
"Sayang!" Devan pulang, dengan membawa buah parsel untuk istri tercintanya, dia sangat merindukan Anyelir. Karena makan siang tadi, dia tidak pulang.
"Mas, kamu sudah pulang?" Anyelir menghampiri sang suami, dia selalu menyambut Devan dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Hari ini gimana? Bisa mengobrol sama teman-teman kamu, sayang. Seru nggak?" Devan selalu menanyakan, hal apa saja yang dilakukan Anyelir di rumah, hal itu membuat mereka selalu ada bahan obrolan.
"Seneng dong, aku jadi nggak merasa kesepian lagi," jawab Anyelir dengan senyuman khas di wajahnya.
"Syukurlah, aku sangat bahagia, kalau kamu juga bahagia," kecupan singkat, Devan berikan di dahi Anyelir.
"Oh iya, Mas. Tadi siang kak Gita hubungin aku," tutur Anyelir, mendengar nama Gita, Devan pun langsung sigap, dia was-was mungkin saja, Gita mengatakan hal buruk kepada istrinya.
"Ngapain sayang dia hubungin kamu?" tanya Devan dengan cemas.
"Kak Gita cuman ngasih kabar, kalau dia hamil 3 minggu," jelas ANyelir, dia tidak bernai menjelaskan secara rinci apa maksud Gita menghubunginya. Karena Anyelir yakin, Devan pasti akan sangat mudah terpancing amarah, Anyelir tidak mau kalau sampai suaminya berbuat hal yang membahayakan.
"Yakin cuman itu?" tanya Devan nampak tidak percaya.
"Cuman itu, Mas. Semoga saja ini menjadi awal yang baik, pertanda bahwa kak Gita mulai berubah," Anyelir masih sangat berharap, kalau Gita mau merubah sikapnya dan mau menerima Anyelir sebagia saudarinya. Andai saja, Gita tidak keras kepala, mungkin hubungan keluarga mereka sangat bahagia.
"Besok, kita jenguk kak Gita ya, Mas?" ajak Anyelir, biar bagaimanapun menurut Anyelir, Gita adalah keluarganya, terlepas dari apapun yang sudah Gita perbuat.
"Iya," jawab Devan dengan sendu.
"Kok, nggak ikhlas gitu sih," Anyelir mencebikkan bibirnya kesal.
"Enggak sayang, aku seneng kok anterin kamu ke manapun kamu mau," Devan mencoba untuk membujuk Anyelir, berharap istrinya tidak marah.
"Aku mandi dulu ya?" Devan mengindari dari segala tuduhan Anyelir, dia tahu kalau Anyelir sudah kesal pasti akan merembet ke mana-mana. Anyelir yang tahu, bahwa Devan sebenarnya sangat tidak suka kalau harus tetap bersikap baik pada Gita, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ayah, Bunda?" Gita saat ini tengah memasang wajah manisnya, bagaimana tidak, saat ini kedua mertuanya tengah datang menjenguk.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?' Dika nampak sangat perduli dengan menantunya, atau mungkin, lebih tepatnya perduli karena dalam rahim Gita tengah tumbuh darah daging Arman, penerus keluarga.
"Sudah jauh lebih baik, kok Yah. Mungkin karena sudah ditemani sama ayahnya," gurau Gita sembari melirik Arman.
"Kamu harus jaga kandungan kamu, Nak. Karena Arman adalah anak tunggal, jadi harus punya keturunan," tegas Dika.
"Kamu pasti merasa sangat beruntung, kan karena Arman nggak jadi gugat cerai kamu? Aku sepertinya udah muak punya menantu kaya kamu," ketus Desi.
"Bun," Arman bersuara meminta ibunya menghentikan ucapannya, Arman tidak mau kalau sampai Gita sampai sedih dan kepikiran.
"Cukup ya Arman, jangan belain istri kamu terus. Nyatanya dia memang begitu kok," Desi masih tidak mau kalah.
'Dasar nenek lampir, awas kamu,' batin Gita kesal, nampaknya Gita menemukan satu cara.
"Dengar Gita, aku pastikan, kamu akan ditalak setelah kamu melahirkan nanti," ucap Desi lagi dengan senyum sinisnya.
"Bu, aku tahu aku salah, aku akan berusaha untuk merubah sikapku," Gita mulai menunjukkan wajah memelasnya, "aakkhhhh," tiba-tiba saja, Gita langsung terpekik kesakitan seraya memegang perutnya.
