
"Bun, aku capek Bunda terus menerus meminta aku meninggalkan Gita, bukankah aku sudah bilang, bahwa aku nggak bisa, karena aku sangat mencintai Gita," dengan penuh penekanan, Arman mencoba menjelaskaan kepada bundanya, yang entah apakah bundanya akan mendengarkan Arman atau tidak.
"Arman, kamu sadar nggak sih, kalau Gita itu cuman pura-pura berubah, sebenarnya dia masih wanita jahat. Kamu hanya dimanfaatkan oleh dia," ucap Desi dengan menggebu.
"Terserah kamu Arman, kamu memang keras kepala," sepertinya Desi mulai kesal dan menyerah.
"Bukankah Bunda juga keras kepala, Bunda juga terus saja mengganggu Gita, kan. Kalau saja ayah tahu, aku yakin ayah akan kecewa," ucap Arman, dan benar saja perkataan Arman sedikit membuat raut wajah Desi berubah, sepertinya dia mulai takut.
"Apa Bunda mau, aku mengadukan ini semua ke ayah?" Arman mulai mengancam.
"Kamu tega Arman, kalau sampai orang tua kamu bertengkar?" Desi tidak percaya kalau Arman bisa begitu tega dengannya.
"Aku bukannya tega, Bun. Aku cuman mau Bunda stop ganggu Gita, sekaran ini Gita harus banyak istirahat, karena dia sedang mengandung cucu pertama Bunda," jawab Arman.
"Kamu akan menyesal Arman, karen kamu lebih membela Gita, yang jelas akan terus menyusahkan kamu dan akan menghancurkan keluarga kita," setelah mengatakan itu, Desi memilih pergi, dia merasa percuma berbicara dengan Arman.
Arman menghela napasnya, dia menatap punggung bundanya yang semakin menjauh. Bukan bermaksud kurang ajar, justru Arman ingin bundanya menjauhi masalah, dengan tidak mengganggu Gita, karena ayahnya sendiri juga sudah berpesan kepada Arman, untuk menjaga Gita, karena Gita tengah mengandung cucu pertama keluarga Wijaya.
Arman akhirnya kembali ke apartement, dia menatap istrinya yang nampaknya masih menunggu kepulangan dirinya.
"Sayang, kok tidur sih? Aku, kan udah bilang supaya kamu istirahat," Arman mendekati Gita dan duduk di samping Gita.
"GImana caranya aku bisa tidur, klau aku kepikiran kamu dan aku takut kalau kamu akan dengerin omongan bunda kamu dan aku ditinggal oleh kamu," GIta mulai mengeluarkan air mata buayanya. Arman pun menjadi tidak tega, dia memeluk sang istri, memberikan ketenangan dan meyakinkan bahwa dia tidakk akan meninggalkan Gita.
"Kamu tenang ya, apapun yang terjadi aku nggak akan ninggalin kamu. Meskipun bunda datang dan memaksa aku terus menerus, tapi aku janji aku akan selalu ada buat kamu," ucap Arman mencoba meyakinkan Gita.
"Makasih banyak ya, Mas. Padahal aku adalh istri yang jahat, aku selalu memerintah kamu ini dan itu, tapi kamu selalu sabar," entah kenapa, GIta merasa benar-benar menyesal kepada Arman, atas semua sikapnya. Padahal, Arman selalu bersikap baik, bahkan sampai saat ini.
"Bun, aku capek Bunda terus menerus meminta aku meninggalkan Gita, bukankah aku sudah bilang, bahwa aku nggak bisa, karena aku sangat mencintai Gita," dengan penuh penekanan, Arman mencoba menjelaskaan kepada bundanya, yang entah apakah bundanya akan mendengarkan Arman atau tidak.
"Arman, kamu sadar nggak sih, kalau Gita itu cuman pura-pura berubah, sebenarnya dia masih wanita jahat. Kamu hanya dimanfaatkan oleh dia," ucap Desi dengan menggebu.
"Terserah kamu Arman, kamu memang keras kepala," sepertinya Desi mulai kesal dan menyerah.
"Bukankah Bunda juga keras kepala, Bunda juga terus saja mengganggu Gita, kan. Kalau saja ayah tahu, aku yakin ayah akan kecewa," ucap Arman, dan benar saja perkataan Arman sedikit membuat raut wajah Desi berubah, sepertinya dia mulai takut.
__ADS_1
"Apa Bunda mau, aku mengadukan ini semua ke ayah?" Arman mulai mengancam.
