
Devan sudah mendapatkan kabar dari Anyelir, soal Rose yang sudah siuman. Namun, Devan belum bisa menyusul sang istri ke sana, karena dia masih ada beberapa kepentingan. Selain urusan pekerjaan, Devan juga tengah mengurus dan mencari tahu soal siapa pelaku yang sudah menabrak sang ibu mertua. Pencarian Devan mulai menemukan beberapa bukti, salah satunya dari bukti yang dikumpulkan oleh anak buahnya, yaitu soal pria yang menggunakan mobil dengan plat palsu itu, ternyata sempat mampir ke salah satu minimarket, juga sempat mengisi bensin lebih dulu.
Saat ini, Devan tengah meeting bersama Felix dan juga anak buahnya, yang bertugas mencari jejak si pelaku. Mereka sudah mengumpulkan semua bukti, dan bukti-bukti yang seakan berbentuk puzzle itu, pada akhirnya bisa dirangkai perlahan oleh Devan.
"Dari pom bensin, kita tidak bisa mendapatkan wajah si pelaku, tapi dari mini market, kita berhasil menangkap wajahnya," jelas anak buah Devan yang saat ini tengah menjelaskan di hadapan Devan.
"Identitasnya sudah kami temukan, Tuan," ujar anak buah Devan yang lain. Nampaknya Devan sudah tidak sabar melihat siapa pelakunya, apakah dia dari keluarga dekat atau memang saingan bisnis. Di lain sisi, Devan juga sangat puas dengan hasil kerja anak buahnya, mereka bekerja sama dengan sangat baik.
Devan membuka map berisi identitas si pelaku, namun Devan agak kecewa, karena dia tidak mengenal si pelaku.
"Sekarang di mana dia?" tanya Devan.
"Bisa langsung di tangkap sekarang juga, Tuan, tapi jika Tuan mau. Karena sekarang dia juga sudah dikepung oleh anak buah kita," jelas Felix.
Devan tersenyum tipis, dia yakin bahwa identitas seorang lelaki yang Devan terima, bukanlah otak dari perencanaan rencana itu. Devan yakin, masih ada orang lain di belakangnya.
"Bawa dia ke hadapanku sekarang." titah Devan, tanpa bertanya lebih banyak lagi, Felix menganggukkan kepalanya dan segera menghubungi seseorang. Hanya butuh waktu 5 menit, Felix sudah mendapatkan kabar, bahwa target sudah aman.
"Mereka sudah membawanya ke tempat biasa, Tuan," ujar Felix memberitahukan.
"Ayo." Devan langsung bangkit dari kursinya, dan berjalan dengan gagah. Langkah tegapnya, dan bagaimana tatapan Devan, sudah bisa menunjukkan seberkuasa apa dirinya.
-//-
Gita, Anyelir dan Mayang, saat ini sudah berada di ruangan Rose. Gita dan Anyelir sempat menangis melihat kondisi lemah Rose. Meskipun, mereka juga jauh lebih lega, melihat keadaan Rose yang perlahan mulai pulih. Sekarang, Mayang yang tengah berbicang ringan dengan Rose.
"Anye," lirih Gita, membuat Anyelir seketika menoleh kepada sang kakak.
"Iya, Kak. Kenapa?" tanya Anyelir.
"Kamu tahu nggak, kenapa Devan dan Arman sepertinya berubah?" tanya Gita membuat Anyelir mengernyit heran.
"Maksud Kak Gita?" tanya Anyelir, pasalnya dia benar-benar tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh sang kakak.
"Kamu emang nggak ngerasa ya, kalau Arman dan Devan itu sangat protectife. Sampai-sampai, Devan menyuruh Arman mengganti dua pelayan di rumah ku dengan pelayan rekomendasi dari Devan. bahkan bukan hanya itu, ada anak buah yang berjaga di depan apartement, dan aku juga harus pergi dengan supir," terang Gita, membuat Anyelir seketika terkejut, ANyelir justru baru tahu soal hal itu, tidak ada perbincangan apapun sebelumnya dari Arman.
"Dan, yang lebih bikin aku heran. Dari apartement sampai parkiran ajah, aku harus dikawal," tutur Gita, membuat Anyelir semakin terkejut di buatnya.
"Aku kok baru tahu Kak, soal semua itu? Devan nggak ada ngomong apapun ke aku soalnya." jawab Gita dengan jujur dan seketika membuat Gita terkejut dan tidak enak hati.
"Anye, maksud aku, bu-bukan gitu," Gita menjadi bingung sendiri, dia tidak bermaksud membuat Anyelir dan Devan menjadi salah paham.
"Iya, Nye. Dan aku rasa, itu semua bermula setelah malam kecelakaan itu," tutur Gita, dan seketika membuat Anyelir kembali mengingat saat malam pertama Rose di bawa ke rumah sakit, saat itu mereka hendak pulang dan Devan berbincang sejenak di luar. Saat ditanya, Devan menjawab bahwa Devan hanya berpesan untuk Arman bisa hati-hati dan menenangkan Gita.
"Kak, apa mungkin mereka berdua mencium bau-bau yang tidak beres?" tanya Anyelir mulai curiga.
