Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Masa lalu kelam


__ADS_3

Flashback on


Hari ini adalah hari yang sangat aku tunggu-tunggu, karena hari ini akan menjadi sejarah yang paling bermakna dalam kehidupanku, di mana aku akan mengikat janji suci pernikahan dengan wanita pujaan hatiku, Laura Nasution. Hubungan yang sudah kami jalani selama 5 tahun, akhirnya bisa menuju kejenjang yang lebih serius. Aku sudah bersiap mengenakan jas pernikahan, aku memuji penampilanku lewat pantulan cermin, terlihat gagah seperti biasanya. Tidak lama Ibuku terlihat datang, dan tersenyum menatap ku.


“Kau sangat tampan Nak,” ujar Ibu.


“Ibu juga sangat cantik,” jawabku, “oh iya Bu, Ayah kapan datang?” Ayah memang tengah berada di luar kota, mengurus beberapa pekerjaan, dan hari ini seharusnya dia sudah datang, namun menurut informasi ayah masih dalam perjalanan terjebak macet.


“Ya sudah, ayo kita ke tempat acara dulu, sambil menunggu kedatangan Laura.” Ajak Ibu, pernikahan aku dan Laura memang diselenggarakan di salah satu hotel milik keluarga Willson, dan kami hanya tinggal menunggu ayah serta calon mempelai wanita.


Baru keluar dari kamarku meningap di hotel, aku dikejutkan dengan kedatangan salah satu anak buah ku, yang datang dengan sangat tergesa-gesa, dia memberikan sepucuk surat yang entah dari mana, aku pun membuka surat itu dengan perasaan tidak enak.


...Dear Devan,...


...Dev, maaf aku tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kita, aku mendaptakan panggilan menjadi model di Amerika, dan ini salah satu gerbang dimulainya karirku, kamu tahu kan betapa aku sangat ingin menjadi model terkenal sekelas Hollywood, dan ini adalah jalannya. Aku harap kamu bisa mengerti. Aku janji, setelah aku sudah mendapatkan semuanya, aku akan kembali pada kamu, karena kamu jelas tahu, kalau aku sangat mencintai kamu. I love you Devan....


...Yang terkasih,...


...Laura....


Mataku Membulat sempurna setelah membacar isi surat tersebut, Laura membatalkan pernikahan tepat di hari pernikahan kami, dan acara hanya tinggal menghitung menit, aku meremas surat itu dengan sangat kencang, sampai semua urat di tanganku terlihat. Melihat perubahan wajahku setelah membacar surat itu, Ibu langsung menanyakan apa yang terjadi padaku, aku menatap Ibu dengan tatapan menyesal, karena pastinya hari ini akan menjadi hari yang sangat memalukan bagi keluarga Willson.


“Ada apa Nak?” Ibu bertanya dengan mimic wajah serius.


“Laura membatalkan pernikahan,” suaraku mulai parau, entah apa yang harus aku katakana kepada semua tamu undangan yang sudah hadir, apalagi tamu-tamu undangan kebanyakan dari kolega dan client perusahaan.


“Apa!? tidak mungkin!” tentunya tidak mudah bagi Ibu menerima kabar ini, aku pun memberikan surat itu, dan barulah  Ibu bisa percaya. Syok, itu yang Ibu rasakan, tentu sulit dipercaya kalau Laura lebih memilih karirnya dibandingkan pernikahan kami.

__ADS_1


“Bagaimana ini Devan? Bagaimana kita akan menjelaskan kepada semua tamu undangan?” Ibu mulai panic, begitupun dengan ku, tapi aku harus bisa mengambil semua resiko ini. Di tengah perbincangan kami, tba-tiba saja ponsel Ibu bordering, tanda panggilan masuk.


[“Halo,”] sebisa mungkin Ibu bersikap dengan tenang.


[….]


[“Iya betul,”] suara Ibu mulai terdengar was-was, aku pun meminta agar ibu mengeraskan volume, agar aku juga bisa mendengar.


[“Begini Bu, suami Ibu pak Yanuar Willson mengalami kecelakaan, semua penumpang dalam mobil tersebut meninggal di tempat,”] bagaikan sambaran petir yang menghujam hatiku, mendapati kabar duka yang sangat memukul relung hati, aku harus mendapati kabar bahwa ayahku meninggal di hari gagalnya pernikahan ku. Aku menatap Ibu yang juga masih sangat syok, dia trlihat terdiam sejenak. Aku yakin, ini tidak akan mudah bagi Ibu, tapi apapun itu aku akan selalu mendampingi Ibu.