"Kamu tega Arman, kalau sampai orang tua kamu bertengkar?" Desi tidak percaya kalau Arman bisa begitu tega dengannya.
"Aku bukannya tega, Bun. Aku cuman mau Bunda stop ganggu Gita, sekaran ini Gita harus banyak istirahat, karena dia sedang mengandung cucu pertama Bunda," jawab Arman.
"Kamu akan menyesal Arman, karen kamu lebih membela Gita, yang jelas akan terus menyusahkan kamu dan akan menghancurkan keluarga kita," setelah mengatakan itu, Desi memilih pergi, dia merasa percuma berbicara dengan Arman.
Arman menghela napasnya, dia menatap punggung bundanya yang semakin menjauh. Bukan bermaksud kurang ajar, justru Arman ingin bundanya menjauhi masalah, dengan tidak mengganggu Gita, karena ayahnya sendiri juga sudah berpesan kepada Arman, untuk menjaga Gita, karena Gita tengah mengandung cucu pertama keluarga Wijaya.
Arman akhirnya kembali ke apartement, dia menatap istrinya yang nampaknya masih menunggu kepulangan dirinya.
"Sayang, kok tidur sih? Aku, kan udah bilang supaya kamu istirahat," Arman mendekati Gita dan duduk di samping Gita.
"GImana caranya aku bisa tidur, klau aku kepikiran kamu dan aku takut kalau kamu akan dengerin omongan bunda kamu dan aku ditinggal oleh kamu," GIta mulai mengeluarkan air mata buayanya. Arman pun menjadi tidak tega, dia memeluk sang istri, memberikan ketenangan dan meyakinkan bahwa dia tidakk akan meninggalkan Gita.
"Kamu tenang ya, apapun yang terjadi aku nggak akan ninggalin kamu. Meskipun bunda datang dan memaksa aku terus menerus, tapi aku janji aku akan selalu ada buat kamu," ucap Arman mencoba meyakinkan Gita.
"Makasih banyak ya, Mas. Padahal aku adalh istri yang jahat, aku selalu memerintah kamu ini dan itu, tapi kamu selalu sabar," entah kenapa, GIta merasa benar-benar menyesal kepada Arman, atas semua sikapnya. Padahal, Arman selalu bersikap baik, bahkan sampai saat ini.
"Bun, aku capek Bunda terus menerus meminta aku meninggalkan Gita, bukankah aku sudah bilang, bahwa aku nggak bisa, karena aku sangat mencintai Gita," dengan penuh penekanan, Arman mencoba menjelaskaan kepada bundanya, yang entah apakah bundanya akan mendengarkan Arman atau tidak.
"Arman, kamu sadar nggak sih, kalau Gita itu cuman pura-pura berubah, sebenarnya dia masih wanita jahat. Kamu hanya dimanfaatkan oleh dia," ucap Desi dengan menggebu.
"Terserah kamu Arman, kamu memang keras kepala," sepertinya Desi mulai kesal dan menyerah.
"Bukankah Bunda juga keras kepala, Bunda juga terus saja mengganggu Gita, kan. Kalau saja ayah tahu, aku yakin ayah akan kecewa," ucap Arman, dan benar saja perkataan Arman sedikit membuat raut wajah Desi berubah, sepertinya dia mulai takut.
"Apa Bunda mau, aku mengadukan ini semua ke ayah?" Arman mulai mengancam.
"Kamu tega Arman, kalau sampai orang tua kamu bertengkar?" Desi tidak percaya kalau Arman bisa begitu tega dengannya.
"Aku bukannya tega, Bun. Aku cuman mau Bunda stop ganggu Gita, sekaran ini Gita harus banyak istirahat, karena dia sedang mengandung cucu pertama Bunda," jawab Arman.
"Kamu akan menyesal Arman, karen kamu lebih membela Gita, yang jelas akan terus menyusahkan kamu dan akan menghancurkan keluarga kita," setelah mengatakan itu, Desi memilih pergi, dia merasa percuma berbicara dengan Arman.
__ADS_1
Arman menghela napasnya, dia menatap punggung bundanya yang semakin menjauh. Bukan bermaksud kurang ajar, justru Arman ingin bundanya menjauhi masalah, dengan tidak mengganggu Gita, karena ayahnya sendiri juga sudah berpesan kepada Arman, untuk menjaga Gita, karena Gita tengah mengandung cucu pertama keluarga Wijaya.
Arman akhirnya kembali ke apartement, dia menatap istrinya yang nampaknya masih menunggu kepulangan dirinya.