"Maksud kamu, Nye?" tanya Gita.
"Soal kecelakaan itu, apa mungkin itu bukan murni kecelakaan, tapi orang yang sengaja?" kata Anyelir, meskipun mereka belum bisa membuktikan, tapi ANyelir yakin memang ada sesuatu yang tengah Devan selidiki, tapi Devan memilih tidak memberitahukannya kepada Anyelir, karena Devan tidak mau membuat semua orang kepikiran.
-//-
Devan, baru saja sampai di salah satu gudang. Gudang itu terletak di tengah hutan. Untuk apa Devan datang ke sana? Jelas untuk menemui pelaku yang sudah mencelakai ibu mertuanya. Devan duduk di kursi yang berhadapan dengan si pelaku, namun masih ada jarak diantara mereka berdua. Pelaku itu tidak datang dengan keadaan baik, Devan yakin pelaku itu melawan saat akan dibawa, dan berakhir babak belur.
Devan memberikan kode, kepada anak buahnya yang berdiri di sampin si pelaku, dia meminta supaya penutup mata itu dibuka. Memang, saat datang ke tempat itu, mata si pelaku sengaja ditutup menggunakan kain, dan tangannya yang terikat dengan kuat, membuat si pelaku menjadi tidak bisa bebuat banyak.
"Siapa kalian, hah!" saat mata si peaku di buka, dia langsung meraung dan bertanya siapa orang yang berkumpul di depannya.
"Apa kau tidak bisa tenang? Aku pusing mendengarnya," sinis Devan.
"Kalau kau tidak bisa diam, aku akan buat mulutmu mengatup selamanya," ancam Devan, membuat si pelaku langsung terdiam.
"Aku, Devan Willson." ucap Devan, dan seketika, lelaki itu langsung menunjukkan wajah kaget. Mungkin dia tidak menyangka, bagaimana bisa dia berurusan dengan orang seperti Devan? Sudah menjadi rahasia umum, jika Devan memiliki jumlah anak buah yang begitu banyak, bahkan mereka tidak segan menyakiti musuhnya bahkan melenyapkan.
"Tu-tuan Devan, apa salahku, sampai aku dibawa ke sini?" tanya lelaki itu dengan bibir bergetar.
"Kau sudah mengusikku, apa kau ingat kesalahan mu?" kali ini, Devan justru bermain tebak-tebakkan, membuat lelaki itu bingung. Dia tidak merasa telah mengusik Devan, jangankan mencoba, untuk memikirkannya saja tidak.
"Kau lupa, kau menabrak seorang perempuan, di malam hari di depan restaurant," ucap Devan, belum juga Devan menyebutkan nama restaurant tersebut, namun lelaki itu seolah sudah tahu apa yang Devan maksudkan.
"A-apa mereka masih keluarga anda, Tuan?" tanya si pelaku.
"Dia ibu mertua ku," jawab Devan dengan tatapan dingin. Si pelaku dibuat semakin menciut, dia benar-benar sudah membangunkan singa yang sedang tidur, kini dia harus menanggung konsekuensi dari apa yang sudah dia lakukan.
Devan sudah mendapatkan kabar dari Anyelir, soal Rose yang sudah siuman. Namun, Devan belum bisa menyusul sang istri ke sana, karena dia masih ada beberapa kepentingan. Selain urusan pekerjaan, Devan juga tengah mengurus dan mencari tahu soal siapa pelaku yang sudah menabrak sang ibu mertua. Pencarian Devan mulai menemukan beberapa bukti, salah satunya dari bukti yang dikumpulkan oleh anak buahnya, yaitu soal pria yang menggunakan mobil dengan plat palsu itu, ternyata sempat mampir ke salah satu minimarket, juga sempat mengisi bensin lebih dulu.
Saat ini, Devan tengah meeting bersama Felix dan juga anak buahnya, yang bertugas mencari jejak si pelaku. Mereka sudah mengumpulkan semua bukti, dan bukti-bukti yang seakan berbentuk puzzle itu, pada akhirnya bisa dirangkai perlahan oleh Devan.
"Dari pom bensin, kita tidak bisa mendapatkan wajah si pelaku, tapi dari mini market, kita berhasil menangkap wajahnya," jelas anak buah Devan yang saat ini tengah menjelaskan di hadapan Devan.
"Identitasnya sudah kami temukan, Tuan," ujar anak buah Devan yang lain. Nampaknya Devan sudah tidak sabar melihat siapa pelakunya, apakah dia dari keluarga dekat atau memang saingan bisnis. Di lain sisi, Devan juga sangat puas dengan hasil kerja anak buahnya, mereka bekerja sama dengan sangat baik.
Devan membuka map berisi identitas si pelaku, namun Devan agak kecewa, karena dia tidak mengenal si pelaku.
"Sekarang di mana dia?" tanya Devan.
"Bisa langsung di tangkap sekarang juga, Tuan, tapi jika Tuan mau. Karena sekarang dia juga sudah dikepung oleh anak buah kita," jelas Felix.
Devan tersenyum tipis, dia yakin bahwa identitas seorang lelaki yang Devan terima, bukanlah otak dari perencanaan rencana itu. Devan yakin, masih ada orang lain di belakangnya.
