Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Bahagianya Devan


__ADS_3

Jam pulang kantor sudah tiba, Anyelir juga tengah menunggu mobil jemputannya sekarang, padahal tadi Nabila sudah menawarkan untuk mereka pulang bersama, karena Devan sudah mewanti-wanti Anyelir agar pulang bersama sopir, dan akhirnya Anyelir pun menolak ajakan Nabila. Tidak lama, mobil jemputan Anyelir terlihat datang, dia pun masuk ke dalam mobil dengan segera.


“Kak Devan?” Anyelir cukup terkejut melihat Devan yang sudah berada dalam mobil miliknya.


“Kenapa kaget?” tanya Devan dengan senyum yang mengembang, Anyelir pun menganggukkan kepalanya perlahan.


“Kan aku sudah bilang, kalau kita akan pulang kantor bersama, maka semua itu pasti akan terjadi,” ujar Devan. Dan Anyelir hanya menanggapi dengan senyuman.


“Emm Kak,” panggil Anyelir lirih.


“Kenapa memanggil ku begitu? Bukankah kita sudah punya kesepekatan yang baru?” tanya Devan kesal. Anyelir menepuk dahinya pelan, dia benar-benar lupa kalau nama panggilan mereka sudah diganti.


“Oh iya, maaf,.” Ucap Anyelir dengan tersenyum, “suamiku, boleh aku mengatakan suatu hal?” Anyelir agak ragu untuk mengatakan ini, namun dia harus mengatakannya.


“Hm, katakana saja,” jawab Devan dengan santai, saat ini tangannya tidak bisa diam, dia terus mengelus puncak kepala Anyelir dan memainkan rambut istrinya yang bergelombang.

__ADS_1


“Bolehkah tidak, kalau kita di kantor, kita tidak terlalu dekat?”


Tatapan Devan memicing, “memangnya kita dekat kalau di kantor?”


“Maksudku, jangan sering memanggilku ke ruangan kamu suamiku. Karena aku takut itu akan menimbulkan kecurigaan pada karyawan kantor, atau lebih parah, mereka akan menganggap kalau aku menggoda CEO mereka yang sangat tampan,” Anyelir harus pintar-pintar bersikap manis, agar usahanya tidak sia-sia. Devan nampak meniman, dalam hatinya dia membenarkan perkataan Anyelir, bagaiamanapun tidak ada yang tahu soal Anyelir yang menjadi istrinya.


“Baiklah, akan aku pertimbangkan,” jawab Devan singkat, namun bisa membuat kelegaan sendiri bagi Anyelir. Sebenarnya, Devan hanya mengandalkan kantor sebagai tempat mereka bertemu, karena Devan tahu, dia tidak memiliki cukup banyak waktu untuk bisa bersama dengan Anyelir, jadi dia harus bisa memanfaatkan kesempatan yang ada. Namun, Devan juga tidak mau kalau sampai hubungan mereka berdua terendus, dan membuat nama baik Anyelir menjadi buruk, biar bagaimanapun, tidak ada yang tahu soal Devan yang sudah menikah bahkan dua kali, dan Anyelir adalah istri pertamanya.


Devan mampir sejenak ke rumah tempatnya biasa tinggal, ada rasa rindu yang mendalam, namun entah karena apa, biasanya Devan juga meninggalkan rumah cukup lama saat dia hanya tinggal bersama Laura, namun dia tidak merasakan rindu sedikitpun pada rumah tersebut. Namun, setelah kini ditempati oleh Anyelir, ada rasa rindu yang berbeda, entahlah mungkin bukan rumahnya yang Devan rindukan, tapi penghuni spesialnya, yaitu Anyelir.


“Aku mau buat makanan spesial untuk suamiku,” jawab Anyelir, kalau diingat Anyelir memang belum pernah memasakkan sesuatu untuk Devan, dan Anyelir berpikir tidak ada salahnya memasakkan sesuatu untuk suami.


“Kan ada pelayan di rumah,” Devan memang tidak pernah menuntut banyak hal dari Anyelir, karena dengan Laura pun, Devan sudah menyerahkan tugas rumah tangga kepada pelayan, sampai-sampai hanya untuk sekedar the maupun kopi, pelayan yang membuat.


“Beda dong, kalau ini istri kamu yang masak,” Anyelir kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur, dan diikuti oleh Devan. Melihat kedua majikan memasuki dapur, para pelayan pun memutuskan untuk pergi, karena Devan pasti butuh ruang untuk berdua.

