dokter bisa mengambil darahnya.


"Bu, hal itu sangat berbahaya untuk janin Ibu, saya tidak bisa mengambil resiko itu," tolak Dokter dengan tegas.


"Sayang, tenang lah. Aku akan coba cari, aku yakin dari semua anak buah ku pasti ada, dan aku juga akan kabari pada semua karyawan," ucap Devan, dia pun mencoba menangkan Anyelir, sembari menyebarkan informasi tersebut. Tidak lama, setidaknya ada 10 orang yang siap mendonorkan darahnya, mereka bahkan bersedia datang malam itu juga.


Anyelir tersenyum, dia menggenggam jemari kakaknya dengan lembut. "Kak, jangan berpikir yang sudah-sudah, aku sudah memaafkan semuanya, dan aku harap Kak Gita dan aku, bisa membuka lembaran baru, meninggalkan cerita lama, dan kita buat kisah indah bersam-sama," harap Anyelir.


"Kamu masih mau, menjadi adikku? Setelah kamu tahu bahwa aku bukan anak kandung ayah?" tanya Gita.


Waktu sudah semakin malam, mereka memutuskan untuk pulang, setelah berpamitan satu sam lain, mereka pun segera menuju ke parkiran mobil, yang memang hanya tingal menyebrang tidak terlalu jauh.Gita memutuskan untuk menyebrang lebih dulu bersama Rose, karena Arman melupakan kunci mobilnya di dalam.


"Gita, Ibu awas!" teriak Arman dari depan restaurant, semua pun menatap pada Gita dan Rose, sebuah mobil dengan jarak dekat melajukan kendaraannya dengan cepat, Rose langsung mendorong tubuh sang putri.


Brraakkk!! suara tubuh Rose yang tertabrak mobil dan terpental, tubub Rose bahkan sempat terguling di atas mobil. Sedangkan Gita yang hampir terjatuh sempat ditangkap oleh Agam.


"Ibu!" teriak Anyelir dengan histeris, Anyelir dan Devan segera menghampiri tubuh Rose yang sudah tekapar lemas tidak berdaya, kepalanya mengeluarkan darah segar, tangan kaki nya lecet.


"Ibu!" Gita langsung terisak, kejadian begitu cepat, membuat mereka semua begitu terkejut. Sasana parkiran yang semula senyap, langsung berubah ramai, mereka dengan sigap menghubungi mobil ambulance dan meminta agar mereka segera datang.


"Bu, tolong bertahan." Agam menatap wajah istrinya dengan perasaan kalut.


"Sayang," Devan mencoba menenangkan sang istri, Anyelir begitu histeris melihat kondisi ibunya. Tidak lama mobil ambulance datang, mereka segara membawa tubuh Rose ke dalam mobil dan diberikan penanganan pertama. Agam diminta ikut dan dengan sigap dia pun naik ke dalam mobil.


"Yah, aku ikut ya?" pinta Gita dan Anyelir.


"Jangan, Nak. Kalian bersama suami kalian saja," pinta Agam, dan akhirnya mau tidak mau Gita dan Anyelir pun menurut. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Agam terus meminta pada Rose untuk bertahan dan tidak meninggalkannya, Agam masih ingin bersama dengan sang istri, Agam tidak bisa membayangkan jika hidupnya tanpa Rose.

__ADS_1


"Bu, Ayah mohon, demi aku tolong bertahan," pinta Agam dengan isakannya, rasanya dia merasa suami yang tidak bertanggung jawab, karena tidak bisa menjaga sang istri dengan baik.


"Pak, tenang ya, berdoa lah. Karena hanya kepada Yang Maha Kuasa, kita bisa meminta pertolongan," saran perawat yang berada di samping Rose. Agam menganggukkan kepalanya.


Sedangkan kini, di dalam mobil Devan, Anyelir juga masih terus terisak +


memikirkan bagaimana kondisi sang ibu. Anyelirmelihat dengan jelas bagaimana kerasnya mobil itu menabrak tubuh Rose, rasa takut langsung menjalar pada tubuhnya.