"Bawa dia ke hadapanku sekarang." titah Devan, tanpa bertanya lebih banyak lagi, Felix menganggukkan kepalanya dan segera menghubungi seseorang. Hanya butuh waktu 5 menit, Felix sudah mendapatkan kabar, bahwa target sudah aman.
"Mereka sudah membawanya ke tempat biasa, Tuan," ujar Felix memberitahukan.
"Ayo." Devan langsung bangkit dari kursinya, dan berjalan dengan gagah. Langkah tegapnya, dan bagaimana tatapan Devan, sudah bisa menunjukkan seberkuasa apa dirinya.
-//-
Gita, Anyelir dan Mayang, saat ini sudah berada di ruangan Rose. Gita dan Anyelir sempat menangis melihat kondisi lemah Rose. Meskipun, mereka juga jauh lebih lega, melihat keadaan Rose yang perlahan mulai pulih. Sekarang, Mayang yang tengah berbicang ringan dengan Rose.
"Anye," lirih Gita, membuat Anyelir seketika menoleh kepada sang kakak.
"Iya, Kak. Kenapa?" tanya Anyelir.
"Kamu tahu nggak, kenapa Devan dan Arman sepertinya berubah?" tanya Gita membuat Anyelir mengernyit heran.
"Maksud Kak Gita?" tanya Anyelir, pasalnya dia benar-benar tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh sang kakak.
"Kamu emang nggak ngerasa ya, kalau Arman dan Devan itu sangat protectife. Sampai-sampai, Devan menyuruh Arman mengganti dua pelayan di rumah ku dengan pelayan rekomendasi dari Devan. bahkan bukan hanya itu, ada anak buah yang berjaga di depan apartement, dan aku juga harus pergi dengan supir," terang Gita, membuat Anyelir seketika terkejut, ANyelir justru baru tahu soal hal itu, tidak ada perbincangan apapun sebelumnya dari Arman.
"Dan, yang lebih bikin aku heran. Dari apartement sampai parkiran ajah, aku harus dikawal," tutur Gita, membuat Anyelir semakin terkejut di buatnya.
"Aku kok baru tahu Kak, soal semua itu? Devan nggak ada ngomong apapun ke aku soalnya." jawab Gita dengan jujur dan seketika membuat Gita terkejut dan tidak enak hati.
"Anye, maksud aku, bu-bukan gitu," Gita menjadi bingung sendiri, dia tidak bermaksud membuat Anyelir dan Devan menjadi salah paham.
"Iya, Nye. Dan aku rasa, itu semua bermula setelah malam kecelakaan itu," tutur Gita, dan seketika membuat Anyelir kembali mengingat saat malam pertama Rose di bawa ke rumah sakit, saat itu mereka hendak pulang dan Devan berbincang sejenak di luar. Saat ditanya, Devan menjawab bahwa Devan hanya berpesan untuk Arman bisa hati-hati dan menenangkan Gita.
"Kak, apa mungkin mereka berdua mencium bau-bau yang tidak beres?" tanya Anyelir mulai curiga.
"Maksud kamu, Nye?" tanya Gita.
__ADS_1
"Soal kecelakaan itu, apa mungkin itu bukan murni kecelakaan, tapi orang yang sengaja?" kata Anyelir, meskipun mereka belum bisa membuktikan, tapi ANyelir yakin memang ada sesuatu yang tengah Devan selidiki, tapi Devan memilih tidak memberitahukannya kepada Anyelir, karena Devan tidak mau membuat semua orang kepikiran.
-//-
Devan, baru saja sampai di salah satu gudang. Gudang itu terletak di tengah hutan. Untuk apa Devan datang ke sana? Jelas untuk menemui pelaku yang sudah mencelakai ibu mertuanya. Devan duduk di kursi yang berhadapan dengan si pelaku, namun masih ada jarak diantara mereka berdua. Pelaku itu tidak datang dengan keadaan baik, Devan yakin pelaku itu melawan saat akan dibawa, dan berakhir babak belur.
Devan memberikan kode, kepada anak buahnya yang berdiri di sampin si pelaku, dia meminta supaya penutup mata itu dibuka. Memang, saat datang ke tempat itu, mata si pelaku sengaja ditutup menggunakan kain, dan tangannya yang terikat dengan kuat, membuat si pelaku menjadi tidak bisa bebuat banyak.
"Siapa kalian, hah!" saat mata si peaku di buka, dia langsung meraung dan bertanya siapa orang yang berkumpul di depannya.
"Apa kau tidak bisa tenang? Aku pusing mendengarnya," sinis Devan.
"Kalau kau tidak bisa diam, aku akan buat mulutmu mengatup selamanya," ancam Devan, membuat si pelaku langsung terdiam.
"Aku, Devan Willson." ucap Devan, dan seketika, lelaki itu langsung menunjukkan wajah kaget. Mungkin dia tidak menyangka, bagaimana bisa dia berurusan dengan orang seperti Devan? Sudah menjadi rahasia umum, jika Devan memiliki jumlah anak buah yang begitu banyak, bahkan mereka tidak segan menyakiti musuhnya bahkan melenyapkan.
