Terpaksa menjadi kedua

Terpaksa menjadi kedua
Siuman


__ADS_3

"Musuh dari pihak Gita?" gumam Agam, dia tidak tahu harus bagaimana, tapi jika mengingat dengan sikap Gita yang dulu, mungkin saja ada seseorang yang merasa masih sakit hati dengan Gita dan berencana mencelakai Gita, namun bagaimana Agam bertanya pada Gita soal hal ini? Agam justru takut menyinggung perasaan Gita. Disaat Agam tengah berpikir soal keluarganya, tiba-tiba saja Agam merasakan pergerakan dari tangan Rose.


"Sayang?" ucap Agam menatap istrinya dengan penuh harap, dia berharap ini bukanlah angan belaka, dan Agam harap Rose benar-benar siuman.


"Rose, kamu mendengar suara ku, sayang?" tanya Aga, saat dia kembali melihat jemari Rose bergerak. Agam pun langsung menekan bel, meminta perawat untuk datang ke kamar rawat istrinya.


"Dok, jemari istri saya tadi bergerak," ujar Agam memberitahukan apa yang dilihatnya.


"Baik, Pak. Kami akan segera check kondisi bu Rose," ucap Dokter, dan mereka pun segera memeriksa keadaan Rose, yang sekarang bahkan sudah mulai mengerjapkan matanya.


"Apa yang Ibu rasakan?" tanya Dokter.


"Pusing," jawab Rose dengan lirih.


"Ibu, tolong kerjapkan mata Ibu dengan perlahan," titah Dokter, dan dituruti oleh Rose. Perlahan Rose membuka matanya dan dia mulai menyesuikan cahaya yang masuk.


"Mas Agam?" lirih Rose, membuat seketika senyum Agam terukir, dia begitu bahagia melihat Rose yang kini sudah siuman. Langung digenggamnya tangan sang istri dan dikecup dengan lembut.


"Alhamdulillah, kamu sudah siuman," ucap Agam dengan haru.


"A-aku kenapa, Mas?" tanya Rose, dia memang benar-benar bingung apa yang terjadi dengannya, dan kenapa dia bisa ada di rumah sakit.


"Syukurlah, kondisi Bu Rose, sudah semakin stabil, tinggal masa pemulihan. Karena Ibu baru siuman, saya sarankan jangan terlalu banyak bergerak dan jangan memaksakan berbicara ya, Bu." pesan Dokter, kemudian DOkter dan perawat pun pamit, menyisakan Rose dan Agam.


"Yah, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Rose dengan lemah.


"Kamu mengalami kecelekaan," jawab Agam membuat Rose seketika terkejut,  "apa kamu ingat saat kita makan malam dengan anak-anak?" tanya Agam dan Rose pun mencoba mengingat. Semua ingatan  mulai bermunculan dan berputar dalam kepala Rose. Ingatan saat Rose tengah makan malam, sampai akhirnya dia mengalami kecelakaan, yang mana Rose masih sempat mendorong tubuh Gita.


"Iya, Mas aku ingat. Lalu, sekarang bagaimana keadaan Gita?" tanya Rose dengan khawatir.


"Kamu tenang saja, berkat kamu mendorong Gita, sekarang dia baik-baik saja," jawab Agam, mendengar jawaban dari sang suami, membuat Rose bernapas lega.


"Anak-anak pasti bahagia mendengar kamu sudah siuman," ucap Agam dengan raut wajah begitu terharu.


"Iya Mas, tolong kabari mereka, supaya mereka tidak perlu khawatir," pinta Rose. Dan Agam pun segera mengambil ponselnya, untuk memberikan kabar kepada kedua putrinya.


Anyelir dan Gita memang tengah menantikan kabar dari sang ayah, mereka berdua masih begitu cemas dengan keadaan Rose, apalagi saat mereka pulang, Rose belum siuman. Namun saat mereka menerima panggilan dari Agam, dan mendengar kabar baik, bahwa Rose sudah siuman, hati mereka berdua begitu bahagia dan lega, dengan segera mereka bergegas untuk ke rumah sakit.


