
Semua anggota keluarga sudah berkumpul, mereka pun mulai menyantap hidangan makan malam yang sudah di masak dengan sepenuh hati. Rose juga nampak bahagia, karena akhirnya dia bisa berkumpul dengan dua anaknya.
"Oh iya, saya lupa ada tamu spesial yang saya undang," kata Devan, membuat semua orang menatap ke arahnya.
"Siapa, Mas?" tanya Anyelir, sebab dia sendiri saja tidak tahu siapa orang yang Devan maksud.
"Nanti kamu juga tahu, tunggu di sini ya?" kata Devan dia pun melangkah keluar menjemput seseorang yang dimaksud. Semua orang tntu menunggu dengan penuh tanda tanya, siapa lagi yang diundang, karena memang mereka sudah merasa bahwa semua keluarga sudah berkumpul.
Tapi, saat Devan akhirnya kembali dengan seorang pria, hal itu membuat Desi seketika terkejut.
"Semuanya, perkenalkan ini Pak Adi," ucap Devan memperkenalkan Adi. Ya, Devan sengaja mengundang Adi untuk turut serta dalam acara makan malam ini, karena dia ingin memberikan kejutan untuk Desi.
"Anda kelihatannya terkejut sekali Bu Desi," sindir Devan seketika membuat Desi langsung gelagapan.
"Saya hanya kaget, karena baru tahu ada keluarga lain," jawab Desi, dia masih berusaha tenang.
"Pak Adi adalah salah satu orang saya sekarang," terang Devan. Seketika membuat Desi teringat ssuatu.
'Apa mungkin, yang membantu Adi melarikan diri adalah Devan? Dan orang yang berdiri di belakang Adi adalah Devan, mungkin kah Adi sudah menceritakan semuanya?' semua ketakutan Desi mulai bermunculan, dia takut kalau semua itu memang terjadi.
"Bukankah, anda sedang mencari Pak Adi, Bu Desi, sekarang saya sudah menemukannya, loh." kata Devan membuat semua orang terkejut.
"Mencari Pak Adi? Jadi Bunda sudah mengenal Pak Adi sebelumnya? Dan ada urusan apa?" tanya Dika kepada istrinya. Bibir Desi terasa kelu, dia bingung harus memberikan penjelasan apa, karena saat ini semua seolah memojokkannya.
"Urusan pekerjaan yang sangat rahasia ya, Bu?" tanya Devan disertai senyuman smirknya.
Napas Desi terasa sesak, tenggorokannya terasa tercekat, bahkan air pun tidak bisa melewati tenggorokannya. 'Habis aku malam ini,' batin Desi was-was.
"Sepertinya, Bu Desi sangat sulit menjelaskan apa yang terjadi, apa perlu Pak Adi yang menjelaskan?" tanya Devan lagi, semakin memancing suasana dan Desi sendiri posisinya ssemakin terpojok.
"Kamu ngomong apa sih Devan, saya nggak ada sama sekali mengenal Pak Adi apalagi mencarinya, dan sekarang kamu seolah tahu sesuatu tentang saya, jangan bercanda kamu," hardik Desi dengan nada sinisnya.
"Yah, sebaiknya kita pulang, Bunda rasa mereka sedang menjebak Bunda, karena ini pasti ada kaitannya dengan dia," tunjuk Desi ke arah Gita.
"Kenapa, apa anda takut Bu?" tanya Devan lagi, "anda takut kalau kejahatan anda akan terbogkar, soal siapa sebenarnya motif di balik kecelakaan yang menimpa Ibu Rose?" ucap Devan dan seketika membuat semua orang terkejut bukan main.
"Bunda ada kaitannya dengan kecelakaan Ibu?" Gita begitu terkejut mendengar penuturan Devan.
"Apa itu benar, Bun?" tanya Dika dengan tegas, Desi semakin beringsut mundur, dia tidak menyangka, malam ini semuanya akan dibongkar habis oleh Devan.
"Pak Adi, bisa tolong jelaskan, soal pengakuan saya tad?" titah Devan.