"Tu-tuan Devan, apa salahku, sampai aku dibawa ke sini?" tanya lelaki itu dengan bibir bergetar.
"Kau sudah mengusikku, apa kau ingat kesalahan mu?" kali ini, Devan justru bermain tebak-tebakkan, membuat lelaki itu bingung. Dia tidak merasa telah mengusik Devan, jangankan mencoba, untuk memikirkannya saja tidak.
"Kau lupa, kau menabrak seorang perempuan, di malam hari di depan restaurant," ucap Devan, belum juga Devan menyebutkan nama restaurant tersebut, namun lelaki itu seolah sudah tahu apa yang Devan maksudkan.
"A-apa mereka masih keluarga anda, Tuan?" tanya si pelaku.
"Dia ibu mertua ku," jawab Devan dengan tatapan dingin. Si pelaku dibuat semakin menciut, dia benar-benar sudah membangunkan singa yang sedang tidur, kini dia harus menanggung konsekuensi dari apa yang sudah dia lakukan.
Devan sudah mendapatkan kabar dari Anyelir, soal Rose yang sudah siuman. Namun, Devan belum bisa menyusul sang istri ke sana, karena dia masih ada beberapa kepentingan. Selain urusan pekerjaan, Devan juga tengah mengurus dan mencari tahu soal siapa pelaku yang sudah menabrak sang ibu mertua. Pencarian Devan mulai menemukan beberapa bukti, salah satunya dari bukti yang dikumpulkan oleh anak buahnya, yaitu soal pria yang menggunakan mobil dengan plat palsu itu, ternyata sempat mampir ke salah satu minimarket, juga sempat mengisi bensin lebih dulu.
Saat ini, Devan tengah meeting bersama Felix dan juga anak buahnya, yang bertugas mencari jejak si pelaku. Mereka sudah mengumpulkan semua bukti, dan bukti-bukti yang seakan berbentuk puzzle itu, pada akhirnya bisa dirangkai perlahan oleh Devan.
"Dari pom bensin, kita tidak bisa mendapatkan wajah si pelaku, tapi dari mini market, kita berhasil menangkap wajahnya," jelas anak buah Devan yang saat ini tengah menjelaskan di hadapan Devan.
"Identitasnya sudah kami temukan, Tuan," ujar anak buah Devan yang lain. Nampaknya Devan sudah tidak sabar melihat siapa pelakunya, apakah dia dari keluarga dekat atau memang saingan bisnis. Di lain sisi, Devan juga sangat puas dengan hasil kerja anak buahnya, mereka bekerja sama dengan sangat baik.
Devan membuka map berisi identitas si pelaku, namun Devan agak kecewa, karena dia tidak mengenal si pelaku.
"Sekarang di mana dia?" tanya Devan.
"Bisa langsung di tangkap sekarang juga, Tuan, tapi jika Tuan mau. Karena sekarang dia juga sudah dikepung oleh anak buah kita," jelas Felix.
Devan tersenyum tipis, dia yakin bahwa identitas seorang lelaki yang Devan terima, bukanlah otak dari perencanaan rencana itu. Devan yakin, masih ada orang lain di belakangnya.
"Bawa dia ke hadapanku sekarang." titah Devan, tanpa bertanya lebih banyak lagi, Felix menganggukkan kepalanya dan segera menghubungi seseorang. Hanya butuh waktu 5 menit, Felix sudah mendapatkan kabar, bahwa target sudah aman.
"Mereka sudah membawanya ke tempat biasa, Tuan," ujar Felix memberitahukan.
"Ayo." Devan langsung bangkit dari kursinya, dan berjalan dengan gagah. Langkah tegapnya, dan bagaimana tatapan Devan, sudah bisa menunjukkan seberkuasa apa dirinya.
-//-
Gita, Anyelir dan Mayang, saat ini sudah berada di ruangan Rose. Gita dan Anyelir sempat menangis melihat kondisi lemah Rose. Meskipun, mereka juga jauh lebih lega, melihat keadaan Rose yang perlahan mulai pulih. Sekarang, Mayang yang tengah berbicang ringan dengan Rose.
"Anye," lirih Gita, membuat Anyelir seketika menoleh kepada sang kakak.
"Iya, Kak. Kenapa?" tanya Anyelir.
"Kamu tahu nggak, kenapa Devan dan Arman sepertinya berubah?" tanya Gita membuat Anyelir mengernyit heran.
"Maksud Kak Gita?" tanya Anyelir, pasalnya dia benar-benar tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh sang kakak.
"Kamu emang nggak ngerasa ya, kalau Arman dan Devan itu sangat protectife. Sampai-sampai, Devan menyuruh Arman mengganti dua pelayan di rumah ku dengan pelayan rekomendasi dari Devan. bahkan bukan hanya itu, ada anak buah yang berjaga di depan apartement, dan aku juga harus pergi dengan supir," terang Gita, membuat Anyelir seketika terkejut, ANyelir justru baru tahu soal hal itu, tidak ada perbincangan apapun sebelumnya dari Arman.
"Dan, yang lebih bikin aku heran. Dari apartement sampai parkiran ajah, aku harus dikawal," tutur Gita, membuat Anyelir semakin terkejut di buatnya.