__ADS_1
"Sayang!" Devan pulang, dengan membawa buah parsel untuk istri tercintanya, dia sangat merindukan Anyelir. Karena makan siang tadi, dia tidak pulang.
"Mas, kamu sudah pulang?" Anyelir menghampiri sang suami, dia selalu menyambut Devan dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Hari ini gimana? Bisa mengobrol sama teman-teman kamu, sayang. Seru nggak?" Devan selalu menanyakan, hal apa saja yang dilakukan Anyelir di rumah, hal itu membuat mereka selalu ada bahan obrolan.
"Seneng dong, aku jadi nggak merasa kesepian lagi," jawab Anyelir dengan senyuman khas di wajahnya.
"Syukurlah, aku sangat bahagia, kalau kamu juga bahagia," kecupan singkat, Devan berikan di dahi Anyelir.
"Oh iya, Mas. Tadi siang kak Gita hubungin aku," tutur Anyelir, mendengar nama Gita, Devan pun langsung sigap, dia was-was mungkin saja, Gita mengatakan hal buruk kepada istrinya.
"Ngapain sayang dia hubungin kamu?" tanya Devan dengan cemas.
"Kak Gita cuman ngasih kabar, kalau dia hamil 3 minggu," jelas ANyelir, dia tidak bernai menjelaskan secara rinci apa maksud Gita menghubunginya. Karena Anyelir yakin, Devan pasti akan sangat mudah terpancing amarah, Anyelir tidak mau kalau sampai suaminya berbuat hal yang membahayakan.
"Yakin cuman itu?" tanya Devan nampak tidak percaya.
"Cuman itu, Mas. Semoga saja ini menjadi awal yang baik, pertanda bahwa kak Gita mulai berubah," Anyelir masih sangat berharap, kalau Gita mau merubah sikapnya dan mau menerima Anyelir sebagia saudarinya. Andai saja, Gita tidak keras kepala, mungkin hubungan keluarga mereka sangat bahagia.
"Besok, kita jenguk kak Gita ya, Mas?" ajak Anyelir, biar bagaimanapun menurut Anyelir, Gita adalah keluarganya, terlepas dari apapun yang sudah Gita perbuat.
"Iya," jawab Devan dengan sendu.
"Kok, nggak ikhlas gitu sih," Anyelir mencebikkan bibirnya kesal.
"Enggak sayang, aku seneng kok anterin kamu ke manapun kamu mau," Devan mencoba untuk membujuk Anyelir, berharap istrinya tidak marah.
"Aku mandi dulu ya?" Devan mengindari dari segala tuduhan Anyelir, dia tahu kalau Anyelir sudah kesal pasti akan merembet ke mana-mana. Anyelir yang tahu, bahwa Devan sebenarnya sangat tidak suka kalau harus tetap bersikap baik pada Gita, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ayah, Bunda?" Gita saat ini tengah memasang wajah manisnya, bagaimana tidak, saat ini kedua mertuanya tengah datang menjenguk.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?' Dika nampak sangat perduli dengan menantunya, atau mungkin, lebih tepatnya perduli karena dalam rahim Gita tengah tumbuh darah daging Arman, penerus keluarga.
"Sudah jauh lebih baik, kok Yah. Mungkin karena sudah ditemani sama ayahnya," gurau Gita sembari melirik Arman.
"Kamu harus jaga kandungan kamu, Nak. Karena Arman adalah anak tunggal, jadi harus punya keturunan," tegas Dika.
"Kamu pasti merasa sangat beruntung, kan karena Arman nggak jadi gugat cerai kamu? Aku sepertinya udah muak punya menantu kaya kamu," ketus Desi.
"Bun," Arman bersuara meminta ibunya menghentikan ucapannya, Arman tidak mau kalau sampai Gita sampai sedih dan kepikiran.
"Cukup ya Arman, jangan belain istri kamu terus. Nyatanya dia memang begitu kok," Desi masih tidak mau kalah.
'Dasar nenek lampir, awas kamu,' batin Gita kesal, nampaknya Gita menemukan satu cara.
"Dengar Gita, aku pastikan, kamu akan ditalak setelah kamu melahirkan nanti," ucap Desi lagi dengan senyum sinisnya.
"Bu, aku tahu aku salah, aku akan berusaha untuk merubah sikapku," Gita mulai menunjukkan wajah memelasnya, "aakkhhhh," tiba-tiba saja, Gita langsung terpekik kesakitan seraya memegang perutnya.