"Sayang, kita doakan ibu ya, semoga tidak terjadi hal buruk pada ibu," ucap Devan. dia menggengam jemari Anyelir mencoba memberikan ketenangan. Devan pun kembali berpikir, soal kejadian kecelakaan tadi, dia yakin hal itu pasti sudah disengaja. Tapi, Devan tidak bisa mengatakan apa yang dipikirkannya sekarang, karena keadaan yang tidak memungkinkan.


Akhirnya, mereka tiba di rumah sakit, Rose langsung di bawa ke ruang IGD, Dokter juga segera datang memberikan penanganan. Anyelir, Gita, dan Agam jelas masih saja terlihat begit khawatir, apalagi saat mereka melihat begitu banyak darah yang keluar.


["Tenang ya sayang,"] Arman terus memeluk Gita memberikan kekuatan.


["Kamu sama ayah dulu ya?"] ucap Devan kepada Anyelir. Devan sedikit menjauh, dia tengah mencoba menghubungi seseorang.


["Tuan, ada apa? Apa ada yang Tuan butuhkan?"] tanya Felix dengan sigap.


["Iya, aku ingin kamu melakukan sesuatu Felix,"] ucap Devan, dia pun menceritakansoal kejadian kecelakaan yang menimpa ibu mertuanya dan hampir mengenai Gita juga. ["Aku ingin, kamu memeriksa cctv sekarang juga, karena aku yakin kecelakaan ini sudah di rencanakan,"] titah Devan.


["Baik, Tuan saya akan segera menjalankan tugas ini,"] tanpa pikir panjang, jelas Felix segera mengiyakan tugas tersebut. Bahkan, dia pun segera bersiap menuju restaurant teresebut, karena Felix takut pelaku ini lebih dulu menghancurkan barang bukti.


Felix akhirnya sampai di restaurant yang diberitahukan oleh Devan, dia langsung menuju ke manager restaurant.


"Saya Felix, asisten Tuan Devan Willson, salah satu pengunjung, yang tadi ibu mertuanya mengalami kecelakaan di depan restaurant," jelas Felix memperkenalkan. Manager restaurant yang mendengar nama Devan Willson, terkejut, mereka jelas mengenal siapa Devan Willson, karena memang Devan adalah seorang pebisnis yang terkenal.


Felix melihat rekaman cctv, mobil itu datang dan nampak pengemudi tidak keluar sama sekali, mobil itu datang setelah mobil Arman dan Gita sampai di restaurant, dan anehnya pengemudi mobil itu, sama sekali tidak keluar, sampai terlihat keluarga Nadine mulai keluar dari restaurant. Kejadian kecelakaan itu, terekam jelas di cctv, Felix sudah mengantongi bukti, dia mencatat nomor plat mobil itu, dan mengirimkan pada salah satu anak buahnya, untuk melacak plat mobil itu, namun hasilnya nihil. Itu adalah plat mobil palsu.


Di sisi lain, Devan dan yang lainnya, masih menunggu Dokter yang masih menangani Rose. Tidak lama, Dokter keluar dengan memasang wajah yang nampak mengkhawatirkan. Agam pun bergegas mendekati Dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Agam.


"Istri Bapak, kehilangan banyak darah, dan kami butuh darah B, kebetulan rumah sakit hanya ada satu kantung, mungkin dari keluarga ada," tanya Dokter.


"Darah saya B, Dok," ucap Anyelir, tapi Dokter yang melihat Anyelir tengah hamil menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Bu. Ibu sedang hamil, kan?" tanya Dokter.


"Iya, Dok," jawab Anyelir.


"Maaf, Ibu tidak bisa mendonorkan darah, itu terlalu riskan," ujar Dokter.


"Dok, tapi bagaiman dengan ibu saya. Ibu saya butuh saya, Dok,"Anyelir terisak, memohon supaya Dokter bisa mengambil darahnya.


"Bu, hal itu sangat berbahaya untuk janin Ibu, saya tidak bisa mengambil resiko itu," tolak Dokter dengan tegas.

__ADS_1


"Sayang, tenang lah. Aku akan coba cari, aku yakin dari semua anak buah ku pasti ada, dan aku juga akan kabari pada semua karyawan," ucap Devan, dia pun mencoba menangkan Anyelir, sembari menyebarkan informasi tersebut. Tidak lama, setidaknya ada 10 orang yang siap mendonorkan darahnya, mereka bahkan bersedia datang malam itu juga.


__ADS_2