"Aku kok baru tahu Kak, soal semua itu? Devan nggak ada ngomong apapun ke aku soalnya." jawab Gita dengan jujur dan seketika membuat Gita terkejut dan tidak enak hati.
"Anye, maksud aku, bu-bukan gitu," Gita menjadi bingung sendiri, dia tidak bermaksud membuat Anyelir dan Devan menjadi salah paham.
"Iya, Nye. Dan aku rasa, itu semua bermula setelah malam kecelakaan itu," tutur Gita, dan seketika membuat Anyelir kembali mengingat saat malam pertama Rose di bawa ke rumah sakit, saat itu mereka hendak pulang dan Devan berbincang sejenak di luar. Saat ditanya, Devan menjawab bahwa Devan hanya berpesan untuk Arman bisa hati-hati dan menenangkan Gita.
"Kak, apa mungkin mereka berdua mencium bau-bau yang tidak beres?" tanya Anyelir mulai curiga.
"Maksud kamu, Nye?" tanya Gita.
"Soal kecelakaan itu, apa mungkin itu bukan murni kecelakaan, tapi orang yang sengaja?" kata Anyelir, meskipun mereka belum bisa membuktikan, tapi ANyelir yakin memang ada sesuatu yang tengah Devan selidiki, tapi Devan memilih tidak memberitahukannya kepada Anyelir, karena Devan tidak mau membuat semua orang kepikiran.
-//-
Devan, baru saja sampai di salah satu gudang. Gudang itu terletak di tengah hutan. Untuk apa Devan datang ke sana? Jelas untuk menemui pelaku yang sudah mencelakai ibu mertuanya. Devan duduk di kursi yang berhadapan dengan si pelaku, namun masih ada jarak diantara mereka berdua. Pelaku itu tidak datang dengan keadaan baik, Devan yakin pelaku itu melawan saat akan dibawa, dan berakhir babak belur.
Devan memberikan kode, kepada anak buahnya yang berdiri di sampin si pelaku, dia meminta supaya penutup mata itu dibuka. Memang, saat datang ke tempat itu, mata si pelaku sengaja ditutup menggunakan kain, dan tangannya yang terikat dengan kuat, membuat si pelaku menjadi tidak bisa bebuat banyak.
"Siapa kalian, hah!" saat mata si peaku di buka, dia langsung meraung dan bertanya siapa orang yang berkumpul di depannya.
"Apa kau tidak bisa tenang? Aku pusing mendengarnya," sinis Devan.
"Kalau kau tidak bisa diam, aku akan buat mulutmu mengatup selamanya," ancam Devan, membuat si pelaku langsung terdiam.
"Aku, Devan Willson." ucap Devan, dan seketika, lelaki itu langsung menunjukkan wajah kaget. Mungkin dia tidak menyangka, bagaimana bisa dia berurusan dengan orang seperti Devan? Sudah menjadi rahasia umum, jika Devan memiliki jumlah anak buah yang begitu banyak, bahkan mereka tidak segan menyakiti musuhnya bahkan melenyapkan.
"Tu-tuan Devan, apa salahku, sampai aku dibawa ke sini?" tanya lelaki itu dengan bibir bergetar.
"Kau sudah mengusikku, apa kau ingat kesalahan mu?" kali ini, Devan justru bermain tebak-tebakkan, membuat lelaki itu bingung. Dia tidak merasa telah mengusik Devan, jangankan mencoba, untuk memikirkannya saja tidak.
"Kau lupa, kau menabrak seorang perempuan, di malam hari di depan restaurant," ucap Devan, belum juga Devan menyebutkan nama restaurant tersebut, namun lelaki itu seolah sudah tahu apa yang Devan maksudkan.
"A-apa mereka masih keluarga anda, Tuan?" tanya si pelaku.
"Dia ibu mertua ku," jawab Devan dengan tatapan dingin. Si pelaku dibuat semakin menciut, dia benar-benar sudah membangunkan singa yang sedang tidur, kini dia harus menanggung konsekuensi dari apa yang sudah dia lakukan.
Devan sudah mendapatkan kabar dari Anyelir, soal Rose yang sudah siuman. Namun, Devan belum bisa menyusul sang istri ke sana, karena dia masih ada beberapa kepentingan. Selain urusan pekerjaan, Devan juga tengah mengurus dan mencari tahu soal siapa pelaku yang sudah menabrak sang ibu mertua. Pencarian Devan mulai menemukan beberapa bukti, salah satunya dari bukti yang dikumpulkan oleh anak buahnya, yaitu soal pria yang menggunakan mobil dengan plat palsu itu, ternyata sempat mampir ke salah satu minimarket, juga sempat mengisi bensin lebih dulu.
Saat ini, Devan tengah meeting bersama Felix dan juga anak buahnya, yang bertugas mencari jejak si pelaku. Mereka sudah mengumpulkan semua bukti, dan bukti-bukti yang seakan berbentuk puzzle itu, pada akhirnya bisa dirangkai perlahan oleh Devan.