"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Mayang, yang melihat menantunya langsung bersiap hendak pergi.


"Oh iya, Bu maaf. Anyelir pamit ke rumah sakit ya, Bu? Anyelir dapat kabar dari ayah, katanya ibu udah siuman," jawab Anyelir yang tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya.


"Benarkah itu, Nak?" tanya Mayang, dia juga turut bersyukur mendengar besannya yang sudah siuman.


"Iya, Bu. Makanya Anyelir mau ke sana," kata Anyelir.


Sedangkan kini, Gita juga tengah bersiap, sampai tiba-tiba salah satu pelayan di apartementnya datang menghampiri.


"Nyonya mau ke mana?" tanya pelayan saat Gita tengah bersiap.


"Oh iya, aku mau ke rumah sakit, ayah mengabarkan kalau ibu ku sudah siuman, jadi aku ingin menjenguknya," terang Gita.


"Kalau begitu biar saya hubungi supir, supaya bersiap, Nyonya." pelayan bersiap untuk menghubungi supir, namun ditahan oleh Gita.


"Supir? Sejak kapan aku punya supir?" tanya Gita, sebab selama ini ke manapun dia pergi, pasti akan pergi sendiri.


"Nyonya belum tahu? Mulai hari ini, akan ada supir yang selalu siap mengantarkan Nyonya ke manapun Nyonya ingin pergi, ini bertujuan untuk menjaga Nyonya," jelas pelayan, namun dari raut wajah Gita, sepertinya dia tidak begitu mudah percaya.


"Baiklah, Nyonya bisa hubungi Tuan Arman, untuk menanyakan soal kebenaran supir tersebut," saran pelayan. Akhirnya, dari pada dia terus menaruh curiga, Gita pun mencoba menghubungi sang suami, menanyakan soal kebenaran informasi tersebut.


["Hai sayang, kenapa? Kangen ya?"] suara gombalan Arman langsung menyapa begitu Gita menghubungi sang suami. Gita hanya terkekeh dengan sikap Arman yang akhir-akhir ini memang sering menggombal.


["Iya, tapi sebenarnya ini lebih dari sekedar kangen,"] ucpap Gita, membuat Arman penasaran kiranya apa yang membuat sang istri menghubunginya.


["Ibu sudah siuman, sayang,"] ucap Gita memberitahukan kabar baik itu.


["Benarkah?"] tanya Arman yang nampak kaget, Arman juga sangat bersyukur akhirnya ibu mertuanya segera siuman.


["Iya, tadi ayah memberikan kabar, dan sekarang aku berniat ke rumah sakit, tapi kata pelayan, aku harus pergi dengan supir. Setahuku, kan kita tidak punya supir,"] Gita mengatakan apa yang dia ingin tanyakan kepada sang suami.


["Oh iya sayang, aku lupa belum memberitahukannya kepada kamu. Mulai hari ini, memang kamu akan selalu diantar oleh supir, ke manapun kamu pergi,"] jawab Arman membenarkan.


["Loh, kenapa?"] tanya Gita curiga.


["Hanya demi keamanan, intinya kamu turuti saja apa kata suami, ya?"] pinta Arman. Karena Gita tahu, Arman hanya ingin yang terbaik untuknya, jadi Gita pun menuruti sang suami. Dia bergegas keluar dari apartement, bahkan ketika dia keluar pun, ada pelayan yang mengikutinya, seolah benar-benar ingin menjaga Gita.


"Hati-hati di jalan Nyonya," ucap pelayan.


"Iya, terimakasih ya," jawab Gita disertai senyumnya yang ramah. Meskipun GIta merasa diratukan karena benar-benar dijaga oleh Arman, namun Gita juga merasa apa yang dilakukan oleh sang suami, adalah hal yang tidak biasa. Gita yakin ada sesuatu yang Arman tengah sembunyikan bersama dengan Devan. Tapi, Gita akan lebih fokus dulu pada keadaan Rose, dia juga nantinya akan bertanya pada Arman, soal kejadian kecelakaan yang terjadi. Gita merasa, ada sesuatu yang Devan ketahui, itulah kenapa Devan sampai sebegininya dengan Gita.