__ADS_1


Anyelir mulai mencuci tangannya, begitupun dengan Devan, karena dia bersikeras ingin membantu Anyelir memasak. Devan mencuci beberapa sayuran sesuai arahan dari Anyelir, mereka berdua nampak bahagia satu sama lain, karena bisa menghabiskan waktu bersama. Larissa yang melihat semua itu ikut tersenyum, selama ini belum ada yang bisa membuat Devan tertawa lepas seperti hari ini, tawa yang lepas dari semua beban, tawa yang begitu ringan sampai-sampai membuat haru orang-orang disekitarnya. Larissa memotret kebersamaan Devan dengan Anyelir, dan mengirimkan kepada Felix.


Senyum terbit dari bibi Felix, kala dia melihat kiriman foto dari Larissa, dia bersyukur karena akhirnya tuan mudanya bisa kembali menemukan kehagiaan dan juga cinta yang sempat hilang. Rasa takut sempat menggelayuti perasaan Felix, saat dia melihat tatapan benci Devan kepada semua wanita, ketakutan dan rasa cemasnya semakin menjadi, kala Devan akhirnya memutuskan untuk menikahi Laura demi kesembuhan Mayang, meskipun Devan harus menekan rasa sakit hatinya ketika harus berhadapan dengan Laura. Felix takut kalau ini semua tidak cepat diakhiri akan membuat Devan semakin teriksa, dan Felix takut akan menghambat masa depan Devan.  Karena rasa sakit hati dan kecewa yang begitu mandalam, dan belum menemukan cara mengobatinya.


Akhirnya, masakan yang dibuat oleh Anyelir dan Devan sudah matang, mereka sama-sama puas dengan hasil makanan buatan mereka, yang tidak lain adalah nasi goreng ayam. Meskipun sederhana, tapi karena dibuat menggunakan cinta, membuat rasa masakan itu jauh berbeda dan menurut Devan rasanya jauh lebih enak dibandingkan dengan buatan chef terkenal sekalipun. Hal ini menjadi hal baru bagi Devan, dan ini adalah kali pertama Devan menyentuh alat-alat dapur. Meskipun hal-hal yang mereka lakukan mungkin tidak romantis, tapi entah kenapa Devan merasa sangat bahagia, dia bahkan tidak akan melupakan hari ini.


“Kalau begitu aku pamit ya?” berat bagi Devan meninggalkan Anyelir, namun ini sudah kesepakatan, Devan tidak mau Anyelir tinggal satu rumah dengan Laura, karena takut kalau Laura akan memperlakukan Anyelir dengan buruk.


“Kamu hati-hati ya sayang,” ucap Anyelir dengan malu-malu, beberapa pelayan menahan tawanya, melihat pasangan suami istri yang lebih mirip seperti anak remaja yang baru saja jadian, masih malu dan jaga image.


“Tunggu aku, karena beberapa hari lagi kita akan menghabiskan waktu bersama,” ujar Devan, kalau saja dia tidak ingat akan kondisi ibunya, mungkin Devan memilih tidak akan pulang, dia akan bersama dengan Anyelir dan menghabiskan waktu bersama. Sebelum Devan pergi, seperti biasa Anyelir mencium tangan Devan, dan Devan akan mencium kening Anyelir, terlihat sangat romantis dan juga harmonis, banyak yang mendoakan semoga saja keduanya selalu langgeng.


Anyelir melambaikan tangannya kearah mobil Devan yang sudah mulai menjauh, entah kenapa Anyelir merasa kalau ada yang hilang, sepi kembali merasuki relung kalbu Anyelir, dia merasa hampa setelah Devan pergi. Hal ini membuat Anyelir kembali merasakan rindu kepada Devan, apakah ini dinamakan cinta?


‘Apa mungkin aku jatuh cinta? Tapi apa mungkin tuan Devan juga merasakan hal yang sama seperti ku? Apalagi aku jauh berbeda dengan kak Laura. Kak Laura begitu cantik dan pandai merawat dirinya, sedangkan aku?’ Anyelir mulai tidak percaya diri dan membandingkan antara dirinya dengan Laura, tapi tanpa Anyelir sadari, ketika dia mengingat Laura maka Anyelir akan membayangkan kebersamaan Laura dengan Devan, dan hal itu memicu kecemburuan bagi Anyelir.

__ADS_1



__ADS_2