"Dari pom bensin, kita tidak bisa mendapatkan wajah si pelaku, tapi dari mini market, kita berhasil menangkap wajahnya," jelas anak buah Devan yang saat ini tengah menjelaskan di hadapan Devan.
"Identitasnya sudah kami temukan, Tuan," ujar anak buah Devan yang lain. Nampaknya Devan sudah tidak sabar melihat siapa pelakunya, apakah dia dari keluarga dekat atau memang saingan bisnis. Di lain sisi, Devan juga sangat puas dengan hasil kerja anak buahnya, mereka bekerja sama dengan sangat baik.
Devan membuka map berisi identitas si pelaku, namun Devan agak kecewa, karena dia tidak mengenal si pelaku.
"Sekarang di mana dia?" tanya Devan.
"Bisa langsung di tangkap sekarang juga, Tuan, tapi jika Tuan mau. Karena sekarang dia juga sudah dikepung oleh anak buah kita," jelas Felix.
Devan tersenyum tipis, dia yakin bahwa identitas seorang lelaki yang Devan terima, bukanlah otak dari perencanaan rencana itu. Devan yakin, masih ada orang lain di belakangnya.
"Bawa dia ke hadapanku sekarang." titah Devan, tanpa bertanya lebih banyak lagi, Felix menganggukkan kepalanya dan segera menghubungi seseorang. Hanya butuh waktu 5 menit, Felix sudah mendapatkan kabar, bahwa target sudah aman.
"Mereka sudah membawanya ke tempat biasa, Tuan," ujar Felix memberitahukan.
"Ayo." Devan langsung bangkit dari kursinya, dan berjalan dengan gagah. Langkah tegapnya, dan bagaimana tatapan Devan, sudah bisa menunjukkan seberkuasa apa dirinya.
__ADS_1
-//-
Gita, Anyelir dan Mayang, saat ini sudah berada di ruangan Rose. Gita dan Anyelir sempat menangis melihat kondisi lemah Rose. Meskipun, mereka juga jauh lebih lega, melihat keadaan Rose yang perlahan mulai pulih. Sekarang, Mayang yang tengah berbicang ringan dengan Rose.
"Anye," lirih Gita, membuat Anyelir seketika menoleh kepada sang kakak.
"Iya, Kak. Kenapa?" tanya Anyelir.
"Kamu tahu nggak, kenapa Devan dan Arman sepertinya berubah?" tanya Gita membuat Anyelir mengernyit heran.
"Maksud Kak Gita?" tanya Anyelir, pasalnya dia benar-benar tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh sang kakak.
"Kamu emang nggak ngerasa ya, kalau Arman dan Devan itu sangat protectife. Sampai-sampai, Devan menyuruh Arman mengganti dua pelayan di rumah ku dengan pelayan rekomendasi dari Devan. bahkan bukan hanya itu, ada anak buah yang berjaga di depan apartement, dan aku juga harus pergi dengan supir," terang Gita, membuat Anyelir seketika terkejut, ANyelir justru baru tahu soal hal itu, tidak ada perbincangan apapun sebelumnya dari Arman.
"Dan, yang lebih bikin aku heran. Dari apartement sampai parkiran ajah, aku harus dikawal," tutur Gita, membuat Anyelir semakin terkejut di buatnya.
"Aku kok baru tahu Kak, soal semua itu? Devan nggak ada ngomong apapun ke aku soalnya." jawab Gita dengan jujur dan seketika membuat Gita terkejut dan tidak enak hati.
"Anye, maksud aku, bu-bukan gitu," Gita menjadi bingung sendiri, dia tidak bermaksud membuat Anyelir dan Devan menjadi salah paham.
"Iya, Nye. Dan aku rasa, itu semua bermula setelah malam kecelakaan itu," tutur Gita, dan seketika membuat Anyelir kembali mengingat saat malam pertama Rose di bawa ke rumah sakit, saat itu mereka hendak pulang dan Devan berbincang sejenak di luar. Saat ditanya, Devan menjawab bahwa Devan hanya berpesan untuk Arman bisa hati-hati dan menenangkan Gita.
"Kak, apa mungkin mereka berdua mencium bau-bau yang tidak beres?" tanya Anyelir mulai curiga.
"Maksud kamu, Nye?" tanya Gita.
"Soal kecelakaan itu, apa mungkin itu bukan murni kecelakaan, tapi orang yang sengaja?" kata Anyelir, meskipun mereka belum bisa membuktikan, tapi ANyelir yakin memang ada sesuatu yang tengah Devan selidiki, tapi Devan memilih tidak memberitahukannya kepada Anyelir, karena Devan tidak mau membuat semua orang kepikiran.
-//-
Devan, baru saja sampai di salah satu gudang. Gudang itu terletak di tengah hutan. Untuk apa Devan datang ke sana? Jelas untuk menemui pelaku yang sudah mencelakai ibu mertuanya. Devan duduk di kursi yang berhadapan dengan si pelaku, namun masih ada jarak diantara mereka berdua. Pelaku itu tidak datang dengan keadaan baik, Devan yakin pelaku itu melawan saat akan dibawa, dan berakhir babak belur.