"Baik, Tuan." Adi dengan sigap menjawab perintah Devan.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada Ibu Rose, atas kesalahan saya. Tapi, apapun yang saya lakukan, adalah atas dasar perintah dari Bu Desi. Saya adalah orang yang sedang membutuhkan biaya cukup besar, karena istri saya harus melahirkan secara operasi, dan Bu Desi datang menawarkan pekerjaan yang katanya mudah, tapi dia menjanjikan bayaran yang sangat banyak," tutur Adi.
"Pekerjaan yang harus saya lakukan adalah, melenyapkan menantu Bu Desi, bernama Gita," ucap Adi, membuat semua orang terkejut, apalagi Gita.
"Saya mulanya menolak, apalagi saat saya tahu Ibu Gita tengah mengandung, itu berarti saya menghilangkan dua nyawa. Tapi keadaan istri saya yang semakin memburuk, membuat saya mau tidak mau menyetujui pekerjaan itu," terlihat Adi yang sepertinya menyesal sudah menerima tawaran dari Desi.
"Sampai hari itu tiba, di depan restaurant, saya melihat ada Ibu GIta dengan Ibu Rose, saya sudah melaporkan kepada Bu Desi, tapi jawaban beliau adalah, eksekusi saja keduanya, itu tidak masalah. Saya sempat menolak, tapi pada saat itu, Bu Desi mengatakan soal kondisi istri saya, membuat saya mau tidak mau menginjak gas, dan menabrak Bu Rose," mendengar penjelasan dari Adi, semua orang benar-benar tidak menyangka kalau Desi memiliki sifat yang begitu picik.
__ADS_1
Semua anggota keluarga sudah berkumpul, mereka pun mulai menyantap hidangan makan malam yang sudah di masak dengan sepenuh hati. Rose juga nampak bahagia, karena akhirnya dia bisa berkumpul dengan dua anaknya.
"Oh iya, saya lupa ada tamu spesial yang saya undang," kata Devan, membuat semua orang menatap ke arahnya.
"Siapa, Mas?" tanya Anyelir, sebab dia sendiri saja tidak tahu siapa orang yang Devan maksud.
"Nanti kamu juga tahu, tunggu di sini ya?" kata Devan dia pun melangkah keluar menjemput seseorang yang dimaksud. Semua orang tntu menunggu dengan penuh tanda tanya, siapa lagi yang diundang, karena memang mereka sudah merasa bahwa semua keluarga sudah berkumpul.
Tapi, saat Devan akhirnya kembali dengan seorang pria, hal itu membuat Desi seketika terkejut.
"Semuanya, perkenalkan ini Pak Adi," ucap Devan memperkenalkan Adi. Ya, Devan sengaja mengundang Adi untuk turut serta dalam acara makan malam ini, karena dia ingin memberikan kejutan untuk Desi.
"Anda kelihatannya terkejut sekali Bu Desi," sindir Devan seketika membuat Desi langsung gelagapan.
"Saya hanya kaget, karena baru tahu ada keluarga lain," jawab Desi, dia masih berusaha tenang.
"Pak Adi adalah salah satu orang saya sekarang," terang Devan. Seketika membuat Desi teringat ssuatu.
'Apa mungkin, yang membantu Adi melarikan diri adalah Devan? Dan orang yang berdiri di belakang Adi adalah Devan, mungkin kah Adi sudah menceritakan semuanya?' semua ketakutan Desi mulai bermunculan, dia takut kalau semua itu memang terjadi.
"Bukankah, anda sedang mencari Pak Adi, Bu Desi, sekarang saya sudah menemukannya, loh." kata Devan membuat semua orang terkejut.
"Mencari Pak Adi? Jadi Bunda sudah mengenal Pak Adi sebelumnya? Dan ada urusan apa?" tanya Dika kepada istrinya. Bibir Desi terasa kelu, dia bingung harus memberikan penjelasan apa, karena saat ini semua seolah memojokkannya.
"Urusan pekerjaan yang sangat rahasia ya, Bu?" tanya Devan disertai senyuman smirknya.
Napas Desi terasa sesak, tenggorokannya terasa tercekat, bahkan air pun tidak bisa melewati tenggorokannya. 'Habis aku malam ini,' batin Desi was-was.
"Sepertinya, Bu Desi sangat sulit menjelaskan apa yang terjadi, apa perlu Pak Adi yang menjelaskan?" tanya Devan lagi, semakin memancing suasana dan Desi sendiri posisinya ssemakin terpojok.
