
Setelah makan siang, Devan langsung menuju ke ruang kerjanya, dia juga meminta Larissa untuk membawakan buah ke ruang kerja. Anyelir yang melihat Larissa membawa nampan yang akan dibawa ke ruang kerja Devan pun menawarkan diri.
“Boleh aku yang bawa?” tanya Anyelir.
“Boleh Nona,” nampan pun beralih tangan kepada Anyelir, Larissa berharap dengan begini hubugan mereka bisa semakin dekat. Karena Larissa sangat yakin, hanya Anyelir wanita tulus yang bisa mencintai Devan.
Anyelir mengetuk pintu ruangan Devan, dan terdengar suara sahutan dari dalam, dengan perlahan Anyelir membuka pintu dan melangkah memasuki ruangan tersebut.
“Silahkan Tuan,” Anyelir menaruh nampan tersebut di hadapan Devan. Karena mendengar nada suara yang berbeda, Devan pun menoleh pada Anyelir.
“Terimakasih,” ucap Devan, dia mengambil garpu dan menyuapkan ke dalam mulutnya.
“Kalau begitu saya permisi Tuan,” pamit Anyelir dengan sopan.
“Tunggu,” suara Devan menghentikan langkah Anyelir.
“Jangan terlalu dekat dengan lelaki di kantor, dan jangan pernah mau pergi dengan mereka, karena kamu belum mengenal mereka kan?” ujar Devan dengan tatapan serius.
“Tapi … kenapa Tuan? saya rasa kak Mike, dan kak Daniel lelaki yang baik,” jawab Anyelir, karena memang itu yang terlihat.
“Terserah,” tidak mau berdebat panjang lebar, akhirnya Devan kembali fokus pada pekerjaannya, namun melihat sikap Devan yang demikian, membuar Anyelir was-was.
__ADS_1
“Baiklah Tuan, akan saya ingat nasihat dan saran dari Tuan,” ujar Anyelir lagi, dia pun berpamitan untuk pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Semburat senyum muncul dari bibir Devan, dia merasa dihargai sebagai seorang suami, karena Anyelir mau menuruti perkataannya.
**
Hari ini baik Anyelir maupun Nabila tengah sibuk-sibuknya, karena saat ini mereka sudah mendapatkan tugas untuk membuat design yang akan diberikan kepada Devan sebagai bahan promosi. Anjani sebagai kepala bagian divisi pemasaran membagi tugas masing-masing anggota, dan saat ini mereka tengah bekerja sama.
“Semoga saja pak Devan milih gue untuk mempresentasikan di hadapan client nanti,” ujar Della dengan penuh harap.
“Jangan berharap banyak, kalau pakaian yang loe pake aja masih seperti ini, rasanya bakalan susah untuk mendapatkan kepercayaan itu,” timpal Daniel, semabri fokus pada pekerjaannya.
“Kalau loe mau dihargai, maka hargai dulu diri loe Del, gunakan pakaian yang sopan, gue rasa loe tahu kan gimana pakaian yang sopan Dell. Gue tahu setiap orang mempunyai hak masing-masing dalam berpakaian, namun ini lingkup dunia kerja, ada hal yang harus loe perhatikan juga, ingat ini perusahaan ternama Dell, jangan kotori sama sikap loe yang kegatelan,” semua mata menatap Mike yang dinilai sangat berani mengutarakan pendapatnya, sepertinya dia sudah cukup muak dengan semua sikap Della yang seperti sengaja memperlihatkan lekuk tubuhnya.
“Cemburu? Gue udah suka cewek lain. Alasan kenapa gue ngingetin loe, karena gue nganggep loe temen gue Del, loe tahu kan kejahatan di jalan yang banyak menimpa cewek perempuan itu apa? makanya gue khawatir, gue kasih saran ke loe supaya loe lebih baik lagi dalam berpakaian,” jawab Mike, dia menjelaskan dengan sabar.
“Pikiran loe terlalu kolot dan kuno, zaman sekarang, udah biasa pakaian yang begini, loe lihat deh budaya barat, mereka pakai pakaian yang you know lah, dan gue ini masih wajar Mike,” Della mencoba menyamakan kebudayaan barat dengan budaya yang ada di Indonesia, dan tentunya memang sangat berbeda, jangankan antar Negara, antar kota saja masih banyak perbedaan.