“Mas Yanuar!!!” teriak Ibu histeris, dia langsung berlari menuruni tangga yang cukup tinggi.


“Bu, hati-hati!!” seruku, namun kejadian yang tidak terduga terjadi, Ibu terjatuh dari tangga tepat di depan mataku.


“Ibu!!!!!” seruku, aku menghampiri tubuh Ibu yang sudah tergeletak tidak berdaya, semua tamu undangan mulai berkerumun, darah segar keluar dari kepala Ibu, membuat aku takut setengah mati.


“Felix!!!!” aku berteriak memanggil nama Felix, sigap dia membantuku membawa Ibu ke mobil yang sudah disediakan.


“Bu, tolong bertahanlah,” pintaku penuh harap, aku terus terisak memanggil nama ibu, berharap dia membuka matanya. Hari ini aku harus menerima kabar yang benar-benar menyakitkan bagiku.


Flasbck off


“Tuan!!” aku membuka mata, kala mendengar seruan seseorang memanggil namaku, ternyata aku ketiduran dan sudah hampir jam 8 malam.


“Iya,” aku keluar dari kamar dan menadapati salah seorang pelayan.


“Maaf Tuan, makan malam sudah siap.”

__ADS_1


“Baiklah, aku akan mandi dulu,” aku pun kembali masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri.


Author Pove


Anyelir sudah duduk di tempatnya, karena memang sudah saatnya jam makan malam, sebenarnya dia masih canggung untuk bertemu dengan Devan saat ini, mengingat bagaimana tadi sore Devan mengecup bibirnya.


‘Rasanya bibir Tuan Devan masih menempel,’ batin Anylir, entah kenapa dia tidak bisa melupakan kejadian itu. Disaat Anyelir tengah melamun, tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki menuruni tangga, dan itu adalah suara langkah kaki Devan.


‘Kenapa jantungku berdegub semakin kencang?’ Anyelir menundukkan pandangannya, dia harus bisa mengontrol debaran jantungnya sekarang.


“Kau menungguku?” tanya Devan kepada Anyelir.


“Iya Tuan,” jawab Anyelir sopan, dan hanya diangguki oleh Anyelir.


“Biar saya ambilkan Tuan?” tawar Anyelir, dia merasa ini juga tugasnya sebagai seorang istri untuk melayani suaminya.


“Kenapa? pelayan bisa mengambilkannya untuk ku,” ujar Devan, dia belum paham dari maksud Anyelir nampaknya.


“Ta-tapi saya istri Tuan, jadi saya seharusnya bisa melayani Tuan kan?” tanya Anyelir.


Devan tersenyum karena dia paham sekarang, Devan pun membiarkan Anyelir untuk melayaninya. Baru kali ini Devan dilayani oleh seorang istri, karena selama ini Laura tidak pernah sekalipun melakukan hal yang sama seperti apa yang Anyelir lakukan, karena Laura selalu saja mengandalkan pelayan yang sudah dipekerjakan oleh Devan.


“Silahkan Tuan,” Anyelir memberikan nasi dengan lauk pauk yang memang disukai oleh Devan.


“Kau pintar melayaniku di meja makan, tapi apa kau juga pintar dalam ranjang?” Anyelir terpaku, dia terkejut dengan pertanyaan Devan yang membuat Anyelir tak mampu untuk berkata-kata. Bagaimana mungkin Anyelir bisa mengetahui jawaban dari pertanyaan Devan itu, sedangkan ciuman tadi sore saja adalah yang pertama kali bagi Anyelir. Tanpa sadar Anyelir menggelengkan kepalanya pelan, membuat Devan menarik senyumnya sedikit, karena merasa lucu dengan istri keduanya itu.


“Sudahlah, jangan dipikirkan, kau harus makan agar bisa lebih bertenaga,” ujar Devan menyadarkan Anyelir.

__ADS_1


Semua pelayan yang melihat senyuman tipis Devan cukup terkejut, karena selama ini mereka tidak pernah lagi melihat senyum kebahagiaan itu, dan melihat Devan bisa sedikit tersenyum, merupakan suatu kemajuan, dan Devan hanya bisa tersenyum ketika berhadapan dengan Anyelir.


‘Semoga saja, seterusnya Nona Anyelir bisa menghadirkan kebahagiaan bagi Tuan Devan,’ batin Larissa penuh harap.


__ADS_2