__ADS_1
"Sayang!" Devan pulang, dengan membawa buah parsel untuk istri tercintanya, dia sangat merindukan Anyelir. Karena makan siang tadi, dia tidak pulang.
"Mas, kamu sudah pulang?" Anyelir menghampiri sang suami, dia selalu menyambut Devan dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Hari ini gimana? Bisa mengobrol sama teman-teman kamu, sayang. Seru nggak?" Devan selalu menanyakan, hal apa saja yang dilakukan Anyelir di rumah, hal itu membuat mereka selalu ada bahan obrolan.
"Seneng dong, aku jadi nggak merasa kesepian lagi," jawab Anyelir dengan senyuman khas di wajahnya.
"Syukurlah, aku sangat bahagia, kalau kamu juga bahagia," kecupan singkat, Devan berikan di dahi Anyelir.
"Oh iya, Mas. Tadi siang kak Gita hubungin aku," tutur Anyelir, mendengar nama Gita, Devan pun langsung sigap, dia was-was mungkin saja, Gita mengatakan hal buruk kepada istrinya.
"Ngapain sayang dia hubungin kamu?" tanya Devan dengan cemas.
"Kak Gita cuman ngasih kabar, kalau dia hamil 3 minggu," jelas ANyelir, dia tidak bernai menjelaskan secara rinci apa maksud Gita menghubunginya. Karena Anyelir yakin, Devan pasti akan sangat mudah terpancing amarah, Anyelir tidak mau kalau sampai suaminya berbuat hal yang membahayakan.
"Yakin cuman itu?" tanya Devan nampak tidak percaya.
"Cuman itu, Mas. Semoga saja ini menjadi awal yang baik, pertanda bahwa kak Gita mulai berubah," Anyelir masih sangat berharap, kalau Gita mau merubah sikapnya dan mau menerima Anyelir sebagia saudarinya. Andai saja, Gita tidak keras kepala, mungkin hubungan keluarga mereka sangat bahagia.
"Besok, kita jenguk kak Gita ya, Mas?" ajak Anyelir, biar bagaimanapun menurut Anyelir, Gita adalah keluarganya, terlepas dari apapun yang sudah Gita perbuat.
"Iya," jawab Devan dengan sendu.
"Kok, nggak ikhlas gitu sih," Anyelir mencebikkan bibirnya kesal.
"Enggak sayang, aku seneng kok anterin kamu ke manapun kamu mau," Devan mencoba untuk membujuk Anyelir, berharap istrinya tidak marah.
"Aku mandi dulu ya?" Devan mengindari dari segala tuduhan Anyelir, dia tahu kalau Anyelir sudah kesal pasti akan merembet ke mana-mana. Anyelir yang tahu, bahwa Devan sebenarnya sangat tidak suka kalau harus tetap bersikap baik pada Gita, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ayah, Bunda?" Gita saat ini tengah memasang wajah manisnya, bagaimana tidak, saat ini kedua mertuanya tengah datang menjenguk.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?' Dika nampak sangat perduli dengan menantunya, atau mungkin, lebih tepatnya perduli karena dalam rahim Gita tengah tumbuh darah daging Arman, penerus keluarga.
"Sudah jauh lebih baik, kok Yah. Mungkin karena sudah ditemani sama ayahnya," gurau Gita sembari melirik Arman.
"Kamu harus jaga kandungan kamu, Nak. Karena Arman adalah anak tunggal, jadi harus punya keturunan," tegas Dika.
"Kamu pasti merasa sangat beruntung, kan karena Arman nggak jadi gugat cerai kamu? Aku sepertinya udah muak punya menantu kaya kamu," ketus Desi.
"Bun," Arman bersuara meminta ibunya menghentikan ucapannya, Arman tidak mau kalau sampai Gita sampai sedih dan kepikiran.
"Cukup ya Arman, jangan belain istri kamu terus. Nyatanya dia memang begitu kok," Desi masih tidak mau kalah.
'Dasar nenek lampir, awas kamu,' batin Gita kesal, nampaknya Gita menemukan satu cara.
"Dengar Gita, aku pastikan, kamu akan ditalak setelah kamu melahirkan nanti," ucap Desi lagi dengan senyum sinisnya.
"Bu, aku tahu aku salah, aku akan berusaha untuk merubah sikapku," Gita mulai menunjukkan wajah memelasnya, "aakkhhhh," tiba-tiba saja, Gita langsung terpekik kesakitan seraya memegang perutnya.
__ADS_1