__ADS_1


"Musuh dari pihak Gita?" gumam Agam, dia tidak tahu harus bagaimana, tapi jika mengingat dengan sikap Gita yang dulu, mungkin saja ada seseorang yang merasa masih sakit hati dengan Gita dan berencana mencelakai Gita, namun bagaimana Agam bertanya pada Gita soal hal ini? Agam justru takut menyinggung perasaan Gita. Disaat Agam tengah berpikir soal keluarganya, tiba-tiba saja Agam merasakan pergerakan dari tangan Rose.


"Sayang?" ucap Agam menatap istrinya dengan penuh harap, dia berharap ini bukanlah angan belaka, dan Agam harap Rose benar-benar siuman.


"Rose, kamu mendengar suara ku, sayang?" tanya Aga, saat dia kembali melihat jemari Rose bergerak. Agam pun langsung menekan bel, meminta perawat untuk datang ke kamar rawat istrinya.


"Dok, jemari istri saya tadi bergerak," ujar Agam memberitahukan apa yang dilihatnya.


"Baik, Pak. Kami akan segera check kondisi bu Rose," ucap Dokter, dan mereka pun segera memeriksa keadaan Rose, yang sekarang bahkan sudah mulai mengerjapkan matanya.


"Apa yang Ibu rasakan?" tanya Dokter.


"Pusing," jawab Rose dengan lirih.


"Ibu, tolong kerjapkan mata Ibu dengan perlahan," titah Dokter, dan dituruti oleh Rose. Perlahan Rose membuka matanya dan dia mulai menyesuikan cahaya yang masuk.


"Mas Agam?" lirih Rose, membuat seketika senyum Agam terukir, dia begitu bahagia melihat Rose yang kini sudah siuman. Langung digenggamnya tangan sang istri dan dikecup dengan lembut.


"Alhamdulillah, kamu sudah siuman," ucap Agam dengan haru.


"A-aku kenapa, Mas?" tanya Rose, dia memang benar-benar bingung apa yang terjadi dengannya, dan kenapa dia bisa ada di rumah sakit.


"Syukurlah, kondisi Bu Rose, sudah semakin stabil, tinggal masa pemulihan. Karena Ibu baru siuman, saya sarankan jangan terlalu banyak bergerak dan jangan memaksakan berbicara ya, Bu." pesan Dokter, kemudian DOkter dan perawat pun pamit, menyisakan Rose dan Agam.


"Yah, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Rose dengan lemah.


"Kamu mengalami kecelekaan," jawab Agam membuat Rose seketika terkejut,  "apa kamu ingat saat kita makan malam dengan anak-anak?" tanya Agam dan Rose pun mencoba mengingat. Semua ingatan  mulai bermunculan dan berputar dalam kepala Rose. Ingatan saat Rose tengah makan malam, sampai akhirnya dia mengalami kecelakaan, yang mana Rose masih sempat mendorong tubuh Gita.


"Iya, Mas aku ingat. Lalu, sekarang bagaimana keadaan Gita?" tanya Rose dengan khawatir.


"Kamu tenang saja, berkat kamu mendorong Gita, sekarang dia baik-baik saja," jawab Agam, mendengar jawaban dari sang suami, membuat Rose bernapas lega.


"Anak-anak pasti bahagia mendengar kamu sudah siuman," ucap Agam dengan raut wajah begitu terharu.


"Iya Mas, tolong kabari mereka, supaya mereka tidak perlu khawatir," pinta Rose. Dan Agam pun segera mengambil ponselnya, untuk memberikan kabar kepada kedua putrinya.


Anyelir dan Gita memang tengah menantikan kabar dari sang ayah, mereka berdua masih begitu cemas dengan keadaan Rose, apalagi saat mereka pulang, Rose belum siuman. Namun saat mereka menerima panggilan dari Agam, dan mendengar kabar baik, bahwa Rose sudah siuman, hati mereka berdua begitu bahagia dan lega, dengan segera mereka bergegas untuk ke rumah sakit.


"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Mayang, yang melihat menantunya langsung bersiap hendak pergi.