"Kamu ngomong apa sih Devan, saya nggak ada sama sekali mengenal Pak Adi apalagi mencarinya, dan sekarang kamu seolah tahu sesuatu tentang saya, jangan bercanda kamu," hardik Desi dengan nada sinisnya.
"Yah, sebaiknya kita pulang, Bunda rasa mereka sedang menjebak Bunda, karena ini pasti ada kaitannya dengan dia," tunjuk Desi ke arah Gita.
"Kenapa, apa anda takut Bu?" tanya Devan lagi, "anda takut kalau kejahatan anda akan terbogkar, soal siapa sebenarnya motif di balik kecelakaan yang menimpa Ibu Rose?" ucap Devan dan seketika membuat semua orang terkejut bukan main.
"Bunda ada kaitannya dengan kecelakaan Ibu?" Gita begitu terkejut mendengar penuturan Devan.
"Apa itu benar, Bun?" tanya Dika dengan tegas, Desi semakin beringsut mundur, dia tidak menyangka, malam ini semuanya akan dibongkar habis oleh Devan.
"Pak Adi, bisa tolong jelaskan, soal pengakuan saya tad?" titah Devan.
"Baik, Tuan." Adi dengan sigap menjawab perintah Devan.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada Ibu Rose, atas kesalahan saya. Tapi, apapun yang saya lakukan, adalah atas dasar perintah dari Bu Desi. Saya adalah orang yang sedang membutuhkan biaya cukup besar, karena istri saya harus melahirkan secara operasi, dan Bu Desi datang menawarkan pekerjaan yang katanya mudah, tapi dia menjanjikan bayaran yang sangat banyak," tutur Adi.
"Pekerjaan yang harus saya lakukan adalah, melenyapkan menantu Bu Desi, bernama Gita," ucap Adi, membuat semua orang terkejut, apalagi Gita.
"Saya mulanya menolak, apalagi saat saya tahu Ibu Gita tengah mengandung, itu berarti saya menghilangkan dua nyawa. Tapi keadaan istri saya yang semakin memburuk, membuat saya mau tidak mau menyetujui pekerjaan itu," terlihat Adi yang sepertinya menyesal sudah menerima tawaran dari Desi.
"Sampai hari itu tiba, di depan restaurant, saya melihat ada Ibu GIta dengan Ibu Rose, saya sudah melaporkan kepada Bu Desi, tapi jawaban beliau adalah, eksekusi saja keduanya, itu tidak masalah. Saya sempat menolak, tapi pada saat itu, Bu Desi mengatakan soal kondisi istri saya, membuat saya mau tidak mau menginjak gas, dan menabrak Bu Rose," mendengar penjelasan dari Adi, semua orang benar-benar tidak menyangka kalau Desi memiliki sifat yang begitu picik.
__ADS_1
Semua anggota keluarga sudah berkumpul, mereka pun mulai menyantap hidangan makan malam yang sudah di masak dengan sepenuh hati. Rose juga nampak bahagia, karena akhirnya dia bisa berkumpul dengan dua anaknya.
"Oh iya, saya lupa ada tamu spesial yang saya undang," kata Devan, membuat semua orang menatap ke arahnya.
"Siapa, Mas?" tanya Anyelir, sebab dia sendiri saja tidak tahu siapa orang yang Devan maksud.
"Nanti kamu juga tahu, tunggu di sini ya?" kata Devan dia pun melangkah keluar menjemput seseorang yang dimaksud. Semua orang tntu menunggu dengan penuh tanda tanya, siapa lagi yang diundang, karena memang mereka sudah merasa bahwa semua keluarga sudah berkumpul.
Tapi, saat Devan akhirnya kembali dengan seorang pria, hal itu membuat Desi seketika terkejut.
"Semuanya, perkenalkan ini Pak Adi," ucap Devan memperkenalkan Adi. Ya, Devan sengaja mengundang Adi untuk turut serta dalam acara makan malam ini, karena dia ingin memberikan kejutan untuk Desi.
"Anda kelihatannya terkejut sekali Bu Desi," sindir Devan seketika membuat Desi langsung gelagapan.
"Saya hanya kaget, karena baru tahu ada keluarga lain," jawab Desi, dia masih berusaha tenang.
