Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Undangan makan malam 2


__ADS_3

Anyelir, menatap sekeliling. Melihat pelayan yang nampak sibuk ke sana dan ke mari. Hal yang jarang dilakukan, kecuali jika memang akan ada acara. Namun, Anyelir tidak tahu sama sekali, kalau ternyata Devan kembali mengadakan makan malam dengan mengundang kedua orang tuanya.


"Tumben Bu, semuanya terlihat sibuk." ucap Anyelir seraya menatap heran semua pelayan.


"Ibu nggak tahu, justru Ibu mau tanya sama kamu, Nak." jawab Mayang, seraya menatap heran Anyelir.


"Nanti malam, akan ada acara makan malam." Devan menimpali dan menjawab pertanyan Mayang serta Anyelir.


"Makan malam? Lagi?" tanya Anyelir, dengan raut wajah heran.


"Iya, jadi kamu dan Ibu bersiap ya?" Devan, tanpa menjelaskan siapa tamu undangannya untuk malam ini, membuat Mayang dan Anyelir, bertanya-tanya. Devan segera pergi, karena dia mendapatkan telepon dari seseorang.


"Kira-kira siapa ya, Bu? Tamu kak Devan?" tanya Anyelir penasaran.


"Mungkin, kolega Devan. Karena dulu, Ibu juga begitu. Ayah Devan  terkadang mengundang client nya untuk makan malam di rumah, untuk menjalin hubungan kerja sama yang lebih baik,"  jelas Mayang. Anyelir pun menganggukkan kepalanya, karena apa yang disampaikan oleh ibu mertuanya, memang masuk akal.


.

__ADS_1


.


Malam sudah tiba, Rose sudah bersiap untuk menghadiri undangan makan malam dari Devan. Sejujurnya, Agam menaruh curiga, kenapa  Devan kembali mengundangnya untuk makan malam? Dan sekarang, Rose pun mau untuk ikut dengannya. Namun, Agam tidak mau berburuk sangka, Agam berharap ini adalah awal mula perubahan sikap Rose  kepada  Anyelir, menjadi lebih baik.


"Ayah? Ibu? Kalian mau ke mana?" tanpa di duga, Agam dan Rose, yang sudah bersiap pergi, kini malah bertemu dengan Gita.


"Kami mau  ke-" ucapan Agam terpotong, karena Rose langsung menjawabnya.


"Kami mau menghadiri pesta pernikahan anak dari kolega, Ayah." jawab  Rose dengan  senyumnya yang khas, Rose berusaha menjawab setenang mungkin, supaya Gita tidak curiga.


"Benarkah?" tanya Gita kepada ayahnya, rupanya dia tidak begitu mudah percaya.


"Ya sudah, tapi aku di sini ya?" ucap Gita.


"Kenapa? Lalu mana Arman?" tanya Agam mencari keberadaan suami Gita.


"Arman pulang malam Yah, dan aku takut sendirian di apartement," jawab Gita dengan nada memelas.

__ADS_1


"Ya sudah, tapi kabari dulu suami kamu, supaya dia tidak khawatir dan mencari kamu nanti." titah Agam.


"Iya Yah."  jawab Gita seraya masuk ke dalam rumah. Rose dan Agam pun memutuskan untuk segera pergi, karena takut terlambat sampai di sana.


"Kenapa kamu berbohong?"  tanya Agam dengan raut wajah curiga.


"Ya, kan Gita nggak diundang, Yah. Kalau sampai dia dengar Anyelir dan Devan mengundang kita untuk makan malam lagi, terus dia nggak diundang untuk kedua kali, pasti Gita akan sakit hati. Jadi, sebaiknya kita rahasiakan saja," jawab Rose memberikan alasan.


"Iya Bu, kamu benar." Agam menganggukkan kepalanya, dia setuju dengan apa yang disampaikan oleh istrinya.


.


.


Semua hidangan sudah  tersaji di meja makan, Devan  sudah mempertimbangkan semua asupan makanan yang boleh dikonsumsi oleh Anyelir selagi dalam masa mengandung. Anyelir dan Mayang sudah bersiap bahkan mereka sekarang ini sedang di ruang tamu, menantikan tamu yang, yang sudah diundang oleh Devan.


"Itu mereka datang." ucap Devan seraya bangkit dari tempat duduknya, saat mendengar suara mesin mbil. Anyelir, dan Mayang pun mengikuti Devan untuk menyambut kedatangan tamunya.

__ADS_1


"Ayah? Ibu?"


__ADS_2