"Oh iya, Bu maaf. Anyelir pamit ke rumah sakit ya, Bu? Anyelir dapat kabar dari ayah, katanya ibu udah siuman," jawab Anyelir yang tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya.


"Benarkah itu, Nak?" tanya Mayang, dia juga turut bersyukur mendengar besannya yang sudah siuman.


"Iya, Bu. Makanya Anyelir mau ke sana," kata Anyelir.


Sedangkan kini, Gita juga tengah bersiap, sampai tiba-tiba salah satu pelayan di apartementnya datang menghampiri.


"Nyonya mau ke mana?" tanya pelayan saat Gita tengah bersiap.


"Oh iya, aku mau ke rumah sakit, ayah mengabarkan kalau ibu ku sudah siuman, jadi aku ingin menjenguknya," terang Gita.


"Kalau begitu biar saya hubungi supir, supaya bersiap, Nyonya." pelayan bersiap untuk menghubungi supir, namun ditahan oleh Gita.


"Supir? Sejak kapan aku punya supir?" tanya Gita, sebab selama ini ke manapun dia pergi, pasti akan pergi sendiri.


"Nyonya belum tahu? Mulai hari ini, akan ada supir yang selalu siap mengantarkan Nyonya ke manapun Nyonya ingin pergi, ini bertujuan untuk menjaga Nyonya," jelas pelayan, namun dari raut wajah Gita, sepertinya dia tidak begitu mudah percaya.


"Baiklah, Nyonya bisa hubungi Tuan Arman, untuk menanyakan soal kebenaran supir tersebut," saran pelayan. Akhirnya, dari pada dia terus menaruh curiga, Gita pun mencoba menghubungi sang suami, menanyakan soal kebenaran informasi tersebut.


["Hai sayang, kenapa? Kangen ya?"] suara gombalan Arman langsung menyapa begitu Gita menghubungi sang suami. Gita hanya terkekeh dengan sikap Arman yang akhir-akhir ini memang sering menggombal.


["Iya, tapi sebenarnya ini lebih dari sekedar kangen,"] ucpap Gita, membuat Arman penasaran kiranya apa yang membuat sang istri menghubunginya.


["Ibu sudah siuman, sayang,"] ucap Gita memberitahukan kabar baik itu.


["Benarkah?"] tanya Arman yang nampak kaget, Arman juga sangat bersyukur akhirnya ibu mertuanya segera siuman.


["Iya, tadi ayah memberikan kabar, dan sekarang aku berniat ke rumah sakit, tapi kata pelayan, aku harus pergi dengan supir. Setahuku, kan kita tidak punya supir,"] Gita mengatakan apa yang dia ingin tanyakan kepada sang suami.


["Oh iya sayang, aku lupa belum memberitahukannya kepada kamu. Mulai hari ini, memang kamu akan selalu diantar oleh supir, ke manapun kamu pergi,"] jawab Arman membenarkan.


["Loh, kenapa?"] tanya Gita curiga.


["Hanya demi keamanan, intinya kamu turuti saja apa kata suami, ya?"] pinta Arman. Karena Gita tahu, Arman hanya ingin yang terbaik untuknya, jadi Gita pun menuruti sang suami. Dia bergegas keluar dari apartement, bahkan ketika dia keluar pun, ada pelayan yang mengikutinya, seolah benar-benar ingin menjaga Gita.


"Hati-hati di jalan Nyonya," ucap pelayan.


"Iya, terimakasih ya," jawab Gita disertai senyumnya yang ramah. Meskipun GIta merasa diratukan karena benar-benar dijaga oleh Arman, namun Gita juga merasa apa yang dilakukan oleh sang suami, adalah hal yang tidak biasa. Gita yakin ada sesuatu yang Arman tengah sembunyikan bersama dengan Devan. Tapi, Gita akan lebih fokus dulu pada keadaan Rose, dia juga nantinya akan bertanya pada Arman, soal kejadian kecelakaan yang terjadi. Gita merasa, ada sesuatu yang Devan ketahui, itulah kenapa Devan sampai sebegininya dengan Gita.