"Sayang, kok tidur sih? Aku, kan udah bilang supaya kamu istirahat," Arman mendekati Gita dan duduk di samping Gita.
"GImana caranya aku bisa tidur, klau aku kepikiran kamu dan aku takut kalau kamu akan dengerin omongan bunda kamu dan aku ditinggal oleh kamu," GIta mulai mengeluarkan air mata buayanya. Arman pun menjadi tidak tega, dia memeluk sang istri, memberikan ketenangan dan meyakinkan bahwa dia tidakk akan meninggalkan Gita.
"Kamu tenang ya, apapun yang terjadi aku nggak akan ninggalin kamu. Meskipun bunda datang dan memaksa aku terus menerus, tapi aku janji aku akan selalu ada buat kamu," ucap Arman mencoba meyakinkan Gita.
"Makasih banyak ya, Mas. Padahal aku adalh istri yang jahat, aku selalu memerintah kamu ini dan itu, tapi kamu selalu sabar," entah kenapa, GIta merasa benar-benar menyesal kepada Arman, atas semua sikapnya. Padahal, Arman selalu bersikap baik, bahkan sampai saat ini.
"Bun, aku capek Bunda terus menerus meminta aku meninggalkan Gita, bukankah aku sudah bilang, bahwa aku nggak bisa, karena aku sangat mencintai Gita," dengan penuh penekanan, Arman mencoba menjelaskaan kepada bundanya, yang entah apakah bundanya akan mendengarkan Arman atau tidak.
"Arman, kamu sadar nggak sih, kalau Gita itu cuman pura-pura berubah, sebenarnya dia masih wanita jahat. Kamu hanya dimanfaatkan oleh dia," ucap Desi dengan menggebu.
"Terserah kamu Arman, kamu memang keras kepala," sepertinya Desi mulai kesal dan menyerah.
"Bukankah Bunda juga keras kepala, Bunda juga terus saja mengganggu Gita, kan. Kalau saja ayah tahu, aku yakin ayah akan kecewa," ucap Arman, dan benar saja perkataan Arman sedikit membuat raut wajah Desi berubah, sepertinya dia mulai takut.
"Apa Bunda mau, aku mengadukan ini semua ke ayah?" Arman mulai mengancam.
"Kamu tega Arman, kalau sampai orang tua kamu bertengkar?" Desi tidak percaya kalau Arman bisa begitu tega dengannya.
"Aku bukannya tega, Bun. Aku cuman mau Bunda stop ganggu Gita, sekaran ini Gita harus banyak istirahat, karena dia sedang mengandung cucu pertama Bunda," jawab Arman.
"Kamu akan menyesal Arman, karen kamu lebih membela Gita, yang jelas akan terus menyusahkan kamu dan akan menghancurkan keluarga kita," setelah mengatakan itu, Desi memilih pergi, dia merasa percuma berbicara dengan Arman.
Arman menghela napasnya, dia menatap punggung bundanya yang semakin menjauh. Bukan bermaksud kurang ajar, justru Arman ingin bundanya menjauhi masalah, dengan tidak mengganggu Gita, karena ayahnya sendiri juga sudah berpesan kepada Arman, untuk menjaga Gita, karena Gita tengah mengandung cucu pertama keluarga Wijaya.
Arman akhirnya kembali ke apartement, dia menatap istrinya yang nampaknya masih menunggu kepulangan dirinya.
"Sayang, kok tidur sih? Aku, kan udah bilang supaya kamu istirahat," Arman mendekati Gita dan duduk di samping Gita.
"GImana caranya aku bisa tidur, klau aku kepikiran kamu dan aku takut kalau kamu akan dengerin omongan bunda kamu dan aku ditinggal oleh kamu," GIta mulai mengeluarkan air mata buayanya. Arman pun menjadi tidak tega, dia memeluk sang istri, memberikan ketenangan dan meyakinkan bahwa dia tidakk akan meninggalkan Gita.
__ADS_1
"Kamu tenang ya, apapun yang terjadi aku nggak akan ninggalin kamu. Meskipun bunda datang dan memaksa aku terus menerus, tapi aku janji aku akan selalu ada buat kamu," ucap Arman mencoba meyakinkan Gita.
"Makasih banyak ya, Mas. Padahal aku adalh istri yang jahat, aku selalu memerintah kamu ini dan itu, tapi kamu selalu sabar," entah kenapa, GIta merasa benar-benar menyesal kepada Arman, atas semua sikapnya. Padahal, Arman selalu bersikap baik, bahkan sampai saat ini.