
Anyelir menatap betapa sempurnanya keluarga Anyelir tanpa kehadiran dirinya, mereka semua tengah berbincang soal hubungan Gita dan Arman seraya diselingi candaan, membuat suasana menjadi riuh karena tawa. Dari hasil perbincangan, akhirnya diputuskan bahwa satu minggu lagi akan diadakan acara pertunangan antara Gita dan Arman, tentu saja senyum mereka berdua langsung merekah, karena sudah jelas restu langsung berpihak pada hubungan keduanya. Anyelir sama sekali tidak sedih dengan hubungan Armand an Gita, hanya saja dia merasa sedih karena merasa dia tidak dianggap, apalagi Rosse yang notabennya adalah ibunya sendiri, Rose sama sekali tidak menanyakan kabar Anyelir atau bahkan menyapanya, apakah Anyelir tidak berarti dalam diri Rose? Apakah bagi Rose Anyelir bukan lagi anaknya setelah Anyelir menikah? Acara dilanjutkan dengan acara makanm malam, mereka semua sudah menempati posisi masing-masing, begitu juga dengan Anyelir.
“Wah Anyelir, sekarang ini saya lihat, kamu semakin naik kelas ya? lihat saja cara berpakaian kamu, semuanya high class,” sindir Desi, dia tahu dari Arman kalau Anyelir sudah menikah dengan seorang lelaki yang sudah dewasa dan mapan.
Mendnegar ucapan Desi Anyelir hanya tersenyum, dia tidak mau menanggapi karena takut akhirnya akan menjadi masalah, namun nampaknya keterdiaman Anyelir dianggap lemah oleh mereka semua, kecuali Agam tentunya, karena saat ini Rosse dan Gita mulai menanggapi.
“Anyelir ini, semenjak menikah jadi lupa sama keluarga, tapi saya sih yakin Gita tidak akan begitu, iya kan Nak?” Rosse mengelus puncak kepala Gita dengan sayang, membuat hati Anyelir serasa diremas, dia mengepalkan tangannya yang ada di bawah meja mencoba menguatkan hatinya.
“Gimana rasanya menikah dengan lelaki yang lebih dewasa? Pasti menyenangkan ya Anyelir, kan dia kaya, coba kalau miskin, mana mau,” ujar Gita semakin menjadi.
“Anak pak Agam memiliki dua perangai yang berbeda ya?” ucap Desi lagi, bermaksud memuji Gita.
“Iya, yang satu murahan dan yang satu high class,” mereka semua terdiam, dan menoleh pada sumber suara, lelaki bertubuh tegap dengan berjalan dengan gagah dan penuh charisma menuju meja makan, dia adalah Devan Willson. Hari ini, banyak sekali pekerjaan yang harus Devan segera selesiakan, karena Devan juga akan segera meryakan ulang tahun perusahaan, jadi semua pekerjaan turut dimajukan. Dan dalamm perjalanan pulang tadi, di dalam mobil Felix memberitahukan kepada Devan tentang Anyelir yang mencoba menghubungi Felix beberapa kali, mendengar penuturan Felix, tentu saja Devan langsung beregarak cepat mengecek ponsel miliknya, benar saja ternyata Anyelir sudah mencoba menghubungi Devan beberapa kali, bahkan Anyelir sempat mengirimkan Devan pesan berupa izin untuk pergi ke kediaman kedua orangtuanya karena ada acara keluarga. Entah kenapa, jika Anyelir pergi ke kediaman kedua orangtuanya, perasaan Devan menjadi tidak tenang, karena dia tahu kalau Anyelir merasa tidak dihargai di rumah itu. Akhirnya, Devan meminta Felix untuk melajukan kendaraannya menuju kediaman Agam, karena Devan tidak mau terjadi sesuatu kepada istri keduanya, dan benar saja, baru selangkah Devan masuk, namun pendengarannya sudah menangkap suara-suara yang menyakiti telinga dan hati.
__ADS_1
“Tuan Devan Willson?” Dika, begitu terkejut melihat keberadaan seorang pengusaha muda yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis, apalagi Devan sendiri rupanya benyak menggelontorkan uangnya di rumah sakit milik Dika, itu semua karena Mayang di rawat di sana.
“Anda terkejut Dokter Dika?” ujar Devan sembari tersenyum smirk, membuat Dika langusung kehabisan kata-kata. Devan langsung melangkah dan menarik kursi di samping istrinya, yang duduk paling ujung di samping Gita. Anyelir hanya diam seribu bahasa, sesungguhnya yang dia takutkan sekarang ini adalah, kalau Devan bertindak sesuatu para perusahaan Agam, ayah Anyelir.
“Nampaknya, makan malam ini sangat menghibur anda, Ibu Desi? Sampai-sampai anda mengolok-olok istri saya?” Devan menatap Desi dengan tatapan tajam, lalu menyenderkan tubuhnya pada kursi, “tapi saya tidak heran sih, jangankan orang lain, Ibu Rose saja yang notabennya adalah Ibu kandung istri saya, ikut mengolok-olok istri saya, begitupun kamu wanita wanita yang tidak tahu diri!” hardik Devan kepada Gita, membuat Gita langsung menundukkan kepalanya takut. Baik Dika maupun Desi sama-sama terkejut karena memang mereka tidak tahu menahu soal Anyelir yang menikah dengan seorang pengusaha ternama Devan Willson, karena pernikahan Devan sendiri tidak ada kabar berita sama sekali.