__ADS_1


"Musuh dari pihak Gita?" gumam Agam, dia tidak tahu harus bagaimana, tapi jika mengingat dengan sikap Gita yang dulu, mungkin saja ada seseorang yang merasa masih sakit hati dengan Gita dan berencana mencelakai Gita, namun bagaimana Agam bertanya pada Gita soal hal ini? Agam justru takut menyinggung perasaan Gita. Disaat Agam tengah berpikir soal keluarganya, tiba-tiba saja Agam merasakan pergerakan dari tangan Rose.


"Sayang?" ucap Agam menatap istrinya dengan penuh harap, dia berharap ini bukanlah angan belaka, dan Agam harap Rose benar-benar siuman.


"Rose, kamu mendengar suara ku, sayang?" tanya Aga, saat dia kembali melihat jemari Rose bergerak. Agam pun langsung menekan bel, meminta perawat untuk datang ke kamar rawat istrinya.


"Dok, jemari istri saya tadi bergerak," ujar Agam memberitahukan apa yang dilihatnya.


"Baik, Pak. Kami akan segera check kondisi bu Rose," ucap Dokter, dan mereka pun segera memeriksa keadaan Rose, yang sekarang bahkan sudah mulai mengerjapkan matanya.


"Apa yang Ibu rasakan?" tanya Dokter.


"Pusing," jawab Rose dengan lirih.


"Ibu, tolong kerjapkan mata Ibu dengan perlahan," titah Dokter, dan dituruti oleh Rose. Perlahan Rose membuka matanya dan dia mulai menyesuikan cahaya yang masuk.


"Mas Agam?" lirih Rose, membuat seketika senyum Agam terukir, dia begitu bahagia melihat Rose yang kini sudah siuman. Langung digenggamnya tangan sang istri dan dikecup dengan lembut.


"Alhamdulillah, kamu sudah siuman," ucap Agam dengan haru.


"A-aku kenapa, Mas?" tanya Rose, dia memang benar-benar bingung apa yang terjadi dengannya, dan kenapa dia bisa ada di rumah sakit.


"Syukurlah, kondisi Bu Rose, sudah semakin stabil, tinggal masa pemulihan. Karena Ibu baru siuman, saya sarankan jangan terlalu banyak bergerak dan jangan memaksakan berbicara ya, Bu." pesan Dokter, kemudian DOkter dan perawat pun pamit, menyisakan Rose dan Agam.


"Yah, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Rose dengan lemah.


"Kamu mengalami kecelekaan," jawab Agam membuat Rose seketika terkejut,  "apa kamu ingat saat kita makan malam dengan anak-anak?" tanya Agam dan Rose pun mencoba mengingat. Semua ingatan  mulai bermunculan dan berputar dalam kepala Rose. Ingatan saat Rose tengah makan malam, sampai akhirnya dia mengalami kecelakaan, yang mana Rose masih sempat mendorong tubuh Gita.


"Iya, Mas aku ingat. Lalu, sekarang bagaimana keadaan Gita?" tanya Rose dengan khawatir.


"Kamu tenang saja, berkat kamu mendorong Gita, sekarang dia baik-baik saja," jawab Agam, mendengar jawaban dari sang suami, membuat Rose bernapas lega.


"Anak-anak pasti bahagia mendengar kamu sudah siuman," ucap Agam dengan raut wajah begitu terharu.


"Iya Mas, tolong kabari mereka, supaya mereka tidak perlu khawatir," pinta Rose. Dan Agam pun segera mengambil ponselnya, untuk memberikan kabar kepada kedua putrinya.


Anyelir dan Gita memang tengah menantikan kabar dari sang ayah, mereka berdua masih begitu cemas dengan keadaan Rose, apalagi saat mereka pulang, Rose belum siuman. Namun saat mereka menerima panggilan dari Agam, dan mendengar kabar baik, bahwa Rose sudah siuman, hati mereka berdua begitu bahagia dan lega, dengan segera mereka bergegas untuk ke rumah sakit.


"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Mayang, yang melihat menantunya langsung bersiap hendak pergi.