"Pak Adi adalah salah satu orang saya sekarang," terang Devan. Seketika membuat Desi teringat ssuatu.
'Apa mungkin, yang membantu Adi melarikan diri adalah Devan? Dan orang yang berdiri di belakang Adi adalah Devan, mungkin kah Adi sudah menceritakan semuanya?' semua ketakutan Desi mulai bermunculan, dia takut kalau semua itu memang terjadi.
"Bukankah, anda sedang mencari Pak Adi, Bu Desi, sekarang saya sudah menemukannya, loh." kata Devan membuat semua orang terkejut.
"Mencari Pak Adi? Jadi Bunda sudah mengenal Pak Adi sebelumnya? Dan ada urusan apa?" tanya Dika kepada istrinya. Bibir Desi terasa kelu, dia bingung harus memberikan penjelasan apa, karena saat ini semua seolah memojokkannya.
"Urusan pekerjaan yang sangat rahasia ya, Bu?" tanya Devan disertai senyuman smirknya.
Napas Desi terasa sesak, tenggorokannya terasa tercekat, bahkan air pun tidak bisa melewati tenggorokannya. 'Habis aku malam ini,' batin Desi was-was.
"Sepertinya, Bu Desi sangat sulit menjelaskan apa yang terjadi, apa perlu Pak Adi yang menjelaskan?" tanya Devan lagi, semakin memancing suasana dan Desi sendiri posisinya ssemakin terpojok.
"Kamu ngomong apa sih Devan, saya nggak ada sama sekali mengenal Pak Adi apalagi mencarinya, dan sekarang kamu seolah tahu sesuatu tentang saya, jangan bercanda kamu," hardik Desi dengan nada sinisnya.
"Yah, sebaiknya kita pulang, Bunda rasa mereka sedang menjebak Bunda, karena ini pasti ada kaitannya dengan dia," tunjuk Desi ke arah Gita.
"Kenapa, apa anda takut Bu?" tanya Devan lagi, "anda takut kalau kejahatan anda akan terbogkar, soal siapa sebenarnya motif di balik kecelakaan yang menimpa Ibu Rose?" ucap Devan dan seketika membuat semua orang terkejut bukan main.
"Bunda ada kaitannya dengan kecelakaan Ibu?" Gita begitu terkejut mendengar penuturan Devan.
"Apa itu benar, Bun?" tanya Dika dengan tegas, Desi semakin beringsut mundur, dia tidak menyangka, malam ini semuanya akan dibongkar habis oleh Devan.
"Pak Adi, bisa tolong jelaskan, soal pengakuan saya tad?" titah Devan.
"Baik, Tuan." Adi dengan sigap menjawab perintah Devan.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada Ibu Rose, atas kesalahan saya. Tapi, apapun yang saya lakukan, adalah atas dasar perintah dari Bu Desi. Saya adalah orang yang sedang membutuhkan biaya cukup besar, karena istri saya harus melahirkan secara operasi, dan Bu Desi datang menawarkan pekerjaan yang katanya mudah, tapi dia menjanjikan bayaran yang sangat banyak," tutur Adi.
"Pekerjaan yang harus saya lakukan adalah, melenyapkan menantu Bu Desi, bernama Gita," ucap Adi, membuat semua orang terkejut, apalagi Gita.
"Saya mulanya menolak, apalagi saat saya tahu Ibu Gita tengah mengandung, itu berarti saya menghilangkan dua nyawa. Tapi keadaan istri saya yang semakin memburuk, membuat saya mau tidak mau menyetujui pekerjaan itu," terlihat Adi yang sepertinya menyesal sudah menerima tawaran dari Desi.
"Sampai hari itu tiba, di depan restaurant, saya melihat ada Ibu GIta dengan Ibu Rose, saya sudah melaporkan kepada Bu Desi, tapi jawaban beliau adalah, eksekusi saja keduanya, itu tidak masalah. Saya sempat menolak, tapi pada saat itu, Bu Desi mengatakan soal kondisi istri saya, membuat saya mau tidak mau menginjak gas, dan menabrak Bu Rose," mendengar penjelasan dari Adi, semua orang benar-benar tidak menyangka kalau Desi memiliki sifat yang begitu picik.
__ADS_1