“Ma-maaf kan kami Tuan Devan,” ujar Dika mencoba mengambil hati Devan kembali.
“Tuan Devan, saya meminta maaf atas semua yang terjadi,” Agam ikut merasa bersalah atas semuanya, sejujurnya Agam berniat membela Anyelir tadi namun Devan sudah datang.
“Sayang, ini cuman luka kecil, tadi aku membantu di dapur,” seolah tahu bahwa Devan hendak marah, Anyelir langsung menjelaskan semua yang terjadi, tapi sepertinya Devan semakin marah setelah tahu kalau Anyelir ikut berada di dapur, karena Devan sendiri yang notabennya adalah suami Anyelir, tidak mengizinkan Anyelir untuk ikut mengurus dapur, bagi Devan dia ingin memperlakukan Anyelir dengan baik, selayaknya seorang ratu. Tapi, hal lain malah terjadi di kediaman kedua orangtua Anyelir.
“Siapa yang memerintahkan kamu ke dapur sayang?” nada bicara Devan terdengar sangat lembut, dia bahkan memegang pipi Anyelir dengan sebelah tangannya.
__ADS_1
“Tidak ada sayang, itu semua atas mauku karena karena aku merasa bosan,” jawab Anyelir jujur, namun Devan memang sangat berbeda, dia mampu menangkap maksud lain dari jawaban Anyelir. Kalau istrinya sampai merasa bosan, di kediaman kedua orangtuanya yang bahkan jarang dikunjungi, itu berarti ada hal yang membuat Anyelir terpaksa memisahkan diri, dan Devan yakin itu karena Anyelir serasa dikucilkan.
“Anda bilang bukan? Kalau kedua putri Pak Agam memiliki perangai yang berbeda? Jelas saja berbeda, istri saya adalah wanita terhormat dan menjaga harga dirinya, sedangkan calon menantu anda adalah wanita murahan yang bahkan mengorbankan kesuciannya hanya untuk merebut anak anda dari Anyelir, yang pada saat itu masih menjadi sepasang kekasih! Sangat berbeda bukan?” ucapan Devan membuat semua orang terkejut, Agam, Desi dan Dika sama-sama terkejut dengan apa yang mereka dengar, karena setahu mereka Anyelir lah yang sudah berkhianat dari Arman.
“Benar Arman?” tanya Dika dengan raut wajah serius, dia akan sangat kecewa kepada putranya jika memang apa yang dikatakan oleh Devan benar adanya. Arman hanya menunduk, takut untuk menjawab, karena dia sudah banyak membohongi kedua orangtuanya soal Anyelir, sampai-sampai Dika dan Desi membenci Anyelir, karena menganggap sudah menyakiti perasaan Arman.
“Jawab Arman!” bentak Dika.
“Iya Pah,” akhirnya Arman menganggukan kepalanya, membuat Desi langsung lemas seketika, apalagi Agam, dia teramat marah pada Gita yang sudah terlalu jauh dalam berhubungan. Sebagai seorang ayah dia merasa gagal.
Plaakkk satu tamparan keras mendarat di pipi Gita, dan tamparan itu berasal dari Agam, marahnya dan kecewanya seorang ayah yang mengetahui bahwa putrinya tidak lagi virgin di tangan lelaki yang belum tentu menjadi suaminya. Melihat Agam yang menampar Gita, Rose langsung melerai, dia mencoba menenangkan suaminya agar tidak lagi melakukan hal itu, Anyelir sendiri merasa sedih, karena acara makan malam yang seharusnya dilalui dengan penuh kebahagiaan malah harus berakhir dengan kekecewaan dan tangisan. Namun, hal berbeda justru terlihat dari Devan, nampak sekali kalau Devan sangat menikmat saat-saat seperti ini, senyum tipis yang terukir menandakan kalau dia begitu menikmatinya, seolah menjadi pertunjukkan bagi Devan.
“Kalau begini, sebaiknya kalian berdua langsung dinikahkan!” sentak Agam, dia tidak mau Gita malah semakin berbuat dosam, dan jalan satu-satunya adalah, menikahkan Gita dan juga Agam secepatnya. Desi tidak bisa menolak, meskipun sejujurnya restunya yang semula diberikan kepada Gita begitu meyakinkan, namun mendengar semua penjelasan Devan membuat Desi ragu. Bagaimanapun sebagai seorang Ibu, Desi tentu ingin hal yang terbaik untuk anaknya, namun karena Arman yang sudah merenggut kesucian Gita, jadi Arman memang harus bertanggung jawab.
__ADS_1
“Nikahkan saja mereka besok, di Kantor Urusan Agama, tidak perlu menggunakan pesta,” Desi memutuskan secara sepihak, namun Rose nampak tidak terima jika pernikahan Gita hanya digelar dengan sederhana. Rose tahu kalau Gita tentu punya impian pernikahan sendiri. Tapi Desi tidak mengizinkan, Desi berdalih pernikahan ini dilakukan untuk menghindarkan Gita dan Arman dari perbuatan dosa, dan biaya pernikahan bisa digunakan oleh Gita dan Arman untuk keperluan sehari-hari, karena setelah menikah Arman harus mulai mandiri dan menafkahi kebutuha Gita.