Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Cemburu


__ADS_3

Semua mata mulai menatap bintang acara malam ini, siapa lagi kalau bukan CEO Willson Group, lelaki berparas tampan dan banyak digilai oleh wanita, kini tengah berjalan dengan langkah tegap menuju ke mejanya, Devan benar-benar berkharisma, membuat  semua wanita sangat sulit melepaskan pandangan kagum mereka pada Devan, sang CEO. Saat semua orang menata  Devan dengan tatapan memuja, Devan justru hanya menatap wanita yang sangat dia cintai, yaitu Anyelir. Diam-diam mereka saling mencuri pandang satu sama lain, pujian dalam hati Devan terus tertuju kepada istrinya. Sungguh,  kalau Devan tidak ingat tempat, dia pasti sudah membawa Anyelir pergi, karena dia tidak mau laki-laki lain melihat dan memandang wajah cantik Anyelir.


“Mari Tuan, sebentar lagi anda harus menyambaikan sepatah  dua patah kata,” ujar Felix mengingatkan.


“Selamat malam semuanya,” Devan mulai memberikan sambutan barang sepatah atau dua patah kata, cara bicara dan gaya bahasanya benar-benar begitu tertata dan semakin memancarkan aura ketegasan dan kebijaksanaan, semakin membuat kaum hawa memuji seorang Devan Willsonn. Setelah  memberikan sambutan, acara pun terus dilanjutkan dan Devan juga harus mulai menemui beberapa tamu undangan.


Pujian terus diberikan untuk Devan atas pencapaiannya diusia yang masih terbilang muda, Devan sudah menjadi pengusaha sukses dan ternama bahkan bisnis ya bisa dikenal di kancah internasional, hal ini membuat Devan mendapatkan poin plus tersendiri.


“Oh iya, bagaimana kabar ibu Mayang? Saya sudah lama tidak mendengar kabar beliau,” sebagian kolega Devan, memang kenal dengan kedua orangtuanya, jadi wajar kalau beberapa dari mereka masih mengenal dan menanyakan kabar Mayang yang memang benar-benar langsung menghilang bagai ditelan bumi, karena Devan sengaja menyembunyikan kondisi Mayang.


“Ibu baik-baik saja, sekarang ini beliau sedang tidak berada di Indonesia,’’ jawab Devan bohong.


“Syukurlah kalau begitu, kami semua sempat khawatir karena pada saat pemakaman alm, ibu Mayang selaku istrinya justru tidak hadir, dan kami juga tidak mendengar berita apapun lagi setelah itu.”


“Terimakasih atas kekhawatirannya, dulu ibu memang tidak bisa mengikuti prosesi m pemakaman ayah dikarenakan kondisi ibu yang tidak memungkinkan, dan saat ini ibu memilih pergi karena ibu ingin menenangkan diri,” lagi-lagi Devan harus berbohong demi menjaga kerahasiaan yang sebenarnya seputar kondisi ibunya, sebab Devan juga tidak mau kalau masalalu dirinya yang gagal menikah dengan Laura kembali terkuak dan sampai ke telinga Mayang. Bukan karena Devan masih ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Laura, namun Devan tahu kondisi Mayang belum cukup stabil untuk mendengar pemberitaan buruk ini yang pastinya akan mengejutkan Mayang.


Saat Devan tengah melanjutkan mengobrol dengan beberapa kolega, membahas bisnis mereka masing-masing, secara tidak sengaja dia melihat Anyelir yang tengah mengobrol dengan seseorang lelaki dengan begitu akrab, tentu saja ini membuat Devan tidak suka. Namun, Devan harus bersabar dan menahan diri, sebab ini adalah tempat umum dan dia tidak mungkin secara langsung menegur Anyelir, atau semuanya akan menjadi bencana. Meskipun Devan tidak bisa menegur Anyelir secara langsung, namun mata Devan terus mengawasi, dia juga beberapa kali  mengirimkan pesan kepada Anyelir, tapi tetap tidak berhasil karena Anyelir tidak membuka ponselnya.


“Jadi kak Anjas ke sini sama siapa?” tanya Anyelir kepada kakak tingkatnya, yang secara tidak sengaja mereka bertemu di acara ulangtahun perusahaan Devan.

__ADS_1


“Aku ke sini sama papah, soalnya papah minta ditemenin,” jawab lelaki yang bernama Anjas.


“Oh iya, gimana rasanya magang? Pasti capek ya?” Anjas yang sudah pernah merasakan rasanya menjadi mahasiwa magang paham betul bagaimana kondisi dan lelahnya Anyelir.