"Oh iya, Bu maaf. Anyelir pamit ke rumah sakit ya, Bu? Anyelir dapat kabar dari ayah, katanya ibu udah siuman," jawab Anyelir yang tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya.


"Benarkah itu, Nak?" tanya Mayang, dia juga turut bersyukur mendengar besannya yang sudah siuman.


"Iya, Bu. Makanya Anyelir mau ke sana," kata Anyelir.


Sedangkan kini, Gita juga tengah bersiap, sampai tiba-tiba salah satu pelayan di apartementnya datang menghampiri.


"Nyonya mau ke mana?" tanya pelayan saat Gita tengah bersiap.


"Oh iya, aku mau ke rumah sakit, ayah mengabarkan kalau ibu ku sudah siuman, jadi aku ingin menjenguknya," terang Gita.


"Kalau begitu biar saya hubungi supir, supaya bersiap, Nyonya." pelayan bersiap untuk menghubungi supir, namun ditahan oleh Gita.


"Supir? Sejak kapan aku punya supir?" tanya Gita, sebab selama ini ke manapun dia pergi, pasti akan pergi sendiri.


"Nyonya belum tahu? Mulai hari ini, akan ada supir yang selalu siap mengantarkan Nyonya ke manapun Nyonya ingin pergi, ini bertujuan untuk menjaga Nyonya," jelas pelayan, namun dari raut wajah Gita, sepertinya dia tidak begitu mudah percaya.


"Baiklah, Nyonya bisa hubungi Tuan Arman, untuk menanyakan soal kebenaran supir tersebut," saran pelayan. Akhirnya, dari pada dia terus menaruh curiga, Gita pun mencoba menghubungi sang suami, menanyakan soal kebenaran informasi tersebut.


["Hai sayang, kenapa? Kangen ya?"] suara gombalan Arman langsung menyapa begitu Gita menghubungi sang suami. Gita hanya terkekeh dengan sikap Arman yang akhir-akhir ini memang sering menggombal.


["Iya, tapi sebenarnya ini lebih dari sekedar kangen,"] ucpap Gita, membuat Arman penasaran kiranya apa yang membuat sang istri menghubunginya.


["Ibu sudah siuman, sayang,"] ucap Gita memberitahukan kabar baik itu.


["Benarkah?"] tanya Arman yang nampak kaget, Arman juga sangat bersyukur akhirnya ibu mertuanya segera siuman.


["Iya, tadi ayah memberikan kabar, dan sekarang aku berniat ke rumah sakit, tapi kata pelayan, aku harus pergi dengan supir. Setahuku, kan kita tidak punya supir,"] Gita mengatakan apa yang dia ingin tanyakan kepada sang suami.


["Oh iya sayang, aku lupa belum memberitahukannya kepada kamu. Mulai hari ini, memang kamu akan selalu diantar oleh supir, ke manapun kamu pergi,"] jawab Arman membenarkan.


["Loh, kenapa?"] tanya Gita curiga.


["Hanya demi keamanan, intinya kamu turuti saja apa kata suami, ya?"] pinta Arman. Karena Gita tahu, Arman hanya ingin yang terbaik untuknya, jadi Gita pun menuruti sang suami. Dia bergegas keluar dari apartement, bahkan ketika dia keluar pun, ada pelayan yang mengikutinya, seolah benar-benar ingin menjaga Gita.


"Hati-hati di jalan Nyonya," ucap pelayan.


"Iya, terimakasih ya," jawab Gita disertai senyumnya yang ramah. Meskipun GIta merasa diratukan karena benar-benar dijaga oleh Arman, namun Gita juga merasa apa yang dilakukan oleh sang suami, adalah hal yang tidak biasa. Gita yakin ada sesuatu yang Arman tengah sembunyikan bersama dengan Devan. Tapi, Gita akan lebih fokus dulu pada keadaan Rose, dia juga nantinya akan bertanya pada Arman, soal kejadian kecelakaan yang terjadi. Gita merasa, ada sesuatu yang Devan ketahui, itulah kenapa Devan sampai sebegininya dengan Gita.

__ADS_1


__ADS_2