Devan memberikan kode, kepada anak buahnya yang berdiri di sampin si pelaku, dia meminta supaya penutup mata itu dibuka. Memang, saat datang ke tempat itu, mata si pelaku sengaja ditutup menggunakan kain, dan tangannya yang terikat dengan kuat, membuat si pelaku menjadi tidak bisa bebuat banyak.
"Siapa kalian, hah!" saat mata si peaku di buka, dia langsung meraung dan bertanya siapa orang yang berkumpul di depannya.
"Apa kau tidak bisa tenang? Aku pusing mendengarnya," sinis Devan.
"Kalau kau tidak bisa diam, aku akan buat mulutmu mengatup selamanya," ancam Devan, membuat si pelaku langsung terdiam.
"Aku, Devan Willson." ucap Devan, dan seketika, lelaki itu langsung menunjukkan wajah kaget. Mungkin dia tidak menyangka, bagaimana bisa dia berurusan dengan orang seperti Devan? Sudah menjadi rahasia umum, jika Devan memiliki jumlah anak buah yang begitu banyak, bahkan mereka tidak segan menyakiti musuhnya bahkan melenyapkan.
"Tu-tuan Devan, apa salahku, sampai aku dibawa ke sini?" tanya lelaki itu dengan bibir bergetar.
"Kau sudah mengusikku, apa kau ingat kesalahan mu?" kali ini, Devan justru bermain tebak-tebakkan, membuat lelaki itu bingung. Dia tidak merasa telah mengusik Devan, jangankan mencoba, untuk memikirkannya saja tidak.
"Kau lupa, kau menabrak seorang perempuan, di malam hari di depan restaurant," ucap Devan, belum juga Devan menyebutkan nama restaurant tersebut, namun lelaki itu seolah sudah tahu apa yang Devan maksudkan.
"A-apa mereka masih keluarga anda, Tuan?" tanya si pelaku.
"Dia ibu mertua ku," jawab Devan dengan tatapan dingin. Si pelaku dibuat semakin menciut, dia benar-benar sudah membangunkan singa yang sedang tidur, kini dia harus menanggung konsekuensi dari apa yang sudah dia lakukan.
Devan sudah mendapatkan kabar dari Anyelir, soal Rose yang sudah siuman. Namun, Devan belum bisa menyusul sang istri ke sana, karena dia masih ada beberapa kepentingan. Selain urusan pekerjaan, Devan juga tengah mengurus dan mencari tahu soal siapa pelaku yang sudah menabrak sang ibu mertua. Pencarian Devan mulai menemukan beberapa bukti, salah satunya dari bukti yang dikumpulkan oleh anak buahnya, yaitu soal pria yang menggunakan mobil dengan plat palsu itu, ternyata sempat mampir ke salah satu minimarket, juga sempat mengisi bensin lebih dulu.
Saat ini, Devan tengah meeting bersama Felix dan juga anak buahnya, yang bertugas mencari jejak si pelaku. Mereka sudah mengumpulkan semua bukti, dan bukti-bukti yang seakan berbentuk puzzle itu, pada akhirnya bisa dirangkai perlahan oleh Devan.
"Dari pom bensin, kita tidak bisa mendapatkan wajah si pelaku, tapi dari mini market, kita berhasil menangkap wajahnya," jelas anak buah Devan yang saat ini tengah menjelaskan di hadapan Devan.
"Identitasnya sudah kami temukan, Tuan," ujar anak buah Devan yang lain. Nampaknya Devan sudah tidak sabar melihat siapa pelakunya, apakah dia dari keluarga dekat atau memang saingan bisnis. Di lain sisi, Devan juga sangat puas dengan hasil kerja anak buahnya, mereka bekerja sama dengan sangat baik.
Devan membuka map berisi identitas si pelaku, namun Devan agak kecewa, karena dia tidak mengenal si pelaku.
"Sekarang di mana dia?" tanya Devan.
"Bisa langsung di tangkap sekarang juga, Tuan, tapi jika Tuan mau. Karena sekarang dia juga sudah dikepung oleh anak buah kita," jelas Felix.
Devan tersenyum tipis, dia yakin bahwa identitas seorang lelaki yang Devan terima, bukanlah otak dari perencanaan rencana itu. Devan yakin, masih ada orang lain di belakangnya.
"Bawa dia ke hadapanku sekarang." titah Devan, tanpa bertanya lebih banyak lagi, Felix menganggukkan kepalanya dan segera menghubungi seseorang. Hanya butuh waktu 5 menit, Felix sudah mendapatkan kabar, bahwa target sudah aman.
"Mereka sudah membawanya ke tempat biasa, Tuan," ujar Felix memberitahukan.
"Ayo." Devan langsung bangkit dari kursinya, dan berjalan dengan gagah. Langkah tegapnya, dan bagaimana tatapan Devan, sudah bisa menunjukkan seberkuasa apa dirinya.
-//-
Gita, Anyelir dan Mayang, saat ini sudah berada di ruangan Rose. Gita dan Anyelir sempat menangis melihat kondisi lemah Rose. Meskipun, mereka juga jauh lebih lega, melihat keadaan Rose yang perlahan mulai pulih. Sekarang, Mayang yang tengah berbicang ringan dengan Rose.