“Yaa lumayan sih Kak,” jawab Anyelir disertai senyum, awalnya Anyelir hanya berdua mengobrol bersama dengan Nabila, namun tiba-tiba saja Nabila harus menerima panggilan telepon dari kedua orangtuanya, dan Nabila merasa jika dia menerima panggilan di dalam ruangan tidak akan terdengar, jadi dia memutuskan untuk keluar sebentar, namun secara tidak terdua setelah  Nabila pergi, Anjas justru datang menghampiri Anyelir. Saat Nabila sudah selesai menelepon, dia melihat Devan yang nampak menahan amarahnya dan Nabila mengikuti arah tatapan mata Devan.


‘Gawat, Anyelir? Duh kenapa pake ketemu kak Anjas segala sih,’ batin Nabila risau, dia pun langsung menghampiri Anyelir dan juga Anjas agar obrolan mereka segera berakhir.


“Hai Kak Anjas,” Nabila langsung bergerak cepat dan memotong pembicaraan mereka berdua, dari tarakhir kali yang Nabila dengar, Anjas sempat menanyakan nomor telepon pada Anyelir.


“Eh Nabila, ketemu juga di sini,” Anjas tidak tahu kalau ternyata Nabila juga datang.


“Oh iya Nye, tadi orangtua loe telepon gue, katanya loe dihubungin susah,” Nabila sengawa memberikan kode agar Anyelir melihat ponselnya.


‘Gawat, mas Devan telepon gue,’ batin Anyelir was-was, ‘chat juga lagi,’ Anyelir semakin tidak karuan karena Devan melihatnya tengah mengobrol dengan seorang pria.


[Temui aku di kamar President suite.] Anyelir gemetar membaca pesan yang dikirim oleh Devan, matanya mencari sosok lelaki tersebut, namun tidak ada. Akhirnya diam-diam Anyelir meninggalkan tempat acara dia yakin kalau orang lain tidak akan ada yang melihatnya.


Anyelir masih berdiri di depan pintu kamar president suite, dia bingung harus bagaimana nanti saat dirinya bertemu dan berhadapan dengan Devan. Saat Anyelir sudah mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu, tiba-tiba saja pintu terbuka dan Anyelir ditarik masuk ke dalam kamar sampai Anyelir terhuyung dan hampir saja terjatuh, namun Devan sigap menangkap tubuh Anyelir.

__ADS_1


“Kenapa lama sekali? Apa masih belum puas berbicara dengan lelaki tadi?” suara Devan terdengar dingin, Anyelir tahu kalau suaminya ini tengah kesal padanya.


“Sayang, kamu salah paham,” Anyelir mencoba berbicara selembut mungkin, supaya tidak semakin memancing amarah Devan.


“Salah paham? kalian terlihat sangat dekat apa aku salah?” ucap Devan lagi dengan kesal.


“Kamu cemburu?” tanya Anyelir, ada rasa bahagia di dada Anyelir melihat sikap Devan yang cemburu karena melihatnya tengah berbicara dengan lelaki lain.


“Iya aku cemburu,” setelah mengatakan itu, Devan berdiri di dekat jendela, dan Anyelir mengikutinya dari belakang dan tanpa diminta Anyelir langsung memeluk Devan dari belakang dengan erat. Dihirupnya dalam-dalam aroma tubuh Devan yang memabukkan, Anyelir sampai paham dan hapal dengan aroma tubuh maskulin suaminya.


“Aku sangat bahagia karena kamu cemburu aku berbicara dengan pria lain, tapi sungguh aku tidak punya niat sedikitpun untuk menduakan kamu sayang, lelaki itu hanyalah kakak tingkatku, dan kami tidak sengaja bertemu, dia menyapa ku dan kami mengobrol santai,” ujar Anyelir mencoba menjelaskan.


Devan berbalik badan dan menatap manik mata Anyelir, “benarkah? Kamu tidak berbohong?” tanya Devan memastikan, Anyelir pun mengangguk dengan yakin. Devan langsung memeluk istrinya dengan erat, seolah mengatakan bahwa dia tidak mau kehilanga Anyelir.


“Jangan lakukan lagi, jangan mengobrol dengan pria lain karena aku tidak suka, jangan tersenyum dengan pria lain karena kamu hanya boleh tersenyum dengan kamu,” ujar Devan dan Anyelir hanya mengangguk sebagai jawaban.


‘Ternyata begini sifat asli suamiku? Posesive? Tapi aku suka,’ batin Anyelir tersenyum.


__ADS_1



__ADS_2