“Terserah loe lah, yang penting gue udah ngingetin,” Mike memilih mengakhiri perdebatannya dengan Della, karena dia merasa sulit untuk menang jika berdebat dengannya.
Melihat bagaimana Mike yang sangata perduli dengan wanita, memunculkan rasa kagum di hati Anyelir, Mike bisa memberikan saran yang baik dengan caranya, dan nampaknya Mike tipe pria yang peka bukan acuh tak acuh, sangat terlihat dari bagaimana cara Mike menjaga teman-teman wanitanya.
“Inget ya, ini harus selesai siang ini juga, karena setelah jam makan siang, kita semua akan meeting dengan tuan Devan,” Anjani kembali mengingatkan kepada semua naggotanya, dan dijawab anggukan yakin oleh semua anggota, dengan begini Anjani yakin kalau divisi yang dinaunginya akan bisa menyelesaikan tugas dengan baik.
__ADS_1
**
Selesai jam makan siang, divisi pemasaran sudah berada di ruang rapat, dan tinggal menunggu kedatangan Devan, tidak lama Devan dan Felix nampak memasuki ruangan, semua pun berdiri dan memberikan hormat.
“Apa tugas yang aku berikan sudah selesai?” tanya Devan sembari menatap satu persatu wajah dari divis pemasaran, termasuk Anyelir.
“Sudah Pak Devan,” jawab semua anggota.
“Baiklah aku ingin mahasiswi yang magang, mencoba mempresentasikannya,” titah Devan, membuat Anyelir dan Nabila terkejut. Namun, mereka berdua harus tetap melakukannya, karena ini perintah. Lagi pula, ini juga bisa menjadi pengalaman tersendiri bukan bagi mereka? Anyelir pun maju lebih dulu, dia mempresentasikan hasil yang dikerjakan oleh semua anggota divisi pemasaran, Anyelir mencoba menghilangkan rasa groginya, apalagi Devan terus menatap kearahnya di banding yang ada di layar monitor. Setelah Nabila dan Anyelir mempresentasikan, akhirnya diputuskan bahwa Anyelir akan ikut bersama Devan untuk bertemu dengan client dan mempresentasikan, sedangkan Nabila akan pergi bersama dengan Felix untuk meninjau lokasi dimana tengah dilakukan pemotretan untuk pemasaran.
“Ih, kenapa harus anak magang itu sih,” Della terus mencak-mencak karena dia tidak dipilih untuk mewakili tim divisi pemasaran.
“Ya bagus dong, jadi mereka punya banyak pengalaman, dan nanti bisa berguna di masa mendatang,” Ayu membela Anyelir dan Nabila.
“Tapi kan ini proyek penting, masa dikasih ke anak magang,” Della sangat tidak terima, karena dia merasa dirinya lah yang pantas untuk mendampingi Devan dan menunjukkan kemampuannya.
“Ya udah sih, yang penting pak Devan udah tahu kalau hasil kerja keras kita itu bagus, lihat kan nggak ada complain sama sekali,” Daniel ikut menimpali, dia merasa berisik dengan Della yang terus saja mengeluh.
‘Awas aja kalau sampai anak magang itu merebut hari pak Devan,’ batin Della, nampaknya Della sudah sangat terobsesi kepada Devan.
Sedangkan kini Anyelir dan Devan dalam perjalanan menuju lokasi meeting dengan client, kali ini bukan Felix yang mengemudikan kemudi, namun Devan mengutus supir, karena Felix harus pergi ke meninjau pemotretan untuk pemasaran. Menurut informasi yang Devan dapatkan dari biodata yang dikirim oleh Anyelir dan Nabila saat mereka mendaftar untuk magang, salah satu hobby yang ditekuni oleh Nabila adalah fotografer, dia sering mendapatkan tawaran kerja untuk mendokumentasikan foto prewed dan lain sebagainya, jadi Devan rasa kali ini Nabila orang yang cocok untuk meninjau lokasi.
__ADS_1