"Anye," lirih Gita, membuat Anyelir seketika menoleh kepada sang kakak.
"Iya, Kak. Kenapa?" tanya Anyelir.
"Kamu tahu nggak, kenapa Devan dan Arman sepertinya berubah?" tanya Gita membuat Anyelir mengernyit heran.
"Maksud Kak Gita?" tanya Anyelir, pasalnya dia benar-benar tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh sang kakak.
"Kamu emang nggak ngerasa ya, kalau Arman dan Devan itu sangat protectife. Sampai-sampai, Devan menyuruh Arman mengganti dua pelayan di rumah ku dengan pelayan rekomendasi dari Devan. bahkan bukan hanya itu, ada anak buah yang berjaga di depan apartement, dan aku juga harus pergi dengan supir," terang Gita, membuat Anyelir seketika terkejut, ANyelir justru baru tahu soal hal itu, tidak ada perbincangan apapun sebelumnya dari Arman.
"Dan, yang lebih bikin aku heran. Dari apartement sampai parkiran ajah, aku harus dikawal," tutur Gita, membuat Anyelir semakin terkejut di buatnya.
"Aku kok baru tahu Kak, soal semua itu? Devan nggak ada ngomong apapun ke aku soalnya." jawab Gita dengan jujur dan seketika membuat Gita terkejut dan tidak enak hati.
"Anye, maksud aku, bu-bukan gitu," Gita menjadi bingung sendiri, dia tidak bermaksud membuat Anyelir dan Devan menjadi salah paham.
"Iya, Nye. Dan aku rasa, itu semua bermula setelah malam kecelakaan itu," tutur Gita, dan seketika membuat Anyelir kembali mengingat saat malam pertama Rose di bawa ke rumah sakit, saat itu mereka hendak pulang dan Devan berbincang sejenak di luar. Saat ditanya, Devan menjawab bahwa Devan hanya berpesan untuk Arman bisa hati-hati dan menenangkan Gita.
"Kak, apa mungkin mereka berdua mencium bau-bau yang tidak beres?" tanya Anyelir mulai curiga.
"Maksud kamu, Nye?" tanya Gita.
"Soal kecelakaan itu, apa mungkin itu bukan murni kecelakaan, tapi orang yang sengaja?" kata Anyelir, meskipun mereka belum bisa membuktikan, tapi ANyelir yakin memang ada sesuatu yang tengah Devan selidiki, tapi Devan memilih tidak memberitahukannya kepada Anyelir, karena Devan tidak mau membuat semua orang kepikiran.
-//-
Devan, baru saja sampai di salah satu gudang. Gudang itu terletak di tengah hutan. Untuk apa Devan datang ke sana? Jelas untuk menemui pelaku yang sudah mencelakai ibu mertuanya. Devan duduk di kursi yang berhadapan dengan si pelaku, namun masih ada jarak diantara mereka berdua. Pelaku itu tidak datang dengan keadaan baik, Devan yakin pelaku itu melawan saat akan dibawa, dan berakhir babak belur.
Devan memberikan kode, kepada anak buahnya yang berdiri di sampin si pelaku, dia meminta supaya penutup mata itu dibuka. Memang, saat datang ke tempat itu, mata si pelaku sengaja ditutup menggunakan kain, dan tangannya yang terikat dengan kuat, membuat si pelaku menjadi tidak bisa bebuat banyak.
"Siapa kalian, hah!" saat mata si peaku di buka, dia langsung meraung dan bertanya siapa orang yang berkumpul di depannya.
"Apa kau tidak bisa tenang? Aku pusing mendengarnya," sinis Devan.
"Kalau kau tidak bisa diam, aku akan buat mulutmu mengatup selamanya," ancam Devan, membuat si pelaku langsung terdiam.
"Aku, Devan Willson." ucap Devan, dan seketika, lelaki itu langsung menunjukkan wajah kaget. Mungkin dia tidak menyangka, bagaimana bisa dia berurusan dengan orang seperti Devan? Sudah menjadi rahasia umum, jika Devan memiliki jumlah anak buah yang begitu banyak, bahkan mereka tidak segan menyakiti musuhnya bahkan melenyapkan.
"Tu-tuan Devan, apa salahku, sampai aku dibawa ke sini?" tanya lelaki itu dengan bibir bergetar.
"Kau sudah mengusikku, apa kau ingat kesalahan mu?" kali ini, Devan justru bermain tebak-tebakkan, membuat lelaki itu bingung. Dia tidak merasa telah mengusik Devan, jangankan mencoba, untuk memikirkannya saja tidak.
"Kau lupa, kau menabrak seorang perempuan, di malam hari di depan restaurant," ucap Devan, belum juga Devan menyebutkan nama restaurant tersebut, namun lelaki itu seolah sudah tahu apa yang Devan maksudkan.
__ADS_1
"A-apa mereka masih keluarga anda, Tuan?" tanya si pelaku.
"Dia ibu mertua ku," jawab Devan dengan tatapan dingin. Si pelaku dibuat semakin menciut, dia benar-benar sudah membangunkan singa yang sedang tidur, kini dia harus menanggung konsekuensi dari apa yang sudah dia lakukan.